Revan
Pemberhentian berikutnya, Shelter Bundaran Senayan.
Aku segera bersiap di depan pintu begitu mendengar pengumuman otomatis di dalam bus Trans Jakarta. Kuperhatikan seluruh isi bus yang padat oleh para penumpang. Sebagian bersiap turun dan sebagian lagi tetap duduk ataupun berdiri, bergeming karena pemberhentian yang masih jauh.
Di jam pulang kantor ataupun masuk kantor, bus Trans Jakarta jurusan Blok M – Kota ini pasti akan selalu padat. Karena rutenya yang melewati daerah perkantoran di pusat bisnis kota Jakarta, Thamrin–Sudirman–Senayan. Karena itu kebanyakan penumpangnya adalah para pekerja dengan penampilan rapi khas perkantoran elit. Dengan dandanan mereka yang modis dan wajah-wajah yang sebagian besar rupawan.
Bis melambatkan lajunya saat mendekati shelter Bundaran Senayan. Saat bus sepenuhnya berhenti, aku pun bergerak ke samping bersamaan dengan pintu bus yang membuka. Memberi jalan penumpang, yang sudah mulai bergerak, untuk keluar dari dalam bis.
“Tolong beri kesempatan untuk yang keluar dulu, ya!” kataku tegas dan lantang saat melihat antrean penumpang yang akan menaiki bus di shelter Bundaran Senayan sudah sangat padat.
Namun, bukannya memberi jalan, mereka malah memaksa masuk. Padahal penumpang di dalam bus yang ingin turun, masih belum semuanya keluar.
“Maaf, Mbak. Sabar dulu, ya!” ucapku sekali lagi sambil merentangkan tangan, menghalangi penumpang yang sudah ingin masuk.
“Biar yang lain keluar dulu,” lanjutku yang membuat mereka pun berhenti mencoba masuk dan membiarkan yang lain keluar dari bis. Akhirnya, penumpang pun bisa bergerak dengan tertib.
Inilah pekerjaanku, menjadi seorang Satgas Pengamanan di dalam bus Trans Jakarta. Pekerjaan yang baru kegeluti sebulan ini. Mungkin bagi beberapa orang menjadi petugas Trans Jakarta bukanlah pekerjaan yang bisa dibanggakan seperti menjadi pegawai negeri atau bekerja di perusahaan swasta. Namun, bukan berarti pekerjaan ini tidak penting.
Kami bertugas untuk menjaga ketertiban penumpang saat naik dan turun bis. Juga menjaga keamanan dan kenyaman seluruh penumpang yang menggunakan fasilitas yang dikelola pemerintah kota Jakarta ini.
Selain itu, menjadi petugas bus Trans Jakarta selama sebulan ini membuatku belajar bagaimana menghadapi spesies berwujud MANUSIA.
Dari yang sopan dan mau mengikuti peraturan, hingga orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak punya malu. Aku sadar, walaupun terlihat seperti pekerjaan sepele, apa yang aku lakukan saat ini bukanlah hal mudah. Aku harus ekstra sabar dan pengertian menghadapi semua orang dengan tetap memasang wajah penuh senyumanku dan berlaku sopan.
Begitu penumpang yang keluar dari bus habis, penumpang yang sudah antri pun langsung masuk ke dalam bus dengan saling mendorong. Aku mendecakkan lidah, jengah melihat mereka yang begitu tidak sabar dan tidak bisa teratur. Padahal mereka bekerja di daerah perkantoran yang elit, yang seharusnya memiliki latar pendidikan yang tinggi. Namun, tetap saja kebiasaan orang-orang ini tidak mencerminkan penampilan modis dan high class mereka. Mereka masih bersikap seenaknya saja. Sangat disayangkan sekali.
“Jangan dorong-dorongan, perhatikan langkahnya!” kataku lantang, kembali mengingatkan mereka.
Saat melihat ke antrean yang semakin berkurang di shelter, mataku pun terpaku pada sosok gadis yang dengan sabar menunggu gilirannya masuk sambil memperhatikan ke dalam bis, tidak seperti yang lain yang terburu-buru seperti dikejar setan. Aku mengenalinya karena sudah beberapa kali dia naik bus di mana aku bertugas. Dia selalu naik dari shelter Bundaran Senayan dan turun di shelter Dukuh Atas.
Gadis itu tidak pernah suka berdesakan atau dorong-dorongan. Selalu sabar menunggu hingga kondisi lebih teratur. Bahkan terkadang, dia lebih memilih untuk naik bus berikutnya apabila dia melihat bus sudah terlalu penuh. Memang sikapnya itu bukan hal yang aneh, banyak penumpang lain melakukan hal yang sama.
Akan tetapi, entah kenapa di mataku dia terlihat berbeda. Dia berhasil membuatku tertarik untuk memperhatikannya.
Setelah dirasanya sudah aman, gadis itu pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bis, tapi tiba-tiba seorang wanita, yang berlari dari arah pintu masuk shelter, menabraknya dan tanpa peduli langsung masuk ke dalam bis.
Tubuh gadis itu pun limbung, tapi dengan cepat aku langsung memegang tangannya agar dia tidak terjatuh ke sela di antara pijakan halte dan bis. Jantungku bahkan sampai berdebar karena melihat dia yang nyaris terjerembab. Namun, yang lebih membuat jantungku berdebar kencang adalah karena aku bisa menyentuh tangan lembutnya.
Sial, aku terdengar seperti lelaki berengsek saat ini.
“Mbak, lain kali tidak perlu lari-lari! Masih ada bus lain di belakang. Tindakan Mbak tadi bisa membahayakan penumpang lainnya. Mbak juga bisa terluka kalau seperti itu,” ucapku pada wanita tadi dengan sedikit kesal meskipun masih dengan nada sopan.
“Maaf, Mas. Maaf, ya, Mbak,” kata wanita itu dengan wajah meronanya karena malu. Aku mengangguk dan tersenyum tipis padanya sebelum dia masuk ke bagian dalam bis.
“Makasih, Mas,” ucap gadis di depanku sambil tersenyum lebar. Aku menatap wajahnya dan hanya bisa membalas ucapannya itu dengan senyuman yang aku yakini terlihat sangat konyol.
Gadis itu kemudian berdiri di hadapanku karena bus sudah penuh di bagian dalam. Tas ranselnya dipindahkan ke bagian depan tubuhnya, lalu tangan kanannya memegang pegangan di atas. Pintu bus menutup dan bus bergerak menuju shelter berikutnya.
Melihat posisi kami yang begitu dekat, tanpa sadar aku sudah memperhatikan gadis yang sedang bermain ponsel di hadapanku ini.
Bagaimana mendeskripsikan gadis ini? Dia tidak secantik wanita lain yang pernah dekat denganku selama ini, tapi dia terlihat manis. Badannya berisi dengan kulit yang putih. Matanya agak sipit dengan hidung yang kecil. Pipinya gembil menggemaskan. Bibir merahnya terlihat begitu kering, mungkin dia kepanasan atau kurang minum. Dan, rambutnya panjang sepunggung berwarna hitam kemerahan. Meskipun wajahnya hanya ditutupi dengan make-up tipis, tapi tetap saja dia terlihat begitu menarik.
Setidaknya di mataku dia terlihat sangat menarik.
Gaya berpakaiannya pun sangat santai untuk ukuran pegawai di area Senayan. Dia tidak pernah menggunakan high heels. Hari-hari tertentu, dia bahkan berpakaian sangat casual—jeans, kaos, dan sepatu kets. Namun, ada kalanya juga dia akan berpakaian formal layaknya pekerja kantoran. Mungkin dia bekerja di perusahaan yang tidak terlalu disiplin dalam urusan penampilan.
Yang aku tahu, gadis ini sangat cuek.
Bis kembali berhenti di shelter berikutnya. Walaupun beberapa penumpang keluar, tapi yang masuk lebih banyak. Sekarang posisiku benar-benar dekat dengannya. Untung ada ranselnya di antara kami berdua, kalau tidak dia pasti bisa merasakan tubuhku yang bergetar pelan.
Sial, aku benar-benar seperti ABG yang bertemu dengan gebetannya saat ini.
Aku berusaha mengalihkan pikiranku ke hal lain, tapi, gagal. Aku malah terus memikirkan gadis di hadapanku ini. Aku sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa membuatku begitu gugup saat berdekatan seperti ini dengannya. Aku bahkan tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Apa iya aku jatuh cinta padanya?
Yang benar saja! Aku bahkan tidak tahu namanya.
Gadis ini, saat diam terlihat seperti tokoh-tokoh antagonis di sinetron. Ekspresi wajahnya begitu jutek. Dia pun cukup galak terhadap penumpang lain yang dirasa tidak sopan atau bersikap semaunya.
Pertama kali aku memperhatikannya, karena aku terkesima dengan keberaniannya mengutarakan ketidaksukaannya itu. Di saat orang lain akan berusaha memendamnya, gadis ini tidak segan mengucapkannya begitu saja. Yang akhirnya membuat dia terkesan begitu galak dan menyeramkan.
Namun, di suatu hari, wajah jutek dan galaknya itu tiba-tiba berubah menjadi begitu ramah. Senyuman bahkan terulas di bibirnya yang membuat jantungku mendadak berdegup lebih cepat. Saat itu, aku terpesona oleh senyum manisnya. Senyuman yang dia berikan pada seorang ibu tua yang dia berikan tempat duduk.
Belum pun ibu itu masuk sepenuhnya ke dalam bis, dia sudah berdiri terlebih dahulu dan membantu ibu tua yang sedang kupapah itu untuk duduk di kursi yang tadinya dia duduki. Bukan hal aneh melihat seorang penumpang memberikan kursi untuk lansia, yang membuatku terkesima adalah kesigapannya membantu ibu tua itu. Belum lagi setelah itu dia mengajak bicara ibu tua yang sepertinya bingung dengan tujuannya.
Pada akhirnya, gadis ini mengantarkan ibu tua itu ke tempat tujuannya. Bahkan setelah ditolak berulang kali, dia tetap bersikukuh untuk menemani hingga ke rumah cucunya. Aku tahu, karena aku mencuri dengar obrolan mereka selama di bis.
Di balik penampilannya yang cuek dan sikapnya yang galak, ternyata dia adalah gadis yang begitu baik, juga peduli dengan sekitarnya. Banyak di dunia ini orang yang memiliki hati yang baik, tapi tidak semua orang mau memperlihatkannya dalam sebuah tindakan. Terlebih di kota besar dan super sibuk seperti Jakarta. Hampir semua orang sibuk dengan dirinya sendiri.
Karena itulah, gadis ini terlihat spesial di mataku.
Karena dia berbeda dari gadis lain yang pernah kutemui.
Sayang, kami bertemu di tempat dan waktu yang tidak tepat. Aku tidak bisa mendekatinya lebih dari ini. Karena aku harus profesional di tengah menjalani pekerjaan. Aku tidak bisa mencampuradukkan keinginan pribadi dengan kewajibanku sebagai petugas.
Namun, apabila kami dipertemukan di luar jamku bekerja, aku tidak bisa menjamin, bahwa gadis ini tidak akan jatuh ke dalam pelukanku.
***
DEMETRA
Meskipun aku sedang memandangi ponselku saat ini, sebenarnya perhatianku sama sekali tidak tertuju pada tulisan-tulisan yang ada di layar. Alasannya, karena aku terlalu sibuk mengatur degup jantungku yang meliar. Tanganku yang menggenggam ponsel bahkan terasa basah oleh keringat.
Lo nggak punya riwayat penyakit jantung, kan, Dem?
Sembarangan!
Petugas Trans Jakarta di hadapanku inilah yang seharusnya disalahkan.
Revan Putra, nama yang kutahu dari seragam kerjanya. Aku selalu tertarik dengan petugas tampan satu ini. Dia terlalu tampan untuk menjadi petugas bus Trans Jakarta. Dia seharusnya menjadi model, bukan kenek. Memang, sih, petugas bus ini bukan seperti kenek Kopaja atau Metro Mini yang biasanya abang-abang tidak jelas. Yang aku dengar malah setidaknya mereka harus tamat SMA, tidak jarang ada yang tamat D3. Namun, tetap saja, dia tidak cocok jadi petugas Trans Jakarta.
Aku menengadahkan kepalaku, berpura-pura melihat pemandangan di belakang Revan. Lelah juga dari tadi pura-pura nunduk memainkan ponsel. Beruntung, Revan sedang memalingkan wajahnya, melihat jalanan di depan. Jadi, dia tidak akan sadar bahwa aku sedang mengagumi ketampanan dia yang terlihat begitu jelas.
Matanya menyorot tajam menatap lalu lintas di depan. Tidak jarang dia terlihat angkuh karena sorot matanya itu. Namun, semua itu langsung lenyap begitu senyuman manis tersungging di bibirnya. Revan juga dikaruniai hidung yang sangat mancung. Tidak seperti hidungku yang mendelep. Dan, bibirnya, hmmm, terlihat kissable banget. Duh, lihatnya saja aku sudah sesak napas.
Dia memiliki postur tubuh yang tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Buktinya aku hanya sebahu dia. Padahal aku tidak pendek-pendek banget. Dan, di balik seragamnya, aku yakin, badannya pasti sangat tegap dan kekar. Karena aku bisa melihat otot-otot lengannya yang tercetak di seragam kerja yang pas di tubuhnya. Pikiranku langsung membayangkan gimana rasanya dipeluk badan kekarnya. Pasti enak banget. Empuk-empuk gimana gitu.
Duh, jadi pengen.
Oh, iya! Dan, yang paling kusukai dari semuanya adalah suara merdunya. Setiap kali dia membuat pengumuman, rasanya tubuhku langsung merinding tidak jelas. Suaranya yang dalam dan sedikit serak terdengar sangat indah di telingaku. Pikiranku jadi suka ke mana-mana saat mendengar dia berbicara. Tidak jarang aku jadi suka senyum-senyum sendiri.
Dari penjelasan lo dari tadi, kelihatan banget lo udah lama nggak punya cowok, Dem. j****y banget!
Sial. Kalian lihat langsung, deh, biar tahu betapa tampannya seorang Revan.
Aku bukanlah penyuka lelaki tampan selama ini. Karena menurutku, mayoritas lelaki tampan itu menyadari ketampanan mereka yang membuat mereka tidak jarang bersikap menggelikan. Namun, untuk yang satu ini, aku tidak bisa berhenti memperhatikannya. Ketampanannya membuat kedua mataku tidak rela meninggalkan pemandangan indah ini dan beralih ke yang lain. Dia terlalu sayang untuk dilewatkan.
Selain itu, dari gerak-geriknya selama ini, dia tidak terlihat seperti lelaki tampan yang narsis. Dia bahkan bersikap sangat normal meskipun puluhan mata perempuan berusaha menelanjanginya. Pernah sekali segerombolan perempuan muda berusaha menggodanya, tapi dia tetap bersikap profesional. Sama sekali tidak terlihat tebar pesona atau apa pun itu. Berarti dia lelaki yang normal, kan?
Bisa saja itu cuma pencitraan!
Bisa saja, sih, tapi aku mencoba berpikir positif saja.
Lagi pula, aku punya alasan lain yang membuatku sering memperhatikannya. Bukan serta merta karena dia tampan saja, tapi karena aku sadar dia sering memperhatikanku.
Geer lu!!!
Aku tidak bohong saat aku bilang dia sering memperhatikanku. Di mana pun aku duduk, matanya seperti selalu mengikutiku. Namun, saat aku melihatinya balik, dia akan membuang muka. Terus terang, ini kali pertama ada lelaki yang terus memperhatikanku. Karena aku memang bukan wanita cantik atau juga seksi. Kelebihanku hanyalah memiliki kulit putih.
Kalau itu saja, Mba Kunz pun kulitnya putih.
Jadi, saat sadar ada lelaki yang memperhatikanku terus seperti ini, mau tidak mau aku pun merasa senang. Kapan lagi ada lelaki tampan yang tertarik padaku? Siapa tahu bisa jadi pacar betulan, kan?
Ha … ha … ha ….
Ya, ya. Ngayal aja terus, Demi.
Lamunanku tiba-tiba buyar saat tiba-tiba bus berhenti mendadak. Tubuhku limbung dan terdorong penumpang lain di belakangku yang sama-sama kehilangan keseimbangan. Pegangan tanganku terlepas. Aku pikir aku akan tersungkur ke depan. Namun, dengan sigap Revan menahan tubuhku dengan memegang lengan kiriku. Membantuku untuk berdiri tegak kembali sebelum menjauhkan tangannya dengan cepat.
“Maaf, ya, Mas,” ucapku tidak enak padanya.
“Iya, nggak apa-apa, Mbak,” balasnya disertai senyuman manis yang membuat pikiranku blank seketika.
Untuk kali pertama, gue pengin nembak cowok duluan.
TBC