REVAN “Kamu serius?” tanyaku dengan tatapan tidak percaya pada wanita di hadapanku. Wanita yang sudah sah menjadi istriku sejak dua minggu lalu. Bukannya menjawab, dia malah memberikan cengiran lebarnya. “Yang benar aja kamu, Yang?” protesku tidak terima. “Ya, udah, kalau kamu nggak mau, aku resign aja,” jawabnya dengan santai. “Kemarin Bang Athan nawarin—” “Nggak!” seruku cepat. “Kamu nggak boleh pindah kerja!” “Kalau gitu kamu terima persyaratan dariku.” Dia bersikukuh sambil menyilangkan kedua tangannya di depan perut. Dia menyeringai puas karena sadar dirinya menang mutlak saat ini. “Cuma itu pilihannya.” Aku mengembuskan napas panjang sambil membaca lagi rentetan kalimat yang ada di kertas di tanganku. Aku benar-benar tidak menyangka, Demi akan mengajukan persyaratan segila ini

