Kalau lisanku tak terucap rindu, carilah di mataku, rasakan dari pelukanku, resapi dari jari-jemariku yang memilin tanganmu erat.
***
Saga baru saja selesai lari pagi. Saat akan memasuki rumah, ia justru memutar langkahnya menuju ke belakang rumah. Setelah melewati taman dan aneka pohon, kini Saga berdiri di depan bangunan duplikat gudang lama. Rumah mungil Kayonna, begitulah ia kemudian menyebutnya.
Awalnya Saga yakin untuk mengetuk rumah itu, menyapa Kayonna, dan mengingatkan Kayonna akan aturan jam malam di rumah. Apalagi Kayonna perempuan, akan sangat berbahaya jika pulang larut malam.
Namun semuanya menguap. Saga gelisah dan kepercayaan dirinya mengendap. Ia bolak-balik di depan pintu. Berulang-ulang kali mencoba untuk mengetuknya dan berakhir pada keraguan. Mulut Saga komat-kamit, mengulang-ulang kalimat yang sama, tetapi dengan nada yang berbeda-beda. Semula tegas, kemudian manis, selanjutnya lembut.
Setelah memantapkan diri seyakin-yakinnya, Saga berdiri di depan pintu. Ia memejamkan mata dan mengembuskan napas beberapa kali. Dicobanya lagi pertanyaan yang tadi sudah dilatih. "Yonna.... Apa kabar?"
"Baik."
Saga melotot dan berjingkat memutar tubuhnya. Dilihatnya Kayonna dengan baju lari sederhana, rambut dikucir, berdiri menatap Saga. Kedua tangannya dilipat ke d**a, penuh penguasaan, membuat Saga menjadi ciut.
"Dari mana?" pertanyaan yang tak perlu, tapi hanya itu yang keluar dari mulut Saga.
"Lari."
Jawaban singkat Kayonna, hanya makin memperparah keadaan Saga. Selama ini, Sagalah yang bersikap acuh tak acuh kepada orang lain yang sudah membuat dirinya tidak nyaman. Tapi kali ini, situasinya menjadi terbalik, Sagalah yang membuat Kayonna tidak nyaman dan itu memalukan.
Perasaan malunya yang membuncah mengembalikan ego Saga. Ia menegapkan diri dan melangkah mendekati Kayonna yang masih berdiri kokoh. Keduanya kembali beradu mata, sangat dekat, bahkan terlalu dekat hingga Saga bisa mencium aroma bunga dari rambut Kayonna.
"Semalam kita belum selesai," ucap Saga.
"Tentang?"
"Tentang kamu yang pulang terlalu larut. Apalagi berboncengan dengan pria."
"Itu ojek."
"Tetap aja itu pria."
"Masalahnya yang mana?"
"Kok yang mana?" Saga tak mengerti pertanyaan Kayonna.
"Pulang larut malamnya atau berboncengan dengan pria?"
Serta merta Saga salah tingkah. Ia pun bingung, sebenarnya ia harus marah-marah yang mana, dan untuk apa pula ia menekankan juga tentang berboncengan dengan pria. Kesannya ia sendiri sedang cemburu buta.
"Kalau tentang pulang larut malam, ke depannya jika sudah kemalaman, saya akan tidur di rumah sakit. Kalau tentang ojek pria, saya gak bisa pilih-pilih, asal saya bisa pulang, cowok-cewek sama saja. Sudah?" Tanpa menunggu jawaban dari Saga, Kayonna melangkah cepat melewati Saga dan segera masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Kayonna bersandar di pintu. Ia mengembuskan napas panjang, seolah baru saja terbebas dari suatu bencana. Kayonna juga menekan dadanya, mencoba meredam degup jantung yang melompat tak beraturan dan cukup menyiksa.
Kayonna benar-benar tak mengerti kenapa dengan perasaannya. Sama seperti saat pertama bertemu di halaman, sama seperti saat ia menatap Saga di jendela, sama juga seperti tadi malam di depan gerbang, pagi ini pun, jantung Kayonna berdebar-debar.
Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk dengan ketukan yang cepat. Kayonna yakin itu masih Saga. Diaturnya napas dan beberapa kali menelan ludahnya sendiri sebagai pengganti air dengan harapan dirinya bisa kembali tenang.
Setelah yakin dirinya baik-baik saja, Kayonna membuka pintu. Sengaja Kayonna tidak membentang lebar daun pintu dan Saga kesal karena itu terlihat seolah Saga seorang penjahat yang harus diwaspadai.
"Mana handphone-mu?" pinta Saga sembari mengulurkan tangan.
"Buat apa?"
"Mana dulu."
"Ya, tapi buat apa?" tanya Kayonna dengan kukuh.
"Kamu kasih sekarang atau saya yang harus geledah?" Saga menatap Kayonna dengan licik. Matanya bergerak ke celana training yang dikenakan Kayonna. Saga yakin ponsel itu ada di celana itu.
Kayonna yang mengikuti arah mata Saga, menjadi malu sendiri dan juga marah. Kayonna pun berniat membanting pintu. Sayang, Saga terlalu cepat juga terlalu kuat, ia menahan pintu itu.
"Saya hanya menahannya. Tapi kalau terpaksa, saya bisa saja membuat pintu ini terbuka lebih lebar dan membuat saya leluasa untuk masuk. Sekarang berikan handphone-mu."
Kayonna menatap Saga dengan gemas. Bisa saja ia mengeluarkan aneka jurus bela diri, tetapi yang sedang dihadapinya bukan penjahat, dan laki-laki dihadapannya itu adalah penguasa rumah. Sedang dirinya tak mau bikin keributan apalagi ini masih pagi. Akhirnya, dengan sangat terpaksa Kayonna mengeluarkan ponsel dari saku celana. Belum sempat diserahkan, Saga sudah merebutnya.
Terlihat Saga menekan-nekan layar ponsel dengan serius. Setelah puas, Saga mengembalikannya kepada Kayonna. "Oke. Nomer saya sudah saya simpan di situ, begitu juga sebaliknya. Nomermu sudah ada di saya."
Kayonna terheran-heran, ia memeriksa ponselnya, dan mendapati ada data log keluar, ke nomer baru yang sudah diberi nama 'SAGA'. "Ini?"
"Ya. Itu nomer saya. Mulai hari ini, kalau kamu pulang kemalaman, telepon saya. Mengerti?"
Kayonna tak menjawab, ia hanya menatap Saga dengan keheranan, kebingungan dan juga tak mengerti.
Saga tersenyum geli melihat ekspresi Kayonna. Matanya yang bergerak-gerak, kerutan di kening, bibir ranum yang membuka, dan saat itu, hasrat gila muncul. Segera Saga mengembalikan kesadaran.
"Kalau sampai kamu pulang dengan laki-laki lain, saya sendiri yang akan bertindak."
"Ha? Apa-apaan."
"Tidak ada apa-apaan. Dan satu lagi, batas tidak pulangnya kamu, hanya satu malam. Kalau sampai malam kedua kamu tidak pulang, saya sendiri yang akan ke rumah sakit dan menggendongmu untuk pulang. Ingat itu!"
Sesudah mengultimatum, Saga menowel singkat dagu Kayonna. Tindakan yang tak direncanakan, selain bahwa ada rindu yang bersembunyi dan mencoba muncul. Dulu, saat Kayonna masih sangat kecil, Saga sering menowel dagu dokter cantik itu.
Tindakan Saga, membuat Kayonna bergeming. Untuk waktu yang lama, jemari hangat itu kembali menyentuh dagunya. Membuat ritme tubuhnya berhenti tanpa alasan, atau mungkin ada alasan, tetapi diabaikan. Seperti rindu.
Saga segera berbalik dan bergegas pergi. Ia tak berjalan, melainkan berlari. Saga berharap, saat Kayonna sadar, ia sudah jauh. Karena Saga yakin, Kayonna akan menolak dan mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu jawabannya. Selain itu, Saga tak mau terlihat konyol karena menowel dagu Kayonna tiba-tiba.
Bibir Saga tersungging senyum yang kemudian tertawa kecil. Pagi ini, Saga merasakan keindahan yang tak bisa ia lukis. Selama bertahun-tahun, Kayonna begitu jauh dan semakin jauh saat ia bahkan sudah di rumah. Tapi pagi ini, semuanya menjadi sangat dekat. Aroma wangi bunga di taman, mengembalikan ingatan Saga akan rambut hitam Kayonna. Kini, Saga merindukan rambut hitam Kayonna.
***