REVAN Aku membaca ulang deretan kata-kata yang kuketikkan sebagai e-mail balasan untuk salah satu perusahaan besar yang menjadi pelanggan utama kami. Aku sedang memberikan konfirmasi waktu dan hari pertemuan kami untuk membahas kerja sama baru. Biasanya hal ini dilakukan oleh Demi, karena dia yang mengatur semua jadwal pertemuan kerjaku. Namun, karena Demi sedang sakit, aku melakukannya sendiri. Aku tidak mau dia bekerja meskipun di rumah. Aku ingin dia istirahat total hingga kesehatannya pulih. Aku tidak mau lagi melihat wajah pucat dan air mata kesakitannya seperti minggu lalu. Rasanya aku ingin menghajar siapa pun yang membuatnya menderita seperti itu, tapi aku lalu tersadar, aku sendiri yang membuat Demi sakit. Aku yang membuat dia stres yang berakibat pada nafsu makanny

