Sudah 30 menit berlalu, namun Bia tidak juga kunjung sadar. Dahi gadis itu sudah di plester oleh dokter langganan SMA Rising. Untung nya, robek di dahi Bia tidak terlalu parah yang mengharuskan dahi gadis itu di jahit.
Rian menghela nafas nya berulang kali, menatap wajah murid nakal nya itu yang terlihat pucat.
"Saya udah gak bisa hitung berapa kali Bia mengalami cidera seperti ini, setiap kali ikut tawuran."
Rian mengalihkan pandangan nya ke arah wanita berjas putih itu, yang terlihat seumuran dengan nya itu. Dokter muda yang bernama Vera itu, ikut mengalihkan pandangan nya ke arah Pak Rian.
"Bia sering kagak gini Dok?"
Dokter Vera mengangguk. "Iya, saking sering nya saya udah gak bisa ngitungin lagi, udah berapa kali nanganin kondisi dia yang kayak gini."
Pandangan Dokter Vera kembali menatap ke arah Bia. "Sebenarnya saya heran dengan Bia. Entah kenapa gadis ini sangat suka mencari masalah, bahkan di hukum yang paling berat pun dia pernah. Tapi gak pernah bisa berubah."
Dokter Vera menghela nafas nya. "Saya gak nyangka Buk Kirana betah menghadapi siswi seperti ini. Kalau saya jadi Buk Kirana, mungkin lebih baik keluar dari sekolah daripada harus menghadapi siswi yang bandel nya gak ketulungan kayak Bia ini."
Rian baru saja akan menyahut saat pintu uks tiba-tiba di buka dengan cepat. Menampilkan empat orang siswi di sana, tiga di antara nya tampak dengan wajah yang di penuhi dengan lebam dan luka.
"Gimana kondisi Bia?" Itu suara panik Milka, hanya gadis berkacamata itu lah yang tidak terbilat di dalam tawuran tersebut.
Milka berlari ke arah ranjang uks, membuat Rian menggeser tubuh nya ke belakang.
"Kamu tenang Milka! Bia baik-baik saja. Hanya luka goresan." Ujar Dokter Vera, memegang pundak Milka.
Milka mengangguk, dia masih menatap khawatir ke arah Bia yang tak kunjung membuka mata.
Rian menatap Yuna, Rena dan Raya bergantian. Ketiga wajah siswi nya itu tampak dipenuhi lebam dan kuka goresan. "Kalian semua lebih baik pulang!"
Yuna menyorot tajam ke arah Pak Rian. "Bapak apa-apa an nyuruh kita pulang! Itu Bia---"
"Kalian mau di hukum sama Mis Dewi sekarang hm? Kondisi masih sangat kacau karna ulah tawuran kalian, kondisi Bia lagi seperti ini." Potong Rian tajam dengan suara yang naik satu oktaf.
Yuna langsung terdiam, dan saling tatap bersama dengan senior nya---Raya.
"Ya udah Pak kita pulang. Tapi kita titip Bia." Raya bersuara mewakili dua adik kelas nya itu. "Mil!" Dia mengerlingkan kepala nya ke arah Milka.
Milka mengangguk lemah. "Pak Titip Bia ya." Pesan nya pada Rian.
Rian mengangguk, baru lah Milka melangkah keluar menyusul dua teman dan satu kakak kelas nya itu.
Tak lama, Buk Kirana masuk ruangan uks dengan tergesa-gesa. "Bagaimana kondisi Bia pak! Dok!" tanya nya panik, seraya menatap ke arah Bia.
"Kamu tenang Kiran, Bia baik-baik saja. Hanya luka goresan kecil."
Mendengar jawaban Dokter Vera membuat nya bernafas lega. Buk Kirana melangkah ke arah Bia, dia lalu menatap sendu wajah pucat gadis itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi Buk Kirana? Kenapa SMA Atlanta bisa menyerang tiba-tiba seperti itu?" Tanya Rian penasaran. Pasal nya tidak mungkin ada asap, kalau tidak ada api.
Buk Kirana menarik nafas nya perlahan. "Salah satu siswi di SMA Atlanta masuk rumah sakit, gara-gara salah satu anak SMA Rising, saya tidak tau siapa yang melakukan nya. Yang pasti, karna itu siswi Atlanta yang masuk rumah sakit itu, mengalami patah kaki. Karna itu, tadi SMA Atlanta marah dan nyerang SMA kita secara tiba-tiba." jelas nya.
Rian mengusap gusar wajah nya.
"Dan parah nya, kejadian itu di saksikan oleh Mis Dewi." Gumam Buk Kirana lemah, dia lalu kembali menatap Bia yang mata nya masih terpejam. "Saya gak tau apa yang akan terjadi besok nya. Entah hukuman seperti apa yang Bia dan teman-teman nya dapatkan." lanjut nya lemah.
Tangan Buk Kirana terangkat dan mengusap puncak kepala Bia. Kapan kamu akan berubah dan berhenti berontak seperti ini Bia? Batin nya.
❄❄❄❄❄❄❄❄
Bia mengerjapkan mata nya berulang kali, menyesuaikan penglihatan nya dengan cahaya lampu di ruangan tersebut. Hal pertama yang di lihat nya saat membuka mata adalah langit-langit ruangan berwarna putih.
Bia meringis saat merasakan sakit yang luar biasa di kepala nya. Otak nya kembali memflashback apa yang terjadi sebelum dia jatuh pingsan. Dia seketika menghela nafas nya, saat adegan tawuran itu berputar di kepala nya. Dia tadi terkena lemparan batu yang cukup besar dari salah satu anggota lawan nya, saat dia akan mengelak batu itu telah lebih dulu mendarat cantik di dahi nya.
"Udah bangun?"
Sebuah suara mengalihkan pikiran dan penglihatan Bia. Dia menoleh ke asal suara tersebut, mata nya langsung saja bertemu dengan Rian, guru matematika nya itu. Sejak kapan pria ini berdiri di situ?
Bia tidak menyahut, dia memilih kembali mengalihkan pandangan nya ke langit-langit ruangan uks. Dia sedang tidak ingin banyak biacara karna rasa pusing di kepala nya.
Rian yang melihat itu, memilih untuk tidak bersuara lagi. Mungkin gadis itu masih merasakan pusing.
Tak lama, Bia tampak bangun dari posisi berbaring nya lalu turun dari ranjang uks.
"Mau kemana kamu?" Rian bersuara, menatap Bia yang bergegas berjalan keluar uks.
Bia ridak menggubris pertanyaan itu, dia terus berjalan di koridor sepi itu, walaupun kepala nya masih sedikit pusing. Hingga sebuah tangan mencekal pergerakan nya.
"Mau kemana? Kamu gak mungkin pulang dalam kondisi seperti ini." Rian bersuara, membalik tubuh gadis itu agar menghadap ke arah nya.
Bia menatap datar ke arah guru nya itu, lalu dia berdecak pelan. "Eh-gue juga punya otak! Siapa yang mau pulang?"
Rian mengerutkan dahi nya. "Trus kamu mau kemana?"
Bia menghela nafas nya. "Ke tempat yang bisa buat gue tenang. Dan pasti nya bukan di rumah." balas nya dingin.
Bia baru saja akan berlalu pergi, saat Rian kembali menarik nya. Bia menggeram. "Apa sih?! Lo gak usah urus hidup gue?!! Urus hidup lo sendiri!!" Suara Bia naik satu oktaf, dia menatap tajam ke arah Rian.
Rian menatap Bia dengan mata tenang nya. Lalu menarik tangan gadis itu menuju ke arah parkiran.
"Woi! Apaan sih lo??!! Lepas b******k!!" Bia meronta di dalam tarikan Rian.
Namun, Rian tidak ambil pusing. Dia terus menarik Bia, hingga sampai di depan mobil nya. Dia buka pintu tersebut dan di dorong nya Bia masuk ke dalam sana, walaupun dengan sedikit paksaan.
"Apa an sih lo?!! Gue gak mau pulang sama lo?!" Hardik Bia saat Rian telah masuk dan duduk di belakang kemudi. Dia menatap sengit ke arah pria itu.
"Saya hanya melaksanakan amanah dari Buk Kirana untuk mengantar kamu pulang dengan selamat." Balas Rian dingin, dan melajukan mobil nya meninggalkan SMA Rising.
"Turunin gue?!!" Titah Bia tajam.
"Enggak! Kalau bukan di depan rumah kamu!"
"Gue gak mau pulang!"
"Trus kamu mau kemana? Udah lah, rumah kita satu arah jadi gak masalah buat saya."
Bia menggeram dan memukul dashboard mobil tersrbut. "Eh-lo turunin gue sekarang! Lo denger baik-baik, kalau lo bawa gue pulang! Lo akan lihat perang dunia ke tiga di rumah gue!"
Rian termenung, dia lalu menoleh pada gadis itu menatap nya dengan mata bulat itu. Tidak ada lagi tatapan sengit, yang dia lihat hanya tatapan tenang milik Bia.
"Gue lagi males berurusan sama dia. Gue lagi gak mau berantem sama dia. Jadi gue minta, lo turunin gue di sini!" Ujar Bia kembali.
Entah kenapa, Rian tiba-tiba saja menghentikan mobil nya di pinggir jalan. Sebelum Bia keluar dia kembali bersuara.
"Kalay kamu capek, kenapa kamu selalu mencari masalah dan membuat mama kamu kesal. Kamu yang meancing berantem dengan mama kamu Bia." Ucap Rian, menatap Bia.
Bia menatap ke depan dengan datar.
"Gak ada untung nya tawuran, membuat masalah dan memberontak seperti ini. Apa yang kamu cari? Dan satu lagi, hargai ibu kamu." Lanjut Rian dengan nada serius.
Bia tidak menggubris, tanpa mengatakan apa pun dia keluar dari mobil bmw sport itu.
Sementara Rian, terdiam di dalam mobil nya. Berbagai pertanyaan tentang Bia terus berputar di kepala nya. Mata nya lalu menyorot ke arah gadis itu yang berjalan seorang diri, di pinggir jembatan jalan itu.
Satu yang Rian tau. Bia adalah tantangan terbesar untuk nya kini. Kepribadian gadis itu lah, yang membuat nya penasaran.
❄❄❄❄❄❄❄
Setelah cukup lama berjalan di tengah malam yang begitu gelap, dan hanya di terangi lampu jalan. Akhir nya Bia memutuskan berhenti di atas sebuah jembatan yang menghubungkan nya dengan pemandangan sungai.
Bia menatap kosong ke depan sana, membiarkan angin malam berhembus menyentuh permukaan kulit nya. Membiarkan dingin nya malam menyelimuti tubuh nya kini.
Detik berikut nya, Bia merasakan sebuah sentuhan lembut di pundak nya. Tanpa menoleh pun, Bia tau siapa pemilik tangan tersebut.
"Tebakan gue bener. Ternyata lo di sini." Milka bersuara dan memposisikan dirinya di samping Bia, ikut menatap lurus ke depan sana setelah memperbaiki letak kacamata nya.
Bia tidak bersuara, membuat Milka melirik ke arah gadis itu. Dari samping saja, Milka sudah bisa melihat begitu banyak luka goresan dan lebam di sana. Dan jangan di lupakan plester yang bertengger di sudut atas dahi Bia.
"Kenapa lo di sini?" itu adalah suara Bia. Gadis itu bersuara namun pandangan nya masih lurus ke depan.
Milka menghela nafas nya, ikut menatap ke depan kembali. "Karna gue butuh ketenangan. Di rumah sepi, tapi gue gak tenang."
Bia menoleh untuk pertama kali nya, menatap Milka dari samping. Dia dapat mihat tatapan sendu gadis itu. "Semua akan baik-baik aja."
Milka tersenyum mendengar ucapan Bia. "Semoga." gumam nya lirih.
"Dia akan bangun."
Milka terkekeh lirih, tanpa terasa mata nya memanas. "Lo selalu ngomong itu Bi. Lo selalu nyemangatin gue pake kata-kata itu." Dia menoleh pada Bia.
Bia menghela nafas nya, lalu menumpu tubuh nya di pegangan jempatan dengan kedua siku nya. "Karna gue yakin, apa yang awal nya sempurna, akan kembali menjadi sempurna." lirih nya.
Milka menatap Bia. "Udah malam. Lo pulang gih!"
Bia tersenyum sinis. "Pulang? Kemana? Gue bahkan gak punya rumah. Gak punya keluarga."
Suara Bia terdengar rendah di pendengaran Milka. "Lo selalu menganggap lo gak punya keluarga Bi. Tapi----"
"Emang nyata nya gitu. Mau dimana pun gue berada, gak akan pernah ngerubah kenyataan kalau gue emang gak pernah punya keluarga."
Milka menghela nafas nya. Selalu seperti ini. "Gue, Rena, dan Yuna bukan keluarga lo?"
Ucapan Milka membuat Bia tertegun, dia mengangkat kepala nya dan menoleh pada Milka. Gadis berkacamata itu tersenyum. "Mungkin lo gak punya keluarga kandung seperti yang lo bilang. Tapi gue, Rena dan Yuna keluarga lo Bi." dia berucap tulus.
"Karna itu, gue mau lo berhenti Bi. Berhenti membenci, berhenti balas dendam. Berhenti menyimpan segala bentuk dendam dan kebencian Bi." Sambung Milka, dengan mata nya yang berubah sendu menatap Bia.
Semakin ke sini, Milka semakin takut dengan emosi Bia yang gampang sekali meledak. Tepat tadi siang itu, SMA Atlanta menyerang SMA Rising dengan melemparkan sebuah batu yang cukup besar dan tepat mengenai ruangan kelas XI IPA 2, saat itu posisi Bia berada tidak jauh dari koridor. Dengan emosi yang memuncak seketika, Bia balas melempar tim Atlanta dengan batu. Terjadilah tawuran tersebut.
"Dendam itu cuman akan membuat lo puas sesaat, tapi akan buat lo menderita seumur hidup." Milka kembali bersuara, memecah keheningan.
Bia menyeringai. "Gue memilih untuk menderita seumur hidup, daripada harus bahagia, disaat mata gue sendiri gak bisa menatap ke depan dengan tenang." Bia membalikkan tubuh nya, mata nya bertemu dengan mata Milka. "Sebelum gue membalas apa yang mereka lakuin ke gue dulu. Mereka adalah salah satu yang termasuk penghancur hidup gue, setelah keluarga gue sendiri."
Tangan Bia tiba-tiba terkepal kuat, mengingat wajah mereka satu persatu membuat dendam dan kebencian itu semakin bergejolak dan membakar d**a nya.
"Mereka yang mati! Atau gue yang mati." Lanjut Bia tajam.
Milka terpaku di tempat nya seorang diri, pasal nya Bia berlalu pergi setelah mengucapkan itu.
Dendam. Kenapa satu kata itu, selalu hadir di hidup Milka. Menghantui hidup nya dengan rasa takut yang semakin besar di d**a nya.
"Why? Kenapa gue harus hidup di sekitar mereka yang saling membenci. Kenapa?" Milka bersuara lirih, di sertai dengan setets air mata yang mengalir.
❄❄❄❄❄❄❄
Sudah lebih satu jam Rian berdiri di depan pintu rumah nya, menatap rumah di seberang sana yang masih terlihat sepi. Hanya ada dua satpam dan beberapa bodyguard berbadan besar yang berdiri di sana. Sejak tadi, belum ada tanda-tanda orang yang di cari nya tampak memasuki rumah itu.
Rian tersentak saat seseorang menepuk pundak nya. "Rian, kamu ngapain di sini? Udah malem. Tidur sana!" Suara lembut itu terdengar, Rian tau soapa pemilik suata itu.
"Belum ngantuk Ma." Jawab Rian.
Ranti mengikuti arah pandang Rian. "Kamu daritadi mama perhatiin ngeliatin rumah Bella terus. Kenapa?"
Rian menghela nafas nya sejenak. "Tadi Bia tawuran di sekolah."
Ranti seketika membulatkan mata nya, mendengar penuturan putra nya itu. "Trus?"
"Ck, ya gitu dia pingsan gara-gara kena lemparan batu."
"trus sekarang kondisi dia gimana?" Tanya Ranti, terdengar khawatir.
"Tadi sih baik-baik aja. Cuman lecet sama lebam-lebam di wajah doang."
Ranti menghela nafas nya, pikiran nya melayang pada wajah gadis remaja itu. Rian yang melihat mama nya melamun bersuara. "Kenapa ma?"
"Kenapa gak kamu ajak pulang tadi?" dia menatap sendu ke mata Rian. "Dia gadis 16 tahun Rian, emosi nya masih labil. Dia bisa aja ngelakuin hal aneh di luar sana."
"Ma, Rian juga tau. Dan aku tadi udah mau nganterin dia pulang. Tapi dia minta di turunin di pinggir jalan. Ya udah, aku juga gak bisa maksa, mama sendiri kan tau gimana keras nya anak itu."
Ranti terdiam, Rian benar. Bia memang anak 16 tahun, tapi keras nya Bia bahkan melebihi wanita dewasa. Jangan kan Rian, ucapan dan perintah Bella saja yang berstatus ibu nya di abaikam begitu saja oleh Bia.
Ranti tidak menyangka, anak semanis Bia harus menjelma menjadi gadis yang super berandal karna korban perceraian kedua orang tua nya.
"Mama kenapa?"
"Mama---"
"Darimana kamu? Masih inget jalan pulang kamu ternyata?!"
Ucapan Ranti terpotong saat mendengar suara nyaring itu. Baik Rian dan Ranti memfokuskan penglihatan mereka ke seberang jalan itu. Tampak lah di sana, Bella yang seperti nya baru saja pulang kantor, dengan Bia yang tampak nya juga baru pulang.
Bia tampak mengabaikan amarah mama nya itu, gadis itu memilih melangkah masuk. Namun tangan Bia langsung di tarik kasar oleh Bella.
"Masih punya nyali kamu masuk! Di saat wajah kamu seperti ini?!!" Bella mencengkram dagu Bia.
Rian mengekori Ranti, saat wanita paruh baya itu berjalan mendekati pagar. Ranti menatap khawatir di seberang sana, dia dapat melihat Bella yang tampak menahan emosi.
"JAWAB?!! HABIS NGAPAIN LAGI KAMU??!!! TAWURAN!! BERANTEM !! IYA?!!!"
"KALAU IYA KENAPA?!! MASALAH BUAT LO?!!"
Bella menggeram, tangan nya melayang di udara bersiap menampar Bia. Namun, tangan nya seketika di pegang oleh seseorang.
"Bella! Kontrol emosi kamu?!" Ranti dengan cepat tadi beralari dan menahan tangan sahabat nya itu agar tidak memukul Bia.
Nafas Bella terengah, mata nya masih menatap ke arah Bia.
"Bia! Kamu masuk sayang! Jangan lupa obatin luka kamu!" Ranti mengelus pundak Bia, tersenyum hangat ke arah gadis itu.
Bia melirik wanita paruh baya itu. Lalu melirik tangan Ranti yang mengelus pundak nya. Bia menepis pelan tangan tersebut, membuat Ranti termangu sesaat. Di samping Ranti ada Rian yang juga menatap ke arah Bia.
Bia melangkah pergi, tapi bukan masuk ke dalam rumah.
"Mau kemana kamu?!!" Bella bersuara keras. "BIAAA!!"
Ranti menahan tangan Bella. "Jangan! Tenangin dulu diri kamu, Bia gak akan pergi jauh dari sini."
Bella menghela nafas nya kasar. Lalu menjatuhkan b****g nya di atas bemper mobil. Mengusap gusar rambut nya, menetralkan kembali emosional dalam diri nya.
"Bel!"
"Kadang aku mikir Ran, dan kadang aku rasa Bia benar. Aku lah yang merubah dia seperti ini." Lirih Bella, dengan mata menerawang jauh ke depan. Tak terasa air mata itu berlinang begitu saja di kelopak mata nya.
Ranti menatap sendu ke arah Bella. "Semua ada waktu nya Bel."
Bella menghela nafas nya, lalu mengangguk samar.
Sementara itu...
Bia berjalan di pinggir jalan, dengan pandangan kosong ke depan. Membiarkan semilir angin malam yang semakin kencang saja bertiup. Kini, Bia hanya membiarkan kaki nya melangkah, entah kemanapun itu Bia tidak peduli.
Hari ini, Bia merasa dia bukan lah diri nya lagi. Bia merasa lebih rapuh saja malam ini.
Bia melirik dengan ekor mata nya, dia lalu mendengus. "Lo ngapain sih ngikutin gue?" dia bersuara datar.
Rian menghela nafas nya, dia memang berjalan di belakang gadis itu sejak tadi.
"mastiin kamu kalau kamu gak ngelakuin hal aneh." balas Rian. "Tepat jam 11 malam." lanjut nya.
"Trus?" Bia merespon dingin, tanpa membalik tubuh nya menatap Guru nya itu.
"Kamu harus pulang."
"Berapa kali gue bilang, gue gak punya rumah."
Rian menghela nafas nya untuk kesekian kali nya, dia menatap punggung siswi nya itu.
"Saya memang gak tau apa yang terjadi anatara kamu dan mama kamu. Tapi coba lah mengerti, dia hanya mengkhawatirkan mu."
Langkah Bia seketika terhenti, dia memutar tubuh nya dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku jaket kulit nya. Mata dingin nya bertemu dengan mata tenang milik Rian.
"Khawatir?" Bia menyeringai sinis. "Lo orang paling sok tau yang pernah gue kenal!" sinis nya, lalu kembali membalikkan tubuh nya.
Rian menahan tangan Bia saat gadis itu akan kembali berlalu pergi. Dengan sekali tarikan dia berhasil memutar tubuh gadis itu, hingga berbalik menatap nya.
Bia tersentak saat mata nya terkunci dengan tatapan mata Rian. Tatapan mereka bertemu cukup lama. "Saya emang gak tau. Dan terserah kamu mau peduli atau tidak dengan mama kamu. Tapi paling tidak, peduli dengan hidup kamu sendiri."
Setelah mengucapkan hal tersebut, Rian membalik tubuh nya dan berlalu meninggalkan Bia yang terdiam mematung di tempat nya. Mata nya menatap ke arah punggung Rian yang menjauh.
"Paling tidak peduli dengan hidup kamu sendiri."
❄❄❄❄❄❄❄