Gabriel POV
aku mematung di tempat menyaksikan kepergian Amira yang penuh kepedihan , aku bingung harus bagaimana rasanya seperti tertusuk sesuatu yang tidak jelas namun dapat membuat aku tak dapat berkata kata, jujur saja melihat nya terluka dan memberi harapan membuat nya menunggu terlalu lama , membuat aku merasa terbelenggu dalam kesunyian dan kebimbangan
Amira andai kau tau
andai kau tau kau sudah hampir membuka kembali hatiku
andai kau tau aku benar benar akan membuka hati untuk mu
tidak sekarang
tunggu aku benar benar pulih
tunggu aku benar benar lupa
akan ku ubah nama Alexa menjadi Amira.
flashback off
Brum... Brum......
"siap "
"siaga"
"mulai"
wanita itu melempar kain merah yang di genggam nya , menandakan balapan sudah di mulai, aku menginjak gas mempercepat laju mobil , tak menghiraukan jalan sedang sepi atau ramai , tujuanku hanya satu yaitu menang , hampir saja aku terlambat pada balapan kali ini , karna di pesantren aku masih harus mengajar ngaji kitab jamius shoir untuk santri putra. melelah kan sekali , untung dari kecil umik tidak pernah bertanya aku pergi kemana dan bersama siapa.
aku tidak pernah mau terlahir sebagai Gus , dan juga tidak begitu menolak menjadi Gus , aku hanya ingin pergi bersantai menikmati masa muda seperti kebanyakan yang lain nya.
berbeda dengan semua yang nampak selalu formal , jika keluar aku selalu ugal ugalan tentunya dengan bantuan masker dan kaca mata hitam , di pesantren pun seperti itu aku selalu menggunakan surban agar tidak terlihat jelas oleh abdi dhalem yang sering keluar.
deru mobil sport merah itu semakin nekat melampaui ku , aku merasa kesal BMW putih ini tidak cepat cepat menyusul , semakin merasa tertantang untuk terus mengejar rekor nya Namun nihil.
mobil itu sudah sampai duluan pada garis finishing . aku meraum kesal tidak biasanya aku kalah . rasa penasaran pun semakin bertambah , siapa sebenarnya yang bisa mengalah kan ku .
sorak Sorai semakin ramai mengingat aku yang tak pernah kalah akhirnya dapat di kalah kan .
aku keluar dari mobil ku dengan uang 5 juta , ya anggap saja ini shodaqoh yang sengaja aku berikan padanya.
"Ril bisa bisa nya Lo kalah " aku hanya diam tak berkomentar , oh iya aku tidak pernah memberi tahu identitas ku pada mereka , takut saja kalau kalau mereka senggan pada ku , aku juga tidak pernah memberi tahu namaku , aku hanya menyuruh mereka menyebut ku dengan nama Aril .
mobil sport tadi terbuka menampakkan seorang wanita dengan jens hitam ketat dan jaket kulit berwarna senada , rambut nya tergerai bebas terterpa angin malam itu . cantik . guman ku dalam hati.
cepat cepat aku memalingkan wajah dan ber istighfar padanya, ada apa dengan diriku tidak biasa nya aku seperti ini.
" uang gue !" ucapnya sedikit sombong .
aku menyodorkan amplop coklat tadi , dia meraih nya beserta tangan ku , aku mencoba menarik pergelangan tanganku , namun di cengkram nya kuat , spontan aku menatapnya dengan tatapan tidak suka , jujur saja aku tidak pernah bersentuhan dengan selain mahrom sebelum nya .sorak Sorai kembali riuh menanggapi ekspresi ku yang tak sepatutnya aku ekspos . dia hanya menyeringai santai , tidak perduli.
" nama gue alexsa , Alexa ingat itu".
*********
aku kembali mengintip di balik jendela , saat semua santri sibuk dengan makna , saat Amira sibuk dengan kitab kuningnya , saat tidak ada yang menyadari , aku diam diam selalu memperhatikan wajah sendu yang iya selipkan lewat kesibukan nya . aku tau dia selalu lelah , aku juga tau dia tidak nyaman dengan profesi nya yang cukup padat , mulai dari takrir Al Qur'an , pengajian kitab dan khotmil Burdah setiap sebelum Maghrib datang . selalu sibuk sampai aku sendiri yang harus melihat nya dari jauh.
aku tertawa pelan , Amira kau sungguh berbeda dengan Alexa tapi entah kenapa hati ku merasakan hal yang sama seperti yang ku rasakan padanya.
***********
Amira POV
ku lihat semua santriwati sibuk memperhatikan ku dengan cara masing masing , ada yang duduk diam mendengarkan , ada yang berkutat menulis keterangan dan ada pula yang terlelap dalam mimpinya . aku tertawa pelan wajah lelah santriwati ini yang membuat aku semakin bersemangat berjihad di jalan nya, memaksakan mereka agar mengerti dan dapat mengamalkan semua yang aku ajarkan .
sedikit ekor mataku melirik pada jendela , hati ku bergumam " dia lagi" aku hanya menggelengkan kepala , kenapa sikap nya tak bisa ku tebak , dia datang lalu pergi seperti ingin menetap namun hanya mampir sejenak , membiarkan ku menunggu begitu lama , untung aku tidak lelah , untung aku tidak pergi .bimbang dengan keputusan nya sendiri , aku tak ada saran juga tak ada berargumentasi tetap diam dan menunggu sampai dia benar benar lupa atau sebuah keputusan untuk menyuruhku benar benar pergi.
author POV
bintang yang terang akan redup kala mentari datang menghias langit permai , Amira tetap dalam kisah nya ia tak ada rencana untuk maju ataupun mundur , lelah mungkin. menunggu takdir adalah satu satu nya alasan dia tetap bertahan dengan ketidakpastian Gus Gabriel.
pagi ini tetap sama , seperti biasa menyetel baju yang akan di pakai Gus Gabriel , dia menatap sejenak pada tumpukan baju gantung itu ,merah . Amira sangat suka ketika Gus Gabriel memakai baju warna merah , apalagi gamis , terlihat lebih berwibawa dan tampan , cocok sekali dengan mata zamrud nya itu.
KREK.... bunyi kamar mandi terbuka , menampakkan Gus Gabriel yang hanya terlilit handuk dan bertelanjang d**a , Amira memalingkan wajah, jujur saja , meski sudah biasa tapi tetap mengundang rasa kurang nyaman di d**a.
" kenapa merah" tanya Gus Gabriel seraya menatap Amira, Amira menatap mata zamrud itu ragu ragu .
"kalok jenengan tidak suka , saya akan ganti " jawab nya seraya melangkah menuju lemari ,tapi langkah nya terhenti karna sebuah tangan kekar nan putih menahan nya .
"aku cumak tanya kenapa merah mir , bukan gak suka " Gus Gabriel tersenyum , senyum setulus mungkin .
"aku suka mir"Amira mengangguk mengiyakan .dia beranjak mencari kitab tafsir jalalain yang akan Gus Gabriel ajar kan hari ini.
"suka kamu mir bukan bajunya" seketika sekujur tubuh Amira mati rasa . seakan dia ingin lenyap dari dunia , tuhan....... Gus Gabriel dia......
menyebalkan