Edelia memperhatikan lama email yang Ia dapat, Ia terus berpikir dan bertanya-tanya pertemuan seperti apa yang membuat seorang wanita muda mengundangnya.
"Pengirimnya siapa?"
"Manifrista Group adm."
Jean teman satu rumah Edelia dipaksa ikut kembingungan oleh Edelia.
"Mungkin lo mau di hire?"
"Tapi gak mungkin deh masa di tempat cafe, bukan kantor?"
Kepada Edelia Mahagoni
di tempat
Saya mengundang anda untuk menghadiri pertemuan, pertemuan ini membahas sebuah kesepakatan di antara dua belah pihak yang menyangkut masa depan perusahaan kami. Pertemuan diadakan pada :
Tempat : Voila Cafe and Restaurant
Tanggal : xxx Januari 20xx
Waktu : 18.00 - selesai
Demikian undangan pertemuan ini kami sampaikan kami sangat mengharapkan kehadiran anda.
"Emailnya terlalu singkat, coba gue cari apa bener ada cafe seperti itu." Jean membantu Edelia mencari.
"Ketemu. Astagaaa."
"Huh?? kenapa ?"
Voila Cafe and Restaurant adalah usaha bidang food and beverage dengan dish yang menampilkan estetika dan dalam porsi kecil setiap piringnya. Harga tidak berbohong karena makanan disana dibuat oleh koki-koki yang tidak diragukan lagi kemampuannya.
"Perasaan gue gak enak." Ucap Edelia melihat ulasan dan harga menu disana.
"Manifistra Group adalah grup yang bergerak di bidang alat-alat kesehatan dan laboratorium dengan konsumen lebih dari sepuluh negara maju."
"Apa jangan-jangan gue mau dijadiin bahan percobaan?"
Jean memutar bola matanya malas dan menghela napasnnya. "Lo terlalu kaku untuk dilakukan kloning dan.. keahlian lo sejauh ini cuma kerja keras dan tepat waktu."
"Tapi gue gak too bad kan?" Kedua tangan Edelia membentuk huruf V di bawah dagunya.
"Udah dateng aja, siapa tau lo dihire kan? bos nya di tempat ini lebih baik?"
"Ck....."
***
Jimin memasuki dapur bakery dan nampak sudah beberapa staf yang sedang berdiri disana.
"Selamat pagi semuanya." Jimin menyapa para staf termasuk manajer dan QC.
"Selamat pagi pak."
"Hari ini kita kedatangan auditor dari badan studi kelayakan produksi, jadi mohon kerja sama nya untuk bekerja dengan baik." Ucap sang Manajer. "Kehadiran Pak Jimin disini adalah Ia ingin melihat langsung proses audit."
"Posisi saya hari ini adalah setara, kita harus bekerja sama dengan baik mendengar masukan dari tim audit bila ada koreksi."
"Baik pak."
Setelah beberapa hal disampaikan akhirnya briefing selesai, Jimin duduk di salah satu kursi café teresebut sementara staff yang lain mulai melakukan produksi dan pekerjaan. Audit kali ini bukan yang pertama bagi Jimin, namun jantungnya terasa berdegup kecang.
"Santai saja tuan." Sang Manajer menghampiri Jimin dan duduk di sebelahnya.
"Iya..." Jimin tersenyum.
"Saya sudah memastikan semuanya rapih dan sesuai pedoman, keterbukaan tangan dan pikiran Tuan Jimin membuat semuanya menjadi mudah, Tuan Jimin sudah bekerja keras dengan sangat baik."
"Ah tidak, biasa saja keterbukaan saya juga untuk mencapai tujuan yang sama demi kesuksesan toko dan roda kehidupan yang terus berjalan."
"Lima menit lagi mereka akan datang."
Jimin melihat-lihat berkas yang sudah dia serahkan, Ia melihat-lihat foto layout yang waktu itu Ia buat bersama manajer dan QC.
"Huft... mom, dad.. tolong bantu Jimin." Jimin menarik napas dan menahannya 4 detik kemudian Ia menghelanya.
Lima kemudian tim auditor masuk ke dalam café, Jimin bersama sang manajer dan seorang QC langsung berdiri.
"Selamat pagi dan selamat datang di café kami." Jimin menyambut tim auditor.
Rapat pembukaan dimulai dan kemudian mereka melaksanakan audit, sang manajer memang lebih banyak menjelaskan namun Jimin terus mendengarkan dan memperhatikan dengan sangat baik, Jimin dalam mode sangat serius kali ini.
"Audit lapangan sudah dilakukan setelah istirahat akan diadakan rapat hasil dan penutupan."
"Baik bu, kami menyiapkan beberapa hidangan sederhana untuk makan siang, mohon kesediaanya untuk menerima sajian kecil dari kami." Ucap Jimin dengan sopan.
"Wahh, terima kasih banyak Pak Jimin tidak perlu repot-repot"
"Mari bapak ibu, kami antar ke ruangan." Ucap seorang staff manajer.
"Terima kasih ya Pak Jimin, bapak juga jangan lupa makan siang."
Sementara sang manajer mengantar tim auditor makan siang, Jimin dan seorang QC langsung mencari tempat duduk dan menghela napas.
"Apakah aku terlihat sangat canggung tadi?" Tanya Jimin pada Gista.
"Tidak, Tuan Jimin sangat bagus tadi, berkat saran pak Jimin kemarin untuk melakukan simulasi mereka sudah terlatih."
"Huft syukurlah..."
"Saya ingin menyampaikan sesuatu sebelumnya." Gista mengucap dengan agak takut.
"Katakan saja."
"Saya ingin menyampaikan bahwa para staf harus memiliki sertifikat pelatihan minimal satu. Pelatihan keamanan pangan menjadi pelatihan paling sederhana."
"Okay.. lalu?"
"Yang jadi masalah adalah biaya yang dibutuhkan tidak sedikit tuan, saya sudah menyampaikan ini pada manajer namun..."
"Iya saya tahu, penjualan di outlet ini kurang mencapai target sebanyak dua persen kan?"
Gista terdiam, Ia tidak menyangka Jimin masih bisa berlaku santai membahas uang. Padahal di industri sebelumnya pas-pas an saja sudah menjadi masalah.
"Kamu tidak perlu memikirkan biaya itu, persiapkan saja apakah mereka sudah mengetahui dasar-dasar nya agar saat pelatihan mereka bisa menjalani test dan mendapat nilai yang baik. Masalah itu saya akan pikirkan."
"Oh ya sekaligus tentang sertifikasi kehalal an, bila hasil sertifikasi sebelumnya sudah keluar, kita akan langsung mengambil sertifikasi halal dan yang saya dengan itu bukan sertfikasi yang mudah namun saya percaya kamu dan manajer outlet ini bisa menangani dengan baik."
Jimin masih mengobrol dengan santai tanpa adanya tergesa-gesa maupun peningkatan emosi. Tak lama kemudian sang manajer datang.
"Tim auditor sedang istirahat, mereka mengatakan membutuhkan waktu kurang lebih dua jam untuk istirahat dan rapat tentang hasil audit hari ini."
"Baik terima kasih Rian. Ayo kita makan siang bersama." Ajak Jimin.
Gista maupun Rian langsung terbelalak, makan siang bersama?
"Ayo... kalian yang pilih resto nya."
***
"Tuan, pertemuannya pukul enam sore ini."
Jimin baru saja selesai berpamitan dengan tim auditor dan memberi selamat pada para staf atas kerja sama yang baik.
"Ck.. bukannya harusnya aku yang menentukan kapannya?"
"Mohon maaf tuan."
"Dimana? Lokasinya."
"Voila café and Restaurant."
"Aku akan tiba dalam waktu lima belas menit." Ia melirik jam tangan nya dan nampak pukul enam kurang sepuluh menit.
"Baik tuan."
Jimin duduk di dalam mobilnya, Ia mencoba menelpon neneknya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif."
Jimin menghela napasnya. "Benar-benar tidak ada keringanan kali ini." Ia segera menyisir rambutnya dan merapikan pakaiannya. Ia rasa akan mudah pertemuan kali ini, hanya untuk bertemu dan asisten neneknya tinggal melaporkan.
Lima belas menit berlalu dan akhirnya Jimin sampai pada café tersebut. Sang asisten melambaikan tangan dari kejauhan dan Jimin menghampiri.
"Ini hanya pertemuan biasa kan?"
"Sepertinya tuan belum membaca notes yang ditinggalkan nyonya pada bagian belakang map."
Jimin mengangkat salah satu alisnya.
"Tuan Jimin harus menjalin hubungan dengan wanita ini."
Deg.
"Apa maksudmu? Menjalin hubungan? Maksudnya? "
"Hubungan seperti sepasang kekasih."
"Maksudnya aku diminta berpacaran dengan orang ini? Aku bahkan tidak mengenalnya, aku tidak bisa memacari sembarang orang."
"Saya yakin nyonya sudah memikirkan kedepannya yang terbaik untuk anda."
"Kenapa wanita itu belum datang juga? Ini sudah lewat lima belas menit, bahkan seharusnya aku yang terlambat tadi."
"Sebentar lagi Ia akan datang tuan."
"Aku tidak suka orang yang terlalu lama mengulur waktu, lagipula kenapa Pak Edo tidak menjemputnya?"
Tak lama kemudian wanita yang mereka tunggu dari tadi akhirnya datang, nampak wanita itu berdiri di depan pintu bersama seorang wanita lain.
"Tunggu sebentar tuan, saya akan menjemput wanita itu di depan pintu."
Jimin hanya diam, Ia benar-benar tidak menyangka neneknya sudah mulai mengatur kehidupannya.
"Silakan ikuti saya nona."
"Tunggu." Jean menahan Pak Edo.
"Teman ku akan baik-baik saja kan?"
"Tenang saja, kami tidak akan berbuat jahat, nona boleh duduk disini untuk memperhatikan."
Edelia menatap ragu, namun Jean segera meyakinkannya. "Gue gak akan kemana-mana."
Edelia mengikuti langkah pria tersebut dan tiba di hadapan Jimin. "Silakan duduk nona."
Jimin kemudian meletakan ponselnya dan mentap Edelia.
"Silakan berbicara, tuan."
Pak Edo pergi meninggalkan mereka berdua, tak ada percakapan yang dimulai dari Edelia karena sesungguhnya Ia pun tidak tahu pertemuan apa ini.
"Ck... sepertinya aku pernah melihat mu." Ucap Jimin.
"Kesepakatan apa yang membuat anda mengundang saya kesini?" Edelia bertanya langsung, ia tidak mau pertemuan ini berlangsung terlalu lama.
"Kesepakatan ini bukan saya yang membuatnya, namun saya yang harus menjalankannya."
"Sebentar sepertinya aku tidak asing dengan wajah mu..."
Jimin mengingat-ingat namun tidak menemukan apapun, sementara Edelia di depannya terus bertanya-tanya kesepakatan apa yang mengudangnya.
"Anda harus menjadi kekasih saya."
Edelia langsung membelalakan kedua matanya. "Sepertinya ini kesepakatan yang paling aneh yang saya terima dalam hidup saya."
Pranggg...
Seorang pelayan yang sedang membawa pesanan minuman ditabrak oleh seorang anak kecil yang berlarian. Suara gelas jatuh berhasil mengalihkan konsentrasi orang-orang di dalam café.
"Tidakkk! Mana bisa seperti itu, memangnya siapa anda ? Saya bahkan tidak mengenal anda sama sekali."
"Aku tidak akan berbuat jahat, ini hanya sebentar."
"Lalu apa yang akan kudapatkan?"
"Kamu mau dibayar?"
Ini Gila, maksudnya laki-laki di depan Edelia menyewanya sebagagi kekasih?
"Kenapa harus saya? Anda lebih baik mencari orang lain."
Tatapan Edelia berubah menjadi tajam sekaligus terkejut.
"Ah iya, kamu yang menumpahkan minuman ke baju ku waktu itu di sebuah toko bakery kan?"
Edelia langsung meredakan ekspresi emosinya, astaga dia bahkan hanya melihat sekilas orang yang Ia basahkan bajunya. Edelia sangat kikuk waktu itu karena secara tiba-tiba Eric atasannya memanggilnya secara tiba-tiba di saat Ia membeli snack untuk staf.
"Kamu bahkan tidak meminta maaf dengan baik, padahal bila kamu tahu aku harus menghadiri acara setelah itu."
"Baiklah, aku memang teledor saat itu lalu kamu mau aku mengganti baju mu? Berikan saja aku akan mencucinya."
"Itu tidak sebanding, aku bahkan terlambat."
"Lalu, kamu mau aku mengganti apa?"
"Jadi kekasih ku."
Edelia kembali terkejut.
"Kamu membandingkan harga diri dan seluruh raga ini dengan baju mu yang ketumpahan milkshake? Kurang ajar!!!"
.
.
To be continue