Galih melajukan mobil kodoknya ke toko bunga.
Rencananya, ia ingin memberi Nafla bunga, bunga kamboja, mungkin. Bodo amat Nafla mau suka atau tidak. Hitung-hitung usaha untuk memperbaiki hubungannya. Karena ia tidak akan membiarkan hubungannya berakhir begitu saja. Sekali lagi, Galih sayang Nafla. Aquino mencintai Aqiu. Sampai kapan pun.
Galih akan mencoba walaupun ia tahu kalau Nafla tidak suka jika Galih melakukan hal-hal manis layaknya orang pacaran umumnya. Nafla lebih suka saling adu mulut dan bersilat lidah---ets bukan ciuman yaa, ia lebih senang saling mengumpat daripada ngelakuin hal-hal romantis.
Tapi, Nafla memang tidak pernah termakan gombalan Galih yang receh. Ia juga lebih suka menjalin hubungan yang biasa-biasa saja, tak perlu berlebihan menurutnya, yang terpenting saling sayang.
Gaya pacaran mereka memang terbilang aneh. Tidak seperti pasangan lainnya. Mereka tidak pernah melakukan hal-hal romantis, karena memang bukan mereka banget.
Pernah waktu itu Galih ingin mencoba ngeromantisin Nafla. Galih memberi bunga untuk Nafla. Nafla lantas mengatakan ini, "lu kata gue kuburan? Dikasih bunga. Kasih ketek lu aja sono biar wangi." Galih menyesali, mending dia beli kuota untuk main game kalau tahu ujungnya seperti ini.
Nafla juga pernah mencoba untuk memasakkan Galih makanan, Nafla membuatkan sushi, karena hanya sushi---makanan yang keren---yang bisa dibuatnya, tapi Galih malah bilang, "gue muntah kalo makan ginian. Mending lo masak nasi uduk." Nafla tak habis pikir, makanan seenak sushi bisa membuat Galih muntah.
Kalau pasangan lainnya membiarkan saja jika pasangannya tidur terlelap di bahu, tidak dengan Galih. Saat Nafla pernah hampir terlelap di bahunya, Galih malah bilang gini, "ntar baju gue bau iler kalo lu tidur di situ. Tidur itu di kamar, bukan di bahu." Dan saat Galih yang mau numpang tidur di paha Nafla, Nafla membalas bilang gini, "ini paha, bukan bantal!"
Ya pacaran ala mereka paling gini, saling mengumbar aib, dengan bersekongkol sama ibu masing-masing. Galih meminta Mama Nafla memoto Nafla yang sedang tertidur sambil menganga. Begitu juga dengan Nafla, ia meminta Umi Galih untuk merekam Galih yang sedang tidur sambil ngorok. Kemudian mereka upload di socmed masing-masing.
Sederhana, tapi agak gila.
Bahkan, hal kecil kayak pegangan tangan saja jarang mereka lakukan, mereka gandengan---tepatnya Galih duluan yang menggenggam tangan Nafla hanya pas mau nyebrang sama pas lagi di tengah kerumunan. "Biar lo gak ilang diculik orang." Itu kata Galih.
Nafla pernah membelikan kado untuk Galih, kemudian Galih bilang gini, "mending uangnya ditabung buat sewa gedung!"
Galih juga pernah memberi mawar---eh ralat, maksudnya maling bunga mawar Wak Ujang, terus dia kasih ke Nafla. "Mawar itu berduri, ketusuk berdarah, terus tetanus!" kata Nafla gitu.
Nafla pernah mencari parfum yang mungkin Galih suka, kemudian kata Galih gini, "sorry yee, Yang. Gue gak BB, ketek lu noh bau jengkol."
Bahkan, pelukan yang katanya obat untuk segala penyakit pun dicoba Galih. Tapi, saat Galih ingin memeluk Nafla, Nafla menolak. Bukan ... bukan Nafla tidak mau dipeluk, tapi, saat itu Galih lagi cacar, nanti nular kan repot.
Galih pernah bilang, Nafla tuh satu-satunya orang yang dia mau. Terus kata Nafla gini, "gak usah bohong! Memang kita hidup cuma berdua?!"
Pernah waktu itu, saat rumah Nafla listriknya mati, Nafla sendirian di rumah, Galih pun inisiatif menemani, bukan inisiatif menemani, tapi memang Galih sedang berada di sana untuk numpang makan. Mereka berdua hampir khilaf ... hampir ya ... hampir.
Galih mengangkat dagu Nafla, Galih pandangin mata Nafla dalam remang-remang cahaya senter HP Nokia 1100 punya Galih, Galih bilang ke Nafla kalau dia sangat sayang sama Nafla, mereka sudah memajukan wajah mereka, eh saat tinggal sedikit lagi gol, jidat mereka saling kejedot bak banteng yang akan beradu, listrik pun menyala, alhasil gagal romantis.
Pernah juga Galih berencana ingin membelikan Nafla cincin, Galih nanya, "Yang, elo mau cincin dari perak apa emas?" Terus Nafla jawab, "biar gak mainstream, dari besi aja atau rantai kereta api." Kan Galih jadi bingung.
Waktu itu Galih mencoba memeluk pinggang Nafla. Kata orang, itu pelukan tanda kepemilikan. Saat Galih memeluk Nafla, Nafla malah marah karena Nafla orangnya penggeli. Jadi, kalau dipegang pinggangnya merasa tergelitiklah dia.
Itu pacaran ala Double AQ.
Mereka tidak menghabiskan tiap detik bareng-bareng, karena ada waktu yang harus dibagi, kapan untuk ortu, kapan belajar, kapan makan, mandi, dan boker.
Ya mereka paling ngelakuin hal romantis seperti nyanyi bareng di karaoke. Entah ini romantis atau tidak tapi mereka memang nyanyi bareng, saling ngeluarin suara emas yang kayak kaleng rombeng diseret sambil joget ala orang gila.
Setidaknya gaya mereka pacaran itu jujur sejujur-jujurnya.
Tapi, mendingan deh, daripada gaya pacaran seperti ini, Si A gak pernah lupa ngomong "mimpi indah" ke si B tiap malem, terus kata si B, "iya aku pasti mimpi indah karena abis ketemu kamu." Besoknya si B ditanyain sama si A, mimpi indah apa enggak? Terus diiyakan si B, padahal semalem si B mimpi dikejar pocong pakai jas.
Kan munafik, terlalu banyak yang ditutupi.
Kali ini Galih akan memberi Nafla bunga dari sabun batang yang wangi, setidaknya bisa dipajang dikamar dan jadi pewangi. Untung saja di toko bunga hidup yang ia datangi, ada jual bunga sabun juga. Semoga Nafla tidak menolak, doanya dalam hati.
Galih memarkirkan mobilnya di lapangan dekat rumah Nafla, entah sore ini mengapa depan rumah Nafla mendadak ramai, ada dua mobil yang sudah terparkir tepat di depannya. Saat Galih akan melangkah ke rumah Nafla, keluar empat orang yang berbadan besar kemudian pergi dengan mobil yang terparkir itu.
Mungkin teman Papa Nafla, pikir Galih.
Galih memang sering melihat orang berbadan besar keluar dari rumah Nafla, kata Nafla, orang itu teman papanya. Nafla memang pernah cerita tentang ayahnya suka minum dan punya teman-teman berbadan seperti preman, tapi cerita Nafla hanya sebatas itu. Galih juga tidak terlalu memusingkan mengenai Ayah Nafla yang suka minum, karena ia memaklumi sebagai sesama lelaki. Kalaupun Ayah Nafla punya banyak teman preman, apa salahnya?
Galih berjalan masuk memyebrangi halaman rumah Nafla, saat ia ingin melangkahkan kakinya masuk ke rumah, ia mendengar suara Nafla yang terisak.
Tapi, ada sesuatu yang membuat Galih lebih terbelalak lagi. Nafla menangis di pelukan El, sekali lagi ia melihantnya.
Saat itu hati Galih sangat panas. Rasanya ia ingin sekali menghajar El. Ia hendak masuk, tapi ucapan Nafla menghentikan langkah kakinya.
"Gue capek, El. Gue capek!" keluh Nafla sambil terisak.
"Gue capek punya bokap kayak dia! Dia selalu nyusahin mama!" maki Nafla. El hanya diam mendengarkan.
"Mama pontang-panting nyari duit, dia enak-enakan ngabisin duit mama!"
"Dia sibuk mabuk-mabukan dan main perempuan. Sementara mama? Mama yang nyari nafkah!"
"Gue capek ngadepin rentenir kayak tadi. Gue bosen. Untung mama belum pulang. Jadi, cuma gue yang dipukul orang itu," ucap Nafla di sela tangisnya.
Inilah salah satu alasan Nafla ikut bela diri tapak suci, setidaknya ilmu itu bisa membentengi dirinya. Tapi mau bagaimana pun juga Nafla tetaplah perempuan. Kekuatannya gak akan sebanding dengan laki-laki, apalagi laki-laki tadi lebih dari satu.
"Mereka terlalu banyak buat gue lawan, El!"
"Bokap lo kemana?" El agak ragu menanyakan ini.
Nafla hanya diam.
"Rentenir itu mau apa, Naf?" tanya El hati-hati.
"Nagih hutang dia! Dia yang ngutang, kami yang susah."
Sial! El kehabisan kata-katanya.
"Makasih udah dateng tepat waktu, El." Nafla tersenyum kecut di sisa tangisnya.
Galih mengurungkan niatnya untuk masuk menemui Nafla. Ia kembali ke mobil membawa perasaannya yang menghampa.
Sakit, itulah yang dirasakan Galih saat ini. Sebegitu tidak pentingkah dirinya sehingga Nafla tidak mau terbuka kepadanya?
"Gue bisa gak tahu masalah lo seberat itu, Naf?" Galih tersenyum miris.
Galih tidak habis pikir, ia dan Nafla sudah kenal bertahun-tahun, sesusah itukah Nafla membuka diri? Sementara Nafla dan El baru hitungan hari, tapi, dengan mudahnya Nafla bercerita.
"Gue lo anggep apa, Naf?"
Tak dianggap, rasanya tentu mengecewakan.
Sepertinya benar, El sudah berada satu langkah di depan Galih.
Galih melajukan mobilnya ke rumah seseorang yang sama sekali tidak disukai Nafla.