18. Hukuman Karena Gagal

1357 Words
Nono tak berkutik. Si wanita bertahi lalat di dagu itu menyeretnya lewat pintu belakang Rumah Sakit, setelah mengikat kedua tangannya di belakang punggung. Membawanya ke area parkir pegawai Rumah Sakit dan sebuah mobil berwarna hitam pekat sudah menanti di sana. Dalam dua menit berikutnya, Nono dan si wanita sudah duduk di bangku belakang mobil dan mobil mereka melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang, seolah tidak melakukan tindak kejahatan apapun. Karena menculik kriminal dari Rumah Sakit adalah tindakan kriminal juga. "Kau siapa?" desis Nono lagi. Dia semakin tidak yakin dalam beberapa jam ke depan masih akan bernapas di dalam mobil ini, atau dia akan kembali ke Rumah Sakit menempati Kamar Mayat. Itu setali tiga uang namanya. "Kalau kau tetap ingin hidup, sebaiknya kau tidak tahu siapa aku." Wanita ini tidak hanya kasar, tapi juga tajam lidahnya. Nono meringis menahan sakit. Diliriknya perban yang membalut kakinya sudah mulai menampilkan noda merah. Dia yakin, tulangnya kembali patah. "Kalau begitu, terima kasih sudah menjemputku dari Rumah Sakit. Bisakah kalian mengantarku pulang?" Nono menatap si wanita yang memandang lurus ke depan, ke arah bangku belakang sopir. Wanita itu tampak seperti patung, menimbulkan kengerian yang semakin mencekam bagi Nono. Baginya, lebih baik baku hantam dan membuat sekujur tubuhnya lebam daripada harus berada dalam situasi seperti ini. Beberapa detik, suasana begitu sunyi. Tiba-tiba sebuah gerakan kilat dari si wanita membuat Nono merasakan perih di lehernya, dan si wanita masih dengan posisi duduk menegak punggung telah menempelkan pisau di lehernya. Nono merasakan cairan hangat mengalir dari lehernya yang terasa ngilu karena tekanan benda logam tipis dan tajam yang semakin menekan, membuatnya terhimpit di kaca jendela. Nono menatap kendaraan yang melaju cepat menyalip mobil yang ditumpanginya. Perlahan, mobil pun menepi, membuat si wanita semakin menekan pisaunya di leher Nono. "Kau memang tak tahu terima kasih Nono," desis si wanita yang punggung tangannya terasa begitu dingin di rahang Nono. "Seharusnya kau bersyukur Jalal Bokeh menyelamatkanmu dari Rumah Sakit." Nono memejam mata. Tidak, justru keluar dari Rumah Sakit hanya akan membuatnya sekarat, seperti saat ini. "Kalian utusan bos Bokeh?" tanya Nono serak, napasnya mulai tersengal. Suara klakson kendaraan yang berseliweran mulai terasa seperti panggilan kehidupan baginya. Namun mustahil dia meminta tolong pada siapapun saat ini. “Kau sudah tahu apa akibatnya bila gagal dalam tugas.” Suara wanita itu semakin dingin di telinga Nono. Semua anak buah Jalal Bokeh sangat memahami kalimat yang diucapkan wanita itu. Siapapun, tanpa kecuali harus menanggung akibat dari ketidakbecusan menjalankan perintah Jalal Bokeh. Bos besar yang tidak semua orang tahu yang mana orangnya, bagaimana wajah dan tindak tanduknya. Hanya nama yang disegani dan ditakuti, karena tangan kanannya selalu tahu apa yang terjadi. Tak ada anak buah Jalal Bokeh yang luput dari hukuman, sebagaimana tak ada yang terlewat untuk mendapatkan kompensasi. Organisasi kriminalnya benar-benar tertata rapi oleh banyak tangan kanan yang setia padanya. “Tentu aku tahu.” “Kau ada penawaran untuk tetap bernapas?” Wanita itu mendekatkan wajahnya, hingga Nono bisa merasakan hembusan napasnya menerpa lehernya yang semakin ngilu dan perih. “Dean Parker.” “Siapa itu?” “Dia mencari Bos Besar.” Wanita itu menekan kembali pisaunya. “Semua orang mencari Bos Besar. Kau mau mengelabuiku?” Nono tersedak. Dia berusaha mengatus napasnya yang tersengal, namun wanita itu menghimpitnya semakin kuat. Dia yakin, nyawanya sudah di ujung kerongkongan. Tidak memberi informasi apapun, tidak masalah baginya. Namun bila kematiannya membawa kebohongan, maka nasib anak dan istrinya tidak akan jauh berbeda dengannya. Bergabung dengan Jalal Bokeh, maka anak dan istri adalah jaminan bagi Bos Besar. Sudah bertahun-tahun, hidup mereka terjamin. Kematiannya hanya akan membuat mereka sengsara, apalagi bila tidak ada informasi penting yang diberikannya pada Jalal Bokeh. “Istrimu sedang hamil tua dan Bos Besar sudah memerintahkan untuk menjemput Diana kecil pulang dari sekolah. Karena istrimu tidak bisa menjemputnya. Jadi …” “Dean Parker bergabung dengan PIC!” ucap Nono sekuat tenaga. “Dia akan mendapatkan Bos Besar dengan segala cara. Dia lebih pinter dari orang-orang t***l di PIC.” “Hmm, informasimu sama sekali tidak berharga.” “Tunggu!” Nono berusaha mengatur napas yang semakin tersengal. Sekujur tubuhnya sudah dingin, dan darah dari lehernya sudah membasahi bajunya. “Tugasmu mendapatkan Keen365.” “Dia tahu di mana Keen365.” Wanita itu menyeringai puas. Dia lalu menarik badannya yang menghimpit tubuh Nono. Membuka pintu mobil dan menendang Nono keluar. Sebelum dia menutup pintu, terlebih dulu memastikan Nono masih bergerak di tepi, berusaha mendapatkan udara untuk memperpanjang napasnya. Dengan luka di leher berlumuran darah, sudah dipastikan Nono tidak akan bisa bertahan. “Bila ada waktu, jemput anak istrimu di markas.” * Dean dan Elly kembali ke PIC membawa setangkai mawar hitam sebagai barang bukti. Tentu saja setelah bersitegang dengan penjaga makam yang berusaha mempertahankan bunga Mawar Hitam milik Ajeng. Dan lelaki sepuh itu pun terdiam tanpa protes ketika Elly menyelipkan selembar uang bergambar Sukarno-Hatta di saku bajunya. Dalam perjalanan kembali, kedua agen PIC itu kembali duduk dalam diam. Dean kurang setuju dengan tindakan Elly menyuap si penjaga makam. Hal itu hanya akan membuat mereka akan mengeluarkan lebih banyak uang untuk mendapatkan informasi tambahan lainnya. Tapi Elly berkilah, mereka tidak akan berurusan lagi dengan lelaki sepuh doyan duit itu. “Siapa Ajeng?” tanya Dean pada Elly yang disambut endikan bahu. Elly tampak sedikit pucat saat perjalanan kembali ke PIC. Dia juga berkali-kali memijit pelipisnya. Sepertinya kondisinya memang masih belum pulih sempurna. Tapi tentu saja dia tidak nyaman bila harus menambah cuti lagi. “Kau tidak apa-apa, Elly?” tanya Dean khawatir. “Kita mampir minum atau makan?” “Aku baik-baik saja,” jawab Elly seraya menggeleng. Pikirannya masih disibukkan dengan nama Ajeng dan Mawar Hitam yang sudah terbungkus plastik dan diletakkan di dashboard oleh Dean. Sepanjang perjalanan, matanya tak lepas dari bunga tersebut. “Wanita itu sengaja meninggalkan namanya pada penjaga makam. Aku yakin dia ada kaitannya dengan Keen365,” ucap Elly sengaja setengah menggumam. “Kita harus mencari tahu siapa yang pertama kali memposting foto mawar hitam itu.” “Seorang pelayat, PIC sudah mendapatkan dia.” “Siapa? Ajeng?” Dean menggeleng. “Ajeng orang yang meletakkan bunga itu, dan mengatakan pada penjaga makam berkali-kali hingga lelaki tua itu bisa mengingat namanya. Atau mungkin memberinya sesuatu yang sangat dibutuhkan. Uang, mungkin. Seperti yang baru saja kau lakukan.” Elly terdiam. Penjaga makam itu sudah pasti tidak akan lagi mengingat siapa wanita yang mengaku bernama Ajeng–bila uangnya sudah habis. Tidak ada CCTV di sekitar makam dan jumlah pelayat juga tidak sedikit. Akan semakin sulit menemukan siapa Ajeng sebenarnya. Bahkan penjaga makam tidak lagi ingat pakaian yang dikenakannya, meski baru tadi pagi wanita itu meletakkan bunga Mawar Hitam di makam Pak Robi. “Anggota dewan juga. PIC sedang menyelidiki siapa dia, dan kenapa dia mengupload mawar hitam itu di medsos. Tindakannya membuat netizen semakin mengakui kealian Keen365 dalam meramal masa depan.” Keen365 tak pernah memposting gambar sebelumnya. Sejak awal dia hanya memposting teks. Sudah jelas dia tidak mencari pengakuan diri sebagaimana netizen lain yang memburu follower. Elly semakin penasaran dibuatnya. “Mungkin Bu Maya tahu siapa Ajeng.” Elly mengerut kening. “Siapa Bu Maya?” “Istri Pak Robi.” “Kita ke sana? Atau menunggu perintah dari Kapten Hanung?” tanya Elly. Kepalanya mulai terasa pusing. Dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebungkus obat yang biasa dikonsumsinya. Dean hanya meliriknya ketika Elly mencari minuman lalu menenggak beberapa butir obat. “Kita kembali saja ke PIC. Kamu harus istirahat dulu.” Dean lalu membelokkan mobil menuju PIC. Dia tidak ingin Elly pingsan lagi, meski wanita itu masih bersemangat untuk berburu informasi. Urusan Bu Maya bisa ditunda, lagipula janda ketus itu bukan orang yang menyenangkan untuk dikunjungi. Meski PIC masih punya kepentingan yang lebih penting lagi berkaitan dengan Kamandanu. Belum ada yang berhasil menemukannya. Ponsel Elly berdering. Dia bergegas mengeluarkan dari saku celananya dan mendapati nama Kapten Hanung di layar ponsel. “Ya, Kapten?” “Kalian di mana?” Suara Kapten Hanung terdengar tidak sabar. Sesuatu pasti telah terjadi, dan Elly sungguh tidak berharap ada ramalan baru lagi dari keen365. Elly melirik Dean yang sedang fokus menyetir. “Kami, akan kembali ke Kantor.” “Kalian ke Rumah Sakit dulu. Nono kabur.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD