From: Pak Christ
Jadi bagaimana? Apa kau sudah coba untuk memikirkannya?
Lyla tidak menjawab pesan Christ, hanya ia baca.
Tok, tok, tok. Pintu kamar Lyla tiba-tiba diketuk. Kalau ketukan brutal seperti ini, Lyla sudah bisa pastikan kalau yang mengetuk pintunya, adalah sang Kakak.
"Lylaaa... Seo Christg Lylaaa!!!" benarkan, yang mengetuk pintunya memang Thomas.
"Akkhhh! Jangan panggil aku dengan nama depan mu bodoh!"
"Itu nama mu bodoh!"
"Nama ku hanya Lyla Seo."
"Kau saudara Seo Thomas! Bukan Johnny Seo!"
"Aku tidak suka jadi adik mu!"
"Ibu! Ibu dengar tidak apa yang Lyla bilang? Coret saja dia dari kartu keluarga! Dia tidak mau mengakui aku yang tampan melebihi Johnny Seo NCT itu Kakaknya!"
"Aduh, kalian ini seperti anak kecil saja sih!"
"Lyla! Buka pintunya!"
Lyla berteriak frustasi. Ia turun dari ranjang, kemudian membuka pintu kamarnya, sambil memasang ekspresi datar.
"Apa?!"
"Ternyata besok aku interview di kantor mu loh."
Mata Lyla melebar. "Yang benar saja?! Masak kita mau sekantor?!"
"Memangnya kenapa? Bukannya bagus? Aku jadi bisa menjaga mu." Kata Thomas.
"Aku tidak mau."
"Pilih, lebih baik aku masih nganggur, atau kita sekantor?"
Lyla menggembungkan pipi. "Kenapa juga kita harus sekantor sih?"
"Ini namanya takdir."
"Heh? Takdir?" gumam Lyla sinis.
"Iya, kau benar-benar tidak senang ya?"
"Tidak,"
Thomas langsung memasang ekspresi sedih serta memelas.
"Ya sudah aku akan tolak tawaran interview nya, kalau itu memang membebani mu." Kata Thomas sambil menundukan kepala.
"Akhir-akhir kau main dengan Hwang Hyunjin ya?" Thomas tidak menjawab, ia pura-pura nangis sambil memegangi dadanya.
"Aahh! Terserahlah! Silahkan saja kalau mau kerja di kantor ku, aish, banyak drama. Aku mau istirahat." Gerutu Lyla, sebelum akhirnya kembali masuk ke kamar dan menutup pintu.
"Siapkan baju untuk ku! Yang sekiranya cocok dengan perusahaan!" seru Thomas.
"Ah, dasar." Dengus Lyla. "Iya! Iya! Sudah jangan berisik!"
•••
"Semangat anak ku sayang."
"Pasti Ayah!"
"Berlebihan," cibir Lyla.
"Ck, kau ini, dukung dong Kakak mu." Kata Ayah.
"Aku selalu mendukungnya, tapi kan dia selalu gagal karena sumbu pendek." Balas Lyla.
"Ya Tuhan, jadi sekarang kau tidak mau mendukung ku?" kata Thomas.
"Kalau Kakak cuman jadi OB, Kakak tetap mau terima?" tanya Lyla.
"Aku tidak mungkin ada di posisi itu, aku kan sarjana." Balas Thomas. "Lulusan universitas terbaik lagi."
"Aku lulusan universitas biasa, sudah lebih dulu kerja dari pada Kakak."
Ayah dan Ibu mendengus. "Kalian ini ya, tidak bisa ya sehari saja tidak bertengkar?" kata Ayah dan Ibu secara bersamaan.
"Tidak!" balas Lyla dan Thomas serempak.
"Kalian ini minta Ayah jewer? Cepat habiskan sarapan kalian, dan berangkat, nanti telat."
Karena hari ini pergi dengan Thomas, jadi Lyla tidak akan naik bis, melainkan naik motor. Motor vespa hitam kesayangan Thomas.
"Orang-orang di sana tidak anehkan?" tanya Thomas sambil menyerahkan salah satu helm yang dipegangnya pada Lyla.
"Tidak ada orang yang aneh kecuali kau."
"Astaga kau ini, bisa tidak sih bicara pada Kakak mu ini huh? Kalau kau memang membenci ku, cari Kakak lain sana. Aku kan sedang tegang, harusnya kau hibur aku dong."
"Iya, iya, Kakak ku yang dipenuhi aura dark, yang swag, semangat ya buat interview- nya."
"Begitu dong, peluk, peluk." Kata Thomas sembari merentangkan kedua tangannya.
"Tidak, terimakasih."
•••
Christ mengernyitkan keningnya saat melihat Lyla yang datang dengan seorang pria.
Sontak langkahnya yang hendak masuk ke kantor terhenti. Ia berdiri di depan parkiran motor, dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Lyla!" dua orang yang Christ tahu sebagai teman Lyla, tak lama datang dan menghampiri Lyla serta pria itu.
"Ah Kak Thomas, kami shock tahu kau akan kerja di sini." Ujar salah satu teman Lyla berambut panjang.
"Lucu ya Kakak beradik akan kerja di satu perusahaan yang sama." Timpal teman Lyla dengan rambut pendek.
"Masih belum tentu, dia kan baru akan wawancara." Balas Lyla.
"Hei! Doakan aku lolos dong!" seru Thomas.
"Iya, iya. Sudah ayo masuk." Kata Lyla.
Saat baru keluar dari parkiran motor, Lyla tersentak karena menemukan Christ di depan parkiran.
Lyla langsung buang muka, dan jalan duluan dari pada Kakak dan dua temannya.
Membuat Kakaknya mengernyitkan kening, begitu juga dengan teman-temannya.
•••
"Hari ini biar aku saja yang urus wawancara untuk karyawan baru." Ujar Christ sembari mengambil berkas-berkas yang ada di tangan Sekretarisnya.
"Loh? Itu kan bukan tugas Bapak." Kata sang Sekretaris.
"Untuk kali ini biar aku saja yang melakukannya, sekalian aku bisa atur calon-calon pegawai ini cocoknya di mana."
"Oh begitu Pak, baik."
"Nanti suruh mereka langsung ke ruangan ku."
Setelah berkata demikian, Christ kemudian bergegas ke ruangannya. Ia harap rencananya kali ini berhasil.
Dia tahu ini akan sangat jahat, nanti Christ akan berusaha memperbaikinya. Yang penting dia harus menikah dulu dengan orang lain, agar kondisi Ayahnya bisa stabil.
•••
Thomas sebenarnya tercengang, melihat bagaimana perlakuan manis Christ padanya.
Thomas jadi punya firasat yang kurang baik, jangan-jangan...
Jangan-jangan Direktur ini menyukainya?
Thomas seketika merinding.
"Eum, jadi kau Kakak Lyla ya?" tanya Christ, setelah mengajukan semua pertanyaan utama pada Thomas sebelumnya.
"Iya, aku Kakak kandung Lyla. Oh, jadi anda tahu adik saya toh?"
"Tentu saja, dia kan karyawan saya di sini. Ditambah Lyla itu sebenarnya dulu satu tempat les nyanyi dengan saya."
Mata Thomas melebar. "Oh begitu, wah keren."
"Selain itu... saya juga sebenarnya sudah memperhatikan Lyla sejak lama. Baru-baru ini saya melamarnya, tapi dia tolak."
"Apa?! Astaga, bagaimana bisa dia menolak anda?!"
"Saya juga tidak tahu kenapa, mungkin sebagai Kakaknya, kau bisa membujuknya."
"Eum, tapi maaf Pak, tapi perasaan itu kan tidak bisa dipaksakan. Kalau adik saya memang tidak menyukai Bapak, saya tidak bisa memaksa."
Christ langsung menunjukan raut wajah kecewa. "Yah, sayang sekali, padahal kalau anda mau membantu saya, saya bisa langsung memberi jabatan tinggi pada anda."
"Hah? Yang benar?"
"Tentu saja."
"Tapi bukan kah kalau begitu tandanya anda memaksa?"
"Memang terkesan memaksa, tapi saya berjanji akan menjaga adik anda. Lagi pula selama ini dia tidak pernah berkencan kan? Padahal usianya sudah matang juga untuk menikah."
"Benar sih," gumam Thomas. "Saya akan bicarakan dulu dengan Lyla, kalau dia terlihat tidak keberatan, yaa... saya akan berusaha membujuknya. Tapi kalau dia terlihat terbeban, saat saya minta dia menerima anda. Saya akan cari pekerjaan lain."
•••
"Kenapa begitu?" tanya Christ.
"Hei, setiap Kakak itu pasti ingin adiknya bahagia, begitu pula sebaliknya. Kalau adik saya tidak bahagia, saya mana mau memberikannya pada anda. Meskipun jabatan anda tinggi, dan anda kaya, belum tentu adik saya suka dan bisa bahagia dengan anda." Balas Thomas.
"Saya akan berusaha membahagiakan dia." Tutur Christ.
"Yah, kalau begitu seharusnya adik ku tidak menolak mu. Jadi kelanjutannya bagaimana? Apakah saya diterima kerja?"
"Saya akan menerima anda, kalau berhasil membujuk adik anda untuk menerima lamaran saya."
"Kalau dia tetap menolak, bagaimana?"
"Saya akan tetap menerima anda, sebagai karyawan biasa. Karena bagaimana pun, saya harus objektif."
"Kalau begitu saya permisi, terimakasih sudah memberi kesempatan pada saya untuk wawancara."
•••
"Bagaimana?" tanya Lyla yang sudah menunggu Thomas sedari tadi di sekitar ruangan Christ.
"Aku diterima, tapi aku tidak akan kerja dalam waktu dekat ini." Balas Thomas.
Kening Lyla mengernyit. "Kenapa?"
"Kita bicara saat jam makan siang ya? Kakak akan tunggu di kantin." Kata Thomas.
Meskipun merasa heran, Lyla memilih tidak bertanya lagi.
"Ya aku kerja dulu ya, pesan saja apapun di kantin. Kopi dan kuenya enak, nanti bilang saja aku yang bayar." Tutur Lyla.
"Aku jadi merasa tidak punya harga diri." Kata Thomas.
"Ya ampun, dengan adik sendiri juga. Di mata ku kau memang tidak pernah punya harga diri kok." Balas Lyla.
Thomas melotot, ia kemudian langsung menjitak kepala Lyla.
"Aku akan pesan sampai kau bangkrut." Ucap Thomas sembari berlalu.
"Aaa~ jangan~" Lyla mengejar Thomas, kemudian melingkarkan kedua tangannya di lengan Thomas.
•••
"Bagaimana?"
"Ini akan sulit."
"Hah, kau bilang perempuan itu sudah menyukai mu sejak lama, bahkan sampai sekarang. Tapi kenapa dia tidak mau terima tawaran mu?"
"Bagaimana pun dia bukan w************n, hanya karena perasaannya, dia tidak mungkin mengorbankan harga dirinya."
"Ck, harga diri? Paling dia hanya sok jual mahal."
"Jangan bicara buruk begitu, aku sedang usaha."
"Atau cari wanita lain saja."
"Aku tidak punya kenalan wanita lain selain dia."
"Wanita yang tidak kau kenal juga tidak apa-apa."
"Tidak bisa, orang tua ku akan mencari bibit bebet bobotnya, aku tidak bisa sembarangan."
"Memangnya Lyla itu bukan orang sembarangan huh?"
"Aku sudah cari tahu, dia ya dari kalangan keluarga biasa, tapi keturunannya baik. Ayahnya pegawai negeri, Ibunya Ibu rumah tangga."
"Orang tua mu memangnya tidak mementingkan kasta?"
"Tidak, asal keluarganya baik, itu cukup."
"Hah, seandainya Ayah ku bukan pengguna narkoba."
"Sudahlah, itu bukan salah mu."
"Jadi kau mau tetap memperjuangkan Lyla itu?"
"Yah, mau bagaimana lagi?"
"Ya sudah, aku hanya bisa memberi semangat dari jauh."
"Kau juga semangat syutingnya."
Begitu sambungan telfon dengan pacarnya putus, Christ tiba-tiba mendengar suara Lyla, dari koridor yang mengarah ke lift. Yah, Christ saat ini memang ada di depan lift, untuk turun ke lantai bawah, di mana keberadaan kantin berada.
Karena dia hanya sendirian, Christ akhirnya mengambil kesempatan untuk menelfon pacarnya.
"Elise! Kembalikan!"
"Ayo, ayo, tangkap kalau bisa."
"Astaga, kalian ini. Berhentilah bersikap kekanakan begitu."
Tiga orang gadis tak lama muncul, dua di antaranya tampak sedang saling mengapit leher, sementara yang satu lagi berjalan di samping mereka, sambil melihat kedua tangannya di depan d**a.
Menyadari kehadiran Christ, gadis yang melipat tangan di depan d**a itu, kemudian membungkukkan tubuhnya hormat pada Christ. Baru dua orang di sampingnya mengikuti.
"Mau makan siang juga Pak?" tanya Cora, si kalem tadi.
"Iya, kalian juga?"
Cora dan Elise menganggukkan kepala, sementara Lyla langsung membuang muka.
"Lyla, setelah makan siang tolong ke ruangan ku." Titah Christ
•••
"Dia sampai minta kerja sama dengan mu?" tanya Lyla, yang Thomas balas dengan anggukan.
"Katanya kalau aku berhasil membujuk mu, aku akan diberi jabatan tinggi. Tapi kalau tidak, yaa... aku hanya akan jadi karyawan biasa." Balas Thomas.
Lyla mendengus. "Aku tidak tahu kalau Christ sebejat itu pikirannya." Gumam Lyla sembari menyibak ke belakang rambutnya depannya.
"b***t? Diakan menyukai mu, cuman caranya untuk mendapatkan mu memang salah, sangat egois. Eh, ya jadi tidak jauh dengan b***t juga sih." Lyla mengernyitkan kening, mendengar penuturan Thomas.
'Sepertinya Christ menipu Kak Thomas. Oh aku tahu, dia bilang ke Kak Thomas kalau melamar ku karena menyukai ku, padahal bukan. Gila.'
"Lalu kalau Kakak sendiri maunya bagaimana? Jabatan langsung tinggi, atau jadi karyawan biasa?" tanya Lyla.
"Aku maunya kebahagiaan mu lah." Balas Thomas.
"Hah, tapi kalau aku menerima lamarannya, kita akan untung besar." Kata Lyla.
"Tapi kau sebenarnya menyukainya tidak?" tanya Thomas.
Lyla terdiam sejenak. "Entahlah." Gumam Lyla.
Jujur, perasaan Lyla pada Christ jadi bimbang, sejak Christ mengajaknya menikah kontrak.
Padahal ia suka dengan Christ sudah bertahun-tahun, tapi rupanya cukup mudah juga membuat perasaan Lyla jadi labil begini terhadapnya.
"Coba pikirkan dulu saja baik-baik, jangan terburu-buru, hanya memikirkan keuntungan. Keuntungannya nanti juga tidak sepenuhnya untuk mu, tapi keuntungan itu lebih untuk aku, Ayah, Ibu dan Leon." Ujar Thomas.
"Ya apa salahnya? Aku berkorban untuk keluarga sendiri?" tanya Lyla.
"Hei, lebih baik jabatan ku rendah, dan penghasilan kita seadanya. Dari pada salah satu dari anggota keluarga kita sengsara. Aku lebih bahagia, kalau adik-adik ku semuanya bahagia, begitu pula dengan Ayah dan Ibu." Balas Thomas.
"Selama ini kau dirawat dan disayang dengan Ayah, Ibu, aku serta Leon. Kalau nanti kau sudah menikah, itu jadi tugas suami mu. Kalau ternyata dia tidak bisa merawat dan menyayangi mu dengan baik, hahhh... aku juga tidak akan merasa bahagia dan tenang meskipun jabatan ku tinggi, dan uang banyak."
"Aku akan memikirkannya matang-matang." Ucap Lyla.
"Ya, memang harus begitu. Selain persoalan apakah kau akan bahagia dengan Pak Christ itu, kau juga harus memikirkan, apa kau sudah siap secara mental untuk jadi seorang istri." Tutur Thomas.
"Iya, aku mengerti Kak." Balas Lyla.
'Padahal kalau aku menerima ajakan pernikahan kontrak ini, perasaan dan kesiapan mental ku untuk jadi istri atau tidak, tidak perlu.'
•••
Tok, tok, tok. Christ seketika mengalihkan pandangannya dari laptop, saat mendengar suara pintu ruangannya diketuk.
"Masuk," ucap Christ.
Tak lama pintu ruangannya terbuka, menampakan seorang gadis dalam balutan rok span berwarna krem selutut, serta kemeja warna baby pink.
"Aku kira kau tidak akan datang." Ucap Christ sembari tersenyum, pada gadis yang tak lain adalah Lyla itu.
"Eum, karena Bapak atasan ku, bukankah keterlaluan kalau aku tidak menuruti perintah mu?"
"Yah, padahal kau pasti tahu aku memanggil mu bukan untuk membahas soal pekerjaan."
Lyla hanya diam tidak merespon. Tubuhnya pun enggan untuk memasuki ruangan Christ lebih dalam. Jadi dia hanya berdiri di ambang pintu.
"Masuklah, kalau orang lain lihat tidak enak." Kata Christ. "Jangan lupa tutup pintunya."
Lyla akhirnya menuruti titah Christ, untuk masuk dan menutup pintu, meskipun dia tetap tidak beranjak dari depan pintu.
"Apa yang mau Bapak bicarakan?" tanya Lyla.
"Apa kau sudah memikirkan tawaran ku?"
"Aku selalu memikirkannya, sejak Bapak memberi tawaran itu. Tapi apa harus sampai bilang ke Kakak ku? Bahkan Bapak berbohong ke Kakak ku, kalau anda menyukai ku."
Christ beranjak berdiri dari kursinya, kemudian berjalan menghampiri Lyla, yang otomatis bergerak mundur sembari menyembunyikan kedua tangannya ke belakang.
"Aku benar-benar minta maaf soal itu, aku sudah tidak tahu lagi, bagaimana caranya agar kau bisa bekerjasama dengan ku." Tutur Christ.
"Persyaratannya yang aku minta sebenarnya mudah. Bapak hanya perlu, tidak berhubungan sementara dengan pacar anda sekarang. Meskipun yang akan kita jalani pernikahan kontrak, yang namanya pernikahan, tetap harus dihormati. Kita bersumpah di depan Tuhan."
"Tapikan-"
"Tapi kan apa? Kalau syarat itu tidak bisa dipenuhi, aku tidak mau membantu. Bapak mau menjaga perasaan pacar Bapak? Atau Ayah Bapak sembuh?"
Christ terhenyak, ia tidak menyangka Lyla tidak selugu perkiraannya. Bahkan terkesan licik.
"Kalau aku menuruti persyaratan mu, kau akan membantu ku?" tanya Christ.
"Tentu saja. Tapi jangan melanggar di belakang ku, bagaimana pun aku akan tahu." Balas Lyla.
Christ tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Lyla, membuat Lyla tersentak.
"Tapi aku harap kau juga tidak merencanakan sesuatu." Kata Christ.
Lyla mendengus, sebelum berdecih. "Merencanakan apa? Anda pikir pikiran ku selicik pikiran Bapak?"
"Aku harap kau hanya menganggap pernikahan ini, sebagai bisnis, tidak ada yang lain." Kata Christ.
"Kenapa sih? Bicara Bapak itu, seolah mengatakan Bapak akan jatuh cinta dengan ku."
Christ melebarkan matanya sesaat, kemudian dengan sesaat sorot matanya berubah jadi tajam.
"Jangan bercanda," ucap Christ.
"Jadi sekarang gantian Bapak yang harus pikir-pikir untuk menerima syarat ku."
"Aku tidak perlu pikir-pikir, aku akan terima tawaran mu."
"Jangan gegabah, anda bahkan belum diskusi dengan pacar anda."
Christ mendengus. "Aku akan menghubungi mu nanti malam, dia pasti akan setuju. Karena dia tidak rumit seperti mu."
"Anda ini sedang minta tolong kan? Kenapa cara bicara mu kini tidak seperti orang yang sedang minta tolong? Aku memang menyukai anda, tapi aku tidak bodoh, dan mau begitu saja jadi budak."
Christ akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Aku permisi." Ucap Lyla sembari membuka pintu. Ia menatap sekilas Christ, sebelum benar-benar keluar dari ruangan Christ.
•••
"Apa?! Apa-apaan dia itu?! Sudahlah Christ, cari saja wanita lain!" Tania, atau yang tak lain kekasih Christ, hampir saja melembar gelas yang sedang ia pegang, setelah mendengar penuturan Christ.
"Mau bagaimana lagi?" balas Christ.
"Cari wanita lain!"
"Kau pikir mudah mencari wanita lain hah?! Kau juga sama sekali tidak mau membantu."
"Jadi kau lebih memilih putus dengan ku, untuk wanita itu?!"
"Bukan demi wanita itu, tapi demi Ayah ku!"
"Pikirkan perasaan ku juga dong."
"Aku selama ini selalu memikirkan perasaan mu, memangnya kau begitu huh?"
"Terserahlah! Kalau kau memang ingin kita putus, baik, kita putus!"
Christ menghela napas gusar, ia meraih kedua tangan Tania, kemudian menggenggamnya.
"Ini hanya sementara Tania, tolonglah. Aku tidak mau benar-benar berpisah dengan mu. Setelah semua masalah selesai, kita akan bersama lagi."
Tania mengerucutkan bibir. "Percuma juga kalau kita bersama, orang tua mu tetap tidak akan setuju."
"Apapun caranya aku akan mengusahannya supaya hubungan kita direstui. Yang penting kau jangan menyerah dulu."
"Tapi bagaimana kalau kau akhirnya jadi jatuh hati pada wanita itu?"
Christ menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Aku sudah mengenalnya sejak lama, bahkan dia sudah dua kali menyatakan perasaan pada ku. Tapi sampai sekarang aku tidak tertarik padanya, jadi kau tenang saja. Kau percaya pada ku kan?"
Tania menganggukan kepalanya, membuat Christ tersenyum lebar, dan segera merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.
•••
From: Pak Christ
Pacar ku sudah menerima persyaratan mu.
Lyla langsung berlari keluar dari kamarnya, dan bergegas ke ruang tengah, di mana semua anggota keluarganya sedang berkumpul.
"Ayah, Ibu, Kakak, Leon! Aku mau menikah!"[]