Chapter 3

1090 Words
Jantungku berdebar, saat angin membelai lembut daun bunga Akasia. Ia menari menjelmakan rindu. Rinduku. *** Kayonna baru saja memasuki ruang IGD, setelah dari ruang operasi. Ia berjalan santai melewati keriuhan yang selalu saja terjadi. Teriakan, tangisan, bunyi sirene ambulans, perintah-perintah, dan banyak lagi pergerakan yang saling tumpang tindih membutuhkan perhatian ekstra. Kepanikan dan kelelahan ada pada wajah para koas. Kebanyakan lebih pada bingung mendahulukan yang mana. Yang sakit kepala atau yang demam. Yang luka cedera atau yang terluka karena sayatan. Yang pertama datang atau yang baru saja datanya diterima. Semuanya menuntut perhatian nomer satu, sedangkan mereka hanyalah manusia biasa. Sebenarnya Kayonna ingin langsung masuk ke dalam ruangannya, tetapi ia justru menghampiri Ranti, salah satu koas yang dinilai Kayonna paling lemah. Ranti terlihat kewalahan di hadapan seorang pasien yang sudah paruh baya. "Kenapa?" tanya Kayonna sembari mengamati pasien yang tadi ribut sendiri. Ranti bernapas lega demi melihat Kayonna ada di dekatnya. "Ini, Dok. Pak Dar, ia mengeluh sakit kepala, tapi tidak bisa menunjukkan tepatnya di mana yang sakit," "Apa kamu punya GPS?" tanya Kayonna sembari memeriksa pasien bernama Dar. "G...GPS, Dok? Untuk apa, Dok?" "Karena kamu menanyakan letak penyakitnya, saya pikir kamu akan melacaknya melalui GPS," jawab Kayonna dingin, membuat Ranti malu, sedangkan Pak Dar justru terkekeh geli. "Sudah berapa lama sakit kepalanya, Pak?" tanya Kayonna lembut. "Sudah lama. Lama banget. Pokoknya tiap hari sakit," keluh Pak Dar. "Penglihatan baik-baik saja? Tidak mengabur?" "Tidak. Ya kabur sih, kalau baca koran. Harus pakai kacamata." "Sakit kepala, seringnya muncul siang atau malam?" "Nggg..., siang sih." "Keluarga sudah dihubungi?" tanya Kayonna pada Ranti. "Sudah, Dok. Tapi...." Ranti mendekati Kayonna berniat berbisik, tapi pak Dar lebih dulu bersuara. "Mereka itu b*****t kecil yang aku pelihara sampai sukses. Sudah di atas angin, tak satu pun yang mau peduli. Biarkan saja! Aku juga bisa sendiri." Pak Dar bicara dengan berapi-api. Kayonna manggut-manggut dan kembali menatap Ranti, "Tension Headache, lakukan pencitraan untuk positifnya. Arahkan ke Dokter Fuadi." "Siap, Dok," jawab Ranti sembari mencatat. Kayonna kemudian menenangkan si pasien dengan mengatakan semuanya baik-baik saja. Ranti mengawasi semua gerak-gerik seniornya. Ia tak mengerti perubahan pribadi Kayonna, dari yang sangat dingin, bisa menjadi hangat saat berhadapan dengan pasien. Kayonna meninggalkan Ranti. Ia ingin istirahat sebentar di ruangannya. Tubuhnya meronta kelelahan, hari ini, dirinya sudah melakukan empat kali operasi. Kayonna beruntung. Rumah sakit tempatnya bekerja milik keluarga Suganda. Karenanya ia bisa mendapatkan ruangan sendiri, walaupun kecil. Jadi Kayonna tak perlu beristirahat di kamar jaga, bersama dengan dokter dan perawat lainnya. Memasuki ruangannya, Kayonna berdiri terpaku di hadapan meja kerja. Selain komputer dan beberapa file, di sana ada sebuah rantang dan beberapa kotak plastik berisi kudapan dingin. Ada perasaan ngilu di hati Kayonna menatap apa yang tertata di mejanya. Kemudian matanya menangkap kertas kecil berwarna kuning cerah. Perlahan Kayonna mengambil dan mulai membaca pesan yang ditulis dengan rapi. "Jangan pulang kalau belum gemuk!" Di sudut kiri bawah pesan di akhiri gambar bunga. Sampai detik ini, Kayonna tidak tahu siapa orang yang mengiriminya makanan. Suster Anis dan beberapa perawat hanya menyampaikan jika ia adalah seorang wanita berumur yang terlihat elegan. Kadang-kadang seorang pria yang tampak berbeda kelas. Mungkin pesuruh. Semua menduga si wanita pasti sedang berterima kasih pada Kayonna yang mungkin dirinya atau kerabatnya pernah ditolong Kayonna. Akan tetapi di sudut hati terdalam gadis cantik itu, merasa ini tak sekedar ucapan terima kasih. Apalagi makanan itu dikirim hampir setiap hari. Terdengar pintu diketuk halus. Kayonna segera menyimpan kertas kuning ke dalam saku jas dokternya. "Masuk." Pintu dibuka perlahan dan sesosok laki-laki dengan tubuh gempal yang juga mengenakan jas dokter, masuk perlahan-lahan. Namanya Alan dan ia koas. "Ini, Dok." Alan menyodorkan papan tabel ke Kayonna yang sudah duduk. Sedang Kayonna membaca, mata Alan berkeliaran menatap rantang dan wadah-wadah makanan yang ada di meja Kayonna. Tiba-tiba perutnya, berbunyi riang, membuat Kayonna mengangkat kepala dan memberi ekspresi tanya ke arah Alan. Dengan sengiran malu, Alan meminta maaf. "Maaf, Dok, saya lapar." Kayonna melihat jam tangannya. "Sudah lewat jam makan siang." "Tadi ada yang kecelakaan, Dok." "Saya baca dulu. Bawa ini semua keluar," tunjuk Kayonna pada ragam makanan yang ada di meja. "Keluar ke mana, Dok?" tanya Alan bingung. "Terserah kamu." "Waduh..., semua ini, Dok?" "Ya." "Kalau dimakan, boleh, Dok?" "Terserah." Wajah Alan seketika sumringah. Dengan sigap, Alan meraup semua wadah makanan dan rantang dengan kedua tangannya yang besar. Setelah mengangguk dan berpamitan, Alan keluar dari ruangan Kayonna dengan siulan bernada gembira. "Wah! Apa-apan ini?" tegur Sapta yang sudah menjajari langkah Alan. Matanya berkeliaran melihat banyaknya makanan yang dibawa Alan. "Si Putri Salju lagi khilap, hehehe...." "Maksudnya?" "Dokter Kayonna yang suruh bawa dan makan." "What!" Sapta berseru kaget dengan suara lantang, hingga sekitarnya menatap dua dokter muda tersebut dengan tanda tanya. Sapta kemudian mengecilkan volume suaranya dan kembali bertanya pada Alan. "Ini semua dari Dokter Kayonna?" "Iya. Bawel sih, ah." Alan bergegas menuju ruang istirahat bagi dokter muda. Ditatanya rapi semua wadah makanan di atas meja. "Mau?" tawarnya ke Sapta. Sapta dengan sumringah, mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan Alan. Rejeki tak patut ditolak dan makanan yang disantap keduanya memang sangat lezat. Di ruangannya, Kayonna kembali mengeluarkan catatan kecil yang tadi disimpan ke dalam saku. Kembali ia mengamati tulisan rapi dengan kata-kata sederhana. Setelah puas, Kayonna membuka laci meja dan mengambil sebuah buku dengan sampul beludru hitam. Dibukanya perlahan lembar demi lembarnya. Setiap halaman, ada dua atau tiga tempelan catatan kecil. Ada juga semacam amplop berukuran kecil atau sedang, yang juga ditempel rapi. Sampai di halaman kosong, Kayonna mengambil lem, dan menempelkan catatan kecil yang baru di terimanya. Tak ada yang kenal siapa dia yang selalu mengirimkan hadiah untuk Kayonna, selain bahwa dia adalah wanita paruh baya. Wanita itu juga enggan menyebutkan nama. Satu sisi dari Kayonna terasa enggan menerima karena ini menjadi misterius. Namun sisi lainnya, ia pun tak mampu menolak. *** Soraya berjalan menuju pelataran parkir rumah sakit. Rambutnya tertata rapi dengan poni ke samping yang disasak agak tinggi. Gaunnya sederhana, berwarna pastel menyejukkan. Namun begitu terlihat sangat elegan dengan hiasan kalung mutiara. Ia menghampiri mobil mewah berwarna hitam kelam. Seorang pria muda keluar dari kursi sopir dan membukakan pintu bagi Soraya. Itu adalah putranya, Alexis. Sebelum masuk ke dalam mobil, Soraya mengacak-acak gemas rambut Alexis. Terlihat ekspresi tidak suka dari Alexis, tetapi Soraya hanya tertawa geli. Sesudah Alexis masuk, mobil melaju perlahan, keluar dari rumah sakit. "Gimana, Ma?" tanya Alexis tanpa melepaskan konsentrasinya menyetir. "Apanya gimana?" tanya balik Soraya. "Ketemu?" Soraya tak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang. Alexis melirik ke arah ibunya dan merasa iba. Ini sudah yang kesekian puluh kalinya, sang ibu mendatangi rumah sakit, dan yang kesekian puluh kalinya juga, Alexis melihat mendung di wajah ibunya. "Sebenarnya mudah aja, 'kan? Mama tinggal masuk dan tungguin." "Entahlah. Mama tidak yakin siap." "Terus, buat apa kita ke rumah sakit?" Lagi-lagi Soraya tak menjawab. Ia menyandarkan kepalanya dan memilih untuk memejamkan mata. Kali ini Alexis memilih untuk diam dan konsentrasi ke jalan. Tidak tega dirinya untuk mendesak sang ibu. Ibunya menua dengan cepat, sejak peristiwa itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD