Bodoh.

1672 Words
Pekerjaan pertamanya Melly adalah melakukan perjalanan bersama kedua atasan nya. Baru kali ini dia merasa berada di situasi yang membingungkan. Sebenarnya, dia bingung. Apa pekerjaan yang dia kerjakan saat ini? Menemui seseorang, yang bahkan dia sendiri pun tidak mengenalnya. Lalu apa tadi kata Presdir nya? Dia diminta untuk tidak banyak bertanya atau menjelaskan sesuatu hal kepada seseorang yang akan dia temui nanti. Memikirkan itu semua membuat kepalanya terasa sedikit berdenyut. Ditambah lagi, saat ini dia berada dalam satu kendaraan bersama kedua bosnya itu. Saat ini, posisi duduk Melly bersebelahan dengan Ivan. Lelaki yang telah lama dia kagumi semasa duduk dibangku sekolah. Dia pun, tidak pernah menyangka sebelumnya akan sedekat ini dengan cinta pertamanya. Sejak tadi, Melly selalu mengagumi setiap pahatan sempurna ciptaan Tuhan yang berada di sampingnya itu. Dia sempat melirik. Namun, kembali menundukkan pandangan karena malu sendiri dengan tingkahnya. Gugup dan canggung yang dia rasakan saat ini. Tapi, sebisa mungkin dia berusaha agar tetap tenang. Di bagian belakang bangku penumpang ada bosnya. Si pemilik perusahaan tempat dia bekerja yang tak lain adalah Richard. Lelaki itu duduk sendiri, menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Matanya terpejam, seperti mengisyaratkan tekanan dan kegundahan. Tidak ada obrolan ataupun suara yang keluar dari bibir masing-masing, suasana hening saat berada dalam mobil tersebut. Melly hanya bisa diam sambil menatap ke arah luar jendela kaca mobil. Hingga beberapa jam kemudian, mobil sampai di parkiran sebuah bangunan hunian mewah. Ivan menghentikan mobil dan memarkirkan kendaraan itu dengan sempurna di halaman rumah mewah tersebut. Kemudian, menatap Melly yang hanya diam tanpa bergeming sedikit pun. Hingga Melly dikejutkan suara barito yang dingin dari arah belakang yang membuyarkan lamunan Melly seketika. "Kamu turun dan ikuti perintah Minah!” "Mi-minah siapa Pak?' tanya Melly terbata. Jujur saja dia benar-benar bingung saat ini. "Cepat!! Saya tunggu 20 menit hingga kamu sudah kembali ke mobil.” "Ba-baik, Pak!" Jawab melly terbata. Dengan terpaksa dan tanpa mau banyak bertanya lagi, dia bergegas lekas turun, lalu masuk ke dalam hunian tersebut. Melly langsung di sambut oleh Minah, seorang asisten kepala rumah tangga untuk di arahkan masuk ke dalam kamar. Di dalam sana Melly dikejutkan dengan seorang perempuan yang tengah hamil. Paras perempuan itu sangat cantik, namun penampilannya sangat menyedihkan. "Jangan banyak bertanya, ya? Kamu diminta tuan untuk segera membawa nyonya dan membereskan beberapa barang penting untuk secepatnya di masukkan ke dalam koper,” bisik Minah di telinga Melly. Tanpa banyak bertanya atau pun protes. Melly mengangguk, segera membereskan beberapa barang yang terlihat seperti barang milik nyonya rumah itu. "Siapa kamu? Kenapa kamu membereskan barang-barangku?" Pertanyaan perempuan bernama Resti yang disebut Minah sebagai nyonya itu sama sekali tidak berani Melly jawab. Dia hanya memperkenalkan dirinya saja. "Saya Melly, Nyonya. Saya hanya ingin membereskan beberapa perlengkapan Nyonya saja di sini.” Tanpa menoleh sedikit pun yang akan membuat Melly iba terhadap perempuan itu. Melly memutuskan untuk terus membereskan barang-barang hingga rapih dan semua selesai masuk ke dalam beberapa koper di bantu oleh Minah. "Mari Nyonya, silahkan… kita sudah di tunggu di mobil.” Melly mempersilahkan seorang perempuan yang sama sekali belom dia ketahui namanya itu. Yang jadi pertanyaan dalam benaknya sedari tadi adalah, siapakah perempuan cantik ini? Ah, sudah lah… dia tidak peduli. Itu bukan urusannya. Saat ini, dia hanya menjalankan pekerjaannya dan perintah atasan nya. Sampai di halaman parkir. Kedua bos nya masih menunggu di dalam mobil. Melly membukakan pintu mobil tersebut, dan dapat terlihat dari sorot mata perempuan itu menyimpan banyak kesedihan. Dia jadi merasa iba, tatapannya yang kosong seperti menyimpan banyak tekanan. "Permisi, Pak. Saya sudah membereskan semua perlengkapan nyonya dan sudah dimasukkan ke dalam bagasi,” ujar Melly sembari membungkukkan kepalanya. Richard menganggukkan kepala, kemudian memberi kode dengan mengibaskan tangan ke arah Melly untuk segera menyingkir dari hadapannya. "Silahkan, Nyonya." Melly mempersilahkan perempuan cantik itu untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah bosnya. Melly pikir, dia akan duduk manis seperti saat berangkat. Namun dugaannya itu salah, tangan Melly menggantung di udara saat akan menyentuh daun pintu Mobil. Kendaraan itu langsung melesat meninggalkan dia sendiri. Melly berdiri mematung dengan wajah polos. Posisi Melly masih sama, berdiri dan diam mematung. "Kok, aku di tinggal?" Tanyanya pada diri sendiri. Sampai di mana, dia dikejutkan oleh suara seseorang. "Mbak… “ "Eh, iya?” "Kenapa masih di sini?" tanya seorang perempuan, yang tadi membantu dia saat membereskan perlengkapan sang nyonya. Melly tentu saja bingung menjawab pertanyaan perempuan itu. Jelas-jelas dia sendiri juga tidak tahu penyebab dirinya ditinggalkan. "Anu, itu. Kalau naik taksi di depan sana ada, Bu?" "Ada, tapi di depan komplek. Jauh sekali. Walau pun ada, mungkin lama dan jarang ada yang lewat,” jelas Minah. Melly menghela napasnya dengan berat. Kenapa hari pertama bekerja, sial sekali? Baru akan bertanya kembali, tiba-tiba sebuah mobil mewah datang, dan langsung berhenti tepat di hadapannya. Disusul dengan terbukanya kaca mobil bagian depan. "Mbak Melly? Silahkan masuk. Saya disuruh Pak Ivan untuk menjemput Mbak Melly ke sini.” "Eh, iya Pak. Terima kasih.” Melly menghela napas lega. “Mari, Bu! Saya permisi dulu dan terima kasih,”ujar Melly beralih pada Minah, kemudian langsung masuk ke dalam mobil. Beberapa jam kemudian, mobil yang ditumpangi Melly sampai di Loby gedung perusahaan tempat dia diterima bekerja tadi pagi. Melly masuk ke dalam gedung dan langsung menuju lantai di mana ruangan dia berada. Sampai di mana dia keluar dari dalam lift dan langsung bertemu dengan seorang perempuan cantik dengan penampilan yang sangat menarik dan anggun dalam balutan stelan kantor. "Melly? Kenalin… aku Gress,”sapa perempuan cantik itu sembari mengulurkan tangannya ke arah Melly dengan ramah. "Aku, Melly,” balas Melly tersenyum sembari menyambut uluran tangan Gress. "Oke, aku akan memberitahukan semua Jobdesk apa saja yang akan kamu kerjakan kedepannya nanti. Karena kamu yang akan menggantikan aku," ungkap Gress sembari terus melangkah beriringan dengan Melly. “Aku akan menikah, calon suamiku selalu saja cemburu kalau aku setiap hari berinteraksi dengan bos-bos aku yang tampan itu,” bisik Gress dengan kekehan kecil setelahnya. Melly hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ganteng iya, idaman kaum hawa. Tapi tatapan dingin para bos itu membuat Melly bergidik ngeri membayangkan satu mobil dengan kedua bosnya itu. "Kenapa, Mel?” Tenang… mereka memang seperti itu, kaku kayak kanebo kering. Tapi aku pastikan, kamu akan betah bekerja di sini. Semangat!!” Gress mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya ke udara untuk menyemangati Melly sembari tersenyum. "Terima kasih, Mbak Gress." "Sama-sama. Yuk mulai!" ajak Gres, Melly mengangguk mengiyakan. Memang pada dasarnya Melly adalah tipe perempuan yang sangat pintar dan cepat tanggap. Apa yang orang lain bicarakan Melly memperhatikan dengan seksama. Apa saja pekerjaan yang boleh dan tidak boleh dilakukan Melly, sesekali dia mencatat semua yang diterangkan oleh Gress. Melly sedikit banyak mengetahui apa saja kebiasaan kedua atasan nya itu. Namun yang paling utama adalah kepentingan Presdir yang tak lain pemilik perusahaan itu. Melly akan mengurus segala keperluan baik di kantor maupun saat di luar kantor. Tentunya semua tentang pekerjaan, dia juga pastinya sesering mungkin akan terus berinteraksi dengan Ivan orang kepercayaan Richard. Sepeninggal Gress, Melly mulai sibuk mengerjakan pekerjaannya. Yang memang sudah dijelaskan oleh Gress sebelumnya. Saat tengah fokus dengan berkas-berkas yang menumpuk. Melly dikejutkan oleh suara dering panggilan telepon yang ada di atas meja kerja, dengan segera Melly mengangkatnya. "Melly, buatkan saya kopi! Yang pahit.” Panggilan segera di tutup oleh Ivan, tanpa menunggu jawaban dari orang yang menerimanya itu. "Ini manusia enggak ada basa basinya, untung ganteng!” Melly terkekeh kecil saat membayangkan wajah pujaan hatinya itu. Sungguh dia sangat bersemangat sekali bekerja di perusahaan itu. Selain dia bisa membantu perekonomian keluarga, dia juga berada dalam lingkup satu kerjaan dengan cinta pertamanya. Melly langsung bergegas menuju Pantry. Dia akan membuatkan kopi pahit sesuai permintaan Ivan. Sedikit banyak dia juga sudah mengetahui kopi seperti apa yang disukai kedua atasan nya itu. Setelah selesai membuatkan kopi, Melly bergegas menuju ruangan Ivan. Dia mengetuk pintu, kemudian masuk setelah mendapat jawaban dari dalam sana yang menyuruhnya untuk masuk. Melly membawa nampan berisikan kopi pesanan lelaki itu juga tambahan beberapa cemilan. "Permisi, Pak. Ini kopinya." "Ya.” "Permisi, Pak!" Lagi-lagi dia tidak mendapat tanggapan apapun dari lelaki itu. Bahkan berbasa basi pun tidak. Dengan segera, Melly keluar dari ruangan tersebut menuju meja kerja untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Belum juga dia mendaratkan bokongnya untuk duduk. Lagi-lagi telepon yang berada di atas meja kerja itu berbunyi kembali, dan langsung diangkat olehnya. "Melly, ke ruangan saya. SEGERA!!” Dengan bahasa lantang dan tegas diakhir kalimatnya, orang di seberang sana langsung mengakhiri panggilan tersebut. Karena suara itu cukup keras Melly menjauhkan gagang telepon itu dari telinganya. Mengernyitkan keningnya bingung. “Ada apa ya? Tadi perasaan diam saja. Sekarang udah panggil lagi!" Melly bertanya sembari menggaruk kepala yang tak gatal. Dengan cepat, Melly kembali ke ruangan Ivan karena takut di marahi jika dia lelet. "Permisi, Pak!" "Ini kopi kenapa pahit banget!” Ivan memang meminta kopi pahit, namun bukan pahit yang terlalu seperti ini. "Masa, sih?” Melly langsung mengangkat cangkir gelas berisikan kopi. Gadis itu langsung menyeruput kopi milik Ivan. Rasa pahit yang melekat pada lidah perempuan itu, seketika membuat dia Reflek's menyemburkan air berwarna hitam pekat itu tepat mengenai wajah Ivan. Mata Ivan melotot tajam, saat melihat Melly dengan santai menyeruput kopi miliknya, lalu menyemburkan tepat di wajahnya. "Apa yang kamu lakukan, bodoh!!" Ivan murka dengan menggebrak meja kerjanya. Melly terperanjat kaget, dan langsung mengambil tisu lalu membersihkan wajah tampan nan rupawan milik Ivan. Dia sempat terpesona saat menatap lelaki itu dari jarak dekat, bibirnya mengulas senyum tipis sembari terus menatap wajah Ivan secara intens. Hingga aksinya terhenti dan lamunannya buyar seketika, saat Ivan menepis tangan dia. Melly merutuki kebodohannya yang sempat terpesona di saat yang tidak tepat. "Dasar bodoh, keluar kamu!” bentak Ivan sembari menatap tajam Melly, lalu menunjuk ke arah daun pintu menggunakan jari telunjuknya. "Ba-baik, Pak! Permisi. Tapi sebelumnya, saya minta maaf,” ujar Melly sembari menundukkan kepala, lalu segera berlalu keluar dari ruangan itu. Begitu keluar dari sana, Melly meluapkan kekesalannya. “Dasar Arogant!” umpatnya kesal. “Iya gue akui kalau salah. Tapi, apa nggak bisa bilang baik-baik dan jangan natap gue horor begitu. Ya ampun, Mel. lo bodoh banget jadi manusia.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD