27

2586 Words

Thomas hampir saja menghancurkan kertas tersebut, tapi ia menghentikannya, karena ini bisa jadi bukti. Thomas langsung mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang. Tangannya sampai gemetaran karena menahan marah. Seorang Seo Thomas yang sangat mudah tersulut emosinya, sekarang harus menahan perasaan marah yang jauh lebih besar. "Halo, kak," Thomas tidak langsung menjawab suara di telfonnya. Ia terlebih dahulu menarik napas, kemudian menghembuskannya. Kalau sedang emosi, dia hanya bisa memaki, dan tidak bisa bicara normal. "Besok, setelah aku dan ayah ibu datang untuk menjenguk, temui aku di tempat yang aku tentukan, tidak usah bawa siapapun," "Hah? Memangnya ada apa?" "Kau akan tahu nanti, b******n," sambungan telfon langsung Thomas putus, membuat si penerima telfon di seberang s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD