Sejak kejang yang dialami kakek fattah berlangsung beberapa jam yang lalu, kini kondisinya berangsur stabil. Tim dokter telah memindahkannya ke ruang icu agar mereka dapat memantau perkembangannya dengan lebih optimal.
Walau sang kakek belum sadar, tapi semua organ vitalnya menunjukkan perbaikan. Dirga yang malam ini berjaga sendiri di rumah sakit juga merasa lega. Ternyata keajaiban benar benar terjadi.
Yah, walau luka bakar kakek fattah juga masih terlihat mengkhawatirkan. Tapi setidaknya nyawa sang kakek masih bisa diselamatkan.
Dikarenakan kini kakek fattah telah berada di ruang icu, dirga hanya bisa melihat perkembangannya melalui kaca kecil yang berada di pintu ruangan tersebut. Hanya tim dokter saja yang diperbolehkan masuk untuk menjaga kestrerilan ruangan.
Malam semakin larut, tubuh yang sedari pagi telah bekerja di tambah dengan peristiwa kebakaran rumah membuat dirga kini merasa kelelahan. Kantuk tak bisa ia tahan lagi.
Setelah memastikan kakeknya dalam keadaan baik baik saja, ia memutuskan untuk beristirahat di ruang tunggu pengunjung.
Untung saja beberapa saat yang lalu elvan kembali datang untuk membawa beberapa keperluan yang diperlukan dirga malam ini. Pakaian, selimut dan beberapa makanan telah dibawa untuk ayahnya.
“bagaimana kondisi uyut yah?”. Tanya elvan saat kembali ke rumah sakit sambil membawa perbekalan untuk ayahnya.
“walau belum sadar, tapi syukurlah kini kondisi kakek sudah stabil”.
Nampak kelegaan di raut wajah keduanya.
‘apa obat dari dokter rizal bekerja ya?’. Batin elvan berkata.
“apa yang sedang kamu pikirkan?”. Tanya dirga. Ia melihat elvan seperti sedang memikirkan sesuatu.
“ah tidak. Syukurlah kalau kini uyut baik baik saja”. Walau tersenyum, tapi di dalam hatinya elvan masih penasaran dengan apa yang tadi ia pikirkan.
“oh iya yah, ini elvan bawakan selimut, pakaian dan beberapa makanan. Aku tahu dari tadi ayah belum sempat makan kan”.
“terima kasih. Mana ayah ingat soal makan dalam keadaan seperti ini”. Dirga berkata sambil mengambil perbekalan dari tangan elvan.
“lalu bagaimana kondisi rumah kita?”. Kini dirga baru ingat tentang rumahnya.
“syukurlah hanya bagian dapur yang mengalami kerusakan parah. Yang lain hanya hancur sedikit akibat ledakan. Makanya elvan bisa membawa pakaian ayah kesini. Dan rencananya besok rumah kita akan direnovasi”.
“baiklah kalau begitu. Sepertinya besok ayah akan mengajukan cuti selama beberapa hari”.
“pun dengan ku yah. Aku justru sudah mengajukan cuti untuk satu minggu ini”.
“gerakan mu memang cepat nak. Kalau begitu besok pagi kamu kesini, ayah akan ke kantor sebentar untuk urus keperluan cuti”.
“oke. Kalau begitu aku pulang dulu yah”.
“iya. Hati hati di jalan”.
“iya yah. Jika ada perkembangan tentang kondisi uyut segera hubungi aku”.
“iya jagoan”.
Dari dulu dirga sering memanggil anaknya dengan sebutan jagoan. Mungkin kata kata itu menjadi doa juga sehingga sekarang sifat elvan memang lebih mirip jagoan. Pandai bela diri tapi tetap down to earth. Bukankah omongan orang tua adalah doa. Kalau di pikir pikir untung saja dirga memanggil anaknya dengan sebutan jagoan, bukan dengan panggilan honey atau panggilan yang aneh lainnya.
Dokter yang berjaga malam ini sudah tidak terlihat mondar mandir lagi di ruang icu. Dirga berpikir mungkin karena kondisi kakeknya sudah membaik sehingga bisa dipantau beberapa jam sekali saja.
Suasana rumah sakit yang kian sepi, membuat dirga benar benar tertidur. Walau hanya beralaskan kursi panjang ala rumah sakit, tapi karena tubuh yang sudah sangat lelah membuat ia bisa tidur dengan nyenyak di sana.
Mengistirahatkan tubuhnya walau hanya beberapa jam, lumayan untuk mengumpulkan tenaga untuk aktivitas esok hari.
**
“bagaimana kondisi pasien?”. Tanya dokter rizal kepada asistennya.
“pasien kini sudah dalam kondisi stabil dok”.
“syukurlah kalau begitu. Kalian tolong pantau terus kondisinya. Saya akan kembali ke ruangan”.
“baik. Beristirahatlah sejenak dok”.
“hmm”.
Kini tinggal asisten dokter rizal dan para perawat piket malam yang bertugas memantau perkembangan kakek fattah.
“kamu sudah mengecek organ vital pasien?”. Tanya asisten dokter rizal ke perawat yang berjaga malam ini.
“sudah dok. Setengah jam yang lalu”.
“bagus. Kalau begitu besok pagi tolong di cek kembali”.
“baik”.
Tanpa mereka semua sadari baik tim dokter maupun dirga yang tengah terlelap di ruang tunggu pengunjung, kakek fattah yang berada di ruang icu sendirian mengalami perubahan sedikit demi sedikit.
Masih dengan kondisi tidak sadarkan diri, luka bakar yang dialami lebih dari 50% kini mulai membaik. Ternyata obat regenerasi yang diberikan dokter rizal mulai bekerja kepadanya. Tapi anehnya keriput yang umumnya ditemui pada semua manusia lanjut usia berangsur angsur menghilang.
Mulai dari wajah, tangan, tubuh, hingga bagian kaki kakek fattah sedikit demi sedikit berubah. Jangankan luka bakar, keriput yang bergelambir di seluruh tubuhnya kini mulai menghilang.
Perlahan tapi pasti, kini penampilan kakek fattah terlihat sangat berbeda. Dapat dipastikan tidak ada yang dapat mengenali penampilannya kini.
Beberapa jam berlalu, kini fajar kembali menyapa. Pemeriksaan rutin yang semalam telah dibicarakan diantara asisten dokter rizal dan perawat kini akan dilaksanakan. Beberapa perawat tengah bersiap untuk menuju ke ruang icu untuk mengecek kondisi pasien.
“kamu tahu, ini pertama kalinya aku melihat ada pasien dengan luka bakar seperti itu dapat bertahan sejauh ini”. Kata salah satu perawat sambil bejalan menuju ruang icu.
“hmm... sama. Apalagi pasien kita sudah dalam usia senja. Sepertinya tidak mungkin dia bertahan. Tapi kenyataannya keajaiban telah terjadi”.
“betuh sekali”.
“oh iya, apa kamu melihat keluarga pasien kemarin?”.
“yang mana?”.
“itu loh, yang lebih muda. Aah gantengnya”.
“ish, kamu itu. Sempat sempatnya berpikir begitu. Tapi memang ganteng sih. Sayang sekarang ia tidak disini”.
“semoga besok pemuda itu kembali kesini”.
“memangnya kamu mau apa?”.
“setidaknya aku akan mengajak berkenalan. Dan kalau bisa meminta kontak teleponnya”.
“dasar kamu ini, nggak boleh lihat cowok bening sebentar”
“hahahaha”.
Ternyata beberapa perawat itu sedang membicarakan elvan. tidak hanya kali ini saja ada yang membicarakan elvan perihal ketampanannya. Dimana pun ia berada, pasti ada saja yang terpesona.
Kini para perawat telah sampai di ruang icu. Setelah mengganti pakaian dengan pakaian khusus, mereka semua memasuki ruangan. Awalnya tidak ada yang menyadari perubahan yang terjadi disana. Tapi setelah salah satu perawat melihat sang kakek, ia bertanya kepada teman di sebelahnya.
“hei, bukankah pasien kita bernama kakek fattah?”. Perawat itu berulang kali mengecek biodata yang ada di tangannya dan juga di bangsal pasien.
“benar. Memang siapa lagi yang berada disini selain dia”.
“tapi kok sepertinya ada yang aneh”.
“aneh gimana?”.
“coba lihat. Sepertinya ini bukan pasien kita. Pasien kita seorang kakek kakek, bukan pemuda seperti ini”.
Perawat lain kini juga melihat pasien yang terbaring tidak sadarkan diri. Sama sama mengernyitkan dahinya sambil saling memandang satu sama lain.
“lalu kemana perginya pasien? Tidak mungkin kan ada yang memindahkan pasien tanpa sepengetahuan kita”.
“tapi biodata yang tertera dibangsalnya tetap atas nama fattah andreas”.
Perawat lain juga mengecek. Ternyata benar yang dikatakan temannya. Semua masih sama hanya pasien saja yang berbeda.
“kalau begitu kita harus lapor ke asisten dokter rizal. Aku takut dia juga tidak tahu perihal ini”.
“benar. Ayo”.
Dengan langkah cepat, para perawat kembali ke ruangannya bermaksud melaporkan kejadian ini ke asisten dokter rizal.
“dok, gawat”. Salah satu perawat langsung berbicara ketika menemukan asisten dokter rizal sedang berdiri di depan dispenser. Sepertinya ia bermaksud untuk membuat kopi.
“ada apa. Apa kondisi pasien kembali menurun?”.
“bukan”.
“lalu kenapa?”.
“pa... pasien kita menghilang”.
“apa? Jangan ngawur kamu”.
“benar dok. Saat kami mau mengecek kondisi pasien, tiba tiba ia tidak ada disana”. Perawat lain kini ikut berbicara.
“kalian serius? Mana mungkin ada yang memindahkan pasien tanpa sepengetahuan ku”.
Setelah menceritakan semua kejadian yang dilihat oleh para perawat, kini asisten dokter rizal segera berlari ke ruang icu. Gelas yang tadi akan ia gunakan untuk membuat kopi langsung diletakkan disana.
Dirga masih duduk di ruang tunggu pengunjung. Baru beberapa menit yang lalu ia terbangun dari tidurnya. Mengumpulkan nyawanya sejenak, untuk kembali mengecek kondisi kakek fattah dari luar ruangan.
Saat dirinya melihat asisten dokter rizal berlari menuju ruang icu dengan raut wajah tegang, dirga punya firasat buruk. Apakah kondisi kakeknya kembali menurun. Dengan cepat ia membenahi perbekalan. Tanpa membawanya, ia juga berjalan cepat ke arah ruangan kakeknya di rawat.
Saat sampai, tanpa mendengar percakapan yang ada didalam, ia bisa melihat kepanikan dari beberapa tim dokter yang ada disana. Mengintip dari kaca kecil yang ada di pintu ruang icu, dirga berharap kakeknya tetap dalam keadaan baik baik saja.
“bagaimana kondisi kakek saya dok?”. Tanya dirga saat melihat asisten dokter rizal keluar dari ruang icu.
“pasien menghilang. Akan ku jelaskan nanti. Tapi saya harus menemui dokter rizal terlebih dahulu”.
Bagai petir di siang bolong. Baru kali ini ada kejadian pasien tak sadarkan diri bisa menghilang begitu saja.
Dirga melihat lagi ke dalam ruangan. Ada sesosok manusia yang juga tidak sadarkan diri. Bedanya memang bukan kakeknya yang terbaring disana, melainkan seorang pemuda.
Entah kenapa kakinya bergerak dengan sendirinya memasuki ruang icu yang sebenarnya tidak boleh sembarang orang diizinkan masuk. Anehnya ada semacam dorongan sehingga dirga memberanikan diri untuk masuk.
Memperhatikan biodata dibangsal itu, masih milik kakeknya. Lalu sekarang melihat wajah yang sedang terbaring disana. Terasa sangat familiar pikirnya. Tapi entah dimana ia melihat wajah ini.
Saat pikirannya masih berkecamuk antara dimana keberadaan kakeknya dan wajah familiar pemuda yang sedang terbaring di hadapannya. Kini dokter rizal memasuki ruangan diikuti dengan asistennya dan beberapa perawat dibelakanya.
Dokter rizal menyuruh dirga untuk keluar, sementara mereka membicarakan masalah serius ini. Setelah diselidiki ternyata tidak ada yang memindahkan ataupun menukar dengan pasien manapun.
Ini sangat aneh, pertama kalinya mereka semua mengalami kejadian seperti ini. Ditengah kepanikan yang terjadi, tiba tiba dirga ingat dimana pernah bertemu dengan pemuda tersebut.
Tidak lain di rumahnya sendiri. Ia pernah melihat foto dengan wajah yang sama disana. Dan itu adalah wajah kakeknya ketika masih muda dan masih aktif sebagai pejuang.
Dirga menggelengkan kepalanya, tidak mungkin hal itu bisa terjadi. Tak mungkin kan tiba tiba kakeknya kembali menjadi muda kembali setelah mengalami musibah kebakaran yang membuat sebagian tubuhnya mengalami luka bakar parah. Kecuali jika ada tindakan yang ia tidak ketahui dilakukan kepada kakeknya.
“boleh saya menyela pembicaraan ini?”. Dirga kembali memasuki ruangan dan dengan berani menyela pembicaraan antar dokter disana.
“silahkan. Anda adalah keluarganya”.
“sepertinya saya mengenali pasien yang terbaring disana”. Dirga menunjuk pemuda yang masih tidak sadarkan diri.
Dokter rizal mengernyitkan dahinya. “jadi anda kenal dengan pasien ini?”.
“di bilang kenal sih tidak. Hanya saja sepertinya saya pernah melihatnya”.
Dirga diam sejenak sebelum kembali melanjutkan pembicaraannya.
“saya pernah melihatnya di rumah kami”.
Lelaki itu menghembuskan nafasnya perlahan, “itu adalah sosok kakek ku ketika masih muda”.
Semua orang yang mendengar perkataan yang keluar dari mulut dirga tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.