Kamu tidak sendiri. Tidak ada yang benar-benar sendiri. Selalu ada setidaknya satu yang menunggumu pulang.
***
Saga mondar-mandir di dalam kamarnya yang luas di lantai dua. Ada pintu kaca yang mengarah ke balkon. Saga sengaja membiarkannya terbuka. Selain agar angin malam yang sejuk masuk, Saga juga tak perlu buka tutup pintu hanya untuk melihat keadaaan di depan rumahnya.
Saga mempunyai ruang ganti khusus, yang mana ada ruang pakaian juga kamar mandi. Di sana juga ada jendela yang akan mengarahkan pandangan Saga pada halaman belakang dan terus ke gudang.
Saga menajamkan matanya setiap melihat ke arah belakang rumah, tepatnya ke gudang. Ia mencari-cari adanya cahaya, tanda jika ada kehidupan. Namun di sana gelap gulita dan Saga berpindah ke depan, memperhatikan jalan juga gerbang. Jika ia merasa tidak yakin, ia akan kembali lagi ke jendela di ruang ganti, begitu terus. Bolak-balik hanya untuk memastikan Kayonna pulang.
Pintu gerbang dibuka, Saga terkesiap. Tanpa melihat siapa yang datang, Saga bergegas keluar kamar dan turun. Ia percepat langkahnya hingga ke teras depan. Ia melihat bayangan yang semakin dekat dan Saga menyesal.
Tiffany menghentikan langkahnya. Tiff tidak pernah ditunggui, ini pertama kalinya ada orang rumah yang menunggu dirinya di teras. Ada perasaan senang sekaligus heran, karena itu Saga.
"Kak," sapa Tiffany.
"Jam berapa ini?"
Tiffany memeriksa jam tangannya. "Jam delapan, Kak."
"Dan kamu baru pulang?"
"Lah? Ada yang salah? Sudah ada jam malam?" Tadinya suka karena merasa ditunggui Saga, kini menjadi kesal karena terasa mulai diatur-atur.
"Kamu perempuan dan baru pulang jam delapan malam. Satunya lagi bahkan belum pulang dari kemarin, entah kelayapan ke mana. Kalian perempuan, tapi seolah gak ada takut apa pun."
"Eh, anu, saya mengerjakan tugas. Nih." Tiffany menunjukkan maket di tangan. "Saya ada tugas kelompok bikin maket apartemen, waktunya sudah tak banyak. Lagian, tadi pulangnya bareng Bri. Tuh, anak Om Ganjar."
"Bri? Brian? Anak depan rumah?"
Tiffany menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Jadi?"
"Jadi apa?" tanya Saga bingung.
"Sekarang di rumah ini ada jam malam?"
Pertanyaan Tiffany yang kalem, justru terasa sedang menyindirnya yang sudah menegur tidak tepat. Ini masih terlalu pagi untuk menegur seseorang pulang malam.
"Ya, pokoknya jangan pulang kemalaman." Saga tidak mau memperpanjang urusan, dia memilih kembali masuk ke dalam rumah.
"Sebenarnya, Kakak nunggu siapa?" tanya Tiffany polos.
"Kamulah. Ayo masuk," ajak Saga buru-buru.
"Tapi, kayaknya bukan saya."
"Jangan mengira-ngira."
Baru saja kedua bersaudara itu sampai di pintu, ketika terdengar bunyi mobil yang masuk pelataran. Rayhan kemudian keluar dari kursi kemudi dan melangkah mendekat.
"Kak Saga mau pergi?" tanya Tiffany.
"Iya. Ada gathering," jawab Saga.
Tiffany pura-pura melihat jam tangannya, bentuk sindiran yang bisa dirasakan Saga. "Kalau saya kan laki-laki. Saya juga jauh lebih dewasa dari kamu. Saya bisa jaga diri," ujar Saga sebelum disindir Tiffany perihal jam malam.
Tiffany tertawa geli. "Halah. Egois."
"Hei. Hei. Bakpau ketawa sendiri," sapa Rayhan.
Tiffany menatap sengit Rayhan yang selalu memanggilnya bakpau, sedangkan Rayhan dan Saga justru tertawa melihat reaksi Tiffany.
"Udah siap, 'kan?" tanya Rayhan pada Saga.
"Bentar." Saga bergegas masuk menuju kamarnya.
Ia mengenakan jas yang sudah disiapkan dan merapikan diri di cermin. Setelah dirasa beres. Saga keluar dari kamar, tetapi sebelumnya, ia kembali ke ruang ganti. Saga menuju jendela yang arah pandangannya mengarah gudang. Ternyata masih gelap.
"Kamu ke mana? Ini sudah malam kedua. Jangan sakit," gumam Saga sendirian. Setelah mengehal napas panjang, Saga bergegas keluar.
"Saya pergi dulu, ya. Jangan keluar-keluar lagi," pesan Saga pada Tiffany sembari memainakn anak poni adiknya itu.
"Bakpau minta oleh-oleh apa?" tanya Rayhan.
"Jodoh."
"Minta kakakmu, tuh." Rayhan tertawa sembari melangkah duluan menuju mobil.
"Kak."
Saga mengurungkan langkahnya dan menatap Tiffany. "Ada apa?"
"Gak usah nunggu apalagi nyari Kak Yonna."
"Ha?" Saga terkejut sekaligus bingung. Ia tak menduga, Tiffany tahu.
"Kalau sudah jam segini, Kak Yonna dipastikan tidak pulang. Kak Yonna memang sering tidak pulang ke rumah selama berhari-hari. Dia tidur di rumah sakit. Hati-hati, ya." Tiffany segera masuk rumah sebelum kesadaran Saga kembali.
Saga melongo. Adik kecilnya, menebak apa yang sedang dipikirkan Saga dengan tepat, membuat Saga bertanya-tanya sendiri, apakah kelakuannya begitu ketara?
***
Uranus Private Bar and Lounge, malam ini sedikit ramai, karena ada reuni kecil-kecilan. Wanitanya menggunakan gaun malam yang dominan warna hitam dan merah. Aksesoris serba belian membuat kecantikan yang sudah cantik, semakin paripurna. Sedangkan para prianya lebih variatif perihal warna dan model jas. Selain hitam, mereka menggunakan warna coklat atau biru.
Uranus Private Bar and Lounge sendiri memiliki desain yang unik. Desain interior dominan warna hitam dan champagne gold. Bebatuan alami menambah kesan mewah ketika tertimap lampu temaram. Uniknya adalah adanya rak-rak buku, yang mana bukunya pun dapat dibaca. Di beberapa sofa dilengkapi meja kecil yang juga ada lampu baca. Tampilan secara umum adalah luxurious study room.
Saga menyesap minumannya perlahan. Kesan awal memasuki Uranus adalah kekaguman. Ia sendiri berkeinginan untuk datang lagi; sendiri dan akan membaca buku-buku yang ada di rak.
"Lah, yang punya hajatan malah bengong," tegur Rayhan yang kemudian duduk di dekat Saga. Rayhan meneguk minumannya dengan cepat. Terlihat sekali ia kehausan setelah menyanyikan beberapa lagu konyol, hingga tercipta keriuhan.
"Kalau malam ini gak pulang, artinya ini sudah malam kedua."
"Ha?" Rayhan menatap Saga dengan tanya. "Maksudnya?"
"Yonna."
Rayhan tertawa kecil. "Datangi aja rumah sakitnya."
"Ngapain?"
"Seret dia pulang."
Tanpa aba-aba, Saga menoyor kepala Rayhan. Beruntung Rayhan sudah meletakkan gelas minumnya, andai terlambat, pastilah wajahnya basah. "Fuck."
Makian Rayhan hanya dibalas tawa ringan dari Saga yang seolah tak bersalah.
Seorang wanita cantik, menatap Saga dengan penuh arti. Dengan langkah anggun, ia menghampiri Saga.
Renata, seorang aktris ternama sekaligus pengusaha. Kecantikan, kepintaran dan kesuksesannya, menarik minat banyak pria. Namun, Renata hanya memuja Saga.
"Geser dong," pinta Renata pada Rayhan. Dengan senyum penuh makna, Rayhan menggeser tubuhnya dan membiarkan Renata duduk dekat Saga.
"Anak-anak adain party kecil ini kan buat kamu. Kok kamu gak nimbrung, sih," rajuk Renata.
"Saya lelah, Re. Baru sampai Indonesia udah disuruh kerja," jawab Saga dengan senyuman manis yang membuat getar di d**a renata.
"Mau saya bantu?"
"Makasih, ya."
"Your welcome. Oh ya, Sabtu ini ada acara?"
"Saya gak yakin. Kenapa?"
"Jalan, yuk. Kamu kan bertahun-tahun gak pulang, lihat dong perubahan negaramu ini."
"Mmm...."
"Am em am em..., iya ajalah. Capek saya kalau jadi guide tiap hari," cetus Rayhan.
"Oke. Besok Sabtu, saya jemput ya," tawar Renata dengan senyum tersungging lebar.
"Saya aja yang jemput," tolak Saga. Egonya sebagai lelaki, tidak suka jika dijemput wanita, kesannya tidak gentleman.
"Kamu yang jemput? Kamu masih ingat jalan ke rumah saya?" tanya Renata ragu.
Terdengar tawa kecil Rayhan dari balik punggung Renata. "Jakarta berubah, Bung. Ke perusahaan sendiri aja masih pakai sopir, hahaha...."
Saga tersenyum malu dan itu justru makin membuat Renata tak berdaya. "Gak usah gengsi. Sabtu, saya yang jemput."
Dengan terpaksa, Saga menganggukan kepala. Tak berapa lama teman-temannya kembali ke meja. Keriuhan sudah berpindah. Saga terlihat sibuk meladeni pertanyaan dan gurauan dari yang lain. Sedangkan Renata, terus memandangi Saga dengan senyuman penuh rasa. Renata sangat merindukan Saga.
***