Tempat rindu bernaung. Memanggil yang jauh untuk kembali. Menahan yang hendak pergi. Itu rumah.
***
Saga baru saja masuk ke dalam rumah, ketika tubuhnya ditubruk dan dipeluk erat. Seorang gadis, berambut pendek sedang memeluknya dengan tubuh gemetar. d**a Saga terasa basah dan hangat, si gadis rupanya sedang menangis.
"Hei, kok nangis sih, bidadari kecilnya Kakak?" goda Saga pada si gadis yang tak lain adalah si bungsu, Tiffany.
"Tiff kangen."
"Sama." Saga melepaskan pelukan Tiffany dengan lembut. Ditatapnya wajah adik kesayangannya dengan seksama.
Tiffany memiliki wajah yang kecil dan terlihat makin kecil dengan rambut potongan pendeknya. Tiffany juga menggemaskan dengan pipi bakpaonya. Saga tak tahan, ia mencubit kedua pipi Tiffany.
"Aww! Sakit!" jerit Tiffany kesal, melupakan sendunya.
"Hahaha..., sakit dikit, gitu aja teriak."
"Coba aja, ganti kakak yang rasakan," ujar Tiffany yang bersiap untuk mencubit pipi Saga.
"Eits!" Saga menepis tangan Tiffany. "Dosa."
"Dih." Tiffany mencebik kesal yang disambut gelak tawa Saga. Keduanya beriringan melangkah masuk menuju ruang makan.
"Sudah makan?" tanya Saga.
"Belum. Nunggu, Kak Saga."
"Ngapain ditunggu. Kalau lapar, makan saja dulu. Kakak kan pulangnya malam."
"Yahhh...."
"Kakek sudah makan?"
"Sudah."
"Sama siapa?"
"Sendiri."
"Mama?"
Tiffany hanya mengedikkan bahu.
"Kakak ke Mama dulu." Saga membelai sejenak kepala Tiffany, sebelum kemudian melangkah menuju kamar orang tuanya.
Di depan pintu kamar, Saga berdiri mematung. Pintu kamar orang tuanya terbuat dari jati yang diberi ukiran bunga. Tinggi juga kokoh, tetapi tidak berat saat dibuka tutup. Meskipun begitu, kali ini Saga merasa berat untuk membukanya.
Saga mengetuk pintunya. Tidak ada jawaban dari dalam. Sekali lagi, Saga mencoba mengetuk pintu. Lagi-lagi tak ada jawaban. Saga merasa sangat lega. Hanya demi kesopanan saja, ia melangkah ke kamar orang tuanya, bukan keinginan pribadi. Saga tak punya rindu untuk ayah ibunya.
Saga berbalik dan terkejut mendapati Tiffany berdiri tak jauh darinya.
"Selama ini, saya pikir dia tak peduli dengan saya, karena saya membosankan. Tapi..., kenapa dia begitu juga sama Kakak yang sudah puluhan tahun tak pernah pulang?"
"Sttt..., Mama mungkin sedang tidur," jawab Saga sekenanya. Ia bergegas menghampiri Tiffany. Dirangkulnya Tifanny dan diajaknya Tifanny kembali ke meja makan.
"Mama tidak pernah sayang sama kita," gerutu Tiffany yang kemudian duduk dengan kesal.
"Sayang, kok. Cuma, orang tua punya caranya sendiri. Kamu jangan berprasangka, ya." Masih dengan berdiri, Saga membelai lembut kepala Tiffany.
Saga sendiri tidak yakin dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya. Ia tahu apa yang dirasakan Tiffany. Masa kecil Tiffany, dilalui tanpa belaian sang ibu. Tiffany dijaga dan dirawat oleh neneknya atau asisten rumah tangga yang dikhususkan untuk menjaga dan mengurus Tiff.
Tiff tumbuh dalam kesendirian dan Saga turut andil di dalamnya. Saga tak pernah pulang. Komunikasinya dengan Tiff hanya melalui telepon, video call atau menunggu Tiff libur sekolah, yang mana Tiff akan datang ke London.
"Saya bukan anak sekolah lagi. Jadi, gak usah menghibur saya."
Ucapan Tiff menyadarkan Saga. Ia menatap mimik wajah Tiff yang cemberut sembari mengunyah makanannya. Rupanya Tiff sudah mengambil makanan. "Makan yang banyak, ya. Biar sehat." Saga menowel pipi Tiff dan kemudian duduk di sebelah Tiffany.
Saga mengambil potongan-potongan buah segar dan sausnya ke dalam mangkuk kecil. Dia sudah makan malam dengan Rayhan, tetapi tidak enak jika meninggalkan Tiffany makan sendiri padahal adiknya sudah menunggu agar bisa makan malam bersama.
"Udah makan di luar, Kak?"
Saga mengangguk dan mulai menyendok salad buahnya. "Mama gak pernah makan malam atau gimana?" tanya Saga.
"Gak jelas. Suka-sukanya, sih, kalau makan." Terlihat tidak acuhnya Tiffany akan ibunya sendiri.
"Kamu sering-sering tawarin, dong."
"Tadi, Kakak ngetuk kamarnya apa ada sahutan?" sindir Tiffany.
"Ya tetep aja ditawarin. Jadi Mama gak akan merasa sedang tidak dipedulikan."
"Ya kalau begitu kenapa Kak Saga baru pulang sekarang? Dulu ke mana aja?"
Perasaan Saga tertohok dengan pertanyaan-pertanyaan adiknya itu. Dia malu pada dirinya sendiri yang hanya bisa menggurui.
"Rumah belakang siapa yang bangun?" tanya Saga mengalihkan topik.
"Kakek."
"Kenapa dibuat mirip?"
Tiffany menghentikan kunyahannya dan menatap Saga bingung. "Mirip dengan?"
"Oh iya." Saga menepuk jidatnya sendiri. Baru ingat jika saat kejadian, Tiffany masih sangat kecil.
"Apa sih?"
"Kamu masih kecil."
"Halah. Kecil begini bisa bikin anak kecil." Tiffany mengucapkannya dengan santai, tetapi Saga menerimanya dengan terkejut, hingga ia tersedak buah yang sedang dikunyah. Tiffany tertawa lebar melihat reaksi kakak tertuanya itu.
"Makanya. Mulai sadar kalau saya sudah dewasa. Hahaha...."
"Iya, iya, terserahlah." Saga pasrah. Memang secara legalitas, usia Tiffany sudah dewasa.
Saga berdiri lebih dulu. Diusapnya lembut kepala Tiffany. Momen yang butuh waktu lama untuk dirasakan sebagai bentuk ikatan. Sebagai bukti bahwa keluarga masih ada di rumah itu.
Saga sudah beranjak pergi ketika Tiffany bicara, "Jangan pergi lagi, Kak."
Saga tak menjawab. Ia hanya mengangguk yang anggukannya pasti tak dilihat Tiffany yang terpekur dengan piring di hadapannya. Lirih Tiffany melanjutkan ucapannya, "Bisakah kita semua melupakan saja peristiwa kebakaran itu?"
Lagi, tak ada jawaban dari Saga karena kali ini Saga sudah berlalu meninggalkan ruang makan.
***