Chapter 1. Little Happiness

2043 Words
REVAN   Sudah seminggu aku tidak melihat gadis itu. Gadis manis berwajah jutek yang berhasil mencuri hatiku. Sejak kejadian di mana aku menolong dia yang hampir terjatuh, aku tidak pernah lagi bertemu dengan gadis kesayanganku. Meskipun selama seminggu ini aku terus berharap setiap penumpang yang masuk bisku adalah dia, tapi pada kenyataannya dia tidak lagi pernah muncul. Aku sendiri tidak mengerti, kenapa aku bisa sefrustrasi ini karena dia? Kenapa aku begitu ingin bertemu dengan dirinya? Padahal namanya pun aku tidak tahu. Apa pekerjaannya? Di mana dia tinggal? Sudah menikahkah dia? Dan, hal lain  mengenai dirinya, aku sama sekali tidak tahu. Dia benar-benar orang asing bagiku. Namun, dia berhasil membuatku mabuk kepayang. Apa ini yang disebut dengan jatuh cinta? Entahlah. Aku sendiri belum pernah merasakannya, jadi aku tidak tahu seperti apa mencintai seorang wanita. Yang kutahu, aku senang melihatnya. Ya, untuk saat ini hanya seperti itu. Getaran ponsel di saku membuatku tersentak kaget sebelum melihat siapa yang mengirimkan pesan. Sebuah nama tidak asing tertera di layar ponsel yang membuatku tersenyum tipis. Si pembuat rusuh sepertinya sudah kembali.   From: Arjuna Wiyasa Yo, My Man! Let's meet up this week! Udah lama bgt gue ga nongkrong ma lo. Kpn lo kosong? Kabari gue sook ya! Sblm gue buat schedule sama cewek-cewek gue. Lo tau kan gmn 'sibuk'nya gue?   Arjuna, atau biasa aku panggil Juna, sahabatku sejak SMP hingga sekarang. Anak slengean yang masih menyusahkan orang tuanya walaupun sudah berumur 27 tahun. Aku yakin alasan sebenarnya Juna mengajakku, hanya karena dia ingin mencari wanita untuk menemani dirinya di ranjang. Dia selalu seperti itu, tidak pernah bisa jauh dari mahluk berjenis kelamin perempuan. Aku pun mengetikkan pesan balasan ke Juna dengan cepat dan segera menyimpan ponselku. Ritasi terakhir bus malam ini akan segera dimulai. Setelah memberikan laporan pada pramudi bahwa semua sudah siap, bus pun mulai bergerak meninggalkan shelter Blok M menuju pemberhentian pertama. Tidak banyak penumpang malam ini, mungkin karena saat ini sudah pukul setengah 11. Sehingga aku pun bisa sedikit santai menjalankan tugasku setelah seharian yang melelahkan. Meskipun begitu, jalanan masih juga padat. Tidak aneh mengingat Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur. Bis akan segera berhenti di shelter ketiga, Bundaran Senayan. Aku pun bersiap seperti biasa. Pintu terbuka dan aku berdiri di depan pintu yang melipat. Beberapa wanita masuk ke dalam dan dalam sekejap seluruh penumpang di shelter yang akan naik sudah tidak bersisa. Aku sudah akan memberikan aba-aba pada pramudi, tapi terdengar suara wanita yang minta ditunggu. Aku pun meminta pramudi untuk menunggu karena tidak tega meninggalkan wanita tersebut di saat hari sudah malam dan bus sudah tidak banyak. Seorang wanita kemudian melangkah masuk ke dalam bis. Aku terdiam menyadari wanita itu adalah gadis kesayanganku. Akhirnya, dia muncul juga. Namun, malam ini dia tidak sendiri. Seorang lelaki mengikuti di belakangnya. Lelaki yang terlihat sedikit lebih tua dibandingkan gadis itu, yang memang masih seperti anak kuliahan meskipun aku tahu dia sudah bekerja. Pintu bus tertutup dan bus kembali bergerak. “Demi, kenapa kamu buru-buru? Sengaja mau ninggalin gue, ya?” tanya lelaki itu mengikuti gadisku yang memilih berdiri di dekat pintu sisi berlawanan. Ternyata, namanya Demi. Nama yang unik, mungkin kepanjangannya Demi Moore? Atau Demi Lovato? “Eh, lo itu harusnya di belakang! Ini tempat cewek!” ketus Demi menatap lelaki itu tidak suka. Ah, ucapannya membuatku tersadar. Seharusnya aku menyuruh lelaki ini ke belakang, karena area ini adalah bagian untuk penumpang wanita. Karena kehadiran gadis ini aku sampai lupa tugasku. “Maaf, Mas. Ini bagian wanita. Kalau pria di belakang. Tolong pindah ke belakang!” kataku berusaha terdengar sesopan mungkin. Demi menatapku bergantian dengan lelaki di hadapannya sambil tersenyum lebar. “Sepi ini, Mas. Tidak apa-apa, lah. Saya juga sama teman saya,” jawab lelaki itu tersenyum melihat Demi yang balas menatapnya kesal. “Maaf, Mas, tapi ini bagian wanita.” “Bentar saja kok. Cuma beberapa halte juga saya turun sama teman saya,” jawabnya lagi berkeras. Penumpang yang seperti ini yang bikin umur semakin pendek. Apa dia tidak sadar sudah dilihati penumpang lain dari tadi? Kenapa dia masih ngotot? “Nggak tahu malu!” desis Demi menjauhi lelaki itu sambil mendelik kesal. “Nggak bisa, Mas. Ini sudah peraturan. Silakan ke belakang!” kataku lebih tegas sambil menatapnya tajam. “Sok banget, sih!” dengkus lelaki itu menatapku dengan pandangan menghina. “Kenek saja belagu. Gue juga bayar, lo kira gratis? Lo gue beli juga bisa!” serunya merendahkanku. Tanganku sudah terkepal kencang, gatal ingin meninju muka tengilnya. Namun, pada akhirnya aku tetap menahan emosiku. Jangan sampai aku dipecat gara-gara lelaki tidak beradab ini. “Eh, lo itu disekolahin nggak, sih, sama orang tua lo? Kelakuan kok kayak orang nggak berpendidikan gitu? Ke belakang sana! Malu gua lo akuin teman! Teman gue nggak ada yang kampungannya kaya lo!” seru Demi terlihat emosi. Orang-orang pun semakin memperhatikan adu debat kami bertiga. “Ya, udah, tapi lo temenin, ya?” kata lelaki ini tersenyum aneh sambil mencoba meraih tangan Demi yang membuat mataku membesar. Untung gadisku dengan cepat menepis tangan lelaki tidak sopan itu. “Nggak! Pergi sana!” ketus Demi berusaha menjauhi lelaki itu. Demi memilih bergeser mendekatiku. Seakan-akan dia mencari perlindungan dariku. Seandainya saja aku bisa menghajar mukanya sekarang, aku akan melakukannya dengan senang hati. Namun, pekerjaan menghalangiku untuk melakukannya. Aku tidak bisa menggunakan kekerasan. Karena dia adalah penumpang yang harus aku hormati. Aku harus cari cara lain untuk bisa menyingkirkan lelaki ini secepatnya. Karena dia semakin membuat Demi dan penumpang bus merasa tidak nyaman, termasuk diriku. “Mas, maaf. Silakan ke belakang dan kalau mbaknya nggak mau, jangan dipaksa. Tolong jangan buat keributan di sini. Anda akan mengganggu penumpang lain,” kataku maju di antara dia dan Demi yang menyebabkan lelaki itu mundur menjaga jarak. Lelaki ini kembali mendengkus dan mendorong bahuku kencang. “Banyak bacot banget lo dari tadi!” geramnya. “Nggak usah ikut campur!” Sabar Revan. “Lo nggak usah sok jagoan, ya!” serunya sekali lagi sambil kembali mendorong bahuku kencang. Namun, aku bergeming, tidak terpengaruh akan sikap mengintimidasinya. “Songong banget jadi orang.” “Sudah! Masnya pindah aja sana!” ucap seorang ibu yang menghentikanku yang ingin membalas ucapannya tadi. “Nggak malu, ya, bikin ribut di bis? Kalau nggak, turun aja dari bis! Mengganggu penumpang lain saja.” “Iya, betul. Sudah malam masih bikin onar. Kalau temannya nggak mau jangan dipaksa! Cowok bukan, sih?” sahut seorang wanita muda yang duduk di sebrang ibu tadi sambil menatap jutek pada lelaki itu. “Mau saya videoin terus sebarin di internet? Biar viral sekalian.” Wajah lelaki itu pun terlihat memerah karena rasa kesal bercampur malu. “Malu, dong, sama yang lain. Cakep-cakep, tapi nggak tahu aturan,” sahut ibu itu lagi yang diamini penumpang wanita lain. Melihat para penumpang protes padanya, akhirnya dia pun berbalik badan, lalu berjalan bagian belakang bus sambil mengumpat tidak jelas. Suasana di bus pun kembali tenang seperti sebelumnya. Aku menatap Demi yang balas memandangiku dengan tatapan menyesal. “Nggak apa-apa, Mbak?” tanyaku sambil tersenyum simpul. “Nggak apa-apa, Mas. Maaf, ya, ngerepotin.” Demi tersenyum kikuk melihatku. “Teman saya emang suka norak.” Aku tertawa kecil. “Nggak masalah, Mbak. Saya hanya menjalankan tugas,” ucapku sambil mengangguk padanya. Senyuman lebar pun tersungging di bibir merahnya. Senyumannya yang begitu cantik. Senyumannya yang membuat dadaku menghangat oleh rasa yang tidak pernah kukenal sebelumnya. Sepertinya, aku memang betul-betul jatuh cinta saat ini.    ***    DEMETRA   Hhhhhhh, hari yang sangat menyebalkaaaaannnnnnn!!! Arghhhh!!!! Kenapa hari ini aku begitu sial? Kenapa, Tuhan? Ada apa dengan hidupku sebenarnya? Belakangan ini hari-hariku begitu buruk dan hari ini adalah yang paling buruk. Bagaimana tidak? Seharian ini semua pekerjaanku tidak ada yang berjalan dengan baik. Aku ditegur berulang kali oleh atasan untuk kesalahan yang sebenarnya bukan karena diriku. Sudah begitu, si lelaki kurang ajar, Arman, mengintiliku seharian ini. Bahkan sampai mengejarku pulang yang berakhir dengan membuat aku malu di bis. Dan, terakhir, tapi yang paling paling paling menyebalkan adalah Papa yang memberikan ultimatum untuk mengirimku ke Padang karena aku tidak muncul di acara perjodohanku malam ini. Fixed! Today is a worst day, ever. Perjodohan. Dikiranya ini zaman Siti Nurbaya kali, ya? Kedua orang tuaku, terutama Papa, selalu mengatur apa pun yang aku dan juga saudaraku lakukan. Bedanya, saudaraku selalu mendapatkan yang terbaik, sedangkan aku? Aku selalu dapat yang tidak aku inginkan. Padahal aku anak paling bungsu, yang seharusnya paling disayang. Namun, di keluargaku, aku ini sudah seperti orang asing. Tidak pernah dianggap. Teman, sekolah, universitas, sampai jurusan kuliah, semua diatur Papa. Hanya pekerjaanku saja yang tidak bisa diatur oleh Papa. Diam-diam, aku melamar di sebuah perusahaan dan diterima. Aku begitu bahagia akan pencapaianku, tapi tidak dengan Papa. Setiap hari, Papa menceramahiku karena menurutnya pekerjaanku sangatlah tidak menjanjikan. Tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan Papa saat menyekolahkanku. Namun, aku tidak peduli karena akhirnya aku bisa melakukan sesuatu yang aku inginkan tanpa campur tangan Papa. Dan, Papa membalas pemberontakanku dengan mengatur perjodohanku entah dengan siapa. Ini sudah kali ketiga Papa menjodohkanku dengan lelaki yang tidak aku kenal. Sebelumnya aku masih berusaha menjadi anak yang baik dengan muncul di acara tersebut, lalu dengan halus menolak lelaki yang akan dijodohkan denganku. But, not today. Enough is enough. Lebih baik jadi perawan seumur hidup daripada menjadi istri dari lelaki yang tidak aku cintai. Aku pun bersandar ke pintu, lalu menghela napas kencang. Sebal sekali rasanya. Seandainya bisa, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya saat ini, tapi aku tidak bisa. Aku tidak punya tempat berlari untuk mencurahkan kekesalanku. Akhirnya, aku hanya bisa memendamnya dalam hati, yang lama-lama akan menjadi penyakit. Lihat saja! Perutku terasa melilit tanda magku kambuh. Hiks, malangnya aku dan perut buncitku. Jenuh melihat pemandangan di luar, aku pun mengalihkan pandangan ke sekelilingku. Saat aku melihat ke seberang, aku berhasil menangkap basah si petugas tampan itu sedang memandangiku. Namun, dia langsung buang muka saat sadar aku menatapnya balik. Walaupun kejadian tadi sangat menyebalkan karena Arman benar-benar bikin malu, tapi aku juga merasa senang karena Revan menolongku. Yah, walaupun aku yakin dia melakukannya karena tugasnya untuk memastikan keamanan bis, tapi tetap saja aku bahagia. Rasanya seperti ditolong oleh seorang pangeran tampan. Namun, Arman harusnya bersyukur karena tadi Revan yang turun tangan. Karena kalau sampai aku yang mengambil tindakan, sudah bisa dipastikan dia akan pulang dalam keadaan babak belur. Walaupun aku perempuan, tapi aku pemegang sabuk hitam taekwondo sejak masih sekolah dulu. Macam-macam denganku, siap-siap saja kena bogem mentah.   Pemberhentian selanjutnya, Shelter Dukuh Atas ….   Aku menghela napas kecewa karena aku sudah harus turun. Padahal aku masih ingin melihat Revan. Karena pertemuan kami berikutnya tidak akan bisa diprediksi. Bisa dalam sebulan aku bertemu dengannya beberapa kali. Namun, tidak jarang dalam sebulan, aku tidak melihatnya sama sekali. Karena itu, saat-saat seperti ini sangatlah berharga. Bis akhirnya berhenti di shelter, lalu pintu bus pun terbuka. Revan bergeser sedikit ke kiri untuk memberi aku, dan tentunya penumpang lain, jalan untuk keluar. Saat akan melewati dia, aku sadar dia masih terus menatapku. Aku pun tersenyum padanya yang dia balas dengan senyuman manisnya yang membuat jantungku demo di dalam sana. Senyumnya dasyat banget, cyiiinn. Bersamaan dengan kaki kiriku menyentuh platform shelter kurasakan sesuatu tertaut dengan kelingking kiriku. Aku pun langsung menoleh ke arah tanganku untuk melihat apa yang tersangkut di sana, dan saat aku akhirnya tahu, mataku pun melebar sempurna. Telunjuk Revanlah yang ternyata berkaitan dengan kelingkingku. Namun, beberapa saat kemudian, dia langsung melepaskan kelingkingku dan melihat ke arah lain saat aku menatapnya. Aku yang berhenti berjalan mendadak, karena terlalu kaget, akhirnya membuat penumpang lain kesal, sehingga mereka pun mendorongku ke depan. Dengan tergopoh-gopoh, aku pun melangkah keluar bis. Saat sudah berdiri di shelter, aku terdiam seperti orang bodoh. Mencoba mencerna perbuatan Revan tadi sambil menatap dia yang memalingkan wajah melihat penumpang lainnya yang masih akan keluar. Sebentar, sebentar. What the f**k is happening?! Di saat aku masih terus bertanya-tanya dalam hati, pintu bus perlahan menutup. Revan tidak melihatku atau berbalik badan sekalipun, sehingga aku hanya bisa melihat punggung tegapnya di balik pintu kaca. Namun, saat bus mulai bergerak maju, aku bisa melihat jelas senyum simpulnya. Aku mengangkat tanganku dan menatap jari kelingkingku dengan mulut terbuka setengah. Menatap jari yang tadinya bersentuhan dengan milik lelaki tampan yang tidak pernah kuduga akan melakukan tindakan seberani tadi. Senyum lebar pun terkembang dan aku mulai mengikik tidak jelas. Rupanya, hari ini tidak seburuk yang aku pikirkan sebelumnya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD