Grace berjalan dengan terburu-buru ke arah meja lalu menerima cokelat panas pesanannya dari salah seorang teman yang juga bekerja di Kafe ini. Jam bekerjanya sudah habis dan kini ia sudah berganti pakaian dengan baju casual biasa dengan celana jeans beserta shall abu-abu di lehernya.
Tugas kuliahnya belum selesai. Alhasil, dia harus mengerjakan tugas-tugasnya itu di sini sampai malam hari bahkan sampai Kafe ini tutup. Ia tak peduli, yang jelas dia harus menyelesaikannya setelah ini sebelum Ibu asuhnya tahu kalau dia sudah bekerja sangat keras hari ini.
Kuliah baginya penting namun mencari uang untuk membantu ibunya juga tak kalah penting. Dia bahkan sampai rela tak bermain dengan teman-temannya demi bekerja di sini.
“Belum pulang, Grace?” tanya seseorang duduk di depannya membuat race yang fokus pada layar laptopnya menjadi mendongak.
“Aku ganggu kamu ya? Sorry,” ucap seseorang itu lagi.
Grace menggeleng lalu tersenyum. “Tidak, Pak.”
Lelaki itu terkekeh. “Sudah berapa kali saya bilang ke kamu kalau kita lagi berdua seperti ini jangan panggil ‘Pak’. Usia kita juga beda beberapa tahun juga kan? Santai saja. Panggil aku Kevin saja.”
Grace tersenyum. Tidak enak juga kalau memanggil nama meskipun mereka hanya berbeda lima tahun. Tapi rasanya akan tidak sopan kalau begitu apalagi mereka masih ada di Kafe.
“Hm, oke, maaf.”
“Tidak masalah. Lanjutkan saja tugasnya. Saya ke belakang dulu,” pamit Kevin membuat Grace mengangguk sembari menyunggingkan senyum di bibirnya.
“Silakan, Pak.”
Kevin beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Grace sendirian mengerjakan tugas kuliahnya di malam dingin seperti ini.
Musim dingin. Ya, tentu saja. Sudah memasuki musim dingin dan cokelat panas akan terasa lebih nikmat ia nikmati tiap malam.
Setelah dua jam melakukan pengerjaan tugas, akhirnya Grace menyelesaikan tugas itu tepat jam tujuh malam. Waktu yang tak terlalu malam untuknya pulang jalan kaki. Lagi pula, tempat tinggalnya hanya berjarak dua kilometer dari sini tidak terlalu membuat kakinya pegal dari pada Grace berjalan ke Kampusnya.
Grace berjalan sendirian di ramainya orang-orang menikmati malam musim dingin bersama pasangan bahkan bersama anggota lengkap keluarga mereka. Sungguh, Grace ingin mendapat kebahagiaan itu juga. Dari dulu tidak pernah mendapatkan kasih sayang itu karena Grace adalah anak yang tak diharapkan oleh orang tuanya sendiri. Dia anak yang dibuang.
Setelah selesai meratapi nasibnya, Grace menghapus jejak air matanya lalu menatap ke orang-orang dengan tatapan sendu.
“Kau boleh sedih karena ini. Tapi kau juga harus tahu banyak orang lain yang mencintaimu.”
Grace mulai berjalan lagi menuju ke rumahnya bersama sang adik yang jumlahnya puluhan itu. Hidup di bawah naungan panti asuhan adalah hidup yang perlu disyukuri oleh Grace. Setidaknya dia bisa makan layaknya rumah sendiri daripada makan di jalanan dan tak ada tempat tinggal?
“Halo, Ibu!”
Grace menghampiri Nova–Ibu panti dan memeluknya.
Grace adalah salah satu anak yang sudah besar, bisa bekerja sendiri dan yang belum menikah meski pun umurnya sudah 22 tahun. Umur yang begitu muda namun kakak-kakaknya yang lain menikah di umur 20 tahun demi meringankan beban Ibu Nova.
Padahal, Nova sendiri tidak masalah kalau mereka tetap di sini dan tinggal di panti ini. Setidaknya panti ini ada teman yang menjaga adik kecil yang masih belum tahu apa-apa.
“Kamu sudah pulang Nak?” tanya Nova. Membelai lembut rambut hitam pekat milik Grace.
Grace mengangguk. “Iya. Tadi Grace ngerjain tugas dulu baru pulang. Maaf ya lama pulangnya.”
“Tak apa. Setidaknya kamu baik-baik saja.”
“Iya. Grace merasa baik.”
“Ya sudah kamu istirahat saja ya. Nanti Ibu bantu kamu selesaikan pekerjaan rumah. Ibu seharian ini belum mengerjakan apa-apa karena ketiga kakak-kakak kamu tadi ke sini bersama suaminya. Jadi, Ibu dimanja buat tidak mengerjakan apa pun termasuk memasak.”
Grace bersyukur. Dia pikir mereka yang sudah tidak tinggal di rumah panti akan melupakan jasa Nova namun dia salah. Semuanya cukup tahu diri dan kebanyakan juga membantu Ibu Nova dalam biaya sekolah adik-adiknya.
Adik yang paling besar masih SMP kelas dua dan yang paling kecil ada yang umur 2 tahun. Mereka ada di sini pun caranya beda-beda. Ada yang dititipkan langsung oleh orang tuanya, ada yang sengaja ditaruh di gazebo panti saat malam ada juga tetangga sekitaran rumah yang memberikan bayi atau anak umur setahun buat di rawat.
Ada juga memang adiknya yang di adopsi orang lain termasuk juga Grace yang sempat ingin diadopsi namun Ibu Nova menolaknya.
“Grace mandi dulu ya. Nanti Grace beresin semuanya.”
•••
“Maaf, apa benar ini Panti Asuhan Cinta Kasih?” tanya seseorang yang memakai jaket warna hitam dengan topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
“I-iya benar.”
Ibu Nova menjawabnya dengan penuh rasa takut. Dia takut ada hal yang tak diinginkan terjadi pada pantinya setelah kejadian beberapa tahun yang lalu.
Ibu Nova takut mengganggu anak-anak yang lain yang tengah belajar bersama Grace dan dia takut mereka berbuat jahat di tengah waktu kondusif yang dimiliki oleh mereka.
“Saya disuruh memberikan undangan ini pada Grace Nathalie dan dimohon untuk hadir jika tidak, maka kalian akan tahu akibatnya.”
Setelah memberikan undangan itu pada Ibu Nova. Dua orang berpakaian hitam itu akhirnya pergi dengan memberikan berbagai macam persepsi baginya. Memangnya Grace kenal pada dua orang itu?
Nova membaca undangan itu lagi. Dari … Edward Thomas?
Seketika tubuh Nova menegang. Dia tidak tahu harus bersikap apa. Edward Thomas bukankah dia anak dari Rey Thomas yang memiliki perusahaan terbesar di dunia? Lalu untuk apa dia mengundang Grace? Apakah Grace mengenalnya?
“Siapa, Bu?” tanya Grace menghampiri Nova diambang pintu.
“Ini. Undangan buat kamu.”
“Undangan? Teman Grace padahal tidak ada yang buat acara.” Grace membaca surat undangan itu. Edward Thomas? Siapa dia?
“Kau kenal dengan Edward?” tanya Nova pada Grace.
Perempuan itu menggeleng tak tahu. Dia bahkan tidak tahu apa-apa soal Edward atau Thomas Corp sekali pun.
“Aku bahkan tidak tahu ada yang namanya Edward yang aku temui di dunia ini saja aku tak tahu.”
Heh. Tidak adakah yang memberi tahu Grace soal orang yang namanya Edward padanya? Grace itu antara kurang update berita atau memang masa bodo soal perpolitikan dunia.
“Kau diundang.”
“Tapi aku tidak tahu dia siapa.”
“Tapi setidaknya kau datang meski hanya sebentar.”
“Tap-“
“Nanti katanya ada orang yang menjemputmu ke sini.”
“Benarkah itu Ibu? Kenapa aku jadi takut?” tanya Grace sembari mengetuk-ngetuk ibu jarinya dan jari telunjuknya ke meja di depannya.
“Kau tak perlu takut, sepertinya dia orang baik.”
“Benarkah? Dari mana Ibu tahu dia orang baik?” tanya Grace menatap nanar ke arah Ibu pantinya.
“Mencurigai seseorang dengan berlebihan itu tidak baik, Nak. Jadi, bersikaplah dengan sopan.”
Grace masih saja merasakan keanehan. Dari sorot mata sang ibu saja membuat Grace curiga dengan semua ini. Tidak biasanya sang ibu mengizinkan dirinya pergi ke tempat yang sama sekali tidak Grace ketahui.
Demi tidak membuat ibunya khawatir, akhirnya Grace menyetujui dan menganggukkan kepalanya.
•••
Dress hitam dengan aksen mutiara ini begitu indah. Grace tak langsung memakai gaun itu namun melihatnya dengan lamat-lamat. Ah, gaun ini begitu indah. Namun kenapa dia merasa tidak nyaman dengan kedatangan gaun dari orang yang sama sekali Grace tidak kenal?
“Tujuan dia mengundangku apa? Sebenarnya dia siapa?” tanya Grace berpikir keras.
Mondar-mandir di kamarnya adalah hal yang sering dilakukan oleh Grace ketika sedang kebingungan seperti sekarang.
Baru saja undangan itu datang, sekarang dress hitam ini yang ada di depannya dari orang yang sama dan Grace sama sekali tidak tahu dia siapa.
Jika dilihat dari dress ini, mungkin bisa dikatakan orang ini adalah orang yang begitu kaya dan berada. Dress di depannya ini saja bisa dikatakan cukup mahal.
Grace sempat melihat gaun ini di saat ia pergi ke Mall beberapa hari yang lalu. Dia sempat juga mendapat kartu ucapan namun dia juga tidak tahu orangnya siapa. Semenjak hari itu sudah sangat begitu aneh.
Kartu ucapannya hanya, ‘kau sebentar lagi akan mendapatkannya.’
Hei! Siapa yang iseng membuat kartu ucapan seperti ini? Grace langsung menepisnya kuat-kuat waktu itu namun sekarang benar, ternyata dia mendapatkan dress itu dan sekarang ada di depannya.
Ini sungguh aneh.
“Grace apa kau sudah siap?” tanya Nova mengetuk pintu kamar Grace. “Seseorang sudah menunggumu di depan.”
Grace cepat-cepat menoleh ke arah daun pintu yang tertutup rapat. Nova ada dibaliknya, menyuruhnya untuk cepat bersiap karena seseorang menunggunya.
Tunggu! Apa? Seseorang? Siapa lagi?! Apakah orang yang disuruh Edward untuk menjemputnya? Ah, masa bodo. Yang terpenting sekarang Grace ikuti saja alur permainan sosok Edward itu.
Grace mengganti pakaiannya dan menyisir rambutnya yang panjang. Merapikannya sedikit dan memakai heelsnya lalu pergi keluar untuk menemui seseorang itu.
“Mari! Saya sudah siap!”
•••