"Kirain bakal nginep di hotel ... taunya pulang. Kaya baru sehari aja belagu."
Anna menyunggingkan senyum sinis saat mendapati mobil Harris terparkir rapi di garasi.
Wanita itu mengarahkan pandangan pada pintu utama yang tertutup rapat. Dia menduga jika dua pintu besar itu dikunci dari dalam. Jadi, berinisiatif melewati pintu samping.
Sebenarnya, Anna sangat malas kembali ke rumah itu. Dia kemari hanya untuk mengemasi barang-barang pribadinya, tidak lebih. Biar bagaimanapun juga, dia cukup tahu diri dengan tidak mengemis untuk dipungut setelah dibuang.
"Pintu samping juga dikunci," gumamnya seraya terus menggerakkan gagang pintu.
"Maksud mereka apa, sih? Aku cuma mau mengambil barang-barangku." Karena kesal, Anna memukul kencang pintu kayu yang ada di depannya.
Perhatian wanita itu teralih saat mendapati tempat sampah plastik berukuran besar yang terlihat penuh, bahkan terlampau penuh hingga tutupnya tidak bisa menutup dengan sempurna. Beberapa helai kain tampak keluar dari bibir tempat sampah tersebut.
"Ini 'kan tong sampah depan ... kenapa bisa di sini?" Anna berucap seraya memerhatikan benda itu.
Demi mengikis rasa penasaran, wanita segera membuka tong sampah tersebut. Dia sangat terkejut saat mendapati setumpuk baju berada di sana bersama sampah-sampah lainnya. Dengan menahan rasa jijik, dia merentangkan helaian kain tersebut satu per satu untuk memastikan jika lembaran-lembaran pakaian itu bukanlah miliknya.
"Sial! Ini milikku. Mereka keterlaluan!"
Anna mengeram marah. Dia segera mengedarkan pandangan ke segala arah, hingga matanya tertuju pada satu titik, sebuah koper teronggok mengenaskan di atas rerumputan hijau. Netranya memicing untuk memperjelas, dan benar saja koper itu memanglah miliknya. Bagaimana bisa dia tidak menyadari ada koper di sana.
Amarah dalam diri Anna tak dapat terbendung lagi. Wanita itu segera menggedor seluruh pintu dan kaca bermaksud untuk membangunkan para penghuni rumah. Dia ingin menuntut penjelasan mengenai tindakan mereka yang memperlakukan barang-barangnya seperti sampah.
"Buka pintunya, keluar kalian, Para Manusia gak punya hati!"
Suara keributan itu berhasil mengusik tidur lelap para penghuni rumah. Hanny yang masih menguap tampak keluar kamar lengkap dengan wajah yang tidak bersahabat. Begitu juga dengan Resti–sang ibu, disusul dari arah tangga tampak Harris tengah menuruni satu per satu anak tangga dengan menggandeng Kavia.
"Astaga, Bu ... siapa sih? Pagi-Pagi buat keributan," keluh Hanny dengan menahan kesal.
"Tau tuh! Waktu tidurku sama Mas Harris jadi keganggu. Mana badanku pegel semua lagi," sahut Kavia seraya menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Bagaimana tidak, dini hari mereka baru terlelap. Setelah acara pesta, dia tidak langsung tertidur karena harus melayani hasrat suaminya terlebih dahulu.
"Bentar Ibu cek dulu, kali aja itu orang gila dari kompleks sebelah." Resty segera menuju pintu dengan gestur menahan geram.
Wajahnya merah padam saat mendapati menantu yang tak pernah ia harapkan tengah menatap tajam ke arahnya.
"Gila kamu! Apa kamu gak liat ini masih pukul berapa? Berani-beraninya buat keributan di rumah saya," hardik wanita paruh baya itu.
"Kalian yang gila! Maksud kalian apa buang semua bajuku ke tong sampah?" teriak Anna yang tak mau kalah.
Jika biasanya dia akan mengalah saat mendapat hardikan dan bentakan, tetapi tidak untuk kali ini. Anna akan melawan siapa pun yang merendahkan harga dirinya.
Semua orang yang masih ada di dalam rumah bergegas keluar saat mendengar suara keributan di teras. Raut wajah mereka tak jauh berbeda dengan Resty.
Anna menatap nyalang satu per satu orang yang ada di hadapannya.
Kavia memindai penampilan Anna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Penampilannya terlihat berantakan disertai bau alkohol yang menguar, sisa mabuk semalam. Wanita itu kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Harris yang berhasil membuat rahang pria itu mengetat.
Dengan penuh kemarahan, dia mendekati mantan istrinya, lalu menyeretnya hingga keluar teras.
"Kamu kalau mabuk, jangan buat keributan di rumahku. Pergi sana!"
"Aku gak mabuk. Aku sadar, sangat sadar! Aku gak niat buat keributan. Aku cuma mau ambil semua barangku ... kenapa kalian buang ke tong sampah?"
Sebuah tamparan keras mendarat ke pipi wanita itu. Harris sangat marah saat melihat Anna berani melawan ucapannya. Anna pagi ini berbanding terbalik dengan Anna yang biasanya terlihat lugu dan penurut.
Anna mengusap pipi yang terasa panas bekas tamparan Harris. Matanya tampak memerah menahan sakit dan amarah yang bercampur menjadi satu.
"Puas kamu! Setelah menyakiti hatiku, sekarang menyakiti fisikku. Aku akan pergi tanpa kamu suruh, tapi bukan begini caranya. Bisa tidak, kalian menghargai aku sekali saja?"
Dia tak pernah menyangka jika Harris akan bertindak demikian atas dirinya. Padahal selama ini dia tidak pernah menuntut apapun dari pria itu. Berapa pun pemberiannya selalu ia terima tanpa banyak protes. Akan tetapi, apa yang didapat atas ketulusannya. Harris justru membalas dengan sebuah pengkhianatan.
"Memang kamu mau harga berapa?" sahut Kavia yang sejak tadi hanya diam, "Oh, tunggu sebentar!"
Wanita itu tampak berbalik memasuki rumah, tak lama kemudian kembali keluar dengan membawa segepok uang. Kini, dia telah berada tepat di hadapan mantan istri suaminya.
"Apa segini cukup?" Kavia menghamburkan lembaran-lembaran uang itu di depan Anna.
Anna hanya bisa mematung ketika lembaran kertas berwarna merah itu menghujani tubuhnya. Matanya memerah menahan amarah. Sakit yang dirasakan Anna saat diperlakukan seperti itu. Dia yang tidak terima pun menjambak rambut Kavia dengan kuat.
"Aku bukan w************n yang gila uang, tapi kamu ... kamu w************n itu!" geramnya tepat di telinga Kavia, bahkan jeritan kesakitan wanita itu tak dia hiraukan.
Semua panik menyaksikan tingkah Anna yang bar-bar. Resty dan Hanny berusaha memisahkan mereka. Namun, semakin berusaha dipisahkan, tarikan pada rambut Kavia semakin kencang hingga jeritan wanita itu semakin memekik.
Kavia yang tidak terima dihina seperti itu seketika mencakar tangan Anna yang berada dalam jangkauannya. Saat itu pula, jambakan yang ada di rambutnya terlepas. Anna mendesis menahan perih akibat goresan kuku wanita itu. Dia yang berang pun berniat melayangkan sebuah tamparan. Namun, Harris berhasil menangkap tangannya.
"Lepaskan, Mas!"
"Tidak akan! Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti istriku lagi."
Tanpa belas kasihan, pria itu mendorong Anna hingga tersungkur di atas rerumputan.
"Pergi kamu! Aku muak melihat wajahmu," bentak pria itu.
Setelah mengusir Anna, Harris berlalu begitu saja ke dalam rumah seraya menyambar tangan istrinya barunya.
Kavia sempat menyunggingkan senyum mengejek. Dia sengaja memamerkan kemesraan di depan wanita itu seolah menunjukkan jika sekarang Harris telah menjadi miliknya.
Anna hanya bisa menatap kepergian mantan suami dan istri baru dengan tatapan penuh luka. Belum sempat bangkit, dia kembali dikejutkan dengan hujaman helaian baju dan sampah dari arah atasnya.
"Sampah memungut sampah ... ambil tuh baju-baju rombengmu!" kata Hanny seraya membuang tempat sampah ke sembarang arah. Dia sangat puas melihat keadaan mantan adik iparnya yang sangat menyedihkan.
Dengan tanpa perasaan, wanita itu berlalu meninggalkan Anna begitu saja. Tak lama setelahnya, terdengar dentuman pintu yang sengaja ditutup kencang. Luruh sudah air mata yang sejak tadi berusaha ditahan. Tangan yang berada di atas rerumputan mengepal erat seraya menatap penuh dendam pada pintu besar yang sudah tertutup rapat.
"Sampai kapan pun aku akan ingat semua perlakuan kalian. Kalian belum tahu siapa aku. Lihat saja! Aku akan buat kalian menyesal."