amira POV
aku duduk terdiam di depan jendela seraya mengingat ingat hafalan Al Qur'an ku. kudengar suara pintu kamar terbuka , pasti itu dia , aku memilih tetap diam menatap kekosongan yang ada .
" mir.." ucap nya pelan seraya memegang bahu ku dari belakang , aku menoleh menatap nya dengan isyarat "ada apa" dia balas menatapku dan ikut duduk di sampingku. aku diam .
" ikut aku yok keluar , ketimbang kamu di sini cumak nemenin patung es" eh.... bagaimana dia tahu , aku diam mencoba mengingat ingat , nada bicaranya seolah sedang menggoda ku , aku menepuk dahi ku . oh iya aku lupa kalau dia yang menjadi pelopor berdiri nya majalah itu, tapi bagaimana iya tahu.
" bagaimana Gus bisa tahu itu adalah tulisanku" aku memberanikan diri bertanya padanya.
" bagaimana aku bisa tahu karakter santri santri ku jika aku tidak dapat mengenali kata kata yang di buat istriku" aku tersipu malu aku tidak menyangka dia akan berbicara seserius ini apalagi mengenai pesantren.
" mau gak nih ikut keluar " dia menatapku penuh tanda tanya aku hanya dapat membalas nya dengan anggukan ragu , jujur saja aku ingin sekali keluar dari pesantren ini , jenuh sekali rasanya menjalani kehidupan formal di sini .
dia tersenyum menggenggam tangan kanan ku , entah akan kemana tujuan kita, yang jelas hati ku sangat bahagia.
***************
mobil melaju dengan tenang , lagu alone PT 2 mengiringi perjalanan kami, Gus Gabriel ikut berirama , aku tak bisa melepas 0andangan ku dari dia , dia selalu menarik di mataku.
" jangan di liatin terus nanti jatuh cinta" aku tersentak , segera mengedarkan pandangan ku pada luar jendela .
" Gus" ucap ku memberanikan diri , ku lihat dia masih tertawa sumringan .
" iya, kenapa? jatuh cinta ya?" ucap nya enteng , detak jantung ku berdebar tak menentu .
" apaan sih Gus, mau nanyak boleh"
" boleh " ucapnya singkat seraya menatapku dengan senyum manisnya , ah ...... mata zamrud itu yang tak dapat membuatku berkata kata , aku segera mengalihkan pandangan ku menjauhi kontak mata darinya , lagi lagi dia terkekeh pelan.
" kenapa Gus selalu cuek di luar , padahal Gus gak cuek sama sekali aslinya dan kata umik dulu sewaktu kecil Gus tidak sedingin ini " dia lagi lagi tertawa , bukan itu yang ingin aku dengar .
" Gus ....." ucapku sedikit merengek , aku butuh penjelasan.
" oke aku cerita , tapi kamu gak boleh ketawa ya kalok denger " aku mengangguk yakin dan bersemangat ,dia menghela nafas , tatapan nya lurus ke depan .
" gini mir dulu pas waktu aku berumur 14 tahun saudara ku datang dari jauh , mereka adalah saudara dari ibuku , kau Taukan ibuku itu dari Kairo , jadi aku sama sekali belum bertemu dengan pamanku itu , singkat cerita dia memiliki seorang anak perempuan yang bernama Aisyah , dia selisih satu tahun dengan ku , kami sempat berbincang bersama di taman belakang , dia terkejut saat itu karna seekor kodok dan yah seperti di filem filem aku menompang tubuh nya dengan satu tangan ku , tapi naas ... aku juga ikut terjatuh karna tidak dapat menahan tubuh nya , dan akhirnya aku jatuh di atas tubuh Aisyah" dia tertawa sejenak , ini memang kejadian konyol yang tidak nyambung dengan pertanyaan ku , aku sedikit curiga , akankah ini hanya akal akan an nya saja untuk tidak menjawab 0erranyaan ku .
" dan saat itu Abi umik paman dan bibik datang. melihat kondisi kami yang seperti itu mereka jadi berfikir yang tidak tidak setelah kejadian konyol dan sepele itu aku memutuskan untuk tidak 0ernah berbicara panjang dengan siapapun , aku takut orang tua ku berfikir yang tidak tidak lagi padaku , jujur saja aku tidak ingin kehilangan kepercayaan mereka " aku terdiam sebenarnya di balik 5
tingkahnya yang seperti ini dia mempunyai alasan yang kuat .
" aku hanya tidak bersikap dingin padamu dan alexsa" aku terdiam bungkam , lagi lagi nama itu menyadarkan ku akan posisiku yang sebenarnya , wajah ku menjadi merah padam , senyumku hilang seketika , isi mobil kembali senyap , semua terasa canggung , perlahan tidak ada lagi canda tawa dari aku maupun Gus Gabriel , hanya suara lagu Inggris yang memecah keheningan di tengah kehampaan.
************
mobil Gus Gabriel berhenti di depan sebuah rumah makan sederhana , tempat nya seperti gazebo , dan tepat di depan gazebo tersebut terdapat kolam yang di penuhi ikan ikan kecil .
" kamu tunggu di sini , aku mau pesen dulu " aku mengangguk cepat .
setelah kepergian Gus Gabriel , aku berjalan mendekat menuju kolam kolam itu , isinya ikan ikan arwana , sekali aku mencelupkan tanganku pasti mereka akan mendekat membentuk kerumunan. aku tersenyum geli, baru kali ini aku dapat pemandangan sebagus ini , aku juga tidak bisa menghilangkan atau sekedar menetralkan senyum an bahagia ku ini .
" seneng banget , kayak yang baru pertama kali , berkunjung ke tempat yang kayak gini aja " ucap Gus Gabriel membuatku sedikit terkejut , aku tersenyum canggung , tidak tau harus menjawab apa
" ayo duduk" pintanya , aku menurutinya saja duduk di salah satu gazebo terdekat berdua dengan nya .
" emang gak pernah Dateng ke tempat seperti ini sebelumnya"
" enggak" jawab ku jujur
" ke tempat tempat makan yang lain gak pernah? "
" enggak"
" ke wisata wisata pernah ? pas waktu pulang liburan dari pesantren, pasti pernah kan?"
" mbonten Gus" lagi lagi aku menjawab dengan Jawaban yang sama , ya.... aku memang tidak pernah di perbolehkan keluar hanya karna aku seorang perempuan.
" emang keluarga gak ada yang suka jalan-jalan? kakak misalnya?" tanyanya memastikan
" kak ali suka jalan jalan , malahan sering sekali dia keluar kota , terakhir kali yang aku tau , dia pernah ngajak istrinya liat blue fire "
" emang kamu gak pernah diajak" aku menghela nafas berat
" sejujurnya Gus, aku pernah dia ajak dulu sama temen satu pondok buat keluar tapi..... keluarga gak ada yang ngebolehin , aku kalok gak di pondok ya di rumah , jadi.... gak pernah tau GI mana indah nya suasana di luar , padahal kan ya.. setahun full udah ada di pondok , eh... giliran liburan malah di larang buat keluar , nyesek banget jadinya , setelah kejadian itu aku gak pernah mintak izin lagi buat keluar , toh jawaban nya akan tetap sama" aku terdiam menyudahi , tidak ku sangka aku akan berani bicara panjang seperti ini pada Gus Gabriel.
" udah lah sekarang kamu kan udah jadi istri aku , jadi kalok kamu ngerasa bosen di pesantren , tinggal ajak aku aja ke luar " ucapnya menenangkan ku , dia tersenyum lagi, meletakkan tangannya diubun ubun seraya mengelus nya halus , aku selalu suka dengan perlakuan hangat nya.
salah seorang wanita mengantarkan pesanan kami , Gus Gabriel terus bercerita hal lucu yang dapat membuat ku tertawa, sesekali dia menyuapiku alasan nya , tadi karena tangan ku sudah masuk kolam ikan , dan dia yakin tangan ku kotor padahal aku sudah membasuh nya tadi tapi dia tetap tak mengizinkan ku makan sendiri, keadaan larut dalam tawa .
entahlah kedepannya akan berlangsung bagaimana , tapi yang jelas dia sudah berhasil membuat ku merasa bahwa aku ada .