Faster

1351 Words
Langit serasa mau runtuh, dunia seperti berhenti berputar. Mata Nafla terasa panas dan dadanya sangat sesak. Berkali-kali ia mencoba menahan air matanya, tapi, air mata itu terus jatuh tak tertahan. Kejadian ketika ia melihat Galih dan Leona di dalam mobil tadi membuat Nafla menduga-duga, apakah Galih sedang jenuh dengan hubungan mereka. Dulu, saat Nafla atau Galih merasa jenuh dengan hubungan mereka, mereka pasti saling intropeksi diri. Membiarkan masing-masing dari mereka untuk berpikir. Sekarang, Galih beneran ngelunjak! Nafla meraba-raba kotak tissue yang ada di atas nakas kamarnya. "a***y, tissuenya abis. Gue nangis berapa ember sih?" Nafla berujar di sisa-sisa tangisnya. "Cukup, Naf! Cukup nangisin orang itu!" Nafla mengusap sisa air mata di pipinya. "SEMANGAT!" Drttttt dddrrrrttttttttt Ponsel Nafla bergetar hebat, meja tempat di mana ponselnya berada seolah terguncang. "Sampe Galih yang nelpon, gue banting tuh HP!!" ucap Nafla lalu mengecek ponselnya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat id penelpon. "EL?" Nafla sengaja mendiamkan panggilan telepon dari El. Ia sedang malas meladeni tetangga gilanya itu. Ia menarik selimut dan mencoba memejamkan matanya. Tok tok Terdengar ketukan pintu dari arah luar jendela kamar Nafla. "Sekali aja biarin gue hidup tenang!" maki Nafla seraya menatap kaca jendela kamarnya yang tertutup gorden. Tok tok "Oy, Tetangga!" Tok tok "Tetangga lima langkah!" panggil El lagi. Nafla mengerang frustasi. "Gue jorokin lu ye, El! Tunggu lo!" Nafla beranjak dari duduknya kemudian menggeser gorden terlebih dahulu lalu membuka jendela kamarnya. Nafla menongolkan kepalanya ke luar jendela. "Astaghfirullaahaladzim. Jelek banget muka lo, Nap!" ucap El terkejut. Saat ini muka Nafla memang berantakan. Mata sembab, hidung merah, rambut acak-acakan. Persis seperti kolong wewe belum keramas. "Ngapain sih, El?! Gue mau tidur! Turun lo! Mau gue jorokin?!" ancam Nafla begitu kesal. "Gue masuk kamar lo, ya?" pinta El. "Gak ada! Bilang aja di sini. Mau apa?!!" El meraba kantong jeans-nya, mencari benda pipih kesayangannya. "Gue mau bacain artikel buat Jenap," ucap El sambil menunjukkan ponselnya. "Lahaulawala, gak penting. Gue tutup ya. Pulang gih! Udah malem." "Izinin gue bacain artikel dulu. Abis itu gue pulang. Janji!" Nafla pasrah mengiyakan daripada urusannya kelar besok pagi. "Bismillah. Dengerin ya." El mulai membacakan artikel itu. "Rasa sakit adalah proses pembelajaran agar tetap tegar menghadapi kesedihan, juga ikhlas menerima apa yang telah terjadi." "Stop!" "Kenapa, Nap? "Masuk dulu. Gue gak mau jadi saksi." "Saksi? Saksi apa?" El kebingungan mendengar ucapan Nafla. "Saksi kalo elo jatoh, terus mati. Gue gak mau jadi saksi. Dimintai keterangan sama polisi." "Anjir! Lo do'ain gue mati?" "Buru masuk!" "Pegang HP gue." El memberikan ponselnya ke Nafla. Nafla agak menyingkir dari jendela, membiarkan El masuk kamar melalui jendela. Setelah meloncat dan berhasil masuk, El langsung duduk di kasur Nafla. "Ampun dije! Tissue semua ini." El geleng kepala melihat kamar Nafla yang dipenuhi dengan tissue. "Bersihin dulu, Nap! Jorok lo!" "Males! Lo aja!" El memunguti sampah tissue itu dan membuangnya ke kotak sampah yang ada di kamar Nafla. "Jadi cewek harus bersih. Jangan jorok!" "Berisik lu ye, Mbah!" "Yaudah, lanjut gak nih?" tanya El seraya duduk kembali ke kasur Nafla. "Lanjut, Mbah!" Nafla menyeret kursinya, ia duduk di depan El. "Jangan ngadep-ngadepan gini, Nap. Gue takut khilaf." Mendengar itu, Nafla menjambak jambul El kuat-kuat. "Anjing! Sakit, Nap. Heran gue sama lo, kasar banget jadi cewek." "Gue keluarin jurus bangau makan kodok kalo elo berani macem-macem." "Ada ya jurus itu?" El merapikan jambulnya yang acak-acakan. "Buru, cepet!" "HP nya kan di elo, Jenap!" "Eh iya. Ini." El melanjutkan bacaannya. "Hanya wanita sejatilah yang pernah merasakan pahitnya patah hati. Kalau belum merasakan sakit hati, berarti bukan wanita sejati." El menjeda bacaannya, ia mendongak menatap Nafla yang terlihat serius mendengarkan. "Apa liat-liat?!! Emang gue tulang?!" "Gue anjing dong berarti?" El terkekeh. "b**o! Lanjut, El! Cepet oy! Faster!" pinta Nafla yang sudah kesal karena El dari tadi menjeda bacaannya terus. Mama Nafla sedikit was-was saat menguping obrolan anaknya itu dari luar kamar. Anaknya sedang apa dengan El? Mengapa Nafla menyebut "cepet, faster" dari tadi. Awalnya Mama Nafla ingin mengantarkan s**u coklat ke kamar Nafla. Namun, saat ia ingin membuka pintu, ia mendengar seperti ada sesuatu yang mencurigakan. Oleh karena itu ia menguping, kalau sudah berstatus gawat, ia akan teriak dan mendobrak pintu kamar anaknya. "Dan hanya wanita sejatilah yang mampu bangkit setelah jatuh berkali-kali," lanjut El meneruskan bacaannya. "Oh, lagi baca dongeng." Dari luar, Mama Nafla menghela napasnya lega. Ckleeeekkkkkk "Ma, maafin Nafla, Ma. Nafla gak bermaksud ngajakin cowok main ke kamar. Nafla minta maaf, Ma. Nafla---" cerocos Nafla saat Mamanya melangkah masuk. "Diem!" perintah ibunya. "Mama liat kok tadi El masuk dari depan." Nafla dan El saling bertatapan, bingung. "Ini, minum susunya, El. Buat El aja. Nafla nanti gendut kalo minum s**u ini." Mama Nafla memberikan El segelas s**u coklat hangat yang dibawanya. Mama Nafla dan El memang sudah cukup akrab walau baru beberapa kali El main ke rumah Nafla. "Makasih, Tante." Mama Nafla tersenyum. "Mama ke bawah lagi. Mama percaya sama kalian ya. Lanjutin berdongengnya." Mama Nafla kembali ke bawah meninggalkan Nafla dan El yang masih bingung. "Nyokap lo canggih, Nap!" "Memang!" Nafla merampas gelas yang dipegang El. "Ini buat gue. Gue gak takut gendut. Gue haus, tahu! Kan abis nangis." "Ambil aja. Gue gak suka s**u coklat. Gue sukanya s**u alami." "Ribet banget mau meres sapi dulu!" sambung Nafla. "Bukan sapi hngggg ... udah, gue lanjut ya." El tidak mau meneruskan ucapannya. Takut diserang Nafla lagi. "Iya." "Kau tahu---" "Gak tahu!" potong Nafla sehingga El langsung menatap Nafla tajam. Sementara yang ditatap hanya bisa cengengesan. "Diselingkuhi oleh orang yang sangat dicintai dan percayai rasanya sangat menyakitkan. Seperti ada ribuan palu yang memukul-mukul hati." "Iya, paham banget gue!" sambung Nafla lagi. "Tapi, untuk apa lama-lama bersedih hati? Mubazir. Tuhan hanya ingin menunjukkan mana si pemilik hati yang busuk, mana pemilik hati yang tulus," lanjut El begitu serius. Nafla angguk-angguk. "Memang jauh lebih baik merelakan saja daripada mempertahankan. Biarkan si pemilik hati yang busuk membawa pergi hati busuknya itu. Karena kau terlalu baik untuk mendapatkan pengkhianat seperti dia." "Iya! Galih busuk!" umpat Nafla. "Setidaknya ini lebih baik, karena kau tahu lebih awal, karena hatimu belum jatuh terlalu dalam padanya." "Iya, bener. Untung belum jadi laki gue," celetuk Nafla lagi. Sebenarnya gue gak terlalu masalahin kalau dia mau jalan sama cewek lain ataupun selingkuh, yang penting dia izin dan gak ngelupain janji dia sama gue! batin Nafla. "Kau harus bersyukur, karena tidak ada faedahnya hidup lebih lama dengan seseorang berhati busuk." Kadang gue mikir, kenapa gue mau-maunya ngejalain hubungan aneh macam ini. "Karena secepatnya kau akan mendapatkan hati yang tulus mencintaimu." "Udah, El?" tanya Nafla yang melihat El berhenti membaca sejenak. "Selesai!" seru El sambil bertepuk tangan. "Sebenarnya gue masih bingung, Galih tadi selingkuh? Selingkuh itu gimana sih? Yang gue liat tadi bisa disebut selingkuh?" "Gak tahu, gue gak pernah selingkuh," jawab El seraya menyimpan ponselnya. "Terus ngapain elo bacain artikel ini?" "Gak tahu, tadi ada yang send all." "g****k!" Nafla dan El terkekeh bersama. "Makasih, El." Nafla tersenyum tulus menatap El di hadapannya. El melongo melihat sikap Nafla yang sedikit menggemaskan baginya, astaghfirullahaladzim, batin El. "Jangan senyum, gue takut khilaf!" ujar El sambil mengontrol muka dan hatinya. "Khilaf terus! Apa sih khilaf-khilaf! Dasar cowok! Kebanyakan main ML--Mobile Legend tuh! Jadi korslet otaknya!" El mengacak rambut Nafla pelan. "Jangan sedih lagi. Kalau mau sedih, pastiin ada gue di samping elo, biar elo gak sedih sendirian." Sekarang Nafla yang melongo. Aduh! Jadi pengen meluk, batin Nafla. "Peluk aja kalo mau peluk. Gak usah malu-malu." El seolah bisa membaca pikiran Nafla. Nafla pindah duduk di sebelah El, dan langsung memeluknya. Dadanya kembali sesak, bahunya bergetar. Kemudian ia mulai terisak. "Nangis aja. Keluarin semuanya. Tapi setelah ini gak boleh nangis lagi. Elo harus kuat!" El membelai rambut Nafla kemudian mengusap-usap punggung Nafla berusaha menenangkan. Nafla mengeratkan pelukannya, tangannya mencengkram baju El, ia hanya ingin menumpahkan semua kesedihan dan kekesalannya. El memaklumi itu, ia tak mempermasalahkannya, ia hanya membalas pelukan Nafla, sehingga membuat tangan Nafla yang masih mencengkram bajunya perlahan mengendur. Pelukan mereka semakin erat, hingga mereka tak sadar, ada seseorang yang melihat mereka berpelukan. Entah sejak kapan Galih ada di depan pintu Nafla yang terbuka--- yang sengaja dibuka Mamanya tadi. Galih hanya diam kemudian turun ke bawah, pamit pulang kepada Mama Nafla.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD