Chapter 8

554 Words
Tahu gak apa bedanya cinta dan sayang? Kalau cinta adalah kamu dan aku. Kalau sayang adalah kamu, aku dan ruang bersama. *** Rayhan baru saja memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Saga, ketika sebuah motor menyalip dan juga berhenti tepat di depan mobil Rayhan. Dari helm penumpangnya, terlihat jika itu ojek motor online. Bersamaan, Rayhan dan Saga keluar dari mobil. Keduanya mengamati penumpang ojek yang masih melepaskan helmnya dan melakukan pembayaran. Posisi Rayhan dan Saga yang berada di belakang, cukup kesulitan melihat siapa sosok si penumpang ojek, terlebih ia menutupi kepalanya dengan hoodie. Setelah ojek berlalu, Rayhan melangkah cepat ke sisi sosok penumpang ojek dan ia terpana. "Yonna." Mata Saga terbelalak ketika nama itu di sebut, ia pun bergegas menghampiri. Yonna berbalik dan menatap Rayhan juga Saga bergantian. Matanya begitu hitam juga dingin, membuat Rayhan salah tingkah. Saga pun sebenarnya gentar, tetapi ia mampu menguasai diri. Dengan mantap, Saga mendekat dan berdiri, tepat menjulang di hadapan Kayonna. Keduanya masih saling beradu pandang. Tatapan Saga yang tajam, entah kenapa membuat Yonna merasa seolah telah melakukan kesalahan. Hatinya kebat-kebit, ia pun mulai gelisah. Tapi Yonna bertahan. "Jam berapa ini?" tanya Saga dingin. "Ha?" Yonna melongo, ia bingung. Tiba-tiba Saga meraih tangan kiri Yonna dan mengarahkan pada wajah Yona, di bagian jam tangan. Yonna merasa kesal dengan cara Saga, dengan sekali hentakan, tangan kirinya sudah bebas. "Masalahmu apa?" ketus Yonna bertanya. "Ha?" Kini ganti Saga yang melongo. Ia merasa blank dengan cara Yonna bertanya. Merasa tak perlu jawaban, Kayonna berbalik dan berlalu meninggalkan Saga yang semakin melongo karena diabaikan begitu saja. "Apa-apaan dia?" tanya Saga pada Rayhan tanpa menutupi kekesalannya. Saga bergegas menyusul Kayonna. Digapainya lengan gadis itu, membuat langkah Kayonna terhenti dan berputar menghadap Saga. "Apa?" tanya Kayonna sengit. "Sudah berapa malam kamu tidak pulang?" tanya Saga. "Dua malam." "Dan ini jam berapa?" "Jam dua subuh." "Dan kamu santai saja?" Saga mulai uring-uringan dengan sikap Kayonna yang terkesan mengabaikan dirinya. Kayonna memperbaiki posisinya. Kedua tangannya dilipat ke d**a. "Saya harus bagaimana? Loncat-loncat? Guling-guling? Atau memelukmu dan merajuk padamu?" Tawa membahana memecah ketegangan di antara sejoli yang berseteru. Bukannya mendapat tanggapan yang sama, Saga dan Kayonna justru melotot sengit ke arah Rayhan, membuat laki-laki berkumis tipis itu menutup mulut segera. "Ya gak harus gitu juga," ujar Saga yang sudah kembali menatap Kayonna. "Lalu?" Saga menatap Kayonna tajam. Ia tak habis mengerti betapa santainya gadis itu menghadapi dirinya dan situasi sekitar. "Kamu sudah dua malam tidak pulang. Sekalinya pulang malah subuh. Kamu gak mikirin apa kata orang-orang tentang kamu?" "Orang-orang siapa?" "Orang-orang sekitarlah. Tetanggalah," jawab Saga yang mulai gemas. "Mereka tahu saya dokter yang jam pulangnya tidak jelas." "Ya, tapi...." "Saya capek," potong Kayonna. "Sebelum mempermasalahkan jam malam saya, perbaiki dulu jam malammu." Dengan santainya Kayonna memutar tubuh dan melanjutkan langkahnya. Saga mengepalkan tangannya menahan perasaan dongkol yang menyerang. Tatapannya tak lepas dari punggung Yonna yang seolah mengejek Saga. Laki-laki itu bersiap mengejar Yonna. "Eh...eh, mau ke mana?" Untungnya Rayhan sempat memegangi lengan Saga. Mencegah Saga mengulang adu mulut dengan Yonna. "Dia harus diberitahu. Rumah ini ada aturannya." "Sabar..., sabar dong. Dia kan dokter IGD, dedikasinya tinggi. Wajar kalau jam pulang tak menentu." "Tapi kan.... Arghhh...." Saga menggumam kesal. "Pulang sana!" Saga kemudian melangkah masuk ke dalam gerbang diiringi tawa Rayhan yang tak berkesudahan. Saga tahu jika Rayhan sedang mengejeknya. Ya, Saga pun tahu, ia terlalu berlebihan terhadap Kayonna. Berhari-hari ia memikirkan dan mengkhawatirkan Kayonna. Gilanya lagi, setiap malam, ia berlama-lama berdiri di jendela ruang ganti, hanya untuk menunggu cahaya di rumah mungil Kayonna. Bak kekasih yang merindu. "Sial!" maki Saga untuk dirinya sendiri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD