REVAN Dering ponsel membangunkanku dari tidur. Kulihat jam di nakas yang menunjukkan pukul dua belas malam. Siapa yang menelepon malam-malam seperti ini? Dengan sedikit kesal kuambil ponselku dan menjawab tanpa melihat lagi siapa yang menelepon. “Halo,” kataku dengan suara serak “Happy birthday, Papa!” teriak suara anak-anak dariseberang telepon. Aku langsung mengenali kalau mereka adalah keempat anakku. Aku pun tertawa mendengar suara penuh keceriaan mereka di telepon. Aku menegakkan tubuh dan duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Padahal, aku bahkan tidak ingat berulang tahun hari ini. Banyak hal lain yang kupikirkan belakangan yang jauh lebih penting dari ulang tahunku sendiri. Lagi pula, sejak dulu aku tidak pernah memusingkan ulang tahunku. Bagiku yang selalu kuingat adalah

