Tok tok
Nafla berdiri di depan pintu kamar Maemunah seraya menenteng satu kantung plastik hitam. "Assalamu'alaikum, Mae. Maen yok!" ucapnya agak keras.
Hampir sepuluh kali tangan Nafla mengetuk pintu kamar Maemunah, sambil teriak assalamu'alaikum, hampir sepuluh kali juga salamnya dijawab tapi pintu enggak dibuka-buka. Biasanya Nafla langsung nyelonong masuk kalau pintu kamar Maemunah tidak dikunci.
Entah apa yang membuat Maemunah mengunci diri di kamar, Nafla takut Maemunah lagi anu itu hngg anu hnggg lagi main. Main tidur-tiduran sambil mengigau menjawab salam.
Nafla memasang kuda-kuda berniat mau mendobrak pintu kamar Maemunah. Nafla sudah menyiapkan mental dan badannya. Saat ini ia mulai memundurkan langkahnya kemudian memajukan badannya ke arah pintu.
Ckleeek
Pintu terbuka lebar. Alhasil tubuh Nafla menabrak tubuh Maemunah. "Sinting lo ye!" umpat Maemunah yang terus mengusap-usap daerah belakangnya. Ia sudah terduduk di lantai. "p****t gue, Anjir! Patah dah tulang p****t gua!" keluh Maemunah masih mengusap daerah belakangnya.
Maemunah berusaha melihat daerah belakangnya, berdarah atau tidak. Takutnya ambeiennya kumat. "Kok diem aja lo, Njir?"
Maemunah menoleh ke arah Nafla. "Astaga! Si t*i ketiduran!" Maemunah menepuk-menepuk pipi Nafla. "Bangun, Woy! Tidur sono di kasur! Ntar lu paru-paru lembek kalo tidur di lantai."
Nafla yang berniat pura-pura pingsan sontak membuka matanya, mengumpat kesal. "Paru-paru basah, astaghfirullahaladzim. Ngucap dah Nyai! Paru-paru lembek apaan?"
"Au ah! Ngapain sih ke sini-sini. Mau numpang kencing?" Maemunah beranjak ke kasurnya.
"Mau minjem sendok," jawab Nafla membuntuti Maemunah.
"Buat apa?"
"Buat jadi tongkat sulap! Ya buat makan lah! ... Tadi dikasih nasi bungkus di lampu merah pas gue mau ke rumah lo."
"Nasi bungkus? Ada acara apa?" Maemunah keheranan. Di lampu merah biasanya yang dibagikan itu masker, bukan nasi bungkus.
"Ada bapak-bapak syukuran. Anaknya lulus masuk kepolisian. Jadi, dia bagi-bagi nasi bungkus. Mungkin anaknya mau jadi Polantas."
"Aneh."
"Makan berdua yok! Gue gak abis kalo sendirian," ajak Nafla.
"Mana nasi bungkusnya? Daritadi gue gak liat lo bawa apa-apa."
"Eh iya. Mana ya?" Nafla balik bertanya. Nafla diam sejenak, memikirkan di mana keberadaan nasi bungkus itu.
"Anjir!" Nafla berlari ke luar kamar, Maemunah yang penasaran pun ikut berlari di belakang Nafla. Mereka berdua terbelalak saat melihat nasi bungkusnya sudah berserakan di lantai. Entah bagaimana nasi bungkus itu mental jauh dari tempat mereka terjatuh.
"Apa salah dan dosaku, Sayang? Punya temen kok begok amat!" nyanyi Maemunah. "Bersihin!"
"Hehe iya."
Nafla mengambil sapu dan serokan sampah kemudian membersihkan nasi bungkus pemberian bapak-bapak itu. Lauknya rendang padang, padahal.
Selesai membersihkan semuanya, ia kembali ke kamar Maemunah. Di dalam kamar, Maemunah nampak sibuk mengikir kuku. "Kenapa sih dikikir-kikir? Gawe t***l, apa faedahnya?" tanya Nafla kemudian duduk di sebelah Maemunah
"Biar bagus lah! Emangnya elo yang gak suka memanjakan diri. Gaya udah kek preman. Wajar aja Galih berpaling." Ucapan Maemunah membuat Nafla terdiam.
Gue salah ngomong! Maemunah memukul mulutnya sendiri.
Maemunah tahu satu hal, Nafla sedang sensitif. Sepertinya masalah Nafla dan Galih belum selesai. Biasanya Nafla tidak ambil hati atas apa yang dikeluarkan dari mulut Maemunah.
"Apa mungkin gara-gara itu, Mae?" tanya Nafla kemudian.
"Kenapa? Sini cerita sama gue."
Nafla mulai menceritakan tentang hubungannya yang hampir di ujung tanduk. Tentang keputusannya yang ingin menyudahi hubungannya.
"Gue boleh ngomong?" tanya Maemunah hati-hati. Terkadang orang hanya ingin didengar tapi Maemunah tidak mau hanya jadi pendengar, dia tidak suka.
"Ini kan lo lagi ngomong, Mae!" Maemunah menoyor kepala Nafla.
"Jujur, gue kesel sama Galih. Gue juga pengen ngelabrak si pelakor itu. Tapi, sekarang gue tanya dulu. Itu keputusan elo cuma karena emosi atau apa? Kita benci seseorang aja harus punya alasan. Apalagi kalo mau putus." Nafla menyetujui ucapan Maemunah.
"Tanya pada diri lo, elo milih putus itu karena keinginan dari hati lo atau cuma emosi sesaat? Sekarang elo udah mulai tenang, kan? Jadi, bisa mikir secara jernih."
"Iya, gue emosi, gue kesel masa Galih bilang sama si anu kalo dia bosen!"
"Emang dia bilang? tanya Maemunah.
"Kan si anu nanya 'Kak Galih beneran bosen ya sama Kak Nafla' kata 'beneran' itu berarti dia udah pernah bilang dong sebelumnya kalo dia bosen."
"Belum tentu!"
"Apa iya?" Nafla mulai lemot.
Maemunah hanya menghela napas. "Sekarang lo tanyain pada diri lo, apa masalah ini masih bisa diselesain? Coba pikirin lagi gimana nyelesainnya tanpa embel-embel putus." Nafla setia mendengarkan nasihat Maemunah.
"Bicarain sama-sama, ungkapin apa yang lo ingin, tapi, dengerin juga gimana perasaan dia." Maemunah memang gesrek sama seperti Nafla. Tapi dalam situasi tertentu, dia bisa jadi seperti Mario Melepuh.
"Gue bakal ngomong agak panjang. Elo jangan nyela omongan gue! Kalo gue tanya, elo baru jawab! Gue males ngulang, elo resapin omongan gue, elo pahamin, oke?"
"Iye! Gue kan gak telmi-telmi banget," ketus Nafla, merengut.
"Nah, lo pikirin lagi, apa elo gak terlalu cepet ngambil kesimpulan? Pikirin mateng-mateng supaya ketemu penyelesaiannya."
"Gue tanya, Galih tau gak masalah keluarga elo?" Nafla menggeleng cepat.
"Elo belum terbuka sama dia. Masalah sepenting itu aja elo gak cerita sama dia! Daripada sibuk nyalain dia lebih baik lo intropeksi diri. Dalam hubungan itu harus saling terbuka."
"Gak berani lah gue buka-bukaan sama dia! Gila ya lo!" sela Nafla, kali ini ia tak menyetujui ucapan Maemunah.
"Kan apa gue kata. Memang otak lo udah pindah ke tumit. Terbuka masalah satu sama lain, g****k! Komunikasi yang baik mengawetkan hubungan. Ya kalopun nanti akhirnya tetap putus sih." Mata Nafla mulai berkaca mendengar kata 'putus'.
"Ngapa? Mau nangis? Gara-gara gue nyebut putus?!" Nafla diam.
"Dari gelagat elo, lo gak mau putus!" skak Maemunah.
"Sekarang elo pikirin lagi, gimana dunia lo setelah putus? Lo nyesel gak, kehilangan dia? Gue yakin, hati kecil lo bilang iya. Saran gue, lebih baik pikirin lagi keputusan lo itu. Lagian, elo bukan pacaran sebulan dua bulan, kalian udah bertahun-tahun. Iya gue tau emang masalah kali ini agak beda. Tapi, pikirin lagi. Gue gak mau lo nyesel." Nafla diam lagi.
"Perpisahan bukan sebuah permainan. Jangan main-main dengan kata putus. Mending kalian evaluasi hubungan kalian, supaya saling tahu perasaan masing-masing."
"Iya, Mae."
"Jangan ngalah, Nap! Elo bakal kalah kalo lo putus sama Galih. Si pelakor itu bakal pesta kalo tau elo putus."
"Iya."
"Pokoknya tenangin diri lo serta pikirin ulang semuanya."
"Iya iya."
"Satu lagi nih. Tanyain pada diri lo---"
"Ah bosen ah! Masa nanya sama diri gue mulu! Kapan gue nanya sama rumput yang bergoyang biar bisa goyang?" Saat ini Maemunah ingin sekali mencekik leher sahabatnya ini.
"Bodo amat, ya, Nap!"
"Piss ah, kan hiburan. Dari tadi tegang banget, kayak anu."
"Ambigu, s****n!"
"Anu, Anugerah. Jangan mikir jorok! Tu mata harus banyakin nonton video ceramah Ustadz Abdul Somat, bukan nontoni bokep!"
"Gue kan seneng pelajaran biologi," kilah Maemunah.
"Gak nyambung, b*****t! ... Udah ah, apa yang kudu gue tanyain sama diri gue?" tanya Nafla serius.
"Anu ... hnggg ..."
"Anu gue kenapa?"
"g****k! Elo tanya pada diri lo, lo udah belom ngasih yang terbaik dalam hubungan kalian? Kalo elo ragu buat putus, gak ada salahnya nyoba memperbaiki semuanya."
Nafla langsung memeluk sahabatnya itu. Meluk seerat-eratnya. "Makasih, Sayangku. Elo emang sahabat terabaek. Besok gue traktir yuppy ya."
---CRAZIER---
Braaaaaak
"Anjir! Bisa gak lo ketuk pintu dulu!" Galih yang tengah berbaring di kasur hendak memejamkan mata, sontak terkaget. Baru saja ia sampai Bandara tujuan ke Alam Mimpi.
"Gak bisa! Ada temen lo tuh, nyariin," sahut Hamdi---adik Galih seraya membaringkan tubuhnya di kasur kakaknya. Hamdi dan Galih hanya beda satu tahun. Saat itu Umi Galih kebobolan.
"Siapa?"
"Cewek, cepet temuin sana. Udah nungguin dari tadi, gak ada yang bukain pintu. Mentang-mentang Umi sama Abi gak ada di rumah, seenak lo aja ya. Kalo mereka tahu, mati, Lo! Ngajak cewek ke rumah. Cewek yang boleh ke sini kan cuma Nafla."
"Bacot lo, Ham!"
"Lo gak selingkuh sama si anu itu, kan? Nafla buat gue aja lah. Dia gak bahagia sama lo." Galih langsung meninggalkan Hamdi yang masih ngebacot lalu menemui cewek yang katanya menunggunya dari tadi.
"Leona? Ngapain?" tanya Galih saat mendapati Leona duduk di kursi teras rumah Galih.
"Kata Bapak, elo ke rumah ya kemarin? Gue nginep di rumah nenek gue, Kak. Ada apa?"
"Hngg enggak." Galih duduk di kursi samping Leona.
"Kak Nafla, ya? Kenapa? Ah elo mah, kayak sama siapa aja. Cerita aja lagi." Mereka kayak udah lama deket gitu ya, padahal...
"Gue mau tanya, emang apa sih penyebab cewek gak mau terbuka?" Galih to the point. Mumpung ada cewek yang bisa ditanya.
"Kak Nafla gak terbuka sama elo, Kak?"
"Iya, terlalu banyak yang ditutupi." Galih berujar datar.
"Mungkin dia gak nyaman sama elo, Kak."
"Maksudnya?" Tidak nyaman bagaimana, wong Galih pacarnya, bukan pacar sehari dua hari, tapi bertahun-tahun.
"Mungkin dia gak nyaman cerita sama elo. Elonya juga kurang peka. Karakter Kak Nafla emang gitu kali. Mungkin dia gak mau ngerumitin masalah, dia gak mau nyusahin elo."
"Gue kenal dia udah lama, bukan sejam dua jam."
"Mungkin ada sesuatu yang dianggap aib kalo diceritain. Kak Nafla cuma ingin ruang pribadinya dihargai." Entahlah, tapi saat ini Leona jadi bijak.
"Tapi, dia bisa cerita sama orang yang baru dikenal," jawab Galih.
"Menurut gue, gak mungkin Kak Nafla gujuk-gujuk langsung cerita ke orang itu. Keadaan yang bikin orang yang baru dikenal itu jadi tahu. Orang yang tertutup itu gak gampang buat cerita, Kak."
"Iya."
"Belum waktunya, Kak, sabar saja. Orang yang tertutup itu gak gampang percaya sama orang. Karena masih gak percaya, makanya gak terbuka." Lagi-lagi Galih mengiyakan.
"Iya, gue juga salah. Gue gak peka. Gak ada di saat dia butuh." Akhirnya Galih sadar.
"Nah itu tahu!"
"Makasih, Le." Galih tersenyum tulus, cewek seperti Leona---yang notabene naksir Galih, otomatis klepek-klepek melihat senyuman itu.
"Santai aja, Kak. Gue seneng kalo elo seneng." Leona meraih tangan Galih yang ada di gagang kursi, kemudian memegangnya agak lama.
"Jadi pacar gue aja, Kak. Gue terbuka lho," ujar Leona sambil terkekeh.
"Ada-ada aja lo." Mata Galih terbelalak saat melihat Nafla berdiri di dekat pagar, ia melepaskan tangannya yang dipegang Leona. "Naf, sejak kapan elo di situ?"
"Santai aja kali. Gue mau ketemu Umi, nganterin kue." Padahal Nafla sengaja membuatkan Galih kue, hitung-hitung untuk memperbaiki hubungan mereka.
"Gue pulang dulu, Kak," pamit Leona meninggalkan mereka berdua.