EMPAT

2367 Words
Rian memperhatikan siswi yang kini duduk di depan nya itu. Memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu setelah itu dia menghela nafas. "Setau saya, di sekolah ini tidak boleh memakai kaos kaki belang, sepatu warna, termasuk di larang mewarnai rambut serta memakai eksesoris yang berlebiham. Satu lagi, pakaian di sini harus longgar dan rok nya 5 cm di atas lutut. Apa kamu tidak mengetahui peraturan itu Bia?" Bia menatap datar ke mata tenang milik guru nya itu. "Lo nyuruh gue ke sini, cuman buat dengerin lo bacain peraturan sekolah? Trus lo pikir gue peduli?" Ujar Bia sekali lagi ranpa sopan santun. Rian menelan saliva nya. "Kamu sadar, dengan siapa kamu berbicara?" tanya nya datar sedatar tatapan nya. Bia menaikkan sebelah alis nya. "Amat sangat sadar. Gue berbicara dengan om-om yang 3 hari lalu nabrak gue, bikin gue sial sampai gue ketangkep sama Dewi Kematian! Apa kurang jelas?" Pandangan Rian dan Bia beradu cukup lama. Tangan Rian yang berada di dalam saku celana terkepal. Ini pertama kali nya, dia harus menghadapi murid yang kurang ajar nya mintak ampun. Dan parah lagi perempuan, jika saja Bia laki-laki, mungkin sudah dia hajar sejak tadi kaena berani berbicara tidak sopan kepada nya. "Kamu masih 16 tahun kan? Belum 17, tapi kelakuan kamu sudah begitu kurang ajar dengan orang yang lebih tua." Geram Rian. Bia menghela nafas jengah. "udah deh, gak usah banyak bacot lo! Pusing gue dengerin nya." "Kamu di ajari sopan santun gak sih sama orang tua kamu?!!" Suara Rian meninggi, kesabaran nya habis sudah, terlihat dari mata nya yang berkilat marah. Ekspresi Bia berubah datar, dan tatapan nya nyalang ke arah Rian. Suasana mendadak berubah hening, dengan dua insan antara murid dan guru itu masih saling berpandangan. Braakkk... Bia menggebrak meja dengan kuat, lalu bangkit berdiri seraya menendang meja di depan nya. Reaksi Bia itu di luar dugaan Rian. "Lo denger ya! Lo mau hukum gue? Silahkan! Lo mau hina orang tua gue juga silahkan! Tapi jangan pernah bawa-nawa gimana mereka mendidik gue?! Karna gue gak punya orang tua!!" Tekan Bia dengan emosi yang menggebu-gebu. "Lo camin satu hal! Gue akan bikin hidup lo gak tenang di sekolah ini!" Bia menunjuk wajah Rian. Lalu membalik tubuh nya, berniat untuk pergi. Namun, langkah nya terhenti saat Mis Dewi tepat berdiri di depan nya. "Anjing---"Gumam Bia. "Duduk!" Perintah Mis Dewi dingin. "DUDUK!!" Bia menggeram dan menghempaskan tubuh nya di sofa tempat nya duduk tadi. Sementara Rian hanya diam dan menatap Mis Dewi juga Bia bergantian. "Berbuat apa lagi dia pak?" Tanya Mis Dewi pada Pak Rian. Rian diam sejenak, dia melirik Bia. "Berbuat yang biasa dia lakukan." Bia langsung saja melirik tajam ke arah guru matematika yang belum genap sehari dia kenal itu. Mata nya seakan mengisyaratkan permusuhan pada Rian. Dan Rian, justru tidak memperdulikan itu. Gadis seperti Bia, memang harus di kasih hukuman. Pandangan Mis Dewi beralih ke arah Bia. "Gak habis-habis ya Bia! Baru kena skors sekarang sudah berulah lagi!" Bia tidak merespon seperti biasa nya, jika sudah wanita paruh baya ini yang bersuara. Bukan takut, tapi malas meladeni Mis Dewi. "Anda tau kalau saya gak akan bisa berubah. Trus kenapa masih di pertahankan?" Bia bersuara pada akhir nya. Saat dia merasakan pandangam Mis Dewi menusuk tubuh nya. "Saya tidak pernah ingin mempertahankan kamu! Karna kamu cuman bisa membuat reputasi sekolah ini hancur!" Mis Dewi mencondongkan tubuh nya ke arah Bia. "Tapi---" Klik.. Pintu ruangan terbuka. Langkah Buk Kirana terhenti saat melihat suasana di dalam sana. "----Tapi wali kelas kamu yang mempertahankan murid tidak berguna seperi mu!" lanjut Mis Dewi menatap Buk Kirana. "Apa pantas seorang guru berbicara seperti itu kepada siswi nya?" Buk Kirana bersuara dengan suara tegas nya. Mata nya beradu dengan mata Mis Dewi. Suasana berubah tegang. Rian memperhatikan kedua guru yang kini tengah saling hadap berhadapan. Sekarang dia menyadari satu hal, bahwa Buk Kirana dan Mis Dewi mempunyai paham yang berbeda mengenai murid yang kini juga ikut tidak membuka suara itu. "Anda seorang wakil kepala sekolah Mis. Apa pantas anda berbicara seperti itu? Mengatakan murid sendiri tidak berguna?" "Sekarang saya tanya, untuk apa mempertahankan siswi seperti ini?" Mis Dewi menujuk Bia namun pandangan nya masih menyorot tajam ke arah Buk Kirana. "Seharus nya anda yang sadar Buk Kirana! Mengeluarkan anak ini adalah keputusan paling tepat!" Buk Kirana melirik Bia. "Gue gak minta di pertahankan!" suara Bia mengalihkan perhatian Mis Dewi, Pak Rian, dan Buk Kirana. "Dari dulu gue udah minta untuk di Drop Out." Mis Dewi menyeringai. "Lihat? Bagaimana kurang ajar nya anak ini?" Buk Kirana menghela nafas nya perlahan. "Masuk ke kelas Bia!" Perintah nya. Bia bangkit berdiri, dan berlalu keluar ruangan tanpa mengucapkan apa pun. "Urusan Bia adalah urusan saya. Dari awal semenjak saya menjadi wali kelas di XI IPA 2, saya sudah mengatakan hal ini. Jadi, gak ada alasan untuk saya mendrop out Bia atau siapa pun dari kelas yang saya naungi. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap Mis Dewi, saya mohon tolong untuk tidak mengambil keputusan yang membuat masa depan mereka terputus." Mis Dewi menggelengkan kepala nya. "Keras kepala!" Desis nya, lalu berlalu keluar. Tinggal lah Buk Kirana dan Pak Rian di ruangan itu. Buk Kirana menjatuhkan tubuh nya ke atas sofa, lalu menutup wajah mya dengan telapak tangan. "Buk---" "Bantu saya Pak!" Buk Kirana mendongak menatap Pak Rian. "Bantu saya! Untuk membimbing anak-anak itu. Terutama Bia!" lirih nya dengan mata sendu. Rian tertegun sejenak. "Sebenarnya apa yang terjadi?" ❄❄❄❄❄❄ Brakk... Tiga orang yang tengah duduk di sana terperanjat kaget saat gebrakan meja itu terdengar. "Come on Bi! Jantung gue cuman satu." Rena merespon malas saat Bia menjatuhkam b****g nya di atas bangku di samping nya. "Kenapa sih Bi? Kayak nya kesel banget." Kali ini Yuna yang bertanya, seraya menyeruput minuman milik nya. "Lo di hukum?" Milka ikut bersuara. Bia berdecak, dia mengusap rambut panjang nya ke belakang. "Gue bosen---" "---Sekolah?" Sambung Rena. Bia tidak merespon, itu berarti tebakan Rena benar ada nya. "Lo gak di hukum kan Bi?" Milka memastikan seraya menatap lekat ke arah Bia. "Pengen nya sih di hukum. Di keluarin sekalian." Balas Bia sangai. Milka berdecak. "Kenapa sih minta nya di keluarin mulu. Kayak gak ada permintaan lain aja." Dengus nya. Bia menyipitkan mata nya, dia tidak membalas ucapan Milka. Melainkan menatap lekat ke arah Yuna. Terlihat ada yang beda dengan penampilan gadis itu. "Wow! Berubah cerita nya?" Sinis Bia ke arah Yuna. Yuna berdecak seakan tau apa yang di maksud oleh Bia. "Plis deh Bi. Gak usah ngeledek." "Siapa yang ngeledek Yuna sayang? Gue cuman nanya." balas Bia. "Dia kemarin di panggil ke ruangan Bu Kirana." Rena bersuara, mata sayu nya melirik Bia dan Yuna bergantian. Bia menaikkan sebelah alis nya. "Ya udah keluar-keluar udah kayak gini." Sambung Rena. Bia terkekeh pelan. "Jadi lo takut?" Yuna menegakkan duduk nya. "Takut? Ya kali. Gue cuman males ngadepin guru-guru rempong di sini. Apalagi si Dewi kematian." Erang Yuna. Bia tersenyum miring seraya mengeluarkan permen karet yang ada di kantong jaket nya, lalu mengunyah benda kenyal itu. Penampilan Yuna memang berbeda hari ini. Tidak ada lagi aksesoris yang menempel di sekujur tubuh nya, tidak seperti biasa nya akan ada banyak kalung di leher nya, gelang di tangan nya, dan banyak anting di daun telinga nya. Walaupun masih ada tato kecil bergambar tengkorak yang terlihat di sudut kanan leher nya, serta rambut yang masih berwarna ungu. "Rajin amat Mil, masih aja belajar." Yuna berkomentar seraya melirik Milka dengan ekor mata nya. Semua pasang mata di meja itu ikut melirik ke arah Milka hang sibuk membolak balik buku kimia. "Kalau gak belajar, ya gak pinter lah." "Kalau belajar, emang lo langsung jadi presiden?" Timpal Bia di ikuti dengan tawa Rena dan Yuna. "Ih---apasih. Kalian aja tuh bangor nya mintak ampun." balas Milka. "Bangor-bangor juga lo temenan sama kita." Balas Rena kali ini. "Ya gimana---ngelihatin kayak gini udah makanan gue sehari-hari. Udah kenyang." Milka menutup buku nya, dan menatap satu persatu wajah teman nya. Ya, Milka mengenal Bia, Rena dan Yuna sejak kelas 1 sd. Sangat lama, dan aneh nya mereka selalu satu kelas, tidak pernah berpisah kelas. Tidak butuh waktu lama untuk Milka mengetahui watak masing-masing dari mereka, dalam waktu 2 bulan dia sudah di buat geleng-geleng kepala dengan kelakuan tiga teman nya itu. Bukan hanya sekarang. Tapi dari zaman SD hobi Bia, Rena dan Yuna itu memang cari masalah, bikin onar, dan jahil yang mintak ampun. Walaupun begitu, Milka tetap bersyukur bisa berteman dengan ketiga nya, tidak peduli dengan hasutan orang-orang yang meminta nya untuk menjauh dari ketiga gadis itu. Milka tetap memilih untuk berteman dengan Bia, Rena dan Yuna. Walaupun tak jarang dia terseret masalah karna ketiga teman nya itu. Tapi di sini lah, Milka bisa merasakan yang nama nya persahabatan itu, gak peduli mau sebenci apa orang-orang kepada ketiga teman nya itu. Milka akan tetap berada di antara mereka, sampai kapan pun. "Kenapa?" Bia menaikkan sebelah alis nya melihat Milka menatap nya begitu intens. "Gue heran deh sama kalian tau gak. Gak ada habis-habis nya." Ucap Milka heran. "Ck, udah deh Mil. Lo gak usah profokatorin kita supaya ikut ajaran lo yang kerjaan nya belajar mulu." respon Yuna malas, seraya menyandarkan kepala nya ke kursi. "Bukan itu maksud gue. Maksud gue tu, emang kalian gak capek apa nyari masalah terus." "Yang capek itu kalau lo lari dari Jakarta ke Bali. Nah itu baru capek." Celetukan Rena membuat Yuna dan Bia spontan tertawa keras. Sedangkan Milka memberengut kesal, dan melempar buku ke arah Rena. "Renaaa!!" Rena justru ikut tertawa bersama Bia dan Yuna. Kini, kantin yang cukup ramai pengunjung itu di hiasi oleh tawa dari empat gadis tersebut. ❄❄❄❄❄❄❄ Rian berjalan di koridor SMA yang baru beberapa hari ini menjadi tempat dia mengajar. Belum genap seminggu dia mengajar di sini, tapi kepala nya sudah di buat pusing dengan kelakukan siswa siswi SMA Rising. Setiap hari, pasti ada saja yang membuat masalah dan membuat emosi nya terganggu. Rian berharap, hari ini tidak ada lagi siswa atau siswi yang membuat nya pusing tujuh keliling. Dia menghela nafas nya perlahan saat melihat papan nama yang tergantung di depan pintu. XI IPA 2, belum juga masuk, suara berisik sudah terdengar dari luar. Seperti biasa nya. Kondisi kelas itu begitu berantakan, dan berisik. Rian berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling kelas. Sebelum akhir nya menarik nafas perlahan. "Selamat pagi anak-anak?!!" 5 detik menunggu, kelas tak kunjung diam. Rian menggebrak meja, baru lah mereka diam dan kembali ke tempat duduk masing-masing. "Ok! Silahkan keluarkan buku pelajaran kalian! Kita lanjutkan materi sebelum nya." Rian bersuara dingin, sedingin dengan tatapan nya kini. Rian menyapu seluruh kelas. Kelas ini memang kelas ternakal di SMA rising, tapi di dalam sini masih ada siswa atau siswi yang mrmpunyai niat belajar, karna itu lah Rian masih menabahkan hati nya untuk mengajar di kelas ini. Walaupun hanya 1 berbanding 1000. "Kemana Bia?" mata Rian terhenti pada sebuah bangku kosong di samping Rena, yang seperti biasa tengah tertidur dengan kepala di atas meja. Tidak ada yang menjawab. "Kalian gak denger saya!" Suara Rian naik satu oktaf. Pasal nya, siswa siswi itu hanya menyibukkan diri sendiri. Mengobrol, bersenda gurau, tanpa memerdulikan guru nya di depan kelas. "Milka?" Milka mengangkat kepala  nya, mata datar nya bertemu dengan Rian. "Gak masuk." "Kenapa?" Milka menaikkan bahu nya acuh. Lalu kembali menunduk, sibuk dengan buku bacaan nya. Sementara Yuna di sebelah nya, tampak memainkan ponsel dengan headset besar bertengger di telinga nya. Rian menggelengkan kepala nya, lalu berdecak pelan dan memulai pelajaran. Sementara di tempat lain... "Hei Bi! Baru dateng?" Bia mengangguk dan menyambut uluran tangan gadis dengan dandanan rocker itu. Bukan hanya telinga, tapi bibir pun ikut di tindik oleh gadis tersebut. Siapa lagi kalau bukan Raya, kakak kelas Bia yang juga terkenal bad girl bahkan lebih liar dari nya. "Telat gue kak." Balas Bia, seraya duduk di samping Raya setelah bertos ria dengan delapan cowok yang juga ada di sana. "Telat bisa masuk? Wih canggih lo." Komentar Reyhan, kakak kelas Bia juga yang hobi nya sama kayak Bia, tawuran. Dandanan nya juga tak kalah bad boy nya, tapi heran nya dia di gandrungi satu sekolah. "Kayak gak tau Bia aja, paling juga lompatin tembok belakang sekolah." Komentar yang lain nya. "Trus gak masuk kelas?" Bia menghela nafas nya. "Malas gue kak. Pelajaran matematika." Raya menaikkan sebelah alis nya menatap adik kelas nya itu. "Bagus dong. Guru pengganti Suroso, muda kan, kabar nya ganteng." "Ganteng-ganteng, bikin sumpek iya. Baru juga 4 hari tu orang di sini, udah bikin gue sial berkai-kali." Keluhan Bia mengundang tawa yang lain nya. "Aduh Bi! Itu arti nya lo harus taubat mulai sekarang." Ujar Reyhan di tengah tawa nya. "Taubat, emang gue mau mati!" Raya menepuk pundak Bia. "Udah sih sabar aja. Kayak pertama kali ketiban masalah. Lo kan emang biang nya masalah Bia sayang." "b******k lo kak." Raya tertawa melihat wajah dingin Bia yang bercampur kesal. "Ck, udah ah. Ngapain kek kita, bosen nih gue." Bia mengalihkan pembicaraan. Menatap satu persatu wajah yang ada di sana, seraya mengeluarkan permen karet nya lalu mulai mengunyah benda kenyal itu. "Permen karet ke berapa?" Tanya Reyhan. "Lo rokok ke berapa?" Tanya Bia balik. "Berani banget kamu ngerokok di sekolah!!! Kamu pikir sekolah kawasan rokok!! Mau saya hukum kamu?!!" Tawa semua orang pecah sudah saat mendengar Bia menirukan suara Buk Dewi, jika memarahi kaum cowok yang kepergok merokok di kawasan sekolah. "Hahahahha!!!" "Parah lo Bia." Bia ikut tertawa pelan. "Udah mirip Dewi kematian belum gue?" "Aduh gila deh." Raya meredakan tawa nya. "Trus lo mau kita ngapain sekarang?" Bia membuat balon dari permen karet nya. "Hmmm---ngapain ya, gue juga gak tau. Tawuran lagi?" Raya menghela nafas nya. "Lawan siapa? Atlanta? Dia kan belum cari ribut. Tunggu aja dulu, paling bentar lagi bom pihak mereka meledak." "Kenapa gitu?" Bia mengerutkan dahi nya. Hening sesaat. Bia menatap curiga ke arah kakak kelas nya itu. "Lo ngelakuin sesuatu?" Raya mengusap rambut pendek nya ke belakang. "Ngelakuin apa yang seharus nya kita lakuin. Gue cuman bermain-main dikit aja sama mereka." jawab nya santai. Bia menghela nafas nya, menatap datar ke arah Raya. "Asal lo jangan ngelewatin batas. Yang boleh ngebunuh dia cuman gue." Setelah mengucapkan itu Bia melangkah pergi meninggalkan kantin. Meninggalkan Raya yang menatap punggung Bia yang menjauh. ❄❄❄❄❄❄❄
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD