Patah Hati Aku duduk dengan gelisah, sesekali melirik keluar. Sekilas terlihat Bu Sarni dan Bu Atun memandang ke arah kami. “Kamu kenapa Mbar?” “Oh, gak papa.” Tidak mungkin aku bilang kalau aku merasa risih dengan kedatangan mereka berdua. Syam seperti biasa terlihat santai dan pandai mencari topik obrolan. Dia tengah mengobrol seru dengan Miko sedangkan Rafi lebih banyak menyimak. Aku sesekali menanggapi pertanyaan Syam. Selebihnya memilih diam. Kurang lebih setengah jam Syam bertandang kemudian keduanya pamit hendak ke Purwokerto. “Aku balik Purwokerto dulu ya, Mbar. Mulai senin, perkuliahan sudah aktif lagi. Aku pulang ke rumah kalau weekend aja.” “Ngekost?” “Iya masih ngekost. Mau gimana lagi? Kalau uangku banyak kayak Syafiq pasti aku udah punya rumah sendiri. Hahaha.” “Oh.”

