01
Namanya Christopher, atau bisa juga disapa Christ, usianya dua tahun di atas ku. Aku mengenalnya sejak SMP. Iya, hanya mengenal. Dia populer, berkat wajah dan prestasinya, makanya aku hanya bisa melihatnya dari jauh.
Dari SMP sampai masuk perguruan tinggi, kami selalu masuk sekolah dan universitas yang sama, tapi Christ hanya tahu nama ku. Bisa tahu, karena kami satu tempat latihan nyanyi waktu SMA kelas satu, dan pernah berduet bersama.
Momen saat aku berduet dengannya, benar-benar momen yang sangat berharga. Karena waktu itu aku sudah menyukainya.
Entah sejak kapan, mungkin sejak aku melihatnya nyanyi sambil main keyboard, dan tersenyum.
Jujur, aku sepertinya bahkan sudah kecanduan dengan senyumannya. Setiap hari harus membuka media sosialnya dulu, dan melihat fotonya saat sedang tersenyum, baru semangat menjalani hari.
Kadang aku berpikir aku mengerikan, dan sudah keterlaluan, takut, takut, aku sebenarnya terobsesi, bukan suka. Bahkan tidak peduli berapa kali Christ pacaran dengan perempuan lain, aku masih tetap menyukainya. Dan di usia ku yang ke 24 tahun, aku bahkan masih melajang, dan sama sekali tidak pernah pacaran.
Tapi bukan berarti aku tidak berusaha berhubungan dengan pria lain. Sudah sering kok, tapi gagal, karena ujung-ujungnya yang aku pikirkan hanya Christ.
Di kelulusan SMAnya, dan pertengahan kuliah, sebenarnya aku sudah pernah menyatakan perasaan ku pada Christ, tapi dia tolak.
Katanya dia sudah punya orang yang disukai.
Yah, sebenarnya setelah ditolak aku jadi tidak berharap apa-apa lagi padanya, tapi menghilangkan perasaan suka ini juga tidak mudah.
Jadi aku berusaha menikmati rasa suka ini meskipun bertepuk sebelah tangan, toh tidak mengganggu kehidupan ku. Aku hidup normal meskipun tanpa pasangan.
Lulus sekolah dan kuliah dengan prestasi rata-rata, punya pekerjaan bagus, dan teman-teman yang baik. Kalau aku harus hidup tanpa pasangan sampai mati pun tidak masalah.
Yah, itu pikir ku. Sampai akhirnya aku mendengar pertengkaran orang tua ku, aku tidak tahu awal mula mereka bertengkar karena apa. Karena aku baru selesai mandi waktu itu. Tiba-tiba keluar dari kamar mandi, sudah mendengar Ayah dan Ibu ribut.
Tapi dari yang ku dengar, Ayah terus menyalahkan Ibu, karena aku tidak kunjung punya pasangan sampai sekarang.
Saat suasana sudah tenang, aku sudah menjelaskan kalau aku baik-baik saja tanpa pasangan.
Dan jawaban Ayah. "Kamu baik-baik saja, tapi Ayah tidak. Ayah sekarang sakit, tidak ada yang bisa melindungi Ibu dan kamu nanti setelah Ayah meninggal."
"Ayah ini bicara apa? Lagi pula aku dan Ibu kan perempuan tangguh, masak Ayah bicara begitu? Seolah-olah kami jadi remeh." Balas ku.
"Ayah tahu kalian wanita tangguh, tapi tetap saja Ayah jadi tidak tenang."
Yah, memang sih kadang ada situasi berbahaya, yang tidak bisa aku dan Ibu ku atasi sendiri.
Tapi aku mau menikah dengan siapa?
Oh, apa aku sudah memberitahu? Kalau aku sebenarnya bekerja di perusahaan milik Ayah Christ. Christ sendiri posisinya Direktur utama di sini.
Ini bukan karena aku sengaja, tapi kebetulan. Waktu itu lamaran kerja ku diterima di tiga kantor sekaligus, salah satunya perusahaan Ayah Christ ini. Tanpa perlu menimang-nimang lagi, tentu saja yang aku pilih perusahaan Ayah Bang Christ.
Meskipun aku tidak sering bertemu langsung dengannya, karena posisi ku hanya karyawan biasa.
Yah, lagi pula mau apa kalau sering ketemu? Toh, dia sudah punya pacar. Meskipun gosipnya, hubungan mereka tidak direstui keluarga Christ. Karena pacarnya seorang selebriti.
Iya ya, sekelas Christ, sudah pasti pacarnya juga akan berkelas.
Aku pernah melihat pacarnya di salah satu drama, dia sangat cantik, meskipun selalu dapat peran angkuh.
Yah, tapi yang di drama dan di kehidupan nyata kan beda.
Tapi rupanya karena hubungan mereka yang tidak direstui, aku malah jadi terlibat dengan hubungan mereka.
•••
"Tebak aku sudah minum berapa gelas?" Lyla dan Cora hanya bisa menatap datar Elise yang pipinya sudah merah padam.
"Sudah aku bilang jangan minum!" gertak Cora, yang membuat Elise langsung cemberut.
"Kenapa aku selalu dilarang minum? Aku kan penasaran." kata Elise.
"Ahh anak ini..." dengus Cora kesal sebelum meneguk sodanya.
"Hei, sudah dengar belum kalau Pak Bang kena stroke?" tanya Cora pada Lyla.
"Oh iya aku sudah dengar, gara-gara apa? Sepertinya dua minggu lalu dia masih tampak sehat-sehat saja." Ujar Lyla.
"Bagaimana pun dia sudah tua, dan ada penyakit jantung. Katanya sih karena Pak Direktur, alias anaknya sendiri mau menikahi pacarnya." Celoteh Cora.
"Gila yaa... padahal pacarnya kan karirnya sebagai selebriti lagi di puncak, kok malah mau nikah?" timpal Elise sembari menopang pipinya.
"Naik daun apanya? Dia terkenal karena pacaran dengan Direktur." Respon Cora dengan mata melirik Elise sekilas.
"Tapi hal ini menguntungkan untuk mu kan La? Jadinya Pak Christ belum menikah juga." Kata Elise.
"Memangnya dengan begitu aku jadi ada kesempatan?" balas Lyla.
"Yaa... tidak sih." Gumam Elise. "Lalu kau masih mau melajang? Bukankah Ayah mu meminta mu untuk segera menikah?"
"Entahlah, aku pusing. Sekarang adik ku yang laki-laki mau masuk universitas, Ayah ku sudah pensiun, dan uang pensiunan tidak seberapa, jadi sekarang yang membuat ku pusing adalah biaya kuliahnya juga biaya untuk hidupnya nanti di sana. Aku sudah pernah bilangkan, adik ku diterima di universitas luar negeri." Tutur Lyla. "Gaji ku sebagai pegawai biasa, hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari."
"Adik mu tidak kau suruh kerja saja?" tanya Cora.
"Dia tidak multitasking. Kalau belajar sambil kerja, malah jadi kacau dua-duanya. Karena dia tidak bisa fokus pada dua hal. Waktu SMA kan dia sudah pernah coba kerja paruh waktu, nilainya yang selama ini dia jaga, langsung anjlok." Kata Lyla.
"Mau kami bantu?" tawar Cora.
"Nanti saja kalau kalian sudah naik jabatan." Kata Lyla.
"Kok kalian? Memangnya aku ada niatan bantu?" timpal Elise, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Cora.
•••
Katanya Ayahnya sedang stroke, tapi dia tampak berusaha bersikap baik-baik saja di depan karyawan. Bahkan tetap menyapa.
Lyla yang baru datang, tercengang karena Bang Christ baru saja menyapanya, sambil tersenyum, bahkan menyebut namanya.
"Pagi Lyla, hari ini sepertinya kau berangkat agak siang ya?" ujar Bang Christ, sembari berdiri tepat di depan gadis berambut gelombang dengan warna hitam itu.
"A- a- i-itu, maaf Pak, aku memang... sedikit agak kesiangan bangunnya, karena semalam makan-makan dengan teman." Kata Lyla.
"Wah, sepertinya asik ya?"
"Maaf Pak,"
"Hahaha, tidak masalah kok. Kita ini dulu teman satu sekolah, les nyanyi dan... kampuskan?"
"Oh iya benar. Aku kira Bapak lupa."
"Tentu saja aku ingat, apa lagi kau pernah menyatakan perasaan mu dua kali."
Mata Lyla menyipit dengan telinga yang memerah. "Ah, aku jadi malu."
"Oh, maaf. Aku waktu itu merasa tersanjung sebenarnya, jadi aku merasa senang membahasnya, hehe. Maaf sudah membuat mu malu."
"Tidak apa-apa Pak,"
"Jam makan siang ada waktu?"
Mata Lyla berubah jadi melebar. "Me-memangnya ada apa ya Pak?"
"Mau makan siang dengan ku?"
•••
Lyla tidak mengerti apa yang terjadi. Setelah makan siang pertamanya dengan Christ, Christ jadi sering menemuinya, bahkan menghubunginya.
Waktu pertama kali Lyla makan dengan Christ, Lyla mengajak Cora, karena tidak berani kalau menemui Christ sendiri. Berkali-kali Lyla juga harus ke kamar mandi karena gugup, dan membuat perutnya jadi sakit.
Kalau Christ begini, Lyla jadi bisa berharap lagi. Tapi saat ia hendak begitu, Lyla langsung menyadarkan dirinya sendiri, kalau dia tidak boleh begitu. Bisa saja Christ melakukannya karena mereka teman lama, atau... merasa bersalah karena dulu pernah menolaknya. Mungkin.
Siang ini Christ mengajak Lyla untuk makan siang lagi, tapi tidak boleh bawa teman.
"Jadi bagaimana, mau tetap kau terima?" tanya Cora sembari membereskan berkas-berkas di mejanya. Kebetulan meja Cora dengan Lyla bersebelahan.
"Eummm... yah, tentu saja." Balas Lyla.
Bibir Cora melengkung ke bawah, disertai alis yang bertaut dan kening mengkerut. "Entahlah, hanya perasaan ku saja atau memang... ini terasa aneh. Bagaimana kalau Christ mendekati mu selama ini karena punya maksud tertentu?"
"Maksud tertentu bagaimana?" tukas Lyla dengan nada sedikit tidak terima.
"Yah, itu kan hanya perasaan ku. Habis aneh, dia tiba-tiba mendekati mu begitu." Tutur Cora.
"Aku kan teman lamanya, ah, bukan teman juga sih. Hanya adik kelas yang pernah satu tempat les,"
Cora meletakan dagunya di atas papan pembatas mejanya dengan Lyla.
"Jadi dia mendekati mu untuk apa?" tanya Cora.
"Untuk berteman?" tebak Lyla dengan ekspresi tak yakin, mendengar perkataannya sendiri.
"Hah, yah, aku harap memang begitu." Gumam Cora. "Kalau dia menawarkan sesuatu yang tidak masuk akal, kau jangan menerimanya ya?"
Lyla terkekeh kecil. "Tentu saja, lagi pula dia tidak akan mungkin melakukan itukan?"
Cora menggelengkan kepalanya sembari menggendikan bahu.
"Kalau begitu aku akan makan siang dengan Elise, ingat pesan ku ya?"
Lyla menganggukan kepalanya, dan membiarkan Cora pergi.
Meja Elise berada di lantai lain, tidak sama dengan Lyla dan Cora. Jadi biasanya Cora dan Lyla yang menghampiri Elise, atau sebaliknya, saat jam makan siang.
Setelah membereskan meja dan penampilannya, Lyla pun bangkit berdiri, dan bergegas pergi ke restoran yang ada tak jauh dari kantor. Tempat ia janjian makan siang dengan Christ.
•••
Suasana makan kali ini, terasa lebih canggung dari biasanya. Karena Christ rupanya memesan ruang VIP.
Di tengah acara makan, Christ akhirnya buka suara, setelah cukup lama terdiam.
"Sebenarnya aku ingin minta tolong," suara Christ sukses mengalihkan Lyla dari makanannya.
Ia menatap Christ dengan tatapan bertanya.
"Minta tolong?" tanya Lyla, yang dibalas anggukan oleh Christ. "Minta tolong apa?"
"Kau pasti tahu Ayah ku kena stroke, dia tidak mau menjalani pengobatan, sebelum aku memutuskan hubungan dengan Tania. Aku sudah bilang, kalau aku sudah putus, tapi dia tidak percaya sebelum aku menikahi wanita lain." Tutur Christ.
"Jadi?" Lyla bertanya lagi dengan hati-hati. "Apa maksud Bapak?"
"Aku tahu ini terdengar mendadak, aneh, terburu-buru dan... dan jahat sekali. Tapi mau kah kau menikah dengan ku?"
Lyla seketika tersedak ludahnya. "Ya? Apa?" respon Lyla bingung.
"Yah, sudah pasti reaksi mu begitu. Tapi pernikahan ini tidak selamanya, hanya setahun sampai Ayah ku selesai berobat. Aku akan membayar mu kok,"
"Mendengar Bapak akan membayar ku jadi terdengar lebih jahat. Bapak pikir aku p*****r?"
"Bukan begitu maksud ku. Pernikahan ini akan berjalan di depan orang tua ku juga, ahh... tentu saja kita mendaftarkan pernikahan kita juga secara resmi. Tapi... tidak selamanya. Kau pasti pernah mendengar tentang pernikahan kontrak kan?"
Lyla mengangkat sebelah tangannya, untuk memberi isyarat, agar Christ berhenti bicara dulu.
"Karena aku menyukai Bapak, jadi Bapak menawarkan hal ini pada saya?" tanya Lyla. Christ tidak menjawab, yang menandakan 'iya'.
"Lalu setelah menikah dengan aku, apa Bapak masih akan menjalin hubungan dengan Tania?"
"Aku tidak pernah bilang memutuskan hubungan dengan Tania, ini hanya untuk di depan orang tua ku, di depan keluarga ku, karena selama ini mereka tidak pernah setuju dengan hubungan ku dan Tania."
Lyla tidak memberi respon apa-apa lagi, ia langsung mengenakan tasnya, dan beranjak berdiri. Membuat Christ otomatis ikut berdiri.
"Hei, tolong pikirkan penawaran ku." Ucap Christ.
Lyla menatap jengkel Christ. "Anda pikir pernikahan itu main-main?"
Christ menghela napas. "Aku tahu ini terdengar jahat dan tidak masuk akal, tapi tolong bantu aku. Aku juga akan membantu mu. Kau bisa memberi ku persyaratan apapun." Mohon Christ.
"Syarat pertama sudah jelas, anda tidak boleh berhubungan sementara dengan Tania. Lagi pula apa Tania menyetujui rencana gila ini?"
"Justru aku sudah bicara dulu sebelumnya dengan Tania, sebelum bilang pada mu."
Lyla menghela napas, ia tidak merespon lagi dan hendak keluar dari ruangan.
"Tolong pikirkan lagi." Ucap Christ, sebelum Lyla benar-benar keluar ruangan dan menutup pintu.
•••
"Ah, kau sudah pulang La?" sapa Ibu saat Lyla baru saja masuk ke dalam rumah.
Lyla membalas sapaan Ibu, hanya dengan tersenyum lesu. Ia kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya, setelah meletakan sepatunya di rak.
Ibu pun pergi menyusul Lyla ke kamarnya, tapi Lyla sudah keburu menutup pintunya. Ibu akhirnya mengetuk pintu kamar Lyla.
"Makan dulu Lyla, kau belum makan malam kan?" tanya Ibu.
"Iya Bu!" sahut Lyla.
Sekitar 30 menit Lyla di kamar, sampai akhirnya gadis itu keluar dengan makeup yang sudah bersih dari wajahnya, dan baju yang sudah ia ganti.
Ia segera ke dapur, dan duduk di salah satu kursi meja makan. Sudah ada Ayah, Kakak dan adik laki-lakinya yang duduk. Iya, Lyla itu anak tengah, dia punya Kakak laki-laki yang masih belum mendapat kerja, dan adik laki-laki yang sebentar lagi akan masuk kuliah.
"Kak, bagaimana hari ini? Sudah dapat pekerjaan?" tanya Lyla.
Thomas, nama Kakak Lyla tidak langsung menjawab, ia terlebih dahulu mengemut jari telunjuknya yang tidak sengaja kejatuhan nasi.
"Besok katanya wawancara, doakan saja." Balas Thomas.
"Yah, semoga kali ini tidak gagal lagi. Kau harus minum obat penenang sepertinya sebelum wawancara, agar tidak mudah emosi kalau ada pertanyaan tidak masuk akal lagi." Ujar Ayah.
"Iya, nanti Kakak tidak diterima kerja lagi." Timpal Leon, si bungsu.
"Aduh, iya, iya!" sahut Thomas.
"Keuangan kita semakin menipis, jadi mulai sekarang kita harus hidup hemat, dan Thomas, kau harus bekerja lebih keras." Tutur Ibu.
"Iya, Bu, iyaaa... lagi pula bukannya aku tidak kerja keras, semuanya kan sudah melihat bagaimana aku berusaha untuk mendapatkan kerja." Sungut Thomas.
"Tapi ekonomi kita memang sedang benar-benar tidak bagus ya Bu?" tanya Lyla.
"Iya. Ibu dan Ayah sedang berusaha menyisihkan uang untuk Leon kuliah nanti." Balas Ibu.
Leon seketika memasang raut wajah merasa bersalah dan menyesal.
"Maaf ya, gara-gara aku." Ucap Leon.
Lyla mengelus kepala Leon. "Bukan salah mu." Ucap Lyla.
Lyla kemudian terdiam, entah kenapa dia tiba-tiba kepikiran dengan tawaran Christ.
'Tapi yang benar saja?'[]