DEMETRA Aku melangkah dengan pasti mendekati resepsionis yang berada di bagian depan kantor ini. Menarik napas dalam, mempersiapkan hatiku untuk menghadap dia yang sudah lama tidak kutemui. Setelah memikirkan semuanya selama dua hari, aku pun sudah mengambil keputusan. “Permisi, Pak Revan ada?” tanyaku pada security. Lelaki paruh baya itu menengadahkan kepalanya dan menatapku. Raut tegasnya berubah saat menyadari siapa yang saat ini berdiri di hadapannya. “Ibu Demi. Apa kabar?” tanyanya dengan senyum mengembang. “Baik, Pak,” jawabku tersenyum simpul. Aku mengenalnya karena saat bekerja dulu di kantor ini, dia pun menjadi security di lantai yang sama denganku. Bahkan sejak aku belum menikah dengan Revan. “Bapak sendiri bagaimana kabarnya?” “Sehat, Bu,” jawabnya dengan senyum hangat men

