4

1585 Words
"Lalu, kamu mau aku mengganti apa?" "Jadi kekasih ku." Edelia kembali terkejut. "Kamu membandingkan harga diri dan seluruh raga ini dengan baju mu yang ketumpahan milkshake? Kurang ajar!!!" *** Satu minggu berlalu sejak kejadian itu, untungnya saja Edelia tidak melempar air pada Jimin. "Grandma sampai jam berapa? Aku jemput ya." Jimin baru saja menandatangani surat kerja sama yang baru sampai pagi ini. "Tidak perlu, kamu lebih baik menjemput wanita mu." Wanita?? Kapan Jimin punya wanita. "Jangan bilang kamu belum berhasil." "Eum. Belum." "Tapi aku sudah berusaha, coba saja tanyakan pada Pak Edo, wanita itu tidak mau." "Pendekatan kamu sepertinya terlalu tergesa-gesa dan tidak halus, grandma yakin." "Lagipula dia siapa sih? Aku gak kenal, dia bukan anak dari salah satu pimpinan perusahaan rekan nenek kan?" "Bukan.." "Ya sudah yang lain saja, dia juga bertanya pada ku 'kenapa harus aku? Kenapa tidak yang lain?' Aku bahkan tidak tahu kenapa harus dia." Nenek Jimin menghela napasnya pelan dan mengusap pelipisnya pelan. "Coba lah hingga tiga kali lagi, setelah itu grandma akan biarkan kamu memilih jalan mu sendiri." "Apa untungnya buat ku?" "Susah ya meminta pada cucu terakhir memang seperti ini. Grandma tutup dulu, grandma ingin istirahat, grandma sudah di mobil arah pulang." Nuutt... Panggilan dimatikan sepihak, Jimin kemudian tersenyum. "Aisshh.. kenapa dia semarah itu, memang benar kata orang-orang perjodohan dan percintaan masalah yang sensitif." Jimin meletakan ponselnya dan kembali melakukan pekerjaanya. *** "Halo semuanya, hari ini aku mau ngereview product dari Gurl Beauty and Care." Edelia melakukan video di ruang pantry, ruangan ini ada ruangan paling sepi di saat istirahat baru dimulai karena semua staf langsung turun ke kantin untuk membeli makan. "Produk ini udah aku pakai kurang lebih selama satu bulan dan comfortable banget, kulit aku jadi gak kerasa kering apalagi tiap hari aku kerja di ruangan ber-AC yang beuhh dingin banget dan bisa ngerusak kulit." Edelia mengaplikasikan pada tangannya dan mencoba menghirup aroma dari body lotion. "Kalian tahu gak sih ini tuh wanginya enakkkk banget fresh dan bikin tenang, kalau pagi-pagi rasanya tuh ngantuk banget kan ya pas mau berangkat kerja nah pas pakai ini tuh jadi semangat kerja gitu guysss.." "Jangan lupa beli ya, link olshop dan akun sosmed nya aku taro sini, jangan lupa mampirr!!" Drttttttt. .. drttttttt drrtttttt Incoming Call Lovina. "Halooo?" "Halo mbak, darurat nih mbak." "Ada apa?" "Tuan Eric mau ke kantor." "Loh kok gak pulang dulu?" "Tadi ada telepon kalau ada yang mau tanda tangan kontrak secepatnya, tolong bantuannya ya mbak, ini dari Lin Group." "Saya mau naikin koper dulu ke mobil si boss.." Edelia langsung merinding seketika, bulu kuduk nya berdiri. Padahal Ia tahu Eric masih berwujud manusia bukan yang lain namun Ia sepanik ini. Dengan cepat Ia langsung memotret barang yang baru Ia review dan langsung mengirim ke statusnya. Ia segera berlari keluar dan memasuki setiap lantai. Nampak beberapa staf sudah ada yang di dalam kantor namun masih membuka bekal dan sharing satu sama lain. "Ninuninun, Boss mau ke kantor mohon beres-beresss!!!!!" Edelia seketika nampak seperti tim keamanan yang sedang sidak, seketika staf setiap lantai membereskan barang-barang yang berada di tempat seharusnya. Edelia langsung berlari ke meja kerjanya dan mengecek email dari Lovina. Ia mengeprint dengan segera dan melakukan panggilan pada seorang staf yang bertugas membantu Edelia membuat jamuan. Drtttttt.. drttttt... drttttt... Incoming call Lovina "Halo mbak? Udah siap semua kan?" Ucap Lovina sambil berbisik melalui telepon. Ia kini berada di kursi paling depan di sisi kursi pengemudi, sementara Eric di bagian belakang sedang melakukan panggilan lain juga. "Sedang dipersiapkan, kalian akan sampai berapa lama lagi?" "Kalau di maps, 15 menit lagi mbak." Edelia melirik jam tangannya dan menelan ludahnya kasar kemudian tersenyum. Apapun yang terjadi harus tersenyum agar menjaga diri tetap waras. "Mbak tolong baju saya juga di laci paling bawah, saya tidak mungkin bongkar koper." Nutt... Edelia langsung menjelaskan beberapa hal pada staf yang membuat jamuan dan mempersiapkan kantor sang pimpinan. "Aishhh, bagaimana jantung ku bisa tenang bila seperti ini." Ruangan nampak rapih, tak ada yang perlu Edelia bereskan Ia hanya menyalakan pendingin ruangan dan mengecek keharum an ruangan. "Okay beres." Edelia meletakan map yang berisi berkas yang telah di cetak dan disiapkan di atas meja sang pimpinan, kini Ia dapat bernapas tenang. Ia segera pergi ke toilet untuk memperhatikan penampilan. Ia melirik jam tangannya lagi nampak waktu yang tersisa tinggal lima menit. "Okay, semua sudah siap semua akan baik-baik saja." Edelia bahkan lupa Ia belum makan siang, waktunya terlalu sibuk untuk membereskan hal yang sangat mendadak. Ia kemudian melakukan panggilan ke setiap lantai. "Sudah rapih mbak, tenang." "Sudah mbak, staf sudah pada kumpul semua." "Sudah mbak.." Edelia kini duduk di kursinya menarik napas sesekali untuk menghilangkan rasa gugupnya. Tak lama kemudian datang Eric diikuti dengan beberapa staf yang usai melakukan kunjungan. "Selamat datang kembali tuan." Ucap Edelia pada Eric. "Semua sudah siap?" "Sudah tuan, apakah ada yang tuan butuhkan?" "Sejauh ini belum." "Baik tuan, saya ada disini." Eric langsung masuk ke ruangan dan menutup pintunya. Staf yang usai liburan sambil bekerja langsung mencari kursi kerja mereka dan duduk. "Haduhh gak ada istirahatnya sama sekali." "Mbak El udah makan siang?" Lovina kini bertanya. Edelia menggelengkan kepalanya. "Sama mbak kita juga." "Ya sudah setelah tamu nya datang kita makan siang." Ucap Edelia menenangkan. Waktu berlalu dan akhirnya pertemuan Eric dengan tamu usai. Mereka langsung memanggil staf yang menyiapkan sajian untuk membelikan makan. "Nasi aja deh, malas pikir." Edelia memakan makanannya sambil mengecek ponsel nya, Ia melihat-lihat sosial media beberapa influencer sebagai refrensi review product. Drt. Drt.. Sebuah email masuk ke dalam ponselnya. Email dengan alamat yang berbeda, kini dengan sebuah nama di depannya. Lovina menyadari tampang serius di wajah Edelia dan bersiap menanyakan. "Email apa itu mbak?" "Entah lah.." "Mbakk? Mbak gak interview selama saya gak ada disini kan mbakk?" "Euhmmmm....." "Mbak jangan gitu dong, jangan pergi siapa yang handle ini semua. Saya belom siap, minimal tiga bulan kek saya latihan dulu." "Kelamaan dong kalau kayak gitu." "Mbakkkk." "Nggak kok gak." Edelia menuju toilet dan bersandar di washtafel toilet itu. Email undangan lagi, kali ini undangan yang berbeda. "Dimohon kehadiran anda merayakan hari kebahagian kami." Entah Edelia harus sedih atau senang melihat undang ini. Masa lalu yang terlalu pahit membuat Ia sangat kebingungan perlu sedih atau senang. Drt.. drt.. drrtttt.... drttttt..... Sebuah panggilan masuk, nomor tidak dikenal. Ia memilih untuk tidak menjawab. "Siapa sih." Edelia segera memasukan ponsel ke saku nya dan bergegas keluar dari toilet. Ddrrrrrrttt.... drrtttt...... Ponsel nya kembali begetar panggilan masuk dari nomor yang sama. "Halo." "Halo nona, masih ingat saya?" Edelia hanya bisa terdiam. "Sebuah mobil akan menjemput anda pukul lima sore usai anda bekerja, kami tidak akan bermaksud jahat. Mohon kerja sama nya, terima kasih." Ini gila, benar-benar Edelia diteror sekarang. Ia yakin ini dari orang yang sama, Ia harus segera mengakhirinya. Pukul lima sore nampak di jam digital ruangan kantor. Edelia belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Ia sangat benci mengulur waktu namun prioritasnya tidak bisa dikesampingkan. Setelah satu jam berlalu akhirnya Ia selesai juga dengan pekerjaannya. Ia kemudian masuk ke dalam elevator. Pikirnya kini pasti sang peneror sudah tidak menunggu nya. "Selamat sore, dengan Nona Edelia." "Kalian menunggu ku dari tadi? Satu jam?" "Sebenarnya kami menunggu sejak pukul empat sore." "Mohon bantuannya nona, kami hanya melakukan pekerjaan dan kami tidak akan berbuat jahat." Edelia mengambil gambar plat nomor mobil yang akan Ia tumpangi dan akhirnya masuk. Anehnya, dirinya tidak merasakan apapun yang mengancam maupun gelisah. Tanpa sadar Ia sudah di sebuah pintu masuk sebuah hotel. "Mari nona, saya antarkan." Edelia memasuki elevator dan elevator tersebut enggan berhenti, kini Ia berada di lantai kedua dari paling atas gedung. Sebuah pintu kamar hotel terbuka, sang staf yang mengantar Edelia kemudian pergi meninggalkan Edelia sendiri dalam kamar itu. Nampak hotel dengan tipe VVIP yang berisi ruang tamu dan kamarnya terpisah bahkan ada mini pantry disana. Seorang pria keluar dari kamar dengan tangannya membawa map. "Silakan duduk Nona Edelia." Pria yang tak asing wajahnya bagi Edelia mengingat ini bukan kali pertama Ia bertemu dengan laki-laki itu. Edelia duduk di sebuah sofa berhadapan dengan pria tesebut. "Aku belum memperkenalkan namaku, perkenalkan namaku adalah Jimin Acynonyx." "Saya Edelia." Ucap Edelia tanpa membalas jabatan tangan Jimin. Jimin tersenyum, Ia menghela napasnya. "Sebelumnya mohon maaf, ini kali kedua saya terlambat, hal ini karena pekerjaan yang tidak bisa saya kesampingkan." "Baik saya mengerti, saya bisa menunggu anda sampai kapan pun." Jimin tersenyum. Edelia merasa sangat janggal dengan semua ini. Jimin di pertemuan sebelumnya tidak seramah ini. "Baik... tujuan saya bertemu anda masih sama, menjadikan anda sebagai kekasih saya, belum berubah. Saya membawa surat kesepakatan." Jimin menyodorkan diatas meja map berisi kertas tersebut. "Haruskah pembahasan seperti ini di hotel?" "Pertemuan sebelumnya, di tempat ramai dan anda mengadu emosi dengan saya, usai anda pergi semua orang di cafe itu menatap saya." Jimin tersenyum lagi. Edelia mengambil kertas tersebut dan membacanya. Kesepakatan ini berjalan dengan keuntungan, pihak pertama membuat perencanaan dan pihak kedua mengikuti. Hal yang harus dilakukan pihak kedua untuk pihak pertama adalah.. 1. Menjadi kekasih 2. Tidak melibatkan perasaan pribadi 3. Saling mengabari layaknya kekasih 4. Hadir ke beberapa acara yang dihadiri oleh pihak pertama. 5. 6. 7....... Kemudian secara tiba-tiba Jimin menempelkan sebuah sticky notes di meja. "Ini kontraknya." "Gue gak mau." Jimin menarik napasnya perlahan dan membuangnya perlahan. Ia kehabisan akal untuk membuat wanita di depannya mengikuti rencananya. "Hanya 45 hari." Di sisi lain wanita di depannya sedang di ambang kebingungan, kapan lagi Ia bisa mendapatkan bantuan tanpa harus mencari di aplikasi dating. Namun tubuhnya berkata lain, kedua tangan wanita di depannya malah merobek selembar kertas itu hingga berkeping-keping. Edelia kemudian berjalan keluar meninggalkan kamar hotel itu. "Gue harus mendapatkannya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD