Lanjut atau Sudahi

823 Words
"Gue pulang dulu, Kak," pamit Leona meninggalkan mereka berdua. "Eh kok gitu?" cegah Nafla menarik tangan Leona. "Masa gue dateng, elo pulang. Nanti lah, bareng aja." Nafla tersenyum masih menahan tangan Leona. "Elo jangan salah paham, Kak." Leona berusaha menjelaskan. Ia membalas memegang tangan Nafla. "Lho? Salah paham kenapa? Gue percaya sama Galih. Hubungan kalian kan cuma sebatas hubungan kakak dan adik kelas. Gue yakin, Galih gak sebangsat itu. Dia gak mungkin main belakang. Apalagi nyelingkuhin gue. Kalopun dia mau selingkuh, dia pasti izin." Nafla berujar sambil tersenyum. Galih tahu, ucapan Nafla itu sebagai bentuk sindiran untuknya. Nafla tidak berkata langsung, tapi, Galih paham, ucapan pacarnya itu adalah kebalikan dari apa yang ingin diungkapkannya. Leona tersenyum palsu, misinya gagal. Nafla tidak salah paham. Dia kira, Nafla akan langsung mutusin Galih. Oh ternyata tidak! "Btw kalian kenal di mana sih? Kok kayak akrab gitu?" tanya Nafla basa-basi. "Kenal di sekolah, Kak." "Oh di sekolah. Bener, Gal?" tanya Nafla pada Galih. Galih tersenyum miris. "Itu gimana bisa kenal? Kalian ketemu di kantin apa gimana?" tanya Nafla lagi. "Iya, Kak. Di kantin gak sengaja." "Oh. Gak sengaja, tapi, kayak udah lama kenal gitu ya." "Gue pulang duluan ya, Kak. Gue udah dari tadi hehe." Leona berpamitan kepada keduanya. Seusai Leona pergi, kini tinggallah Galih dan Nafla berdua. Galih mendekat ke arah Nafla. "Naf, jangan salah paham. Ini gak seperti yang elo liat." "Umii ada di rumah gak? Gue mau ngasih kue ini buat Umii." Nafla menunjukkan tote bag yang dibawanya. "Umii gak ada di rumah, Naf." "Yaudah, gue titip ini buat Umii ya. Salamin nanti." Nafla menyodorkan tote bag berisi brownies yang telah dibuatnya susah payah. Galih menerima tote bag itu, kemudian menahan tangan Nafla. "Jangan salah paham, Naf. Gue gak mungkin ngelakuin hal itu. Gue gak mungkin ada main di belakang lo." "Udah ya, Gal. Gak usah capek-capek jelasin apa-apa lagi." Nafla sudah lelah dengan semua penjelasan yang keluar dari mulut Galih. Basi. "Seharusnya gue gak perlu pertimbangin keputusan gue kemaren. Karena cuma ngulur waktu." Untuk apa ia memikirkan keputusannya kalau ujungnya pasti seperti ini. Mata Nafla mulai memanas. Sebisa mungkin ia harus menahan cairan bening itu. Jangan sampai keluar. "Elo salah paham, Naf." Sebenarnya Nafla tidak tega dengan wajah melas Galih saat ini. "Iya, gue tahu." Nafla sudah lelah dengan semua ini. Tapi, ia tidak bisa juga kalau mau menyalahkan Galih sepenuhnya. Karena ia juga berperan dalam membuat rasa sakit itu. "Gue mau udahan." Ucapan Nafla barusan membuat Galih teriris, dadanya sesak. Udahan? Kalimat macam apa itu. Mungkin Nafla harus melepaskan semuanya, ia tidak sekuat hujan yang menyatukan langit dan bumi, hatinya juga butuh bahagia. Karena semakin lama ia memaksa bertahan, semakin dalam lagi ia akan terluka. Sejatinya, cinta tidak akan membuat orang yang mencinta tersakiti dan cara terbaik untuk membuat diri bertahan adalah dengan terus berjalan. Hati juga butuh bahagia, Bos. "Gue gak mau, Naf." Galih mengenggam tangan Nafla erat. "Gue mau udahan. Hubungan ini gak bisa diperpanjang lagi." Sedetik setelahnya, air mata Nafla lolos seketika. Pipinya mulai basah. Ini sangat berat baginya. Galih mengusap air mata Nafla. Kemudian tangannya memegang pundak Nafla. "Elo liat mata gue. Jangan nunduk Naf." Galih mengangkat dagu Nafla. Nafla malah semakin menangis. Saat ia menatap Galih, hatinya semakin tersayat. Ia tak kuasa menahan cairan bening itu. Aliran darah ke otak Galih seakan berhenti beberapa waktu saat melihat orang di depannya ini menangis terisak. Sebagai makhluk yang seharusnya lebih kuat, Galih sebagai cowok juga punya perasaan yang sulit dijabarkan ketika melihat cewek menangis di hadapannya. Galih sangat tidak tega melihat Nafla seperti ini, ia kembali menghapus air mata Nafla kemudian menarik Nafla ke pelukannya. Hati Galih ikut pedih melihat Nafla menangis karenanya. Nafla menenggelamkan wajahnya seraya menumpahkan semua air matanya di d**a bidang Galih. "Lo yakin mau udahan, Naf?" tanya Galih hati-hati. Nafla menggigit bibir bawahnya. "Iya," tegas Nafla. Kali ini ia benar-benar yakin. Ia sudah capek. Capek kalau harus menyakiti dirinya sendiri. Dia menyerah, cukup sampai di sini. Dunia Galih pun seperti berhenti berputar saat mendengar kalimat Nafla yang penuh keyakinan itu. Mungkin mereka sama-sama sakit. Tapi, mereka sama-sama salah. Setelah mendapat pencerahan dari Leona tadi, rencananya Galih ingin meluruskan hubungannya. Memperbaiki semuanya. Tapi, Ia menyesali mengapa Nafla datang di saat yang tidak tepat. Ketika salah satu diantara pasangan tidak lagi nyaman dengan suatu hubungan, memang sebaiknya berpisah agar tidak ada lagi luka-luka baru yang tercipta. Dan ketika semua itu harus berakhir, akhirilah semuanya dengan cara yang indah. Tetaplah menjadi hubungan yang indah, walau Double AQ bukan lagi Double AQ. Perpisahan mungkin memang sebuah jalan yang terbaik agar bisa saling menghargai. Tapi, dengan berpisah mereka akan menemukan kebahagiaannya masing-masing. Nafla akan melepas Galih. Ia tidak akan menghambat langkah Galih lagi. Ia yakin suatu hari nanti Galih akan menemui kebahagiaannya sendiri, yang sudah jelas bukanlah dengannya. Mungkin butuh waktu bagi Nafla untuk berhenti menyayangi Galih. Namun, Nafla akan menyimpan semua hal tentang Galih dalam hatinya. Galih melepaskan pelukannya, kemudian beralih menatap calon mantannya itu. "Gue gak mau, Naf."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD