Diletakkannya sendok dan garpu dari tangannya ke atas piring. Makan malamnya bahkan belum ia habiskan setengahnya. Syauqi menginjak penuh lantai di bawah telapaknya. Ia memundurkan kursi makannya dan bangkit berdiri. Heri dan Aziz menatapnya bingung secara bersamaan. Lelaki itu bukanlah tipe anak yang meninggalkan makanannya sebelum habis jika tidak ada masalah yang dialaminya. “Jangan tatap aku kayak gitu,” ujar Syauqi menoleh dan menatap papa serta adiknya bergantian. “Kenapa nggak kamu habiskan makanannya?” tanya Heri. “Aku nggak nafsu makan. Aku mau tidur aja.” “Hah?” Kening Heri mengerut sempurna. Ia menggeleng tidak mengerti putra pertamanya itu. Pundak Syauqi lunglai dan ia menjauhi meja makan dengan tidak bertenaga. Ia menuju ke kamarnya tanpa lagi menoleh dan tanpa merisau

