Salma menutup rapat pintu kamarnya. Ia melangkah dan duduk di kursi belajarnya. Ia menatap layar laptopnya yang sudah menyala sejak tadi. Di mejanya juga ada sekitar dua tumpuk buku yang ia perlukan untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Ia baru saja menyelesaikan makan malamnya, sehingga seharusnya ia kembali belajar dengan semangat baru. Namun kini, untuk membuka bukunya saja sudah malas. Salma mengembuskan napas panjang. Ia tidak suka merasakan perasaan gundah gulana atau perasaan yang ia sendiri tidak mengerti. Seolah begitu banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya hingga ia kewalahan menghadapinya. Suara ketukan di pintunya membuat Salma menolehkan kepala. Sang adik kecil yang rupanya mengetuk pintu. “Kakak.” “Hm? Kenapa?” “Bisa bantu aku ngerjain PR? Aku dapet PR berhitung dar

