Chapter 14

732 Words
Fokus pada pengabdian pilihan hidup adalah bagian lain yang disebut bertanggung jawab. *** Ruangan kerja Dokter Anwar lebih lebar dari ruangan kerja Kayonna. Dominan warna putih dan cokelat dari beberapa furniturnya. Ada lampu baca Rontgen di dekat meja kerjanya. Ada rak-rak buku dan lemari berkas. Di dekatnya ada kursi pijat modern dan lampu baca. Dokter Anwar sering terlihat mengistirahatkan tubuhnya di sana sembari membaca. Ada dua sofa tunggal dan satu sofa panjang. Sofa panjang ini di desain khusus, yang jika ditarik bagian bawahnya maka akan menjadi tempat tidur. Di salah satu sofa tunggal, duduk Kayonna dengan posisi formal. Kakinya saling bertumpu rapi dan kedua tangan dilipat ke d**a. Dokter Anwar duduk di meja kerjanya. Di hadapannya duduk Dokter Ilham yang rupanya sudah ada di Bali untuk melanjutkan liburan, tetapi kemudian langsung melakukan penerbangan ke Jakarta. "Jadi, selama ini Cintia membawa bayinya untuk diperiksa dan Anda tak menyadari keganjilan-keganjilan itu?" tanya Dokter Anwar. "Selama ini gejala-gejala yang ditimbulkan bayi Joshua masih adalah gejala normal yang merujuk pada penyakit tertentu, Dok." "Gejala normal dengan lebam di leher juga?" sahut Kayonna. "Selama ini tidak ada lebam di leher. Lagi pula, Cintia mengatakan bahwa saat itu Joshua tidur di car seat, lebam itu akibat posisi tidur Joshua merosot." "Suatu kebetulan merosot. Tapi Joshua sering dilarikan malam hari ke rumah sakit karena diagnosa gejala sesak napas, apakah Dokter tidak merasakan Takikardia?" tuntut kayonna gemas. Pun begitu ia masih menyampaikannya dengan anda datar. "Takikardia dan kejang bukankah gejala normal bayi sesak napas?" tukas Dokter Ilham yang jengkel dengan sikap Kayonna. Teramat jelas jika gadis itu sedang mengintimidasinya. Meragukan kredibilitasnya sebagai dokter anak. "Joshu tak hanya mengalami itu. Beberapa lebam di tubuhnya dan cherry red skin adalah tanda jelas ia mengalami racun karbon. Dan saya yakin itu bukan pertama kalinya. Joshua tidak punya riwayat asma. Setidaknya ayahnya sendiri mengatakan dia tidak punya asma, begitu juga Cintia." Dokter Ilham menatap Kayonna tajam. "Anda meragukan kredibilitas saya?" "Begitulah." Emosi tak bisa lagi dibendung. Dokter Ilham melupakan senior sekaligus pimpinannya, Dokter Anwar. Dengan marah, Dokter Ilham menggebrak meja kerja Dokter Anwar. "Walaupun kamu jenius dan dokter bedah termuda, tetapi perihal pengalaman, saya jauh lebih lama dari kamu bocah tengik. Saya sangat tahu kondisi pasien saya, meskipun mereka anak-anak!" "Dulu. Mungkin iya. Dulu Anda adalah dokter anak yang handal. Bukankah Anda sedang ada masalah keluarga? Yakinkah hal itu tidak menganggu konsentrasi pekerjaan Anda?" "Kurang ajar!" "Cukup!" Suara dingin Dokter Anwar mampu menghentikan debat. "Dokter Kayonna keluar dulu. Saya sudah cukup mendengar semua. Saya mau bicara secara pribadi dengan Dokter Ilham." Kayonna tak membantah. Dengan santai ia berdiri dan jalan keluar. Sudah cukup menyerang Dokter Ilham, yang penting bagi gadis itu, Dokter Ilham tahu salahnya. Ia tak suka ada Dokter yang teledor dengan keadaan pasien, apalagi jika pasien itu masih sangat kecil. Menjadi dokter baginya adalah menjadi tangan Tuhan berikutnya. Keseriusan saat di rumah sakit itu perlu. Sedang urusan rumah harus jauh ada di belakang. Perawat Anis menghampiri Kayonna. "Ayah Joshua ada di ruanganmu," bisiknya. Kayonna mengernyit. "Untuk apa? Bukankah harusnya menemui Dokter Endah. Beliau, dokter anak yang sekarang menangani Joshua." "Sudah dari sana. Tapi dia tetap ingin bertemu kamu." "Baiklah." Kayonna melangkah menuju ruangannya. Belum Anis melangkah lagi, lengannya dipegang Renata. "Ke mana lagi dia?" Anis menatap Renata dengan tersenyum, meski hatinya sedikit kesal. Sejak Kayonna bilang kalau akan ada artis yang akan mengamati gerak-geriknya, Anis menjadi tidak suka dengan si artis. Kayonna adalah dokter yang sibuk, dibuntuti dan diamati begitu, tentu membuat dokter kesayangannya tidak nyaman. "Ke ruangannya." "Ngapain?" "Istirahat, sepertinya." Renata mengembuskan napas pelan. "Akhirnya. Ya, sudah." Gadis dengan tampilan bak detektif cantik, melangkah menuju ruangan Kayonna. Tapi, sebelum ia membuka pintu, Anis sigap menahan. "Di dalam masih ada tamu," ujar Anis. Renata mendengkus kesal. Ia kemudian menghampaskan tubuhnya di kursi tunggu pasien dengan wajah kusut. Anis pun jadi tidak tega. Mengikuti Kayonna pasti tidak mudah dan melelahkan. Anis menghampiri Renata. "Pulang saja, Mbak. Dari pagi mengikuti Dokter Kayonna pasti capek." "Saya ingin lihat dia melakukan tindakan ekstrim. Membedah misalnya." "Katanya kan gak boleh ikut masuk ruang bedah." "Ya, pokoknya aksi-aksi tidak terdugalah." Anis tertawa kecil sembari menutup mulutnya. "Itu hanya di film-film." "Ya, ini memang untuk film," tukas Renata kesal. "Tamunya pasti tidak lama." "Saya tungguin, deh. Saya mau lihat dia ngapain aja kalau diruangannya." "Kalau jam segini, sih, biasanya Dokter Kayonna makan." "Mau lihat cara makannya." Kembali Anis tertawa geli. Baginya, riset Renata atas Kayonna terasa konyol. "Baiklah. Saya tinggal dulu, ya, Mbak." Renata tak menyahut hanya mengangguk dan ia mengeluarkan ponsel pintarnya. Ia memutuskan menanti Kayonna sembari menonton film dari ponselnya. Ia sudah bersama Kayonna untuk empat jam lebih, menunggu gadis angkuh itu untuk beberapa menit ke depan, masih bukan masalah baginya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD