bc

RESIGN DITOLAK : obsesi Rahasia Sang CEO

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
arrogant
royalty/noble
heir/heiress
drama
bxg
campus
city
sassy
like
intro-logo
Blurb

Elara Vance, seorang analis forensik keuangan brilian di Aetheris Global, berada di titik kehancuran. Beban biaya penopang hidup ayahnya memaksanya menerima tawaran pekerjaan dari Thorne Industries, perusahaan rival terbesar Aetheris. Namun, saat ia mengajukan surat pengunduran diri, Julian Sterling—sang CEO tiran yang dijuluki 'Malaikat Maut Wall Street'—menolak melepaskannya. Julian memalsukan klausul kontrak yang menjerat Elara dengan utang penalti lima juta dolar.​Sebagai "jalan keluar", Julian menyodorkan kontrak baru: Elara harus menjadi istri palsunya. Julian membutuhkan perisai dari pamannya sendiri, Victor Sterling, yang mencoba melakukan kudeta di perusahaan. Sebagai imbalan, Julian akan menanggung seluruh biaya rumah sakit ayah Elara dan memberikannya kekuasaan untuk membalas dendam pada orang-orang yang pernah menghancurkannya. Elara mengira ia hanya menandatangani perjanjian bisnis sementara. Ia tidak tahu bahwa sang CEO berhati es itu menjebaknya secara sengaja sejak hari pertama, tanpa niat sedikit pun untuk menceraikannya

chap-preview
Free preview
bab 1
Lantai sembilan puluh sembilan Aetheris Global tidak pernah terasa seperti tempat bekerja bagi manusia bernapas; tempat ini lebih menyerupai ruang vakum berlapis marmer di mana ambisi diukur dan kelemahan dieksekusi mati. Sepatu hak tinggi Elara Vance berdetak berirama di atas lantai granit hitam, suaranya menggema tajam menembus kesunyian lorong eksekutif. Di tangannya, sebuah amplop putih bersih terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya. Itu adalah tiket kebebasannya, atau begitulah yang ia pikirkan selama tiga puluh jam terakhir sejak rumah sakit meneleponnya dengan ultimatum brutal terkait mesin penopang hidup ayahnya. Melewati meja asisten pribadi yang kosong—Elias Reed tampaknya sedang mengurus "pembersihan" di divisi lain—Elara mendorong pintu ganda berbahan kaca buram ke ruang utama CEO. Suhu di dalam ruangan raksasa itu selalu dikalibrasi pada angka delapan belas derajat Celcius. Beku, steril, tanpa jejak emosi. Sempurna untuk pria yang menghuninya. Julian Sterling duduk di balik meja kerja yang menyerupai altar obsidian, membelakangi dinding kaca panorama yang memamerkan siluet mendung kota metropolis. Ia tidak sedang mengetik atau membaca laporan. Pria itu sekadar duduk bersandar, diam bagai patung marmer romawi purba yang dihidupkan dengan setelan jas Tom Ford. Matanya yang berwarna abu-abu badai mengunci pergerakan Elara sejak detik pertama wanita itu melangkah masuk. Elara memaksa paru-parunya menarik napas panjang. Ia melangkah maju hingga ujung sepatu pantofelnya nyaris menyentuh kaki meja. Dengan gerakan kaku, ia meletakkan amplop putih itu tepat di tengah-tengah hamparan meja hitam yang kosong melompong. "Apa ini, Nona Vance?" Suara Julian rendah, berat, dengan resonansi yang menggetarkan udara dingin di sekitarnya. Tidak ada nada terkejut. Hanya otoritas absolut. Gugup mulai merayapi leher Elara. Secara otomatis, gigi serinya menggigit kecil bibir bawahnya, sebuah kebiasaan tak sadar yang selalu mengkhianatinya setiap kali ia sedang memecahkan anomali neraca keuangan atau memutar otak mencari celah keluar dari situasi mustahil. "Itu surat pengunduran diri saya, Tuan Sterling. Sesuai dengan protokol perusahaan, saya memberikan pemberitahuan tiga puluh hari sebelum masa bakti saya berakhir. Semua dokumen serah terima proyek kuartal tiga sudah saya siapkan di server untuk tim audit internal." Perkataan Elara terputus oleh suara gemeresik kertas. Julian mencondongkan tubuh atletisnya ke depan, mengambil amplop tersebut dengan jemarinya yang panjang dan presisi. Pria itu menatap lurus ke kedalaman mata cokelat Elara, tidak berkedip, tidak juga repot-repot memecahkan segel amplop tersebut. Seolah isi tulisan di dalamnya tidak lebih dari sekadar polusi visual. Dalam satu gerakan yang sangat tenang namun penuh kekerasan terpendam, Julian merobek amplop tebal itu menjadi dua. Bunyi serat kertas yang koyak terdengar memekakkan telinga di ruangan kedap suara itu. Sebelum Elara sempat merespons, Julian menumpuk kedua robekan itu dan merobeknya lagi, berulang kali, hingga surat yang Elara ketik semalaman di tengah rasa putus asa itu berubah menjadi konfeti tak bernilai yang dibiarkan jatuh berhamburan ke atas karpet wol Persia. "Tuan Sterling! Apa yang Anda lakukan?!" Nada suara Elara meninggi, topeng profesionalnya seketika retak. Julian tidak menjawab. Pria itu menyandarkan siku di atas meja, ibu jari tangan kanannya mulai memutar perlahan cincin black onyx di jari telunjuknya. Di koridor Aetheris, para eksekutif senior sangat tahu mitos kelam ini: jika sang CEO sudah memutar cincinnya, maka sebuah nyawa—entah karier, perusahaan rival, atau manusia—sedang dipersiapkan menuju tiang gantungan. "Saya tidak ingat pernah memberikan izin kepada aset forensik terbaikku untuk berjalan keluar dari gedung ini," bisik Julian perlahan, menyapukan tatapan sedingin es batu ke wajah pucat Elara. "Saya bukan aset Anda." Elara mencengkeram ujung rok pensilnya, melawan intimidasi pria itu dengan sisa-sisa keberaniannya. "Saya manusia. Saya karyawan, dan hukum ketenagakerjaan melindungi hak saya untuk mundur. Saya membutuhkan kompensasi finansial yang jauh lebih besar dan cepat untuk melunasi biaya operasi ayah saya. Thorne Industries menawarkannya, dan sebagai anak yang tidak punya pilihan lain, saya harus menerima tawaran Marcus Thorne." Mendengar nama saingan terbesarnya, temperatur ruangan seolah anjlok lima derajat lagi. Mata abu-abu Julian menggelap, berubah menjadi badai yang siap menghancurkan segalanya. Rahang pria itu mengeras, otot-otot di lehernya menegang di balik kerah kemeja yang terkancing sempurna. Ia berdiri perlahan, menjulang tinggi dan menghalangi cahaya dari luar jendela, membuat bayangannya jatuh sepenuhnya menutupi tubuh Elara. Julian berjalan memutari meja. Langkah sepatunya nyaris tak bersuara bagai predator, hingga ia berhenti tepat di depan Elara. Jarak mereka kini hanya terpaut satu tarikan napas. Aroma sandalwood bercampur mint yang maskulin dan tajam menginvasi indra penciuman Elara, membuatnya secara instingtif mundur setengah langkah hingga punggung bagian bawahnya menabrak keras tepi meja marmer. Ia terperangkap. "Marcus Thorne," gumam Julian, suaranya kini berupa geraman rendah yang sangat mematikan. "Kau pikir pria sosiopat itu akan benar-benar menyelamatkan ayahmu, Elara? Kau pikir dia merekrutmu karena otak jeniusmu, dan bukan karena dia tahu kau memegang akses ke data arsip operasionalku?" "Itu bukan urusan Anda lagi, Tuan Sterling. Hubungan kita murni profesional, dan itu berakhir hari ini." Senyum asimetris yang sangat tipis dan tak menyenangkan terkembang di bibir Julian. Tangannya yang bebas bergerak naik, merapikan kancing lengan jasnya perlahan-lahan—sebuah pergerakan mekanis sebelum ia menjatuhkan vonis mati. "Profesional. Tentu saja. Kalau begitu, mari kita bersikap sangat profesional, Nona Vance. Sebaiknya kau segera memanggil pengacaramu dan memintanya membaca ulang halaman empat belas dari kontrak kerjamu." Elara mengerutkan kening, kebingungan bercampur panik. "Halaman empat belas? Itu hanya klausul standar kerahasiaan data." "Itu adalah klausul loyalitas absolut dan non-kompetisi tingkat satu," koreksi Julian tanpa ampun, mematahkan setiap harapan sang wanita. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan ruang gerak Elara lebih jauh ke meja. "Barang siapa yang mencoba membelot ke entitas kompetitor langsung, diwajibkan membayar penalti likuidasi atas pembatalan kontrak sepihak. Keluar dari pintu ganda itu sekarang, Elara, dan kau berutang padaku lima juta dolar tunai, yang harus ditransfer ke rekening pribadiku sebelum tengah malam." Dada Elara berhenti bergerak. Napasnya tercekat hebat. "Lima... lima juta dolar? Itu gila! Klausul itu tidak pernah ada saat saya menandatanganinya tiga tahun lalu! Anda memalsukannya!" Julian mengangkat tangannya, mengusap pelan rahang Elara dengan punggung jari telunjuknya yang dingin, membuat wanita itu merinding seketika. "Di kerajaanku, Elara, aku yang merancang, menulis, dan mengubah hukumnya. Dan hukumku hari ini menetapkan bahwa kau tidak akan pergi ke mana-mana." Julian menunduk hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Elara, membisikkan kalimat yang akan mengunci takdir wanita itu selamanya. "Namun, karena aku adalah pimpinan yang berbelas kasih... aku memiliki satu alternatif solusi untuk menghapus utang lima juta dolarmu dan mendanai penuh rumah sakit ayahmu. Sebuah kontrak baru. Dan kali ini, bayarannya jauh lebih mahal dari sekadar otak jeniusmu."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tentang Cinta Kita

read
231.0K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.3K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
174.0K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
11.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook