Chapter 15. Cry No More

1824 Words

DEMETRA “Mau apa?” tanya dia. “Mau peregangan otot,” jawabku emosi. “Nggak usah aneh-aneh kamu.” Aku sudah akan protes, saat dia menggenggam tanganku, lalu menyeretku pergi. Revan menarikku hingga ke dalam lift yang kosong. Saat pintu lift tertutup, dia pun melepas pegangan tangannya. “Ngapain, sih, Bapak narik saya ke sini? Saya, tuh, mau ngasih pelajaran ke mereka.” “Buat apa?” tanyanya dengan santai. “Bapak nggak akan paham. Bapak nggak dengar apa kata mereka,” jawabku sambil mendengkus sebal. Sungguh, aku masih marah sekali pada kedua wanita bermulut lamis tadi. Berani-beraninya mereka menghina Revan seperti itu. “Saya dengar apa yang mereka bilang.” Aku menatapnya kaget. “Dan, saya tidak peduli mereka mau mengganggap saya seperti apa.” Dia bicara dengan entengnya. Tampak benar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD