05

2807 Words
"Bu, kemarin Ibu memasukan apa ke teh yang Ibu kasih?" tanya Christ di tengah aktifitas sarapan. "Kasih apa? Ibu tidak kasih apa-apa tuh." Balas Ibu. "Bohong," "Sungguh." "Ck, Ibu jangan begitu dong. Lyla kan belum siap." "Tapi dengan obat itu, tidak peduli Lyla siap atau ti- ups." "Tuh kan! Ibu memasukan obat ke tehnya. Aduh, Ibu yang benar saja, keterlaluan, tega sekali Bu." "Ya ampun, memangnya salah? Kalian kan sudah menikah, tidak apa-apa melakukan itu. Ibu kan mau punya cucu." Lyla yang sebelumnya tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakan Christ dan Ibunya sedari tadi, akhirnya mengerti maksud pembicaraan mereka, dan langsung tersedak. Lyla bukan gadis polos, dia juga belajar tentang biologi dan reproduksi pada saat sekolah kok. Hanya saja Lyla memang tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu, entah efek tidak pernah berkencan, atau tertarik lawan jenis selain Christ. Tapi di akal Lyla benar-benar tidak pernah terbersit hal-hal seperti itu, sehingga dia sering tidak connect saat orang membicarakan hal yang mengarah ke sana. "Aku dan Lyla tidak akan punya anak untuk waktu yang lama." Tutur Christ, yang membuat Ibu shock. "Apa?! Kenapa?!" seru Ibu tak terima. "Aku banyak pekerjaan, begitu pula dengan Lyla. Kitakan satu perusahaan, dan Ibu tahu sendiri perusahaan sedang dalam masa sibuk-sibuknya. Sebentar lagi masuk musim, dan natal. Perusahaan dan mall kita harus mulai merencanakan dan mempersiapkan promosi besar-besaran untuk merayakannya." Ujar Christ. Ibu menghela napas dan mengaduh. "Ya ampun, itu kan bisa dikerjakan yang lain." "Ibu, aku ini Direktur, dan Lyla salah satu karyawan terbaik. Kami berdua sama-sama yang diandalkan di perusahaan." Kata Christ. "Lagi pula aku belum siap jadi Ayah." "Kadang Ibu menguping pembicaraan mu dengan Tania, kau sering menyebut diri mu Daddy ke Tania sesekali, tandanya kau sudah mau jadi Ayahkan?" Lyla melirik wajah Christ yang tiba-tiba merona malu. Christ mengusap wajahnya. "Ibu tidak mengerti maksud ku waktu itu." "Tidak mengerti bagaimana? Jelas-jelas Ibu mengerti, kau itu ingin jadi Ayah." "Ahh, sudahlah Bu. Aku dan Lyla harus bergegas ke kantor sekarang." Kata Christ sambil bangkit berdiri, tapi Ibu tiba-tiba mencengkram lengannya, lalu ia pukuli. "Ihh, buru-buru sekali! Habiskan dulu makanan di piring mu! Sampai piring mu bersih! Kalau tidak Ibu jewer kau!" Christ manyun, dan akhirnya menuruti perintah Ibunya. Lyla tertawa kecil melihatnya, oh, Christ terlihat sangat manis saat sedang cemberut dan jadi anak yang penurut. ••• "Sekarang kau mengerti kan apa yang Ibu campurkan ke tehnya semalam?" ujar Christ, beberapa menit setelah mobil yang ia kendarai dan ditumpangi Lyla menjauhi dari pekarangan rumah. "Obat perangsang?" tanya Lyla dengan tampang watados. Christ menghela napas kesal. "Ya, itu." Gumamnya. "Iihhh, jadi begitu ya rasanya kalau sedang begitu? Memikirkannya lagi membuat ku merinding." Kata Lyla sambil menggosok kedua pipinya. "Tingkah mu semalam juga sangat nakal, aku juga merinding mengingatnya." Timpal Christ. "Tapi kulit punggung mu halus sekali." Christ tertawa kikuk. "Kau ini orang yang blak-blakan ya? Tidak malu hah?!" "Hah, untuk apa malu dengan mu? Meskipun aku menyukai mu, dan sekarang kita sudah menikah, kau tetap tidak akan menyukai ku, pernikahan kita akan berakhir sesuai kontrak. Jadi aku akan bersikap apa adanya dan seenaknya pada mu." "Heh, dasar kau ini, aneh." "Orang berpura-pura agar disukai orang lainkan? Aku tidak berharap kau menyukai ku, jadi aku tidak akan berpura-pura. Aku awalnya mau bersikap manis agar kau jatuh hati pada ku, tapi aku tidak mau menyiksa diri ku untuk yang kesekian kali, dan membuat harapan yang sia-sia!" celoteh Lyla dengan menggebu. Entah mengapa memikirkan ia sempat ingin bersikap manis dan lembut agar bisa meraih hati Christ, membuat Lyla emosi dan geli sendiri. Kalau begitu sama saja dia masih berharapkan? Nanti dia akan sakit hati lagi untuk kesekian kali kalau masih berharap. "Hah, bagus kalau begitu." Respon Christ. "Kau itu sangat aneh. Dari dulu aku perhatikan kau unik." "Kau memperhatikan aku?" "Kalau ada kesempatan. Kau tertawa keras di depan anak laki-laki, membanggakan Kakak mu di depan anak laki-laki, tapi menjelek-jelekkannya di depan anak perempuan. Kalau ada anak yang tampan, kau akan sampaikan pendapat mu dengan mudah, seperti, hei, kau sangat tampan. Tapi kalau ada yang terlihat buruk penampilannya, kau akan memberitahunya secara halus, agar dia bisa lebih rapih." Tutur Christ. "Itu bukan unik, aku hanya bersikap sebagai aku." Ucap Lyla sambil menatap keluar jendela. "Tapi aku selalu pura-pura di depan mu. Aku akan pakai baju bunga-bunga, menata rambut, bahkan bicara sangat lembut pada mu. Padahal itu sama sekali bukan aku." "Tandanya aku memang bukan seseorang yang baik untuk mu, karena membuat mu jadi berpura-pura." Kata Christ. Lyla terdiam. Hah, jatuh cinta memang bisa membuat bodoh ya? Bahkan meskipun tidak nyaman menggunakan baju bunga-bunga, dan melelahkan saat menata rambut, Lyla tetap melakukannya demi Christ. Padahal setelah itu dia tidak mendapatkan apa-apa. "Apa saat aku menolak mu, kau menangis?" tanya Christ. "Kata Kak Thomas, nangis untuk kisah cinta yang gagal itu bodoh. Dan suatu saat kau akan jijik kalau ingat pernah menangis untuk seseorang yang bahkan tidak peduli pada mu." Balas Lyla. "Kenapa kau menjelek-jelekkan Kak Thomas di depan anak perempuan dulu?" Lyla memajukan bibirnya. "Kak Thomas kan sering antar jemput aku ke tempat les, teman-teman jadi tahu dan tertarik pada Kakak ku. Sedangkan aku tahu mana saja anak yang baik dan tidak. Tentu saja aku tidak mau mengenalkan Kak Thomas pada anak yang tidak baik. Tapi agar adil aku buat saja imej Kak Thomas jelek sekalian di depan semua anak perempuan." Christ terkekeh. "Kasihan juga Kakak mu." "Lebih kasihan kalau dia dikerubuni banyak anak perempuan. Kak Thomas tidak suka. Dia sudah jadi idola sejak masuk SMP karena bisa main alat musik, dia pikir itu akan jadi sangat hebat, tapi ternyata malah membuatnya susah." Cerita Lyla. "Aku merasakannya," gumam Christ sambil terkekeh. "Hah, kenapa ya laki-laki di zaman sekarang mudah sekali jadi idola?" "Karena populasi wanita lebih banyak mungkin. Tapi bukannya kau pernah menerima banyak surat cinta di hari valentine?" "Ahh, surat cinta apaan? Itu hanya dari para anak laki-laki menyebalkan yang genit." Tukas Lyla. Christ memasang ekspresi datar, Lyla rupanya adalah tipe orang yang tidak sadar dengan kondisinya sendiri. "Ngomong-ngomong sejak kapan kita jadi ngobrol leluasa begini?" tanya Christ. "Entah, mungkin sejak tragedi teh." Balas Lyla. "Semoga tidak ada kejadian kedua." Ucap Christ. ••• "Bagaimana malam pertama dengan Pak Christ? Lancar?" tanya Elise penasaran. Lyla saat ini tengah makan siang di sebuah restoran di dekat kantor bersama Cora dan Elise seperti biasanya. "Malam pertama? Kau ini yang bener saja. Kamu bertengkar di bath up dan saling siram." Balas Lyla sebelum menyeruput kopinya. "Kok bisa bertengkar?" giliran Cora yang tanya. "Tidak bisa dibilang bertengkar juga, eummhh, apa ya? Pokoknya kami saling siram di bath up, lalu antri mandi. Kita juga tidak tidur satu kasur, dia di karpet, aku di kasur." Kata Lyla. "Kau tidak menyuruhnya tidur di kasur?" kata Cora. "Untuk apa?" "Kok tanya untuk apa? Kau kan jadi terlihat perhatian, jadi nanti Christ bisa mulai menaruh hati pada mu." "Hah, sudahlah. Aku mau bersikap biasa saja padanya, aku tidak mau berharap lagi. Biarkan saja semua mengalir seperti air." "Jadi itu keputusan mu? Padahal sebelum menikah, kau sangat bersemangat dan dengan positif bilang, akan berusaha mengambil hati Christ, selama pernikahan kalian berlangsung." Tutur Elise. "Entah kenapa tadi malam aku berubah pikiran." Kata Lyla, ekspresinya berubah murung. "Bahkan dalam tidurnya Bangcham sepertinya hanya memikirkan Tania." "Jadi aku sadar, apapun yang aku lakukan, tidak akan berhasil." "Dia mengigau soal pacarnya?" tanya Elise, yang Lyla balas dengan anggukan. "Tania, kita tidak benar-benar putus. Kita akan kembali bersama-sama, ck. Apa aku yang harapkan coba?" Elise dan Cora saling berpandangan, mereka kemudian berpindah tempat duduk jadi di kedua sisi tubuh Lyla, untuk memeluknya. Lyla menghentikan makannya, kemudian menundukkan kepala. Tidak, dia tidak boleh menangis. Kak Thomas bilang, dia perempuan yang kuat seperti Ibu mereka. Tidak pernah menangis hanya untuk kisah cinta yang gagal. Tapi justru dia yang harus membuat pria menangis. "Nanti malam ayo kita minum." Kata Cora, yang membuat Elise langsung bersorak girang, tapi itu hanya berlaku beberapa detik. Selanjutnya ia langsung diam kerena mendapat dua pukulan dari Cora dan Lyla. Bagaimana tidak? Sekarang mereka jadi pusat perhatian karena tingkah bocah petakilan ini. ••• Christ berdecak karena Lyla tidak kunjung mengangkat telfonnya. Mereka seharusnya pulang bersama, tapi saat jam pulang kantor Lyla sudah tidak ada. Hari ini Ibunya akan menginap di rumah sakit untuk menjaga Ayahnya, dan sebelum pergi ingin pamitan padanya dan Lyla dulu. Karena untuk beberapa hari ke depan, Ibu sepertinya tidak akan pulang. Letak rumah sakit untuk pengobatan Ayah juga lumayan jauh dari rumah, jadi kalau bolak-balik ke rumah dan rumah sakit, akan sulit. Tapi kalau Lyla menghilang dan tidak bisa dihubungi begini... itu tandanya mereka tidak akan pulang bersama, dan Ibu hanya bisa pamitan padanya. To: Ibu Ibu, besok aku dan Lyla akan mengunjungi Ayah. Sekarang Ibu pergi saja, aku dan Lyla masih banyak pekerjaan, maaf. From: Ibu Huh, ya sudah. To: Ibu Maaf Bu, jangan maaf. Maaf sudah mengecewakan Ibu. From: Ibu Tidak apa-apa, asal kau janji besok datang. To: Ibu Iya Bu, pasti. From: Ibu Kalau kau dan Lyla belum makan malam, Ibu sudah siapkan makanan. To: Ibu Terimakasih Bu. Christ tersenyum tipis. Hah, rasanya sudah lama sekali, hubungannya tidak sebaik ini dengan orang tuanya. Padahal baru beberapa hari putus dengan Tanua, dan baru sehari menikah dengan Lyla. Tapi perubahan besar seolah terjadi. Ia kemudian beralih mengirim pesan ke Lyla. To: Lyla Kau ingat jalan pulang ke rumah orang tua ku kan? Jangan keluyuran lama-lama, cepat pulang. From: Lyla Tutup mulut mu berengsek, tidak usah berlagak kalau kau mengkhawatirkan Lyla! To: Lyla Hei, siapa kau, di mana Lyla? From: Lyla Aku pria yang terobsesi dengan Lyla, hahahaha. Kalau kau tidak mau, dia bisa jadi milik ku. Christ membelalakan mata, ia buru-buru menelfon Lyla, tapi tidak diangkat. To: Lyla Jangan sentuh dia seujung kuku pun! Aku peringatkan. Di mana kau sekarang? From: Lyla Uughhh, takut. Aku tidak peduli dengan ancaman mu tuh, bahkan meskipun kau panggil Polisi. Kalau kau panggil Polisi, kau sendiri yang akan malu. To: Lyla Lyla, jangan bercanda. From: Lyla Aku bukan Lyla, berengsek. Christ berlari ke parkiran mobil, dan dengan cepat bergegas pergi dari kantor. ••• "Buahahahaha, panik sekali dia." Tawa Elise meledak, setelah beberapa saat dia fokus mengotak-atik ponsel Lyla. "Hei, jangan macam-macam dengan ponsel ku!" seru Lyla sembari berusaha menggapai ponsel miliknya dari tangan Elise. Tapi Elise menjauhkan ponsel itu dari sang pemilik. "Cium aku dulu sini kalau mau ponsel mu kembali." Kata Elise. Cora menatap malas kedua temannya yang mulai mabuk. "Pokoknya Lyla dengar! Wanita itu tidak butuh laki-laki! Wanita itu bisa hidup sendiri!" teriak Elise sambil bangkit berdiri dan mengepalkan salah satu tangannya ke udara. "Ya! Kau benar! Hahaha, untuk apa laki-laki?! Toh, kita bahagia meskipun hanya hidup bertiga, iyakan Cora?" kata Lyla sembari memeluk Elise dari samping. Elise pun membalas pelukannya, kemudian mereka saling menggesekan pipi. "Kita punya uang, kita kuat, kita mandiri. Kita juga tidak butuh seks." "Ya, ya, kau benar!" Cora terus menunduk pada pelanggan warung yang lain sambil bergumam minta maaf. "Tapi kadang aku ingin didekap pria berdada bidang dan bertangan besar, huhuhu." Cora menghela napas jengah, kali ini Elise mulai menangis, begitu juga dengan Lyla. "Iyaaa, bagaimana rasanya dicintai pacar?" balas Lyla. "Kita sama sekali tidak pernah berkencan. Lyla, bagaimana kalau kita pacaran?" "Ayoooo..." "Tapi kau tidak punya tangan besar, huaaaaa..." "Kau juga tidak tampan Elise, bahkan kau lebih cantik dari aku, huaaaa!" Seperti ada yang mau meledak di tenggorokan Cora rasanya, melihat tingkah gila Elise dan Lyla. Tapi Cora harus tahan. Dua orang ini sudah cukup membuat wajahnya kebingungan mau ditaruh di mana. Ponsel Lyla yang ada di tangan Elise tiba-tiba berdering dengan kencang, membuat kegilaan Lyla dan Elise terhenti. Saat Elise hendak melihat siapa si penelepon, Lyla sudah lebih dulu merebut ponselnya. Christ menelfonnya. Lyla tanpa ragu mengangkatnya, karena dia pikir tidak ada apa-apa. "Hei! Di mana kau, di mana Lyla?! Jangan sentuh dia, bagaimana pun kau tidak bisa memilikinya! Dia sudah sah jadi istri ku!" ••• Christ meraih tangan Lyla, kemudian menariknya untuk ke mobil. "Ayo pulang," ucap Christ. Tapi Elise tiba-tiba ikut menarik tangan Lyla yang bebas. "Jangan kasar pada Lyla." Kata Elise. "Kalian tidak usah ikut campur." Kata Christ dingin, dan menarik tangan Lyla lebih kuat, hingga pegangan Elise pada tangan Lyla terlepas. Elise hendak mengejar, tapi Cora menahannya. "Aku yakin dia tidak akan melukai Lyla." Kata Cora. ••• Christ hanya diam, sepanjang perjalanan. Begitu pula dengan Lyla. Lyla sesekali akan cegukan, karena efek mabuk. Dia mabuk, tapi sadar situasi saat ini sedang tidak baik. "Apa-apaan ini? Aku panik setengah mati, ternyata kau minum-minum dengan teman-teman mu. Kau tahu betapa menjijikannya tingkah mu ini?" Christ akhirnya mulai buka suara. "Bukannya itu hal yang biasa? Lagi pula aku juga tidak tahu kalau Elise mengerjai mu." Kata Lyla. "Kau tahu tidak Ibu ku malam ini mau ke rumah sakit, dan dia menunggu kita pulang untuk pamit. Tapi kau pergi begitu saja." Kata Christ. "Aku tidak tahu..." balas Lyla sambil menundukkan kepalanya. Dia jadi sangat menyesal. Christ mendengus sembari mengacak rambutnya sesaat. "Setidaknya bilang pada ku kalau kau memang ada acara dengan teman, jadi aku tidak kecarian." Kata Christ. "Aku sudah mau bilang, tapi aku takut mengganggu mu. Aku pikir juga respon mu tidak akan peduli." "Aku memang tidak peduli pada mu, tapi kan kalau kau tidak bilang jadi merugikan aku." "Hah, iyaa..." Lyla menyandarkan kepalanya di kaca jendela, sambil memejamkan matanya. "Lalu Ibu bagaimana, sudah pergi?" "Sudah," Mobil kembali hening. Meskipun sesekali terdengar Christ menggertakan gigi, sepertinya pria itu benar-benar marah. Lyla berusaha tidur karena kepalanya pusing. Dia sebenarnya tidak kuat alkohol, Thomas juga sudah sering melarangnya minum. Tapi hari ini rasanya dia benar-benar ingin melupakan semua yang terjadi tadi malam, juga hari ini. Hah, tapi malah menambah masalah. Sesampainya di rumah, dan mobil sudah terparkir. Christ langsung turun dari mobil, tanpa memedulikan Lyla. Sadar Christ sudah keluar mobil, Lyla dengan kesusahan membuka pintu mobil. Efek alkohol tubuh Lyla lama-lama jadi lemas dan gemetaran, kepalanya terasa berputar-putar, dan perutnya terasa seperti diaduk. Begitu Lyla turun dari mobil, ia jatuh. Christ yang hampir masuk ke dalam rumah, berhenti sejenak, dan memperhatikan Lyla yang sekarang sedang berusaha berdiri sendiri. Christ tidak berniat menolong, karena bagaimana pun, ini salah Lyla sendiri. Tapi saat melihat Lyla hampir muntah di dekat mobilnya, Christ langsung berlari panik menghampiri Lyla. "Hei, jangan muntah di mobil ku!" seru Christ. "Siapa yang mau muntah di mobil mu?" balas Lyla, tak lama ia menutup mulutnya karena tidak tahan menahan gejolak di perutnya. Christ akhirnya dengan sangat terpaksa, menggendong Lyla, dan berlari secepat yang ia masuk ke dalam rumah. ••• Lyla sedang sibuk muntah-muntah di kamar mandi. Sementara Christ ada di dapur untuk menghangatkan makanan yang disiapkan Ibunya. Setelah menyusun makanan yang sudah dihangatkan kembali ke meja makan, Christ bergegas ke kamar untuk memanggil Lyla. Tapi saat ia sampai di kamar, yang ia lihat malah gadis itu sudah berbaring di kasur. Ah, sepertinya tidak sekedar berbaring, tapi tidur. Padahal Lyla masih belum ganti baju. Christ mendengus, dia mau keluar kamar dan kembali ke dapur. Tapi entah kenapa Christ merasa ragu untuk membiarkan Lyla tidur dengan kondisi seperti itu. Hah, tapi masak iya dia menggantikan baju Lyla? Christ menggaruk pelipisnya, ia akhirnya kembali masuk ke kamar dan menghampiri Lyla. Christ membuka kaos kaki, dan blazer yang dikenakan Lyla. Ia juga melepas anting panjang yang Lyla kenakan. Kalau tidur menggunakan anting-anting seperti ini, pasti tidak nyaman, ada kemungkinan rambut Lyla juga akan tersangkut. Lyla tiba-tiba membuka matanya, membuat Christ terkejut. Tapi Lyla hanya diam sambil menatap Christ yang sedang melepas antingnya. "Hei, apa yang dimiliki Tania? Sampai-sampai kau sangat menyukainya." Kata Lyla pada akhirnya, setelah cukup lama ia hanya diam. "Sama seperti mu menyukai ku, aku tidak punya alasan spesifik." Balas Christ, sembari meletakan anting yang berhasil ia lepas ke atas meja nakas. "Apa karena Tania cantik dan sexy?" "Aku bahkan tidak pernah memikirkan tentang itu." "Bohong. Bagaimana pun pria itu yang pertama kali dilihat adalah visualnya." "Yah, memang. Tapi kan itu awal-awal saat pertama kali bertemu Tania, sekarang aku tidak lagi memikirkan soal bentuk fisiknya. Dia wanita yang mandiri dan tegar, meskipun kadang menyebalkan. Tapi yah wajarlah, memangnya Tania malaikat yang hatinya seratus persen bersih?" Celoteh Christ. "Lalu bagaimana dengan ku? Apa dari ku tidak ada yang sukai sama sekali?" tanya Lyla. Christ menatap Lyla, yang sedang menatapnya dengan tatapan sayu. "Tidak," ucap Christ sembari bergegas keluar kamar. ••• Lyla terbangun, dan menemukan Christ sedang meletakan cangkir di atas meja nakas. Sadar Lyla sudah bangun, Christ pun menolehkan kepalanya ke arah Lyla. "Itu teh lemon, cepat diminum sebelum dingin. Hari ini kerjaan akan sangat banyak, kau tidak boleh izin tidak masuk." Tutur Christ. Lyla bangkit duduk, sembari meringis kecil karena merasakan nyeri di kepalanya. "Sudah begini, masih mau minum-minum?" tanya Christ, yang Lyla balas dengan gelengan. "Kita juga akan pulang lebih awal untuk menjenguk Ayah ku, jangan lupa kemasi barang, karena kita akan pindah ke rumah ku. Tapi kalau kau tidak nyaman tinggal bersama ku, aku akan sewakan apartemen." "Aku mau tinggal dengan mu saja." Kata Lyla. "Kenapa?" "Kalau aku punya tempat tinggal baru, aku harus beres-beres. Malas." "Hah, dasar kau ini." "Kita akan punya kamar sendiri-sendirikan di rumah mu?" "Ya, tentu saja." Lyla menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang, ia kemudian meraih cangkir berisi teh lemon yang sudah disiapkan Christ. Sementara Christ duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponselnya. Lyla sesekali melirik pria itu yang tampak sedang sangat serius, sambil menyeruput tehnya. "Ekhem, Christ, soal semalam aku benar-benar minta maaf." Ucap Lyla, setelah sekian lama terdiam. "Ya," balas Christ singkat, yang membuat Lyla mengerucutkan bibir. "Kau benar-benar masih marah pada ku ya?" Christ menolehkan kepalanya ke arah Lyla, tapi tidak memberi respon apapun. "Kerja saja dengan benar." Ucap Christ kemudian, yang membuat perasaan Lyla mencelos. ••• Lyla terus diam dan hanya termenung selama perjalanan menuju kantor. Entah kenapa, padahal ia dan Christ jadi dekat seperti ini, tapi Lyla malah merasa mereka semakin menjauh. Harusnya Lyla semalam tidak perlu memastikan, apa dia sama sekali tidak masuk ke dalam kriteria Christ? Hah, dasar Lyla bodoh. Masih mending kalau mabuk, Lyla akan lupa segalanya. Tapi Lyla selalu ingat kejadian yang dia alami saat mabuk, meskipun tidak terlalu jelas. Christ juga dari tadi memilih diam, tidak ada niatan sama sekali untuk mengajak Lyla bicara. Ddrrttt... Lyla tersentak saat ponselnya tiba-tiba berdering. Ia segera meraih ponselnya yang ada di dalam tasnya. Thomas menelfon. "Halo Kak," "Sedang apa?" "Berangkat kerja." "Aku kira kau cuti, dan merencanakan bulan madu dengan Christ, kau bilang Ibu Christ sudah membelikan tiket bulan madukan?" "Yah, entahlah. Ibu sih menyuruhnya kita pergi, tapi tidak tahu. Sebentar lagi musim dingin dan natal, banyak yang harus dipersiapkan untuk menyambutnya." "Oh iya sih." "Ada apa Kakak menelfon?" "Memangnya kenapa kalau aku telfon? Kau tidak rindu pada ku?" "Tidak, kita baru tidak bertemu dua hari." "Astaga, teganya kau ini." "Jadi ada apa? Sebentar lagi aku akan sampai kantor." "Ck, teman lama mu datang." "Huh? Siapa?" "Kim William namanya, dia bilang teman mu di tahun terakhir SMA." Lyla terdiam sejenak mencoba mengingat-ngingat. Di tahun terakhir SMA sepertinya dia jarang punya teman karena sibuk belajar. "Oh! Aku ingat! Guru di tempat bimbel ku!" "Guru bimbel mu waktu SMA? Hei, yang benar saja? Dia masih sangat muda." "Dulu memang ada Guru yang masih mahasiswa. Lagi pula dia tidak mengajar aku, tapi anak-anak SMP." "Oh begitu. Dia bilang baru pulang dari mana gitu, dan mau bertemu dengan mu." "Hari ini tidak bisa, aku sibuk sekali hari ini. Tolong kirimkan kontaknya saja." "Oke, oke." "Kalau begitu sudah dulu ya? Aku sudah sampai di kantor. Eh, Kakak juga harusnya kerja kan?" "Aku mau berangkat dari tadi, tapi dia datang." "Ohh begitu." "Kakak akan kirim kontaknya, sudah dulu." Thomas langsung memutus sambungan telfon, sebelum Lyla menjawab. Lyla berdecak, sambil menolehkan kepalanya ke arah Christ. Ia tersentak melihat Christ yang tengah menatapnya tajam. "Apa?!" seru Lyla. Christ tidak menjawab, ia keluar begitu saja dari mobil, membuat Lyla mendengus. Christ aneh sekali, sepertinya suasana hatinya benar-benar buruk.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD