Tuhan..., doaku hanyalah agar orang tuaku bahagia. Jangan ada sakit. Karena sakit mereka adalah sakitku dan bahagia mereka dalah bahagiaku. *** Gelisah semakin menjadi begitu pintu rawat inap Dahlan terlihat dekat. Warnanya yang cokelat tua dengan desain sederhana, kini justru terlihat semakin cokelat juga menggelap. Debar jantung berpacu cepat. Kedua tangan Kayona mengepal di dalam saku jas kedokterannya. Jantungnya berdebum saat pintu kamar dibuka dahulu oleh Alexis. Ia masih berdiri diam untuk beberapa saat. Alexis yang menoleh ke belakang dan menatap Kayonna dengan senyum, melihat dengan jelas kegugupan gadis itu. Dia membiarkan, memberikan waktu bagi Kayonna. Alexis paham, meski ingatan sudah menguap, tetapi hati pasti masih terikat dengan masa lalu, dan itu membuat Kayonna resah.

