Chapter 6

1450 Words
Ada yang ingin kupastikan. Apakah kamu baik-baik saja? Karena ada yang sedang tidak baik-baik saja. *** Alexis menatap pelataran rumah sakit dengan tatapan menyeluruh. Ia seolah menimbang-nimbang apakah rumah sakit yang besar dan megah itu akan menelannya jika ia masuk. Berkali kali ia melangkah maju, kemudian berbalik lagi; maju mundur tidak jelas. Lewat tengah malam tadi, ia mendapati ibunya di dapur sendirian. Itu bukan pemandangan yang pertama kalinya bagi Alexis, tetapi tetap terasa menyedihkan. Ibunya duduk sembari menggenggam mug lama. Mug itu ada print foto saudara kembar Alexis saat kecil. Dalam gelas mug itu, dulunya untuk membuat s**u cokelat. Saat gelisah, rewel, sedih ataupun senang, si saudara kembar akan menuntut segelas s**u coklat. Ketika ibunya meninggalkan dapur, Alexis menghampiri kursi tempat semula ibunya duduk. Di meja ada beberapa lembar tisu yang sudah basah karena air mata, juga segelas penuh s**u coklat dalam mug yang tadi genggam erat ibunya. Karena hal melankolis itulah, Alexis memutuskan untuk ke rumah sakit. Ini sudah 22 tahun. Seharusnya, semua akan baik-baik saja. Bermodalkan keyakinan itu, Alexis memantapkan diri masuk ke rumah sakit dan terus menuju IRD. Alexis celingak-celinguk setibanya di IRD. Kesibukan tampak nyata. Dokter, petugas medis dan pasien berseliweran. Berjalan perlahan, Alexis dengan teliti mengedarkan pandangan, mencari sosok yang ingin ditemuinya. Terdengar bunyi sirene ambulan yang semakin mendekat. Beberapa perawat mendorong brankar dengan berlari-lari. Bunyi roda-roda brankar beradu dengan tapak-tapak sepatu karet. Saat ambulan tiba tepat di depan pintu IRD, semua petugas medis sigap mengeluarkan pasien dan meletakkannya di brankar. Alexis menatap adegan tersebut dengan takjub. Sampai kemudian tubuhnya di tabrak, membuat Alexis terhuyung ke samping. "Oh, maaf," ujar Kayonna dengan nada cepat. Alexis terkesima. Mata Alexis membelalak lebar dan mulutnya menganga. Ia takjub dengan kemunculan Kayonna yang tiba-tiba. Mata Kayonna menelusuri Alexis dari atas ke bawah, mencari kemungkinan luka atau celaka akibat trabakan tadi. "Ada yang terluka?" tanya Kayonna. "Oh. Itu. Anu...." Alexis tidak mengerti kenapa menjadi gelagapan. Mungkin karena peristiwa yang tiba-tiba. "Dok!" seru seorang perawat sembari mendorong brankar berisi pasien. Bergegas Kayonna menghampiri. Saat dilihatnya ada perawat yang hendak menghampirinya, Kayonna memberi perintah, "Coba periksa dia ada yang luka atau kenapa?" Setelah menunjuk ke arah Alexis, Kayonna memasang stetoskop dan mulai memeriksa d**a pasien sembari mengimbangi laju brankar. Alexis melihat Kayonna memberikan perintah yang segera dilaksanakan oleh para petugas medis lainnya. Alexis terus menatap kepergian Kayonna sampai masuk ke dalam ruang operasi. "Mas. Ada yang luka?" tanya perawat yang ditunjuk Kayonna. "Oh, tidak. Saya tidak apa-apa," jawab Alexis tidak enak hati sampai perlu ditanya perawat. Perawat itu tidak beranjak. Ia justru menelusuri wajah Alexis dengan serius. Ada sesuatu pada sosok Alexis yang mengingatkannya pada seseorang. Semakin diamati, kesamaannya semakin jelas. "Ada apa, Sus?" tanya Alexis bingung dengan sikap perawat di hadapannya. "Eh, Maaf. Mirip seseorang soalnya." Jawaban si perawat membuat Alexis melongo. "Suster Anis! Dicari Dokter Kayonna," panggil seorang perawat pada perawat yang berdiri di hadapan Alexis. "Iya." Setelah menjawab, perawat bernama Anis kembali menatap Alexis. "Baik, Mas, kalau nggak ada apa-apa. Permisi." Si perawat berlalu dengan cepat. Sedangkan Alexis menggaruk-garuk kepala dan kemudian mengelus dadanya sendiri. Dengan alasan yang tidak jelas, Alexis memilih untuk pulang. Jantungnya berdegup cepat. Ia masih belum siap. *** Wajah Kayonna sudah maksimal melipat-lipat karena cemberut. Sedari siang, dirinya sadar kalau ada seseorang yang terus membuntutinya dan mengawasinya. Dia tidak takut dengan penguntit, pun juga tidak resah. Kayonna hanya kesal saja. Dia hanya tidak suka. Keluar dari ruangan tindakan cepat, Kayonna melirik ke arah bangku penunggu, dan ternyata orang itu masih ada. Orang itu membaca majalah dengan posisi tidak wajar. Tidak ada orang membaca majalah tepat di depan wajah. Orang akan membaca majalah dengan posisi ke bawah dan kepala menunduk. Bodoh, batin Kayonna. Dia pun mengambil keputusan. Dihampirinya si pembaca majalah. "Menunggu?" tanya Kayonna dingin dengan kedua tangan dilipat ke d**a, sebagai bentuk pertahanan. Awalnya yang ditegur tidak memberi respon, tetapi akhirnya dia tidak ada daya, karena Kayonna bergeming dengan sikap intimidasinya. Orang itu menurunkan majalah yang tidak pernah dibacanya dengan perlahan. Orang itu ternyata wanita yang cantik dengan riasan wajah yang mencolok dan kacamata hitam lebar. Ia menggunakan topi dan pakaiannya serba hitam. Benar-benar bergaya bak film-film detektif, tetapi ini yang versi gagal, begitulah yang dipikiran Kayonna. "Iya," jawab si wanita dengan senyum dibuat-buat. "Siapa?" "Seseorang." "Siapa?" Intimidasi yang dilakukan Kayonna, menyentil perasaan si wanita. Ia tidak suka. Digulungnya majalah, kemudian ia berdiri, dan melipat kedua tangannya; menyamakan kedudukan. "Apa saya harus memberitahu?" tanya sengit si wanita. "Harus." Kayonna menjawab tegas. "Memangnya kamu siapa?" "Tidak lihat? Bukankah dari tadi mengikuti." Walaupun masih disampaikan dengan nada datar, tetapi wanita cantik itu merasa kalau dirinya sedang diremehkan. Sebenarnya dia juga malu. Dengan melihat pakaian Kayonna, tanpa perlu bertanya juga sudah jelas jika Kayonna adalah dokter. Tapi, malunya yang paling besar adalah, dia ketahuan. "Siapa yang mengikuti? Jangan sok cantik, deh. Saya sedang mengikuti teman saya yang tadi masuk ke ruangan itu, kok." Wanita itu menunjuk rungan tindakan cepat. "O. Yang baru terkena serangan jantung itu, temanmu?" "Iya," jawab si wanita cantik itu mantap. "Teman dekat?" "Sangat dekat. Kenapa?" "Gak nyangka." "Gak nyangka kenapa? Saya gak pernah pilih-pilih teman walaupun saya artis, ya." "O. Artis. Gak nyangka." Si wanita benar-benar gemas dengan sikap dan nada bicara Kayonna. Walau tanpa ekspresi, tapi sangat jelas jika dokter di hadapannya itu, sedang menghinanya. "Maksudnya apa sih kamu?" "Gak ada maksud apa-apa. Hanya tidak menyangka saja. Pasien di dalam berusia 78 tahun. Antara kamu anak durhaka yang tidak mengakui anaknya atau memang kalian berdua menjalin persahabatan yang aneh." Plash! Warna merah terlukis di wajah cantik itu. Malunya bercampur dengan amarah, terpapar di wajah merahnya. Tangannya meremas kuat gulungan majalah, hanya agar tidak menampar si dokter dingin di hadapannya. "Wah, sudah bertemu." Kayonna dan wanita cantik itu sama-sama menoleh ke asal suara. Dokter Anwar, muncul bersama seorang pria yang tampak kemayu. Si pria kemayu segera berdiri di dekat wanita cantik. Ia menelusuri sosok Kayonna dari atas ke bawah. Dalam hatinya terlontar banyak kekaguman terhadap ujud Kayonna yang dimatanya jauh lebih cantik dari wanita di sebelahnya. "Dokter Anwar," sapa Kayonna dengan hormat. "Om Anwar." Dengan tempo bersamaan, si wanita cantik itu juga menyapa dengan sebutan berbeda. Kayonna menatap wanita cantik itu dengan melongo. Ia meraba-raba siapa sebenarnya sosok si wanita cantik yang terlihat begitu kenal dengan si dokter senior. "Hahaha..., kalian sudah saling kenal?" tanya Dokter Anwar "Belum." Kembali dua wanita cantik itu menjawab bersamaan. "Ehem. Tapi saya tahu, dia yang Om maksud," ujar si wanita sembari melirik ke arah Kayonna. "Iya. Betul dia. Nah, Renata, kenalkan ini Dokter Kayonna. Dokter cantik yang sangat dingin di rumah sakit ini," ujar Dokter Anwar sembari kembali tertawa. "Karakternya sesuai dengan peran yang akan kamu mainkan di film berikutnya, 'kan?" Sedang Renata menelusuri Kayonna seolah baru pertama kali melihat, Kayonna justru melotot pada Dokter Anwar menuntut penjelasan. Dengan senyum tanpa berdosa, Dokter Anwar bicara lagi. "Dokter Kayonna, ini Renata. Keponakan saya. Dia akan main film dengan tokoh seorang dokter muda yang cantik. Observasilah. Selama beberapa hari ke depan, dia akan berada di sekitarmu." "Tidak bisa! Saya tidak suka diganggu," tegas Yonna. "Terganggu? Siapa kamu?" sentak Renata. Di gondok dengan sikap Kayonna yang asal menolak. "Sudah. Sudah. Ayolah Kayonna. Longgar sedikit. Renata tidak akan lebih dekat denganmu. Dia hanya akan mengamatimu dari jauh. Kamu tidak harus menunggu saya memohon, bukan?" tanya Dokter Anwar. "Sejauh apa?" "Ya..., setidaknya dia tidak akan menganggu sampai ruang tindakan dan ruangan khusus lainnya." "Ruangan saya, ruangan khusus." "Hahaha.... Oke. Oke. Itu juga tidak." "Ah, sudahlah, Om. Ngelunjak nanti dia. Biarin aja. Saya mau pulang. Ayo, Boy," ajak Renata ke asistennya. "Renata! Jangan begini. Kamu yang datang mita tolong, bukan berarti kamu bersikap seenaknya," tegur Dokter Anwar. Itu membuat Kayonna menjadi tidak enak hati terhadap seniornya. Biar bagaimana Dokter Anwar adalah dokter yang baik. Menegur ponakannya seperti itu, Kayonna tahu jika Dokter Anwar tidak sedang meremehkan dirinya dengan asal begitu saja minta tolong. "Berapa lama?" tanya Kayonna. "Berapa lama, Ren?" Dokter Anwar menanyai keponakannya yang masih berwajah kecut. Sejujurnya Renata ingin membatalkan saja. Namun, teguran Dokter Anwar dan pertanyaan tegasnya, membuat Renata sungkan. "Enam bulan." "Dua bulan," tegas Kayonna. "Lima bulanlah. Dia kan juga harus mempelajari seluk-beluk rumah sakit dan beberapa istilahnya," tawar Dokter Anwar. "Tiga bulan. Iya atau tidak? Tidak butuh waktu lama kalau cuma untuk mempelajari hal-hal umum, kecuali tidak cepat nangkap," sindir Kayonna. Baginya, artis, apalagi yang sempurna fisik, biasanya isi kepalanya kosong. Dia tak sadar pada dirinya sendiri yang juga sangat cantik, tetapi dia tidak bodoh. "Dua bulan. Saya juga nggak mau lama-lama di sini. Om, saya pulang dulu, ya. Ada pemotretan. Boy, catat nomer telepon dokter dingin itu," pamit Renata. "Sopan sedikit Nata! Namanya Dokter Kayonna." Kembali Dokter Anwar menegur keponakan manjanya itu. "Iya. Iya. Makasih ya, Yonna. Samapi ketemu besok." Renata berlalu seolah tidak pernah terjadi sesuatu. Sedangkan Dokter Anwar hanya bisa geleng kepala. "Maafkan dia, ya." "Tidak apa, Dok." Kayonna tersenyum kecil dan tulus. Walau seniornya itu suka seenaknya melimpahkan pekerjaan, tetapi Dokter Anwar adalah orang yang tidak merendahkan orang lain. Itu cukup diapresiasi Kayonna, jika kelak ternyata wanita manja itu menambah hari untuk observasi, Yonna memutuskan tidak protes. "Oke, lanjut. Makasih, ya." DokterAnwar berlalu masuk ke dalam lift. Sedangkan Kayonna dan Boy, sang asisten, saling bertukar nomer kontak. Tak lupa Boy meminta maaf atas sikap Renata, sebelum ia pergi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD