Sore hari di rumah sakit, perawat yang bertugas mengecek kondisi kakek fattah secara berkala sedang berlari menuju ruangan dokter rizal berada. Melihat dari keadaannya, sepertinya perawat itu sangat terburu buru.
Tok... tok... tok...
“dok, ini saya”. Perawat tersebut berkata setelah dirinya tiba di depan ruangan dokter rizal.
“masuk”. Kebetulan dokter rizal sedang praktek sampai malam sehingga saat ini ia berada di sana.
Dengan cepat perawat itu segera masuk. Memberitahukan informasi penting terkait perkembangan kondisi salah satu pasiennya.
“ada apa?”. Dokter rizal melihat nafas perawat itu tersengal sengal.
“tuan fattah dok. Tuan fattah akhirnya sadarkan diri”.
Dokter rizal langsung berdiri dari kursinya. Tanpa banyak bicara lagi ia langsung keluar dari ruangannya. Perawat itu lantas mengikuti langkah atasannya. Kemana lagi kalau bukan ruang icu, tempat kakek fattah berada.
Selama tiga hari terakhir, dokter rizal beserta timnya terus melakukan berbagai pengecekan terhadap kakek fattah. pengecekan mencakup semua kondisi tubuh sang kakek setelah diberikan obat regenerasi. Hasilnya, persis seperti yang terlihat. Benar benar layaknya manusia muda yang memiliki fungsi tubuh prima. Tidak seperti manusia lanjut usia yang sudah mengalami berbagai gangguan kesehatan dimana mana.
Hal itu membuat dokter rizal sangat penasaran. Apakah efek obat regenerasi yang ia kembangkan akan sama jika diberikan ke semua orang, atau ini hanya berlaku untuk kakek fattah saja. Setelah masalah ini usai, ia akan memeriksa kembali obat tersebut.
Ceklek...
Dokter rizal membuka pintu ruang icu, terlihat kakek fattah yang kini berwujud pria berusia 25 tahun sudah duduk di atas ranjangnya.
“tuan fattah andreas?”. Kalimat pertama yang diucapkan dokter rizal setelah mereka saling bertatap muka.
“benar. Apa ini di rumah sakit?”.
“benar. Apa yang anda rasakan sekarang?”.
Momentum ini sangat dinantikan oleh dokter rizal. Banyak pertanyaan yang ada di dalam pikirannya sekarang.
“saya merasa agak berbeda”.
“berbeda? Perbedaan dalam konteks apa?”. Dokter rizal mendekati pasiennya yang terlihat masih kebingungan.
“perbedaan yang signifikan. Apalagi saya tidak melihat kerutan apa pun di tangan saya. Dan saya merasa tubuh ini sangat berbeda dari biasanya”.
Kakek fattah memperlihatkan tangannya dimana terdapat selang infus yang masih tertancap disana. Mengalirkan cairan yang dibutuhkan kakek selama belum sadarkan diri.
“hubungi keluarga tuan fattah. kabari jika anggota keluarganya telah sadarkan diri”. Tatapan dokter rizal beralih ke perawat dibelakangnya, memberikan perintah untuk segera menghubungi dirga dan elvan.
“baik dok”. Perawat itu langsung mengeluarkan ponselnya. Mendial nomor elvan yang tertera disana.
Bagai menyelam sambil minum air, perawat itu sangat senang akhirnya bisa menghubungi elvan walau dengan alasan pekerjaan. Mencuri kesempatan sambil berdoa semoga dirinya bisa dekat dengan pria tampan itu.
Setelah memberikan perintahnya, tatapan dokter rizal kembali ke kakek fattah.
“banyak yang harus kita bicarakan”.
FATTAH ANDREAS POV
Perlahan aku membuka mata. Samar samar tapi perlahan menjadi jelas. Aku melihat sekeliling, dari interior ruangan ini bisa dipastikan aku sedang berada di rumah sakit.
Ah iya, aku baru ingat sebelumnya mengalami musibah kebakaran. Apa akhirnya aku selamat? Sudah berapa lama aku berada disini? Lalu kemana cucu dan cicit ku. Pasti saat ini mereka sedang panik kan.
Tersenyum getir ku perlihatkan. Ternyata tuhan masih memberikan kehidupan ini. Ku pikir aku akan dipertemukan dengan istri dan anak anak ku yang telah kau panggil terlebih dahulu.
Bahkan saat belum sadarkan diri, aku sempat merasa bertemu dengan mereka. Saat aku senang akhirnya bisa berkumpul kembali, mereka berkata belum saatnya kami bertemu. Aku ingat mereka hanya tersenyum sebelum pergi meninggalkan diriku lagi. Meninggalkan diriku di tengah ruangan putih kosong, hampa tanpa ada apapun disana.
Ingin ku kejar mereka, tapi kaki ini sangat berat. Teriak pun tidak ada artinya. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut ini. Hanya bisa melihat mereka berjalan semakin menjauh dari ku.
Kebingungan mendera, apa yang harus aku lakukan sekarang. Apa aku akan terjebak ditempat ini. Tempat dimana tidak ada seorang pun.
Di tengah kegundahan yang melanda, terlihat di ujung ruangan terdapat cahaya yang sangat terang. Entah kenapa setelah melihatnya, kaki ini terasa sangat ringan. Tak terasa tubuh ku bergerak menuju cahaya itu berasal. Tapi saat aku sampai, ternyata kini aku tengah berada di satu ruangan. Dekorasinya persis seperti ruang rawat intensif.
Mengerjapkan mata berkali kali, karena pandangan pertama terasa masih samar. Setelah beberapa lama, kini aku bisa melihat dengan jelas. benar saja, aku ada di rumah sakit. Ternyata yang barusan ku lihat adalah pemandangan alam bawah sadar. Mungkin karena aku dalam kondisi antara hidup dan mati.
Melihat di sekeliling, tidak ada orang sama sekali. Aku mengecek bagian tubuh ku yang terkena luka bakar. Tapi nihil, jangankan luka bakar, goresan pun tak terlihat. Hanya selang infus yang bertengger gagah di punggung tangan ku.
Tapi tunggu, sepertinya ada yang aneh. Kemana kerutan di kedua tangan ku. Kenapa semuanya tidak terlihat? Aku merasa setelah membuka mata, ada yang berbeda yang kurasakan pada tubuhku. Tidak seperti seorang manula yang merasakan tidak nyaman di semua bagian tubuh. Aku merasa tubuh ini sangat ringan.
Tak lama berselang, ada perawat yang membuka pintu ruangan. Begitu matanya melihat ke arah ku, ia terlihat terkejut. Baru saja aku ingin membuka mulut untuk bertanya, tapi ia langsung pergi entah kemana. Mungkin ia ingin memberitahukan dokter perihal kesadaran ku.
Ngomong ngomong sudah berapa lama aku terbaring di sini? Satu hari, dua hari atau lebih. Aku hanya bisa menunggu dokter yang merawatku datang.
Benar saja, tak berselang lama seorang dokter pria datang menghampiriku diikuti oleh perawat yang tadi sangat terkejut saat pertama melihatku. Tatapan tajamnya terus menatap ku mulai dari dirinya membuka pintu. Sampai saat ini ia telah berada persis di depan ku.
“banyak yang harus kita bicarakan”. Dari tatapannya, aku bisa melihat ada yang tidak beres.
“dimana cucu dan cicit ku?”. Aku langsung bertanya to the point.
“mereka sedang mengurus beberapa keperluan. Sebentar lagi mereka akan datang. Anda dengar sendiri saya sudah memerintahkan perawat untuk menghubungi mereka bukan”.
“sebelumnya perkenalkan. Saya dokter rizal. Dokter yang bertanggung jawab dengan kondisi anda saat ini”.
“anda pasti merasa bingung sekarang. Tapi akan saya jelaskan garis besarnya”. Dokter rizal mengeluarkan cermin kecil dari sakunya. Menyerahkannya kepadaku. Tapi untuk apa.
“coba lihat diri anda disana”. Dokter itu menunjuk cermin, meminta ku untuk melihat kedalamnya. Tanpa banyak bertanya aku melakukannya.
Alangkah terkejutnya diri ku saat melihat wajah yang sudah lama tidak ku lihat. Wajah diri ku sendiri saat masih menjadi pejuang. Wajah diri ku saat berusia 20 tahunan. Aku bolak balik melihat ke arah dokter, kembali ke cermin lalu ke dokter lagi.
“apa yang terjadi dengan diriku?”. Fattah memegang wajah lalu melihat ke seluruh tubuhnya.
“itulah yang akan saya jelaskan. Anda mengalami luka bakar yang sangat parah, bahkan anda dalam kondisi kritis saat itu. Lalu dengan putus asa, salah satu keluarga anda datang untuk meminta pertolongan apapun untuk menyelamatkan mu. Entah kenapa terbesit pikiran untuk menggunakan obat regenerasi yang sedang ku kembangkan untuk anda. Singkat cerita setelah anda diberikan obat tersebut, anda menjadi sekarang ini”.
Kakek fattah tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “jadi dokter menjadikan ku sebagai bahan percobaan?”.
“bisa di bilang begitu. Tapi bukan kah tidak hanya saya yang membuat keputusan?”. Seringai dokter rizal mengembang di sudut bibirnya.
Kemarahan yang tadi dirasakan kini surut mengikuti pembenaran dari pernyataan yang dokter rizal lontarkan barusan. tidak sepenuhnya kesalahan dokter rizal. Mungkin ada alasan kenapa dirga dan elvan sampai memberikan keputusan itu. Semata mata untuk menyelamatkan dirinya yang sedang dalam kondisi kritis.
Jika dirinya ada di posisi yang sama pun, mungkin kakek fattah akan mengambil keputusan yang sama. Lebih baik sekarang dirinya menunggu kedatangan cucu dan cicitnya, baru ia akan meminta penjelasan lebih detail.
“baiklah, sepertinya kondisi anda sudah stabil. Kalau begitu saya akan kembali ke ruangan”. Dokter rizal melangkah keluar, tapi baru beberapa langkah ia berhenti sejenak lalu membalikkan tubuhnya menghadap kakek fattah.
“ah iya. Saya hampir lupa. Nanti tuan dirga dan elvan akan menjelaskan tentang rencana masa depan anda. Saya harap anda dapat menerimanya”. Setelah mengatakan hal itu, dokter rizal keluar dari sana.
Tak lama berselang, dirga dan elvan datang. Masih dengan nafas tersengal sengal, mungkin mereka berlari untuk mencapai tempat ini.
“kakek”.
“uyut”.
Dirga dan elvan berbarengan memanggil kakek fattah. lalu memeluk sosok itu sambil mengeluarkan air mata bahagia. Akhirnya orang yang mereka khawatirkan kembali sadar.