Chapter 6 - Tes DNA

1858 Words
“itu adalah sosok kakek ku ketika masih muda”. Kalimat yang keluar dari mulut dirga membuat semua orang yang berada disana terkejut. “apa maksud anda?”. Dokter rizal memastikan bahwa indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik. “ini memang tidak masuk akal. Tapi memang benar jika sosok yang sedang berbaring itu adalah kakek ku  ketika masih muda dan menjadi seorang pejuang”. “jika tidak percaya, saya bisa meminta tolong elvan untuk mengirimkan fotonya sekarang juga”. Dirga terus meyakinkan dokter rizal bahwa yang ia lihat tidaklah salah. Walau hatinya masih ragu dengan hal di luar nalar yang terjadi sekarang. Dokter rizal melihat ke arah kakek fattah terbaring. Memikirkan apakah ini efek dari obat yang ia berikan. Tapi masa iya sampai menjadi seperti ini. Merubah seorang kakek tua menjadi lelaki muda hanya dalam semalam. “bisakah kalian keluar sebentar? Kecuali keluarga pasien”. Dokter rizal memerintahkan timnya untuk keluar dari ruangan. Ada beberapa hal yang harus ia bicarakan berdua dengan dirga. “baik dokter”. Setelah itu seluruh tim satu persatu keluar dari sana menyisakan dokter rizal dan dirga. “apa ada hal yang tidak saya ketahui dok?”. Setelah yakin mereka hanya berdua di ruangan itu, dirga memberanikan dirinya bertanya. Ia pikir pasti ada sesuatu yang dilakukan oleh dokter rizal terhadap kakeknya. Karena mana mungkin kejadian seperti ini benar benar terjadi. Sangat tidak masuk akal. “saya tidak bisa menjelaskan apa apa. Tanyakan saja sendiri dengan anak anda?”. Tatapan datar dokter rizal menyembunyikan berbagai pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya. “maksud dokter, dengan elvan?”. dirga mengerutkan keningnya. Apa yang disembunyikan anaknya. “siapa lagi”. “lalu kenapa dokter ingin berbicara berdua dengan saya?”. Dirga menatap tajam ke arah sang dokter. “jika benar yang barusan anda katakan bahwa pemuda ini adalah kakek anda. Untuk memastikannya kami akan melakukan tes DNA”. “sebenarnya saya tidak percaya dengan kejadian seperti ini, tapi jika di pikir pikir lagi kemungkinan itu mungkin ada”. Dokter rizal menambahkan. “baik, lakukan tes DNA secepatnya”. Dirga menyetujui saran dokter rizal. Melakukan tes DNA untuk memastikan apakah sosok pemuda itu benar kakek fattah atau bukan. “kami akan menyiapkan beberapa berkas terkait tindakan tersebut. Kalau begitu saya undur diri”. Dokter rizal melangkah keluar, meninggalkan dirga dan kakek fattah yang belum sadarkan diri. Dirga memperhatikan wajah itu, wajah yang ada di foto kamar kakeknya. Ia ingat sewaktu kecil, saat sedang bermain bersama sang kakek. * Flashback on “kakek, cari aku”. Dirga kecil sedang bermain petak umpet bersama kakeknya. Saat itu, ibu dirga masih hidup. Tapi sudah mulai sakit sakitan akibat diabetes yang diderita. Jadi dirga kecil lebih sering bermain bersama fattah, kakeknya. “kakek hitung sampai sepuluh. Kamu harus bersembunyi ya. Satu,,, dua,,, tiga,,,”. Mendengar kakeknya mulai menghitung, dirga kecil segera mencari tempat persembunyian. Ia melihat kamar sang kakek, tanpa pikir panjang ia memasukinya. “delapan,,, sembilan,,, sepuluh. Selesai. Kakek cari sekarang ya”. Fattah berteriak agar dirga kecil mendengarnya. Mencari disekeliling rumah, kakek fattah belum menemukan cucunya bersembunyi. “kamu bersembunyi dimana? Kakek pasti akan menemukanmu”. Dirga yang bersembunyi di dalam lemari pakaian kakeknya menganggap itu adalah tempat teraman. Tapi anehnya, tadi ia sempat mendengar suara kakek mencarinya. Tapi kini dirga kecil tidak mendengar apa apa lagi. Apa kakeknya mencarinya sampai keluar rumah. Pikirnya. “hihihi... pasti kakek tak akan menemukan ku disini”. Dirga berbicara sambil tertawa kecil. Braak... “ketemu”. tiba tiba kakeknya membuka lemari pakaian tempat dirga kecil bersembunyi. “ish, sebel deh”. Dirga segera keluar dari lemari pakaian kakeknya dengan nada kesal. Tiap bermain petak umpet, pasti selalu diketemukan oleh kakeknya. “hahaha... makanya kamu harus banyak belajar dari kakek”. “lihat saja. Suatu saat nanti aku pasti akan mengalahkan kakek”. “coba saja”. Dirga melihat sekeliling kamar, terdapat beberapa penghargaan dan foto lama yang terpajang rapi di dinding. “kakek, itu apa?”. Dirga kecil menunjuk beberapa foto yang ada disana. “oh itu foto waktu kakek masih muda. Kamu mau lihat?”. “memang boleh?. Dirga kecil sangat senang mendengarnya. “tentu saja. Tunggu sebentar ya”. Kakek fattah segera mengambil salah satu foto kesayangannya. Penuh dengan kenangan dengan teman teman seperjuangannya. Walau saat ini beberapa dari mereka sudah ada yang mendahului menghadap sang pencipta. Kini, dirga kecil dan kakek fattah duduk berhadapan di kasur. Tak lupa ada foto lawas itu diantara mereka berdua. “ini ada siapa saja kek?”. Dirga menunjuk semua orang yang ada di dalam foto. “ini ada kakek dan teman teman kakek. Kamu tahu, dulu kakek adalah seorang pejuang kemerdekaan loh”. “pejuang itu apa?”. “pejuang itu orang yang ikut berperang untuk kemerdekaan negara. Dulu negara kita dikuasai oleh belanda dan jepang. Jadi kakek dan teman teman yang ada difoto ini selalu berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan indonesia”. Dirga kecil diam mendengarkan penjelasan panjang dari kakeknya. Mengedipkan matanya beberapa kali, dapat dipastikan dirga tidak mengerti apa yang kakeknya katakan. Anak kecil, kata pejuang saja belum bisa mengerti. Ini ditambah dengan kata perang, kemerdekaan dan lain lain. Istilah apa lagi itu. “ah sudahlah. Kamu pasti tidak mengerti”. Fattah menyadari jika cucunya tidak akan mengerti apa yang dia katakan. “lalu kakek yang mana?”. “ini”. Kakek fattah menunjuk salah satu orang yang ada disana. Duduk diantara teman teman yang sedang memegang senjata. “kakek bohong”. Kakek fattah pun terkejut. “loh kok bohong sih. Kakek tidak bohong. Ini memang kakek waktu masih muda”. Terus meyakinkan cucunya bahwa yang ditunjuk memang benar dirinya. “pasti kakek memilih orang yang paling tampan disini kan. Biar bisa pamer sama dirga”. Mata fattah membulat. Bisa bisanya anak sekecil ini berbicara seperti itu. Mendengar keramaian dari dalam kamar ayahnya, hanum annisa anak perempuan kakek fattah datang menghampiri. “ada apa ini ramai ramai begini?”. “ini bu. Kakek bohong sama dirga”. “kakek tidak bohong. Itu memang kakek waktu masih muda. Kamu tahu, banyak wanita yang tergila gila pada kakek dan ingin dijadikan kekasih”. “dirga nggak percaya”. “STOP...”. hanum berteriak ingin menghentikan perdebatan antara kakek dan cucunya. Mendengar teriakan tersebut, kakek fattah dan dirga segera menghentikan aksi mereka. Teriakan itu bahkan lebih menakutkan dibanding suara meriam sekalipun. “kalian kakek dan cucu sama saja. Tidak ada yang mau mengalah. Membuat telingaku mau pecah tahu”. Setelah itu, hanum langsung kembali ke kamarnya. * Flashback off Di ruangan, dokter rizal mengumpulkan seluruh timnya yang bekerja saat memberi tindakan kepada kakek fattah kemarin. Melakukan pertemuan darurat untuk membahas kejadian hari ini. “saya mohon, rahasiakan kejadian hari ini kepada siapapun bahkan orang terdekat kalian. jangan sampai kejadian ini tersebar luas apalagi sampai tercium oleh media. Jadi jika ada yang mengetahui kejadian ini, saya anggap kalian telah berkhianat”. Belum sempat mencerna keajaiban yang terjadi, kini para petugas yang terdiri dari asisten dokter dan perawat harus menerima kenyataan bahwa ada beban yang harus dipikul oleh mereka. “baik. Dokter bisa percaya kepada kami”. Jawab asistennya. “terima kasih banyak”. Dokter rizal dapat bernafas lega. Ia sengaja memilih orang orang yang dapat dipercaya untuk membantunya menangani kondisi kakek fattah. ** Di kantin, dirga yang sedang sarapan sembari mengeluarkan ponselnya. Menghubungi salah satu nomor yang ada disana. “halo, elvan. dimana kamu sekarang?”. “aku sedang bersiap siap menuju rumah sakit”. Suara elvan dari seberang telepon. “cepatlah. Ada yang harus ayah bicarakan kepada mu. Penting”. “apa ada hal yang terjadi dengan uyut?”. “akan ayah jelaskan nanti saat kamu sudah di sini”. “oke. Aku berangkat dulu”. “hati hati di jalan”. “iya yah”. Tuut... tuut... tuut... Sambungan telepon telah dimatikan oleh dirga. Ia menatap ponselnya, masih tertera nama elvan disana. Ia jadi teringat apa yang dikatakan dokter rizal tadi pagi. Sebenarnya hal apa yang disembunyikan oleh elvan. kenapa tidak bilang kepadanya jika terjadi sesuatu. Banyak pertanyaan yang ada di pikirannya dan ingin segera mendapat jawaban ketika anak lelakinya tiba. Hanya berselang setengah jam, elvan pun sampai di rumah sakit.  Ia segera melangkahkan kakinya menuju ruang icu. Disana sudah ada dirga, sedang duduk sendirian dibangku pengunjung. “ada apa yah? Apa ada hal yang terjadi dengan uyut?”. Setibanya elvan dihadapan ayahnya, ia segera bertanya. “benar. Tapi sebelumnya ayah ingin bertanya sesuatu kepadamu. Tolong jawab dengan jujur”. Tatapan tajam dirga terasa menusuk. Apalagi ditambah raut wajah yang benar benar serius. Elvan hanya mengerutkan keningnya tanpa menjawab perintah ayahnya. “apa yang kamu bicarakan dengan dokter rizal tanpa sepengetahuan ayah?”. “maksud ayah apa?”. “jangan berpura pura tidak tahu”. Glek... Sebenarnya apa yang terjadi dengan uyutnya sampai sampai ayahnya tahu ada perbincangan rahasia antara dirinya dengan dokter rizal. Apa dokter rizal yang memberitahukan kepada ayahnya. “cepat jawab”. Walau tanpa berteriak, aura dirga dapat membuat elvan ketakutan. “Tapi aku mohon setelah ku ceritakan apa yang terjadi, ayah jangan salah paham”. Dirga diam menunggu lanjutan penjelasan dari anaknya. Elvan akhirnya menceritakan kesepakatan rahasianya bersama dokter rizal. Dirga terkejut bukan main. Tak menyangka jika anaknya bisa senekat itu. Untung saja sekarang nyawa kakek fattah dapat terselamatkan bahkan lebih dari itu. Tubuh sang kakek juga ikut berubah. Tapi sayang saat ini kakeknya masih belum sadar juga. Mengepalkan tangannya erat, dirga menahan amarahnya. Tapi sayang hal itu tidak bisa. Buugh... Dirga memukul perut elvan. melampiaskan rasa kecewanya karena keteledoran yang diperbuat anaknya. “kenapa kamu bisa ceroboh begitu. Memangnya uyutmu bahan uji coba hah?”. “coba kamu bayangkan jika terjadi hal yang tidak diinginkan kepada uyutmu. Kamu mau bertanggung jawab?”. Elvan masih memegang perutnya yang terasa sakit. Tak ingin membalas perbuatan ayahnya karena ia menyadari jika ini memang salahnya. Terlalu cepat mengambil keputusan tanpa berbicara dulu dengan ayahnya. “maafkan elvan yah. Elvan...”. “terima kasih”. Dirga dengan cepat memotong kalimat yang ingin elvan katakan. Elvan juga terkejut, karena ayahnya mengucapkan kata terima kasih setelah memukulnya. “terima kasih? Maksud ayah? Elvan benar benar tidak mengerti”. “terima kasih karena kecerobohan mu lah uyut mu bisa selamat. Tapi ayah tetap kecewa karena kamu tidak meminta pendapat ayah dulu sebelum membuat keputusan itu”. Rona bahagia terpancar dari wajah elvan mengetahui jika uyutnya kini baik baik saja. “syukurlah. Lalu dimana uyut sekarang?”. “beliau masih belum sadarkan diri di ruang icu. Tapi ada kejadian tak masuk akal yang terjadi”. “kejadian... tak masuk akal?”. Elvan kini duduk di kursi pengunjung. “ya. Terjadi sesuatu yang aneh terhadap uyut mu”. Dirga juga kembali duduk di samping elvan. Menunggu penjelasan ayahnya, elvan tetap menatap dirga dengan serius. “uyut mu telah berubah menjadi muda kembali”. “APA...???”.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD