“uyut mu telah berubah menjadi muda kembali”.
Elvan masih belum mengerti apa maksud perkataan ayahnya. Mencerna pelan pelan kalimat ‘menjadi muda lagi?’
“sebentar, elvan masih belum mengerti. Maksud ayah menjadi muda lagi itu bagaimana ya?”.
“kini penampilan uyut mu persis seperti pemuda berusia 25 tahun”.
“APAA...!!!”. elvan sangat terkejut. Bagaimana tidak, kejadian ini benar benar diluar nalar siapapun.
Untuk selamat dari musibah kebakaran saja sudah merupakan suatu anugerah yang tak terhingga. Tapi kini justru uyutnya berubah menjadi lelaki muda kembali. Sangat tidak mungkin terjadi.
“la... lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”.
“sekarang kamu baru menanyakan pendapat ayah hah?”.
“bukan begitu yah”.
“ayah dan dokter rizal juga masih belum yakin. Oleh karena itu dokter menyarankan untuk melakukan tes DNA untuk memastikan jika orang itu benar benar uyut mu”.
Elvan berdiri, melangkah menuju ruang icu tempat uyutnya terbaring. Melihat dari kaca yang ada di pintu ruangan, elvan memperhatikan sosok pemuda yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Sangat berbeda, seperti sedang melihat orang lain saja.
“jadi sekarang kita tinggal menunggu hasil tes DNA yang dilakukan dokter rizal?”. Elvan mengarahkan pandangannya kepada dirga.
“benar”.
“aku senang mendengar uyut selamat dari musibah ini. Tapi mengetahui jika uyut sampai berubah seperti ini, ada ketakutan yang muncul dalam hati ku yah”.
Sebelah tangan elvan memegang dadanya. Merasakan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Bahagia, terharu, takut dan kebingungan. Mungkin itu yang dirasakan elvan saat ini. Bahkan mungkin ayahnya juga merasakan hal yang sama.
“oh iya, katanya ayah ada urusan di kantor”.
“kamu benar. Kalau begitu ayah tinggal sebentar. Ayah ingin mengurus izin cuti untuk beberapa hari ke depan”.
“lebih baik setelah dari kantor, ayah pulang saja ke rumah. Bukankah ayah juga perlu istirahat?”.
“apa kamu baik baik saja sendirian disini? Ayah takut kamu membuat keputusan yang gegabah lagi”. Dirga kini sudah berdiri dari kursinya.
“kali ini tidak akan. Aku akan mengabarkan ayah jika hasil tes DNA nya sudah keluar”.
“baiklah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan perbaikan rumah kita?”.
“tenang saja, sudah ku serahkan pada mang samsul”.
Mang samsul, seorang lelaki paruh baya yang ahli memperbaiki kerusakan rumah. Kebetulan ia tinggal berdekatan dengan kediaman dirga.
“kalau begitu ayah berangkat dulu”.
“hmm... hati hati di jalan”.
Sepeninggal ayahnya, elvan kembali duduk di kursi khusus pengunjung. Ia teringat memori semalam ketika membuat kesepakatan rahasia dengan dokter rizal. Kini hanya tinggal menunggu hasil tes DNA. Tapi besar kemungkinan yang terbaring disana memang benar uyutnya.
Elvan pun pernah melihat sosok uyutnya ketika masih muda dari foto lama di kamar kakek fattah, sosok pemuda yang terbaring disana sama persis seperti foto itu.
Sebenarnya butuh waktu lama untuk mendapatkan hasil tes DNA, tapi koneksi tidak mengkhianati. Dokter rizal bisa dengan mudah mempercepat proses pemeriksaannya. Dengan begitu kemungkinan hari ini hasilnya sudah bisa dilihat.
Tak terasa sore telah menjelang, elvan yang sedari tadi berada di ruang tunggu pengunjung pun mendapat panggilan dari dokter rizal. Pemuda itu segera melangkah menuju ruang dokter itu. Ruangan yang sama persis ketika ia memberanikan diri untuk membuat kesepakatan.
Tok... tok... tok...
“masuk”. Suara dari dalam ruangan, menandakan dokter rizal sudah menunggu kedatangan elvan.
“selamat sore dokter”.
Dokter rizal yang melihat kedatangan elvan segera memintanya duduk di kursi di hadapannya.
“silahkan duduk”.
“bagaimana dengan ayahmu? apa dia sudah mengetahui perihal kesepakatan kita?”.
Tanpa basa basi, dokter berusia 35 tahun ini langsung berbicara to the point. Ia ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu agar informasi yang akan ia katakan tetap aman.
Di usia yang terbilang masih muda, dokter rizal sudah menjadi dokter spesialis andalan rumah sakit tersebut. Dokter jenius yang sedang mengembangkan obat untuk meregenerasi jaringan yang mengalami kerusakan. Keinginannya tersebut didasari oleh salah satu pasiennya yang pernah ia temui.
Pasien wanita yang mengalami kekerasan hingga di siram dengan air keras di bagian wajah. Sangat miris melihatnya karena korban termasuk warga kurang mampu. Keterbatasan yang dimiliki korban, sehingga tidak bisa membawanya untuk melakukan operasi perbaikan wajah.
Walau dokter rizal memiliki sifat ambisius, tapi hatinya tidak bisa melihat siapapun mengalami kesulitan. Dirinya pun tidak tega saat melihat kondisi kakek fattah ketika pertama kali datang di ruang igd.
Mengalami luka bakar parah hampir disekujur tubuhnya, apalagi saat mengetahui usia sang kakek. Entah kenapa dokter rizal dengan berani menawarkan obat yang masih dalam pengembangan itu kepada elvan. pemuda yang saat ini telah berada di hadapannya.
“hm... dia sudah tahu. Maaf dok, saya melanggar kesepatakan kita”.
“tidak apa apa. Justru karena ayah mu lah kita jadi tahu bahwa pemuda yang sekarang masih berbaring di sana adalah keluarga mu”. Dokter rizal membuka laci meja kerjanya. Mengeluarkan amplop coklat yang kemungkinan adalah hasil tes DNA.
Kini tidak hanya dokter rizal dan elvan yang mengetahui kejadian ini. Dirga dan tim dokter pun mengetahuinya. Untung saja mereka orang orang yang dapat dipercaya.
“ini adalah hasil tes DNA tuan fattah andreas”. Dokter rizal menyerahkan amplop tersebut kepada elvan.
Melihat amplop dihadapannya, elvan segera mengambi lalu membukanya. Terlihat angka 99% yang berarti memang benar pemuda tersebut adalah uyutnya.
“menurut hasil tes DNA itu, kita bisa menyimpulkan bahwa tuan fattah andreas benar benar berubah menjadi muda kembali. Saya tidak menyangka jika obat tersebut akan berefek seperti ini”.
Elvan melihat dokter rizal setelah memasukkan lembaran hasil ke dalam amplop semula.
“ya. Saya juga tidak menduganya dok. Lalu bagaimana sekarang?”.
“saya harus melakukan beberapa tes kepada tuan fattah sambil mengamati apakah efek ini hanya bersifat sementara atau seterusnya”.
“apa saya boleh menanyakan sesuatu?”.
“silahkan”.
“jika efek ini berlangsung untuk seterusnya. Bagaimana dengan orang orang? Saya khawatir kejadian ini akan menjadi berita menggeparkan”.
“itu sudah saya pikirkan sedari tadi. Makanya saya memanggil anda kesini”.
Dokter rizal menghentikan kalimatnya. Ingin menawarkan solusi yang dapat menyelamatkan privasi kedua belah pihak agar berita ini tidak sampai ke telinga orang banyak.
“bagaimana jika kita membuat tuan fattah seolah tidak selamat dari kebakaran tersebut?”. mata tajam dokter rizal menatap elvan. menunggu jawaban apa yang akan pria itu berikan.
“maksud dokter, membuat uyut ku seolah olah telah meninggal, lalu menggantinya dengan identitas baru begitu?”.
Elvan pemuda yang pintar, ia bisa langsung mengerti arah pembicaraan dengan dokter rizal.
“tepat. Dengan begitu kejadian hari ini tidak akan diketahui oleh siapapun kecuali kita”.
“sepertinya itu ide yang bagus. Tapi sebelumnya saya harus rundingkan terlebih dahulu dengan ayah”.
“silahkan. Dan pastikan tidak ada yang membocorkan rahasia ini”.
“saya bisa jamin. Ayah tidak akan memberitahukan kejadian ini pada siapapun. Bagaimana dengan tim mu dok?”.
“apa kamu meragukan tim yang sudah membantu menyelamatkan anggota keluarga mu nak?”.
Senyum terukir di bibir kedua pria itu. Berawal dari kejadian ini, membuat mereka memiliki hubungan penting di masa depan.
***
Tiga hari telah berlalu, dirga dan elvan menyetujui ide yang ditawarkan dokter rizal. Kini status sang kakek telah dinyatakan meninggal. Semua orang telah mengetahui hal itu. Keluarga, tetangga, teman sejawat, semuanya telah datang untuk mengatakan bela sungkawa dengan datang ke rumah dirga.
Terutama daryanto, teman seperjuangan kakek fattah yang terakhir kali bertemu saat menghadiri peringatan hari ulang tahun kemerdekaan beberapa hari yang lalu. Ia datang ke rumah dirga dengan air mata yang tidak bisa di bendung.
Dengan langkah gontai ditemani keluarganya, kakek daryanto menangis tersedu mengingat pertemuan terakhir mereka. Padahal dialah yang terlihat seperti ingin meninggalkan dunia ini. Tapi takdir berkata lain, justru fattah yang memiliki semangat hidup tinggi yang meninggalkannya lebih dahulu.
Kalau tahu akan begini, dia tidak akan berkata demikian. Penyesalan selalu datang belakangan. Di saat telah kehilangan, barulah menyadari kesalahan yang diperbuat.
“maaf... maaf... kalau tahu akan begini, aku tidak akan berkata begitu kepada fattah”. Kakek daryanto menangis di depan elvan dan dirga.
Dalam hati, elvan dan dirga tidak tega melihatnya. Ingin rasanya memberitahukan yang sebenarnya kepada daryanto. Tapi demi kebaikan semua pihak, mereka harus tetap merahasiakan kenyataan yang sebenarnya.
“tidak apa apa. Yang berlalu biarlah berlalu. Kakek kini sudah tenang di alam sana. Doakan saja yang terbaik”. Dirga memeluk daryanto yang masih menangis.
“aku salut padamu nak. Begitu ikhlas melepas kepergian orang yang dicintai walau dengan cara yang tragis”. Daryanto mengelap air mata yang mengalir di pipinya.
Dirga tersenyum samar melihat pria paruh baya di depannya. “kita tidak tahu kapan kematian akan tiba dan dengan cara apa kematian itu datang. Tugas kita sebagai manusia hanya mengumpulkan bekal untuk menghadap yang kuasa bukan?”.
Daryanto tersenyum, “ternyata fattah membesarkan cucu dan cicitnya dengan baik. Sayang sekali anak lelakinya meninggal saat bertugas”.
Kakek fattah memiliki dua anak, satu laki laki dan perempuan. Keduanya telah mendahului menghadap yang maha kuasa. Anak lelakinya meninggal saat bertugas di daerah konflik. Sedangkan anak perempuannya yang tidak lain adalah ibu dari dirga, juga telah meninggal karena penyakit komplikasi yang diderita. Fisiknya dari awal sudah lemah, sehingga tidak bertahan lama menghadapi penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
“kakek pamit pulang dulu. Kalian jangan lupa menjenguk pria tua renta ini sesekali”.
“pasti. Kami sudah menganggap kakek seperti kakek kami sendiri”. Dirga dan elvan mencium tangan daryanto sebelum sahabat kakek fattah itu kembali ke kediamannya.
Setelah semua orang pulang ke rumahnya masing masing, menyisakan elvan dan dirga di rumahnya.
“jadi bagaimana kondisi uyut sekarang?”. Elvan membuka percakapan diantara mereka berdua.
“masih belum sadarkan diri. Tapi tes yang dilakukan dokter rizal menunjukkan seluruh organ vitalnya bekerja dengan baik. Dan sepertinya efek obat itu kemungkinan akan terjadi selamanya”. Dirga dan elvan duduk di sofa ruang tamu di rumah mereka. Sofa berbentuk letter l berwarna biru. Warna kesukaan kakek fattah.
“jadi kita hanya menunggu uyut sadar?”.
“benar. Semoga beliau cepat sadarkan diri”.
Tak lama berselang, terdengar suara telepon masuk di ponsel elvan.
Elvan mengeluarkan ponselnya dari dalam kantung celananya, melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata telepon tersebut berasal dari dokter rizal. Tanpa menunggu lama, pemuda itu langsung mengangkatnya.
“halo, elvan disini. Ada apa dok?”.
.....
“APAA... baiklah. Kami akan segera kesana”.
Elvan mematikan teleponnya lalu dengan cepat melihat ke arah ayahnya.
“dari dokter rizal? Dia bilang apa?”.
“uyut sudah sadar. Kita harus ke rumah sakit sekarang”.