poetry about him

474 Words
perlahan ku buka mataku setelah siang itu , lantunan adzan berkumandang syahdu menjadi alarm , yang memaksaku bangun untuk menjalani kenyataan lagi , tak ku temukan dia di sampingku , mungkin dia sudah bangun lebih dahulu. aku beranjak melaksanakan kewajiban syar'i sekaligus mengadu kepadanya . seketika saat aku membuka mata setelah bermunajat , aku ingat kembali dengan kotak kecil itu, ingin sekali aku menyalurkan semua isi hatiku pada tulisan, toh mereka tidak akan pernah tau kalau itu tentang perasaan ku , aku beranjak menuju meja menulis beberapa uraian kata tentang dia , aku tersenyum simpul , setidaknya aku sudah dapat mengapresiasi kan segalanya. tidak dengan lisan setidaknya aku mengungkapkannya lewat tulisan. ********** Gabriel POV senja menjulang menghiasi gunung gunung yang melintang , suara alexsa terus bergema di setiap detak jantung ku. aku tetap tidak bisa melupakan nya , tapi aku tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa aku sepenuh nya sudah milik Amira. aku terlalu kasar kemarin saat dia membaca buku pribadiku . aku hanya tak ingin dia tau masalah alexsa , dia akan semakin merasa dirinya tak berguna jika membaca buku itu, ah ...... kasihan sekali dia , mungkin Allah tidak merahmatiku cinta padanya saat ini , tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan menunaikan kewajiban ku sebagai suami padanya . "Gus ini beberapa puisi yang menurut saya bagus untuk di terbitkan pada majalah edisi ini" aku mengangguk singkat , tidak biasanya adil masih menanyakan ini padaku . "kan biasanya kamu juga gak nanyain ini sama saya" aku menghela nafas , ada apa dengan adil. "mbonten Gus , ini ada satu puisi bagus tapi tidak ada judul dan nama pengarang nya" aku berhenti melakukan aktivitas ku , aku menatap mata adil penuh tanya. tidak biasanya ada santri yang tidak ingin nama nya masuk pada majalah. " berikan " ucap ku singkat , ya aku selalu berucap singkat pada siapapun kecuali alexsa dan amira. perlahan ku buka lipatan kertas itu , tulisan nya yang begitu indah , membuat ku tersenyum simpul . sejak sejuk angin menerpa jiwa sejak itu pula kurasa hangat dalam kutub Utara hidupku bagai idaman semua wanita namun hati ku merasakan sedih tak terkira aku dipaksa meninggalkan taman kupu kupu yang indah untuk menuju sebuah istana tapi sayang nya aku hanya berteman dengan patung es yang menganggap seolah aku tak pernah ada bernafas panjang menuju Awang kutemukan seseorang yang tak pernah dapat kugapai. aku menyudahinya , dia benar benar menyentuh hati ku , aku tersenyum miris , aku yakin itu untuk ku dari Amira . ah..... gadis itu cukup indah dalam membuat kata kata . " Dil.. terbitkan ini tambahi di bawah , untuk Gabriel" aku menatap adil yang mendadak mempunyai raut wajah tak mengerti . " sudah tambahi saja" ucap ku menyakinkan nya . aku pergi beranjak , fikiran ku merasa terglitik oleh Amira , aku begitu ingin menggodanya .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD