Chapter 16

1006 Words
Angsana membelai rindu dengan bunga kuning yang gugur menyambut kedatanganmu dari perjalanan panjang akan temu. *** Sudah pukul satu malam. Saga sudah mengeluarkan mobilnya hendak menuju rumah sakit. Namun, baru keluar sebagian badan mobil, Saga melihat sesosok perempuan yang dikenalnya, berjalan teramat santai di ujung jalan. Pria itu kembali memundurkan mobilnya dan meminta Aji yang kebetulan ada di pos satpam untuk membawa mobilnya masuk ke dalam garasi. Saga berjalan mendekati sosok perempuan itu yang tak lain adalah Kayonna. Ekpresi Saga berubah-ubah menatap Kayonna. Sebentar mengernyit, sebentar tersenyum sendiri. Kayonna terlihat asyik dengan dunianya sendiri. Penampilan Kayonna masih sesederhana kemarin-kemarin. Celana jeans, kaos, dan jaket dengan hoodie. Bedanya, kali ini hoodie tidak dipasang dan rambut panjang Kayonna dibiarkan tergerai. Tangan kanan gadis itu memegang tongkat dengan sosis yang gemuk, sedang tangan kirinya memegang ponsel pintarnya. Sesuatu membuatnya fokus pada layar ponsel. Terlihat kabel earphone sudah terpasang di telinga. Di bawah lampu jalan, Kayonna melangkah begitu santai. Seolah dunia malam bukan masalah mengerikan baginya yang seorang wanita. Padahal, walaupun sederhana, kecantikan Kayonna justru makin keluar. Jaket merah Kayonna, begitu mencolok. Membuatnya terlihat bak tokoh imajinasi. Saga berhenti di bawah salah satu pohon angsana yang sedang berbunga kuning. Angin malam memainkan daun dan bunganya, menciptakan gugur yang indah. Apalagi dengan Kayonna yang melangkah semakin dekat. Langkah kaki gadis itu berhenti. Ia mengangkat kepalanya dan mengernyit menatap Saga. Ini cukup mengecewakan Saga. Tadinya dia berpikir Kayonna akan menabrak tubuhnya seperti adegan di film-film. "Ada apa?" tanya Kayonna. Pertanyaan yang wajar, tetapi Saga yang sudah terlanjur berimajinasi, jadi salah tingkah sendiri. "Apa?" "Lah?" "Kamu kenapa jalan kaki? Kamu naik angkot? Turun di depan? Kamu tahu gak bahayanya naik angkot jam segini? Sadar diri kenapa, kalau kamu itu perempuan. Kamu kan bisa telepon saya untuk menjemput." "Sudah?" kembali Kayonna bertanya. Ia kemudian melepaskan earphone dan memasukkan ponselnya ke saku jaket. "Saya tadi naik ojek online. Tapi, karena bannya bocor, tepat di dekat mini market di ujung, saya memilih jalan saja. Dan memangnya kenapa kalau saya perempuan? Selama ini juga saya sendirian." Kata sendirian yang terucap dari bibir mungil Kayonna, membuat Saga merasa tersindir. Seolah Kayonna sedang menyalahkan dirinya yang menghilang begitu saja untuk waktu yang lama. "Sekarang ada saya. Hubungi saya untuk apa pun. Dan jangan sendirian lagi." Kayonna menggigit sosisnya, mengunyah perlahan, dengan mata yang lekat menatap Saga. "Kesurupan?" Rasanya Saga ingin menggigit Kayonna seperti gadis itu menggigit sosisnya dengan begitu biasa saja. Tanpa tedenga aling-aling, Saga menggapai dan menggenggam erat jemari kiri Kayonna. Bukan hal mudah, karena Kayonna menolak. Tapi bukan Saga namanya kalau tidak memaksa. "Ayo, pulang." Saga kemudian melangkah dengan jemari dingin Kayonna aman dalam genggamannya. Mau tak mau, gadis itu menurut. "Besok kerja?" tanya Saga memecah hening yang tidak benar-benar hening karena Kayonna asyik mengunyah sisa sosisnya. "Enggak." "Kalau libur, ngapain?" "Ngapain aja." "Ngapain aja gimana?" "Ya, ngapain ajalah. Se- mood-mood-nya." "Jelasin, dong. Saya kan gak tau model mood kamu bagaimana saat libur," tuntut Saga. Kayonna menelengkan kepalanya ke arah Saga dan memandang lelaki tampan itu dengan sengit. Baru ini ia berhadapan dengan pria yang terlalu banyak bicara dan terlalu banyak bertanya dengannya. "Lihat aja besok saya ngapain. Ya, sudah itu mood saya. Bawel amat, sih." Tak terprediksi, Saga sudah memencet hidung Kayonna dengan gemas, membuat gadis itu kesal. Ia menepis kasar tangan Saga dan menghentikan langkahnya. "Gak sopan!" "Hahaha.... Makanya, jangan jutek-jutek gitu." Saga kemudian memutar tubuh, membuatnya berdiri di hadap-hadapan dengan Kayonna. Tubuhnya begitu dekat, begitu tinggi, dan napasnya menerpa halus kening Kayonna, membuat gadis itu tak berkutik. Kayonna terperangah, mendongak menatap Saga yang seolah tak punya batas dengan dirinya. Saling menatap, saling menjajaki, dan masing-masing berdegup di d**a. Saga merasa tubuhnya tertarik ke arah Kayonna, seperti ada magnet. Sedangkan Kayonna seperti dipatri, tak berkutik. "Kalau mau aman, jangan jutek lagi." Saga menowel hidung Kayonna dan tertawa kecil. Dalam hatinya, Saga menyanjung dirinya sendiri yang berhasil mengendalikan diri. "Brengsek." Kayonna membersihkan hidungnya dengan lengan tangan kanan. Seolah sentuhan Saga membawa kuman. Bukannya tersinggung, Saga kembali menowel hidung Kayonna. Kembali Kayonna memaki dan membersihkan hidungnya, kali ini Kayonna menutup hidungnya dengan lengan tangan, karena jemarinya masih memegang tusuk sosis. Keduanya akhirnya sampai di rumah. Saga belum melepaskan pegangan tangannya. Satpam rumah dan Aji menyambut keduanya dengan senyum simpul. Untuk pertama kalinya, Kayonna menjadi malu sendiri. Ia mencoba melepaskan tangannya; percuma. "Gak tidur, Ji? Besok Kakek mau ke kantor, lho," tegur Saga. "Iya, Mas. Ini mau numpang tidur di sini aja." "Ribut?" Aji tak menjawab selain tersenyum kecil dan menunduk malu. "Ya, udah. Saya masuk. Robin, jaga yang bener," perintah Saga pada sang satpam bernama Robin. "Siap." Saga dan Kayonna melanjutkan langkah ke belakang, tepatnya ke rumah mungil Kayonna. Sedangkan Aji menatap keduanya dengan tajam. Fokus sesungguhnya pada Kayonna. Setiap harinya Aji bertanya-tanya, menduga-duga, apakah Kayonna mengingat sesuatu di masa lalu. Cara menatap Kayonna seringkali membuat Aji tidak tenang. Kayonna tahu sesuatu, tetapi Aji tidak tahu kenapa Kayonna diam saja. "Tidur, Ji. Aku mau keliling dulu," tegur Robin. "Yo. Kalau ada apa-apa teriak aja," seloroh Aji yang diiringi tawa Robin. Kini Saga dan Kayonna sudah berdiri di depan rumah mungil gadis itu, perasaan Saga campur aduk. Tak bisa dijelaskan. "Saya mau masuk," ujar Kayonna. "Oh, iya. Silahkan." "Tangan saya." Saga terdiam menatap Kayonna bingung. Gadis itu kemudian menggoyangkan jemarinya yang masih digenggam Saga. "Oh, ini. Hehehe...." Saga melepaskan jemari Kayonna dengan berat hati. Kayonna kemudian bergegas membuka pintunya. Tanpa salam dan tak lagi menoleh ke arah Saga, dia masuk. Membiarkan Saga yang bengong. Bagi Saga, ini pertama kalinya, ia mengantar seorang perempuan kembali, tetapi ditinggal masuk begitu saja tanpa satu patah kata pun untuknya. Dan bagi Kayonna, ini adalah pertama kalinya ada seorang lelaki menemaninya pulang sampai ke depan rumah mungilnya. Kayonna bersandar di pintu, memegang dadanya yang tak henti berdegup. Perlahan ia mengintip dari jendela kaca. Yonna menyibak sedikit kain gorden. Seketika dia melongo. Saga menatap ke arahnya dan tersenyum lebar. "Cepat tidur. Mimpi indah." Saga kemudian melambaikan tangan dan berputar. Melangkah menjauhi rumah mungil Kayonna. Dengan kasar, gadis itu menutup kembali gorden. Dirinya tak henti memaki kebodohannya karena ketahuan mengintip. Sedangkan Saga, wajah yang tadinya muram kini tersenyum lebar. Sempat dikiranya Kayonna tak punya perasaan karena masuk begitu saja. Ternyata gadis itu masih peduli padanya, makanya gadis itu mengintip. Kini Saga menikmati kemenangan. Teringat kejadian beberapa hari lalu, saat ia mengintip ke dalam rumah Kayonna dan ternyata gadis itu memandanginya dari dalam dengan memegang mug minuman. Kedudukan sama, gumam Saga dengan tertawa kecil. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD