mislaini

481 Words
mentari membelai hangat , menyinari tubuhku , aku terpaku pada kitab bercover merah bela bertuliskan addasuki di atas nya , kugaruk kepala ku yang tidak gatal , aku kurang mengerti atau lebih tepat nya lupa akan hal ini, menyesal sekali dulu sewaktu di pesantren aku tidak rajin , yah..... selain bertugas mengawasi hafalan aku juga mengajar beberapa kitab salah satu nya addasuki. "kenapa mir" ku dengar suara pintu terbuka dari kamar mandi , menampakkan Gus Gabriel yang hanya memakai handuk terlilit di pinggang, aku langsung berpaling dari pandangan nya , mungkin dia tidak sadar , bahwa wanita mana saja akan tergoda jika di depan nya ada pria yang bertelanjang d**a menampakkan tubuh atletis nya . " Gus, baju" ucapku tetap tidak mau melihat nya.dia berjalan mendekatiku . menggambil posisi duduk tepat di sampingku. " kenapa mir aku kan suami mu" aku semakin kesal , dia kira aku patung yang tak memiliki rasa apa, jangan salah kan aku juga nanti kalau aku balas menggodanya. " kenapa, gak ngerti sama kitab nya" aku mengangguk , benar saja tebak kan nya. "yang mana " aku terperangah "emang tau" dia tersenyum , mata zamrud nya berbinar binar " insyaallah " aku mengangguk singkat , dan menunjuk pada lafad yang tidak aku mengerti , entahlah dia tau atau tidak karna dauh ummik Gus Gabriel tidak pernah sekolah madrasah . dan hanya fokus pada pelajaran formal nya saja. " mislaini ini tah mir"aku mengangguk " mislaini itu tidak boleh berkumpul meskipun itu termasuk 2 benda yang sama karena memungkinkan adanya satu dat dan tidak ada nya satu dat, dan jika dat itu pergi maka akan ada dat yang lain yang masuk dan dat lain itu tidak boleh berkumpul dengan yang lain nya karna hal itu muhal" jelas Gus Gabriel panjang lebar. aku diam dan mencoba mencerna apa yang iya katakan. " ngerti gak" "insyaallah" " gimana cobak perumpamaan nya , kamu mau contoh in GI mana ke putri biar mereka ngerti kalok kayak gini mah mereka gak bakal ngerti " aku menatap matanya, kali ini aku harus berani bersuara , agar hubungan ku jelas , apa aku di matanya . " seperti Gus Gabriel dan alexsa " suasana menegang aku bisa merasakan dia akan marah tapi kali ini tidak , aku harus tetap berani mengatakan nya. " alexsa dan kenangan nya kan dua dat yang sama dalam satu mahal yaitu hati Gus Gabriel tapi alexsa entah kenapa harus pergi karna kedatangan Mira , dan berkumpulnya dua dat antara kenangan alexsa itu tidak bisa Gus , karna itu muhal " aku menutup kitab , menatap matanya , mencoba bersikap santai " karna kami juga ingin sama sama tau mana yang akan menetap dan mana yang hanya untuk sesaat , Mira pamit Gus , assalamualaikum" aku berdiri meninggal kan nya yang masih mematung , maafkan aku Gus . aku takut merasa nyaman saat aku hanya kau jadikan sebuah persinggahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD