Lagi Enak

1480 Words
"HEH! bentar bentar." Nafla melepaskan pelukannya menjauh dari El. "Kenapa, Jenap? Lagi enak juga!" Lagi-lagi ucapan El dihadiahi jitakan oleh Nafla. Jitakan spesial pakai hawa 'hah'. "Coba bacain lagi artikel itu!" "Males ah. Baca sendiri, gih!" El memberikan ponselnya kepada Nafla. Nafla membaca ulang artikel itu. Setelah membaca berulang-ulang, ia baru paham. "Elo modus!" Nafla menjitak kepala El sekali lagi. Terkadang Nafla merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia punya otak selemot itu. Baru paham sesuatu setelah baca berkali-kali. "Modus apa sih, Jenap?" "Menurut artikel itu kan Galih itu si hati yang busuk. Terus hati yang tulus itu maksudnya elo gitu?!" El menyengir. "Ketauan banget ya modus gue hehe." "Sinting." "Tapi gue serius, gue siap pasang badan kalo Galih ngapa-ngapain elo!" "Badan bau menyan gitu, dih!" "Tapi gue ganteng." "Percuma ganteng kalo ujungnya nyakitin. Pulang sono! Udah malem ... Tapi tetep makasih ya El, karena udah jadi lelaki penghibur," kata Nafla sambil menjambak jambul El. "Anjir! Lelaki penghibur!" El merapikan jambulnya yang sudah tidak berbentuk jambul. Sepertinya Nafla mulai suka menariki jambul El. "Ya elo kan udah ngibur gue. Udah, sana pulang! Gue mau tidur." "Gue numpang tidur sini aja deh. Kamar lo adem." "EL JALALUDIN RUMI!!!!!!" ---CRAZIER--- Pagi ini, Nafla menyapa pagi dengan semangat, membuka jendela, kemudian berjalan menuruni tangga rumahnya mengambil air hangat untuk minum, lalu meneguknya. Ia yang sudah berkemas-kemas sesudah shubuh tadi mulai menyandang tas untuk berangkat pagi ini. Sepertinya ada yang terlupa. Ya! Bercermin. "Gue lupa pakek bedak, Njir!" Nafla duduk di depan meja rias kamarnya, ia taburkan bedak my baby ke tangannya, kemudian ia usap ke mukanya. "Mendingan hehe gak pucet-pucet amat." "Kalo dilihat-lihat dari ujung sedotan es cendol, gue cantik juga. Tapi sayang ... diselingkuhi." Nafla masih memandang dirinya di cermin. Kalo diliat-liat, gue mirip sama pacarnya Dylan Jordan yaa. Si Samerekecen kalo gak salah namanya, lupa aing. "Sayang, ada Galih tuh di bawah!" Teriakan mamanya membuyarkan lamunan Nafla. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. "APA?! GALIH?!!" Nafla buru-buru turun tangga. "Hngg ... hai!" sapa Galih canggung saat melihat Nafla telah berdiri di muka tangga. Sementara Galih sudah duduk di meja makan menyantap roti tawar panggang isi coklat yang sudah disiapkan Mama Nafla di meja. Nafla tidak membalas sapaan Galih. Ia menyeret kursi meja makan kemudian duduk agak menjauh dari Galih lalu ia mengoleskan selai coklat ke rotinya. "Gosah cemberut gitu. Jelek tau gak!" Galih berujar sambil pindah duduk di sebelah Nafla. Goblok! Ni orang syaraf pekanya korslet apa gimana! "Gue tadi hampir nabrak kucing, Yang." Bodo amat! Mau lu nabrak kucing, mau kucing nabrak lu, bodo amat! "Pulang sekolah jalan yok!" Gue gak denger! "Kita ke pantai, berenang sama hiu." Lu aja sono! Biar dimakan hiu! "Diem aja, sariawan ya? Gusi lo bengkak?" Galih tak henti-hentinya bertanya karena sedari tadi Nafla diam tak menghiraukannya. Gigi lo bengkak! "Maafin gue, Nap." Nafla baru menoleh. Sedari tadi ia hanya menyahuti ucapan Galih dalam hati sambil memakan roti panggangnya. "Maaf buat apa?" Nafla hanya ingin tahu seberapa jauh Galih akan menjelaskan semuanya. "Maaf semalem gak jadi ketemuan. Semalem gue udah ke sana tapi kafe udah tutup. Gue sampe sana pas para pelayan kafe udah mau pulang. Kata Mbak Pelayan yang masih di sana, sebelum kafe ini benar-benar tutup, ada cewek yang nunggu sendirian sampe kafe itu mau tutup. Gue harap cewek itu bukan elo, Nap." "Iya, bukan gue." "Sorry, gue ada urusan mendadak. Jadi, gak bisa dateng tepat waktu." "Oh, agak basi ya nengernya." Nafla tersenyum sinis. "Maaf, gue udah ingkar janji." Galih memang sudah membuat kesalahan besar. Ada dua hal yang sangat dibenci perempuan. Pertama, dibohongi. Kedua, ingkar janji. Goodjob! Galih melakukan semuanya. "Eh kok masih makan sih? Udah mau jam tujuh nih. Ayo berangkat!" Mama Nafla geleng-geleng kepala seraya menghampiri dua sejoli itu kemudian menyodorkan kotak makan untuk mereka berdua. "Jangan lupa dimakan! Mama buat banyak. Nanti bagi-bagi sama temen yang lain. Udah sana buru berangkat!" "Berangkat dulu, Ma. Assalamu'alaikum," ucap mereka berdua lalu mencium tangan Mama Nafla. "Wa'alaikumussalam, Ananda dan Adinda." Nafla dan Galih sudah berada di mobil kodok Galih. Sedari tadi Galih sibuk mengoceh, sementara Nafla tak menyahuti. Sebelum Nafla menuruni tangga tadi, ia sudah mengirimkan pesan pada El, kalau ia akan berangkat bareng Galih hari ini. Ia harus menyelesaikan semuanya. Galih mendekat ke arah Nafla, entah apa yang mau dilakukannya. Saat ini jarak mereka semakin dekat sampai membuat jantung Nafla berdetak cepat. "Mau ngapain?!!" ucap Nafla yang diam di tempat. Ia diam mematung, kalau ia maju sedikit, ditakutkan muka mereka akan bertemu. "Jangan GR! Gue mau masangin sabuk pengaman!" "Minggir! Gue bisa sendiri!" Nafla mendorong tubuh Galih. Oke, Galih menurut. Ia mulai menyalakan mesin mobil, dan langsung melajukan mobilnya. Sesekali Galih melirik ke sampingnya, memperhatikan Nafla yang mengalihkan pandangan ke arah luar. Tringgggggg Ponsel Galih berdering menandakan ada chat masuk. "Nap, coba buka." Galih berucap setelah merogoh saku celananya lalu memberikan ponselnya ke Nafla. "Buka sendiri!" "Gue kan lagi nyetir. Balesin tuh chat. Nih HP-nya." Kening Nafla mengernyit saat melihat layar ponsel Galih. "Kenapa di-password?" Nafla memperlihatkan ponsel itu. "Adek gue suka bajak." "Adek lo baru bisa bajaknya sekarang?" tanya Nafla sinis. "Apa password-nya?!" "Sini HP-nya." "Kasih tau aja, kenapa? Takut jejaknya ketauan?" Galih menghela napas kemudian memberi tahu password-nya. "Ada chat dari adek lo!" ucap Nafla kesal saat melihat notification di ponsel Galih. "Leona? Bales gih," titah Galih, sengaja. Nafla membaca chat yang isinya 'Kak Galih?' dari Leona kemudian membalasnya. WhatsApp Leona Kak Galih? Galih Apa Leona Kakak udah di sekolah? Galih Belum, masih di jalan. Leona Eh kok nyetir sambil chatan sih Galih Kan elo yang ngechat duluan Leona Eh iya hehe maaf ya kak Galih Iya Leona Hati2 kak. Bahaya kalo kakak chatan smbil nyetir Galih Kalo udh tau bahaya, ya jangan di chat dong Leona Aku cuma mau ngucapin makasih Galih Buat apa Leona Makasih udah nganter aku, ya walopun aku dianter kepagian Galih Sama2 Besok gue anter lagi Leona Makasih kak, boleh gak, dianternya jgn pagi2 bgt. Sekolah masih sepi Galih Dgn senang hati Leona Kak Galih baik bgt, makasih sekali lagi kak Galih Iya Nanti nafla aja yg dianter pagi2 Leona Kakak beneran bosen ya sama kak nafla? Galih Read Nafla hanya membaca chat terakhir dari Leona, ia tak berniat membalasnya lagi. Hatinya sangat sakit saat membaca chat terakhir itu, "Kakak beneran bosen ya sama kak Nafla?" Kalau ditarik kesimpulan dari kalimat itu, berarti Galih pernah mengeluh tentang hubungannya dengan Nafla pada Leona. Galih beneran jenuh? Nyelekit banget memang saat pacar kita ngeluh sama cewek yang enggak kita sukai terus bilang, "gue lagi bosen sama dia." Kira-kira kayak gitulah ya. Rasanya tuh kayak jatuh tersungkur gara-gara dikejar anjing gila, terus dengkul jadi luka, berdarah, robek, nah luka itu di bersihin pakek alkohol, kemudian di olesin pakek betadine. Perih, Tjoy! Tapi setelahnya luka itu akan cepat sembuh. Begitulah prinsip Nafla sekarang. Ia tidak mau lagi menangisi orang seperti Galih. Ia sudah cukup puas menangis di pelukan El semalam. Hari ini ia tidak boleh menumpahkan air matanya barang setetes pun. Nafla memberikan kembali ponsel itu ke Galih. "Kita udahan aja." Galih ngerem mendadak hingga membuat mobil kodoknya berdecit. "Apa sih, Nap! Jangan bercanda deh." Tepat saat Galih ngerem mendadak, perang klakson terjadi. Klakson mobil-mobil dibelakang Galih seolah kompak bersuara. Tapi Galih tidak menghiraukan hal itu, karena ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikannya. "Gue mau udahan," ucap Nafla sekali lagi. "Elo kenapa sih? Gue gak mau!" bantah Galih. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan. "Gue mau putus, Gal!" tegas Nafla. Galih keheranan dengan keputusan Nafla. Galih tidak menyangka kalau Nafla bisa mengatakan kalimat laknat itu. Galih tidak mau putus, karena walaupun begitu-begitu, Galih sangat sayang Nafla. "Lo gak serius kan, Nap?" tanya Galih sekali lagi. Sebenarnya Nafla tidak 100 persen yakin dengan keputusanya kali ini. "Gue yakin ini yang terbaik, Gal. Dari awal, hubungan kita udah aneh. Lagian, buat apa kita lanjutin kalo salah satu diantara kita udah gak yakin." "Elo yang gak yakin, Nap. Gue masih yakin." Nafla memaksakan senyumnya, "Iya, gue udah gak yakin." "Elo udah gak ada rasa lagi sama gue, Nap?" "Gue sayang elo, Gal." Mata Nafla mulai memanas, tenggorokannya tercekat. Tapi ia harus menahan air matanya. Ia tidak mau Galih melihatnya menangis. "Kalo sayang, jangan putus!" "Gue gak bisa. Gue tau ... elo udah jenuh sama hubungan ini." Akhirnya sungai kecil mengalir membasahi pipi Nafla. Galih menghela napas, ia sungguh tidak tega melihat Nafla seperti ini, menangis karenanya. Galih tidak tahu saja, sudah berapa tetes air mata Nafla terbuang karena ulahnya. "Gue gak suka ngeliat lo kayak gini, Nap. Elo nangis gara-gara gue." Galih menghapus air mata di pipi Nafla kemudian membawa Nafla ke pelukannya. Nafla tidak menolak, ia menumpahkan kesedihannya di pundak Galih, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Galih mengusap pelan puncak kepala Nafla. "Hubungan itu kalo udah putus, susah buat disambung lagi, dan kalopun nyambung gak akan bisa kayak semula. Elo pikirin lagi mateng-mateng, Naf. Elo butuh waktu berapa lama? Gue pasti nungguin elo sampe elo berubah pikiran." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD