Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, pagi itu Ken benar benar langsung pergi keluar kota untuk menemui orang tuanya. Di rumah ia disambut oleh Sari Adam, sedang papanya seperti biasa acuh tak acuh. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Ken dan papanya seperti minyak dan air, seperti kucing dan tikus, mereka tak akan pernah bisa bersatu layaknya magnet dengan kutub yang sama jika disatukan. Tak akan pernah bisa menyatu sampai kapanpun. Sari menyuguhkan secangkir teh di hadapan putranya. Wanita paruh baya itu kemudian duduk tepat di samping Kenan. Batinnya sudah merasakan hal ganjal. Ada yang tidak beres, semuanya terlihat jelas hanya dengan melihat Kenan yang tampak sangat berantakan. "Kenapa sendirian Ken? Dara mana?" Tanya Sari. "Sebenarnya Ken kemari untuk mengatakan bebera

