Tak menunggu waktu lama, elvan segera mengiyakan persyaratan yang diajukan oleh dokter rizal kepadanya. Merahasiakan kesepakatan yang telah mereka buat. Sungguh perbuatan yang terbilang nekat. Melakukan percobaan terhadap obat regenerasi yang belum diketahui bagaimana efeknya bekerja kepada manusia. Terlebih manusia ini sedang mengalami masa kritis di tambah usia senja yang dihadapi.
Jika dipikir pikir lagi, manusia dengan tubuh prima saja belum tentu bisa menerima efeknya. Diantara ingin cepat mengantarkan sang kakek menuju kesembuhan atau justru menuju kematiannya. Tak berperikemanusiaan memang. Di lain pihak, elvan disudutkan dengan kondisi uyutnya yang kian menurun dan ia merasa tidak siap jika ditinggalkan begitu mendadak.
Di pihak lain, dokter rizal juga ingin tahu bagaimana reaksi obat yang ia ciptakan. Namun belum bisa menemukan orang yang cocok untuk digunakan sebagai bahan percobaan. Diantara senang karena telah menemukan orang yang akan dijadikan bahan percobaan, tapi hati nuraninya mengatakan berat untuk melakukannya.
Seperti tengah mengambil kesempatan dari musibah yang dialami orang lain. Berat untuk mengambil keputusan itu, tapi justru langkahnya dipermudah karena dokter rizal mendapatkan dukungan dari keluarga kakek fattah sendiri.
“lalu, bagaimana dengan tuan dirga? apa kamu bisa merahasiakan hal ini darinya juga”.
Elvan terlihat berpikir sejenak. Pasti ayahnya akan menentang keputusannya habis habisan yang otomatis membuat rencana mereka berdua gagal total.
“dokter tenang saja. Hal seperti itu akan ku atur sendiri”. Elvan menjawab tanpa ada keragu raguan di matanya.
“baiklah. Kalau begitu saya akan segera menyiapkan obat tersebut. Pasien akan segera dipindahkan ke ruangan khusus. Dan ingat dengan kesepakatan kita, apapun yang terjadi dengan uyutmu...”.
“aku tidak akan meminta pertanggung jawaban mu dok. Tenang saja”. Perkataan dokter rizal dipotong cepat oleh elvan. Menegaskan jika pemuda itu memang benar benar mengerti dengan kesepatakan yang telah mereka berdua buat.
Dokter rizal menganggukkan kepalanya, tersenyum ke arah elvan. Salut dengan pemuda dihadapannya. sebegitu ingin kah ia menyelamatkan keluarganya sampai membuat keputusan senekat ini.
Beberapa saat berlalu, kini kakek fattah telah berada di ruangan khusus karena setelah pertemuan rahasia mereka berdua, dokter rizal segera memerintahkan kepada perawat untuk segera memindahkan pasien itu.
“bagaimana kondisi uyut yah?”. Tanya elvan kepada dirga.
Elvan segera menghampiri ayahnya yang sedang duduk di bangku yang telah disediakan di koridor rumah sakit tak jauh dari ruang khusus tempat kakek fattah dipindahkan.
“masih kritis dan terus mengalami penurunan. Dokter telah memindahkannya kesini, semoga apapun yang dilakukan dokter rizal dapat menyelamatkan uyut mu”.
“aku harap juga begitu”. Elvan mengeratkan genggaman tangannya. Mengingat ini adalah keputusannya. Jadi apapun yang terjadi, pemuda itu harus siap.
‘uyut, maafkan elvan. hanya ini yang ada didalam pikiran elvan untuk menyelamatkan nyawa uyut’. Elvan berbicara didalam hati.
Sementara itu, di dalam ruangan. Dokter rizal dibantu dengan beberapa perawat kepercayaannya segera menangani kakek fattah. Dibekali dengan peralatan medis yang lengkap, ia segera memulai tindakan.
Dengan melihat kondisi sang kakek yang terus mengalami penurunan yaitu tidak stabilnya detak jantung dan denyut nadi yang kian melemah. Jangan ditanya tentang kondisi yang lainnya. Semua mengalami penurunan. Jika tidak segera dilakukan tindakan, dapat dipastikan kakek fattah tidak akan bertahan sampai matahari terbit.
Malam ini adalah malam terberat yang dialami rizal sebagai dokter. Bagaimana tidak, keputusan besar telah ia buat. Itupun dalam jangka waktu yang sangat cepat.
“semua persiapan sudah siap?”. Tanya dokter rizal kepada beberapa perawat yang ada di sana.
“siap dok. Tapi apa dokter yakin akan melakukan tindakan ini? Mengingat kondisi pasien yang kian melemah”. Asisten dokter rizal berusaha menegaskan lagi keputusan nekat ini.
Dokter rizal tersenyum hambar, “yakin tidak yakin sebenarnya. Hanya mengharap mukjizat dari tuhan saja. Kita manusia hanya bisa berusaha bukan?”.
“benar juga yang dikatakan dokter. Baiklah, kalau begitu kapan kita akan mulai tindakan ini?”.
“sekarang”.
“baik”.
Obat regenerasi telah dipersiapkan oleh dokter rizal untuk disuntikkan ke beberapa bagian tubuh kakek fattah. Banyak bagian yang mengalami kerusakan akibat kebakaran yang terjadi.
Karena cara kerja obat tersebut bersifat pasif, jadi ada dua suntikan yang disiapkan. Pertama untuk tubuh bagian pinggang ke bawah, lalu yang kedua untuk tubuh bagian pinggang ke atas tentunya.
Suntikan pertama telah diberikan. Tim dokter di ruangan tersebut menunggu beberapa saat dengan tegang tapi tidak ada reaksi apapun yang terjadi terhadap pasien.
Dirasa tidak ada efek apapun, dokter rizal memutuskan memberikan suntikan yang kedua dibagian lengan. Namun baru beberapa saat setelah suntikan kedua diberikan, tubuh kakek fattah mengalami kejang kejang. Detak jantung yang kian cepat, serta denyut nadi yang tidak beraturan.
Nafas kakek fattah terlihat terengah engah, seperti seseorang yang sedang kehabisan nafas. Alarm peringatan di alat pendeteksi jantung juga berbunyi. Bahaya dirasakan para tim. Sepertinya tindakan kali ini akan berakibat fatal.
Wajah wajah tegang, khawatir dan pasrah menyelimuti mereka semua. Walau tidak hanya satu atau dua kematian yang harus mereka relakan dalam penanganan pasien selama ini. Tapi kali ini terasa sangat berbeda karena ini pertama kalinya dokter rizal menguji coba obat ciptaannya kepada seorang manusia. Jika gagal, maka kematian akan menghampiri objeknya dan itu akan berimbas pada rasa bersalah seumur hidup yang akan dirasakan seorang dokter.
Mereka semua berusaha sekuat tenaga untuk menetralkan kondisi kakek fattah yang masih mengalami kejang kejang hebat. Dengan tambahan alat dan obat obatan lainnya, berharap bisa membantu kakek fattah melewati masa kritisnya.
“siapkan OAE, CEPAT...!!”. perintah dokter rizal kepada timnya.
Mendengar perintah itu, tim bergerak dengan cepat menyiapkan semua yang ketua timnya minta.
OAE adalah obat anti epilepsi. Walau obat ini diperuntukkan untuk kejang, tapi sebenarnya obat ini tidak dianjurkan diberikan ke sembarang orang.
Dokter rizal membuka kelopak mata pasiennya, mengecek pupil matanya apakah ada keanehan yang terjadi. Semua masih dalam masa mengkhawatirkan. Kecil kemungkinan akan selamat pikir dokter rizal.
“periksa denyut jantungnya”.
Para perawat segera memeriksa denyut jantung sekaligus nadi pasien. “masih terlalu cepat dok. Walau sudah tidak seekstrim tadi”.
Jika percobaan kali ini gagal, ia memutuskan untuk tidak akan lagi menguji coba obat buatannya pada siapapun lagi apapun yang terjadi. Dari pada terus dihinggapi rasa bersalah seumur hidupnya.
30 menit berlalu, akhirnya kondisi kakek fattah kembali normal walau belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Masih tergolong kritis, tapi setidaknya kakek fattah sudah tidak mengalami kejang kejang seperti sebelumnya. Detak jantung dan denyut nadi pun kian membaik.
Tim dokter kini bisa bernafas lega. Tuhan telah menunjukkan mukjizatnya atau mungkin semangat hidup sang kakek lah yang membuat keajaiban ini bisa terjadi.
“kalau begitu saya istirahat duluan. Tolong pantau terus perkembangan pasien kita”. Perintah dokter rizal kepada timnya.
“ah, dan jangan lupa. Setelah kondisinya stabil, pindahkan dia ke ruang icu”. Lelaki itu melanjutkan perintahnya.
“baik dokter”.
Wajar jika dokter rizal meminta istirahat terlebih dahulu karena tidak hanya lelah secara fisik. Tapi juga lelah pikiran terutama mentalnya sebagai dokter dipertaruhkan. Merasa seperti seluruh tenaganya terkuras habis setelah menangani pasien yang satu ini.
Dokter rizal sampai tak habis pikir, bisa bisanya ia melakukan kesepakatan dengan seorang pemuda yang baru saja ditemuinya. Apalagi ini menyangkut nyawa seseorang.
‘ternyata hati ku ini masih saja lunak’. Batin dokter rizal di tengah aktifitasnya melepas peralatan dinasnya.
Mendengar ada yang keluar dari ruangan khusus tersebut, elvan dan dirga bergegas berdiri dan menghampiri. Ternyata orang itu tidak lain adalah dokter rizal. Dokter yang diam diam membuat kesepakatan dengan elvan terkait tindakan yang akan diambil untuk menyelamatkan sang kakek.
Berjam jam menunggu, membuat kedua orang itu dilanda rasa gelisah yang teramat sangat. Tapi kini setelah melihat dokter rizal keluar dari ruangan khusus itu, banyak pertanyaan yang terlintas dipikiran elvan maupun dirga.
“bagaimana kondisi kakek saya dok?”. Dirga terlebih dahulu bertanya.
Melihat sekilas ke arah elvan, dokter rizal menjawab, “kondisi pasien belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Tadi sempat mengalami kejang, tapi syukurlah sekarang ia baik baik saja”.
Dirga segera menghembuskan nafasnya lega. “terima kasih banyak dokter”.
Dari tatapan mata dokter rizal kepadanya, elvan tahu jika masih ada lagi yang belum disampaikan dokter itu.
“tapi jangan senang dulu. Walau sudah stabil, pasien masih dalam kondisi kritis. Oleh karena itu setelah ini kakek kalian akan dipindahkan ke ruangan icu agar kami dapat memantau perkembangannya”.
“lakukan yang terbaik untuk kakek saya dok. Apapun yang dokte minta akan kami berikan”. Terlihat kelegaan dari wajah dirga mendengar menuturan dari dokter hebat itu.
“apapun...?”. dokter rizal menegaskan kata kata dirga sambil memperlihatkan smirknya.
“ya. Apapun”.
“hahaha... ternyata kalian ayah dan anak sama saja”. Dokter rizal menggelengkan kepalanya sambil berjalan meninggalkan sepasang ayah dan anak di koridor rumah sakit.
Dirga mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang dokter itu maksud. “kamu mengerti maksudnya?”.
“entahlah”. Elvan mengangkat kedua bahunya sambil berpura pura tidak tahu apa yang terjadi.
“sudahlah lupakan. Yang penting sekarang kondisi kakek sudah mulai stabil. Sekarang bagaimana dengan kita?”.
“maksud ayah?”.
“ingat. Kita datang kesini tanpa persiapan apapun. Apalagi pakaian yang kita kenakan sudah sejak pagi dikenakan. Apa kamu tidak merasa tidak enak?”.
Ah, benar juga yang dikatakan ayahnya. Sejak pagi mereka berdua mengenakan pakaian yang sama. Lalu bagaimana juga kondisi rumah mereka saat ini. Baru terpikirkan sekarang.
“jadi menurut ayah, kita harus bagaimana?”.
“ya salah satu dari kita harus segera mengurus keperluan kita dan kakek selama disini. Sedangkan yang lain harus terus mengawasi perkembangan kakek fattah disini khawatir terjadi sesuatu lagi nantinya”.
“baiklah, kalau begitu aku yang akan mengurus rumah dan keperluan kita dan uyut selama di rumah sakit. Ayah tolong terus jaga uyut ya”.
“pasti”.
Elvan tidak tega jika ayahnya yang menangani masalah rumah yang kebakaran. Apalagi sambil mengurus seluruh keperluan mereka selama di rumah sakit nantinya. Jika saja rumah mereka tidak mengalami kebakaran, maka elvan akan meminta ayahnya pulang untuk sekedar beristirat. Tapi kenyataannya justru rumah mereka lah yang harus mendapatkan perhatian khusus setelah ini.
“jika ada perkembangan yang terjadi, tolong segera hubungi aku”.
“iya jagoan”. Dirga menepuk bahu anaknya.
“kalau begitu aku pergi dulu”. Elvan berjalan menuju rumahnya. Sepertinya ia akan mengajukan cuti untuk beberapa hari ini.