Ada satu, dua, tiga, bahkan sepuluh bodyguard di depan restoran ini. Grace turun dari mobil yang membawanya kesini dengan pintu mobil yang sudah dibuka oleh salah seorang bodyguard.
“Tuan Edward sudah menunggu Nona di dalam.”
Grace mengernyit. Edward di sini? Buat apa dia mengundangnya ke sini? Sebuah restoran.
Grace mengangguk. Masuk ke dalam restoran yang sudah diterangi oleh lampu temaram dan hanya ada satu meja yang disorot oleh lampu terang dengan seorang pria yang memunggunginya.
“Halo–“
Lelaki itu berdiri lalu membalikkan tubuhnya menatap ke arah Grace yang sudah gemetaran.
Lelaki bertubuh kekar dengan kumis tipis dan tatapan mata yang begitu tajam itu menatap ke arah Grace. Dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
Kaki Grace sudah tidak bisa dikondisikan. Rasanya ia ingin tumbang karena merasa tak kuat menahan berat badannya sendiri.
“Mine.”
“Ha?” beo Grace.
Mine? Sebuah pernyataan bukan pertanyaan.
Grace menggelengkan kepalanya. “Apa maksudmu?”
“Kau pasti tahu apa maksud ucapanku tadi.” Edward membalikkan tubuhnya lalu kembali duduk di kursinya. “Duduklah!”
Grace bergeming. Dia masih setia berdiri di depan Edward yang sudah kembali memunggunginya.
“Dalam hitungan ketiga. Satu… Dua… Ti–“
“Fine!”
Grace berdecak lalu berjalan menghampiri meja Edward lalu duduk di depan pria itu. Mata elang Edward menatap ke arah Grace.
“Good, girl!”
“Apa maumu?” tanya Grace kesal.
“Read!” Edward memberikan sebuah kertas yang sudah berisi tulisan apa yang dia mau pada Grace.
You are mine!
Grace mengernyit. Apa-apaan ini? Ini namanya pemaksaan bukan?
“Aku tidak mau.”
“Kalau begitu, aku akan memaksamu dengan atau tanpa persetujuan darimu.”
Apa? Tiba-tiba saja jantung Grace berdetak kencang berpacu lebih cepat dari biasanya.
“A-apa yang akan kau lakukan padaku?” tanya Grace gugup.
Edward memajukan wajahnya menatap lurus ke arah depan dengan mata yang fokus ke arah bibir Grace yang ranum dan berwarna pink. Terlihat muda sekali namun Edward suka.
“Aku suka bibirmu.”
Dengan cepat Grace menutupi bibirnya dengan tangan lalu membelalakkan matanya ke arah Edward yang tersenyum tipis ke arahnya.
“Jangan macam-macam! Aku bisa teriak!”
“Berteriaklah! Tidak akan ada yang membelamu di sini.”
Sial! Ini bukan sebuah undangan tapi jebakan. Dia tidak mau menjadi milik seorang yang namanya Edward Thomas. Lelaki s****n ini benar-benar membuat Grace muak dalam satu waktu. Memang wajahnya begitu tampan bahkan sangat tampan. Namun ini bukanlah hal yang perlu ia puji untuk sekarang. Nyawanya lebih terancam.
“Apa maumu?”
“Sesuai apa yang tertulis di kertas itu, baby.”
Bahkan panggilan ‘baby’ pun tak mampu membuat amarah serta bencinya pada Edward surut dan berkurang.
“Aku tidak mau.”
“Aku akan memaksamu,” jawab Edward dengan santai. Mata lelaki itu menelisik ke arah Grace dan tersenyum miring.
Sial. Seharusnya dia tidak ke sini menuruti apa keinginan Ibunya. Dia sudah salah langkah dan dia–oh, s**t!
“A-apa mak-maksudmu, hah?!”
Grace sudah bersiap untuk pergi dari tempat terkutuk ini. Bahkan Grace sudah melepas heelsnya agar leluasa kabur tanpa memikirkan jalannya yang sedikit berhati-hati agar tak jatuh nantinya ketika ia mulai berlari.
“Grace Nathalie, aku tahu kamu tengah mencari-cari siapa diri kamu sebenarnya kan? Kau juga ingin sekali mencari tahu siapa ibu bahkan ayahmu dan memastikan sendiri apakah mereka masih hidup atau sudah mati.” Edward memutari meja di depannya dan berdiri tepat di samping Grace dan menyentuh pundak perempuan itu.
Grace segera menepisnya dengan kasar namun sayang itu tak berguna. Tenaganya terlalu kuat untuk bisa Grace lawan.
“Aku bisa membantumu,” bisik Edward tepat di telinga Grace.
“Benarkah?” tanya Grace dengan antusias.
“Iya. Aku akan membantumu. Asal–kau harus jadi milikku. Seutuhnya.”
Penawaran dari Edward begitu menggiurkan. Namun dia juga tidak mau pergi dari panti hanya karena dia harus istilahnya menjual dirinya pada sosok lelaki arrogant ini. Tapi, dia juga tak menampik jika dia juga butuh penjelasan siapa dirinya sebenarnya dan apa alasan orang tuanya membuangnya?
Grace masih terus menerus berpikir sisi positif dan negatif yang akan terjadi ke depan. Namun, sepertinya ini jalan satu-satunya. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali kan? Lagi pula, Grace juga butuh bantuannya untuk hal ini.
Tentang menjual diri? Ah, bukankah Edward ini masih lajang? Jadi, dia bukan termasuk om-om kan? Bahkan umurnya saja masih bisa dimasukkan di akal jika lelaki dewasa mencintai wanita yang lima tahun dibawahnya. Itu hal yang wajar.
Grace menghela napasnya begitu panjang sebelum pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Yes, I accept your offer.”
•••
“Apa? Kau menerima tawaran Edward untuk menjadi istrinya?” Nova sungguh terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Grace ini. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran dangkal seorang Grace Nathalie yang otaknya pintar namun kenapa selalu pendek memikirkan soal pribadi? Apakah Grace sudah dikelabui oleh harta Edward Thomas?
“Grace punya alasan untuk ini, Bu.”
“Grace! Walau pun alasanmu masuk diakal, tapi tetap saja. Itu namanya kamu menjual diri kamu sendiri. Merendahkan harga diri seorang wanita itu bukan hal yang sepele. Itu akan membuatmu di cap perempuan yang tidak baik di mata umum, Nak. Apalagi Edward orang yang berada sekali. Apa iya, publik tidak mempertanyakan alasanmu menerima Edward–orang yang kamu kenal dalam sehari? Itu hal tak wajar di mata semua orang.”
“Grace tak peduli soal itu Bu. Grace yakin jika hari ini mungkin Grace belum bisa mencintai Edward, mungkin suatu saat nanti, Grace akan mencintainya.”
“Tapi–“
“Bu, Grace mohon! Restui Grace! Dan doakan Grace baik-baik saja. Grace juga sebenarnya tidak mau dengan cara seperti ini. Tapi Grace juga mau tahu satu hal yang selama ini Grace belum tahu jawabannya. Dan Grace yakin, Edward bisa memberikan apa yang Grace mau selama ini. Tolong ya, Bu!” Grace mencium punggung tangan Nova dengan air mata yang menetes di pipinya.
“Tapi, Nak–“
“Bu, Grace mohon. Kali ini saja, jangan halangi kemauan Grace.”
Nova menghela napasnya. Pasrah dengan apa yang sudah Grace mau. Dia juga tidak bisa memaksa semua sesuai kehendaknya.
“Baiklah, asal itu bisa membuatmu bahagia, Ibu restui.”
•••
Grace tengah bersiap-siap untuk mengabari seseorang yang diutus oleh Edward untuk menjemputnya. Tapi yang menjadi pertanyaan banyak orang, publik akan bertanya-tanya pada mereka bagaimana cara mereka bertemu sedang banyak orang yang mengecap seorang Edward Thomas adalah seorang yang begitu arrogant, semaunya dan tak pernah mau diatur oleh siapa pun termasuk oleh kedua orang tuanya sendiri.
Grace baru saja dapat kabar jika Edward sudah mendapat izin dari keluarganya untuk menikahi Grace dalam waktu dekat. Ya, sedekat mungkin. Persiapan yang dilakukan oleh Edward begitu singkat namun harus sesuai ekspektasinya.
“Apa? Besok aku sudah harus pindah ke rumah Edward?” tanya Grace begitu kaget ketika mendengar kabar itu.
Kabar mengejutkan itu pasti membuat ibunya akan merasa sedih. Grace adalah salah satu anaknya yang begitu peduli pada adik-adiknya.
‘...’
“Baiklah, saya akan bicara pada ibu saya secepatnya.”
Panggilan itu akhirnya ditutup oleh Grace. Wanita itu melempar benda pipih itu ke kasur dan beranjak pergi dari kamarnya untuk menemui ibunya.
Grace menghembuskan napas panjang ketika ia sudah berdiri tepat di depan pintu kamar ibunya. Dia tidak kuat untuk mengatakan ini pada wanita paruh baya yang selama ini sudah melakukan kebaikan padanya. Dia belum siap sama sekali.
Dengan hati yang bergetar, Grace mengetuk pintu itu.
Ketukan yang pertama belum ada jawaban. Hingga pada ketukan pintu kedua sosok wanita paruh baya itu muncul dan menyapa Grace dengan senyuman khasnya.
“Grace?” tanya wanita itu masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya. “Ada apa, Nak?”
Grace terdiam. Bingung hendak mengatakan apa. Dia benar-benar tidak tega mengatakan hal itu pada ibunya secepat ini.
“Hm... Grace mau izin, Bu.”
“Izin ke mana?” tanyanya mengernyitkan keningnya.
“Izin pindah ke rumah Edward mulai besok.”
Kaget. Ya, ibu mana yang tidak kaget mendengar izin dari sang anak yang begitu mendadak begini? Walaupun ia tahu Grace bukan sepenuhnya miliknya, namun dia seorang ibu yang sudah membesarkan dan merawat seorang gadis hingga dewasa. Dia begitu berjasa bagi hidup Grace tentu saja dia juga terluka ketika kehilangan anaknya itu.
“Kenapa tiba-tiba sekali?” tanyanya dengan tenang.
“Hm, begini, kami rencananya akan melangsungkan pernikahan secepatnya.”
“Kenapa semuanya serba mendadak?” tanya Nova begitu tak habis pikir dengan jalan pikiran seorang Edward Thomas.
“Aku–“
“Suruh Edward menemui ibu dulu sebelum dia membawamu pergi dari sini. Secepatnya.”
•••