'Sudah aku duga, pada akhirnya Tania akan diputuskan Christ.'
'Christ itu kan dari keluarga terhormat, berbanding terbalik dengan Tania. Ayahnya pengguna n*****a, Ibunya tidak jelas. Masih mending kalau Tania anak yang baik, setahu ku dia menyebalkan. Mungkin karena kemungkinan Ibunya adalah seorang pelacur.'
'Meskipun dia cantik, dia tampak murahan. Sudah sepantasnya Christ dengan wanita lain.'
'Habis bosan dipakai, Tania langsung dibuang ya?'
'Sudah aku duga sih. Karena Christ dari keluarga terhormat, sementara Tania keluarganya tidak jelas.'
Sret. Tania tersentak saat seseorang tiba-tiba mengambil ponsel yang sedang ia pegang.
"Kenapa pakai ponsel ku tanpa izin? Ini privasi."
"Ma-maaf," ucap Tania sembari menundukkan kepala.
Pria yang tadi mengambil ponsel miliknya dari tangan Tania menghela napas.
"Sekarang tahukan, kenapa agensi dan Manajer melarang mu pegang ponsel dan buka internet?" tutur pria itu.
Tania tidak menjawab. Namun tak lama suara isakan kecil terdengar darinya, pria itu pun mendekati Tania, dan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Sudahlah, tenang, ada aku di sini."
•••
Christ tidak peduli kalau sekarang mereka ada di luar, dan sedang mencari pusat perhatian orang. Bahkan Christ tidak memberi Lyla jeda sesaat untuk bernapas.
Lama-lama Lyla tidak tahan, dia mencubit perut Christ, hingga akhirnya Christ melepas tautan bibirnya dengan Lyla.
"Kau apa-apaan sih?!" seru Lyla dengan sebelah tangan terangkat hendak menampar Christ. Tapi melihat Christ hanya diam sembari menundukkan kepala, membuat Lyla jadi tidak tega.
Lyla menghela napas. Ia membuang muka sembari mengelap bibirnya dengan punggung tangannya, pipi sampai telinganya merah karena malu.
"Sekarang lebih baik kita pulang." Kata Lyla sembari menarik tangan Christ, tapi Christ tidak bergeming. Lyla menatap Christ sambil memiringkan kepalanya.
Perasaan Christ sepertinya benar-benar berantakan saat ini. Lyla yakin Christ menciumnya tadi ada maksud tertentu, yang hanya bisa Lyla tanyai nanti. Ciuman Christ penuh emosi, dan sebenarnya Lyla sedikit sakit hati rasanya, entah kenapa.
Ia akhirnya mendekati Christ lagi, sambil melingkarkan kedua tangannya di tubuh Christ. Lyla menepuki punggung Christ pelan, untuk memberinya perasaan lebih baik, meskipun hanya sedikit. Dibanding banyak berkata-kata, sepertinya hanya memeluk jauh lebih dibutuhkan Christ saat ini.
"Maaf," ucap Christ sembari membalas pelukan Lyla.
Mereka berpelukan untuk waktu yang cukup lama. Christ merasa tenang saat berada di pelukan Lyla, dan merasa terhibur meskipun hanya dengan tepukan pelan di punggungnya.
Setelah perasaannya sudah membaik, Christ akhirnya melepas pelukannya. Ia menatap Lyla yang memasang ekspresi masam.
"Kenapa kau tadi mencium ku? Kau sudah melanggar perjanjian, dan tidak ada izin dari ku." Kata Lyla.
"Maaf, ta-tadi ada Tania." Ucap Christ.
"Oh," respon Lyla. Ternyata begitu alasannya, batin Lyla. "Jadi kau mencium ku, agar membuat Tania juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kau rasakan sekarang huh? Bagaimana kalau Tania memang sudah tidak mencintai mu lagi? Dia akan biasa saja melihat kejadian tadi, tapi kau merugikan aku!"
"Jangan pikirkan perasaan mu sendiri dong! Kau pikir aku suka dan nyaman dengan tindakan mu?!" seru Lyla. "Hah, sudahlah, lebih baik kita pulang sekarang. Mana kunci mobil? Biar aku yang bawa."
Christ merogoh saku coatnya untuk mengambil kunci mobilnya, kemudian menyerahkannya pada Lyla.
"Kau marah, tapi kenapa tadi tetap memeluk ku?" tanya Christ, saat Lyla baru saja membalikkan badannya, hendak ke mobil.
"Karena kau butuh." Jawab Lyla singkat, sebelum berjalan pergi.
•••
Christ yang harusnya tidur selama di jalan, malah tidak bisa tidur karena berkutat dengan pikirannya sendiri, sampai membuat kepalanya terasa pening.
Lyla sendiri hanya fokus menyetir, tanpa niatan mengajak Christ bicara. Sebenarnya Lyla sedikit merasa bersalah, karena meluapkan amarahnya, di saat perasaan Christ sedang kacau. Seharusnya ia tunggu sampai perasaan Christ benar-benar sudah membaik dulu.
Tapi apa boleh buat? Sudah terlanjur terjadi. Lyla biasanya bisa menahan emosinya, berbanding terbalik dengan Thomas. Tapi mungkin karena tadi menyangkut harga diri, Lyla jadi tidak bisa menahannya.
"Aku... benar-benar minta maaf soal tadi." Ucap Christ saat Lyla baru saja selesai membayar tol. Setelah sekian lama diam, Christ akhirnya buka suara juga. Lyla melirik Christ sejenak, kemudian fokus lagi ke jalan.
"Sudahlah, lupakan saja." Kata Lyla. "Lagi pula bagaimana pun status ku istri mu, meskipun hanya sementara. Jadi tidak ada yang salah sebenarnya, aku juga seharusnya berontak kalau memang tidak mau."
Christ tidak merespon. Dia menyandarkan kepalanya sembari memejamkan matanya.
"Kau tidak berpikir untuk minum alkohol lagikan?" tanya Lyla.
"Aku mau minum sedikit." Balas Christ.
"Tidak boleh, jangan menghancurkan diri mu hanya karena wanita." Kata Lyla.
"Kau tidak mengerti. Kau sendiri kemarin mabuk kan?"
"Itu akan jadi yang terakhir."
"Lagi pula bukan urusan mu aku mau minum atau tidak. Kau tidak punya hak untuk melarang ku."
"Tentu saja aku punya hak! Kita akan tinggal di satu rumah, siapa yang nyaman tinggal dengan orang mabuk? Dan apa kata mu tadi? Aku tidak mengerti? Kalau dipikir selama ini aku makan hati tahu! Hanya saja aku tidak memikirkannya. Kau sendiri tahu bagaimana perasaan ku pada mu. Memangnya kau pernah sedikit saja memikirkan perasaan ku?!" tutur Lyla penuh emosi.
"Kita memang tidak dekat, baru dekat setelah pernikahan konyol ini! Jangan mentang-mentang hanya aku yang tahu tentang mu, yang punya perasaan pada mu, kau jadi tidak memikirkan perasaan ku. Aku tahu kau memberi ku uang, dan memberi jabatan pada Kakak ku. Tapi uang itu tidak bisa membuat ku baik-baik saja dengan sikap mu! Minimal turuti permintaan kecil ku."
Christ mendesis kesal. "Oke! Aku tidak akan minum! Jadi berhenti mengomel."
"Berengsek!" maki Lyla tanpa sadar. Sungguh, Lyla tidak mau mengumpat. Tapi perasaannya benar-benar sakit sekarang, Christ jadi seterluka ini karena wanita lain. Lyla tidak menyangka rasanya akan sesakit ini.
Terlebih dia juga tadi dimanfaatkan untuk memanas-manasi Tania. Jujur, Lyla sempat berharap sedikit sebelumnya saat ciuman tadi.
Perasaannya sekarang jadi ikut kacau.
•••
Sesampainya di rumah, Lyla langsung turun setelah memarkirkan mobil di garasi. Ia kemudian mengambil kopernya yang ada di bagasi mobil, dan menyeretnya ke arah pintu rumah.
Christ mengikuti Lyla dari belakang. Dan sesampainya di depan pintu, Christ pun membukakan kunci serta pintu rumahnya.
Christ masuk terlebih dahulu, baru Lyla menyusul. Sama sekali tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Suasana tegang di mobil, masih dibawa sampai ke dalam rumah.
Tapi saat Lyla terlihat kebingungan mencari kamarnya, Christ akhirnya terpaksa membuka mulutnya, meskipun hanya bicara singkat.
"Biar aku tunjukkan kamar mu." Ucap Christ sembari berjalan menuju kamar yang sudah disiapkannya untuk Lyla.
Lyla menganggukkan kepala, dan akhirnya mengikuti kemana Christ.
Mereka akhirnya tiba di depan sebuah kamar dengan pintu kayu yang dicat putih. Di depannya ada gantungan bentuk awan hitam, dan tulisan selamat datang.
"Aku sepertinya tidak meletakkan ini." Gumam Christ dengan kening mengernyit. "Aku rasa ini perbuatan asisten yang aku suruh menyiapkan kamar."
"Tidak masalah, aku suka." Ucap Lyla sembari hendak membuka pintu kamar. Tapi ternyata tidak bisa dibuka.
Lyla menatap Christ dengan tatapan bertanya dan bingung.
"Kenapa tidak bisa dibuka?" tanya Lyla.
"Kuncinya mungkin ada di asisten ku. Sebentar aku cari kunci cadangannya, mungkin ada." Christ bergegas ke kamarnya sendiri untuk mencari kunci cadangan, sementara Lyla hanya menunggu di depan pintu kamar.
Tapi setelah cukup lama menunggu, Christ tidak berhasil menemukan kunci cadangannya.
"Tidak ada, aduh, aku rasa kunci cadangannya juga ada di asisten rumah ku. Aku lupa minta, hah, bagaimana ini?" Christ menatap Lyla dengan gusar sejenak, lalu mondar-mandir sambil menggaruk kepalanya.
"Ya sudahlah, aku bisa tidur di sofakan?" kaya Lyla.
"Tidur di sofa? Kau tidak lihat kalau di depan tidak ada sofa? Sofa ku mau aku ganti, karena yang sebelumnya sudah jelek, jadi sudah dibuang. Aku belum cari sofa baru lagi."
"Aduh, memangnya sofa lama mu sudah sejelek apa memang?"
"Pokoknya sudah jelek! Lagian mana mungkin wanita tidur di luar? Di sofa lagi, hah, tidak bisalah."
"Tidak ada kamar lain?"
Christ menggelegkan kepala, yang membuat Lyla berdecak.
"Kalau begitu aku tidur di hotel saja, tapi kau yang bayar." Kata Lyla.
"Hei, jangan bercanda, tadi malam saja kita sudah habis dua juta untuk menginap semalam di hotel. Meskipun aku kaya, itu pemborosan namanya." Kata Christ.
"Terus mau bagaimana lagi? Tidur sekamar dengan mu lagi?!" tanya Lyla dengan nada tinggi, karena kepalanya mulai panas lagi.
"Yah, mau bagaimana lagi?"
"Tidak satu kasurkan?"
"Satu kasur, aku tidak menggunakan karpet tebal di kamar."
"Kau sengaja ya?"
"Sengaja apa?"
"Sengaja agar kita tidur bersama."
"Iihhh!" seru Christ sambil memasang ekspresi geli. "Percaya diri sekali, untuk apa aku melakukan itu? Ini benar-benar ketidak sengajaan tahu!"
Lyla mengerang kesal, dan memilih tidak protes lagi. Dia takut mengeluarkan kata-k********r lagi seperti saat di mobil tadi.
"Hah, oke, antar aku ke kamar mu, aku lelah sekali, mau tidur." Kata Lyla, yang diangguki setuju oleh Christ.
•••
Lyla memangku dagunya, dengan telapak tangan yang ia lebarkan untuk menutup mulut. Sementara Christ hanya diam, sambil menggembungkan pipi, dan matanya bergulir ke atas.
Lyla pikir kasur Christ luas, mengingat dia orang kaya. Tapi ternyata Christ hanya menggunakan single bed.
"Bagaimana caranya kita tidur bersama kalau seperti ini?!" seru Lyla akhirnya sambil menatap tidak percaya Christ.
"Kita bisa tidur menyamping." Balas Christ.
"Astaga... yang benar saja? Telfon asisten mu saja lah, minta kunci kamar ku. Aku tidak mau sempit-sempit- tan." Kata Lyla.
"Tidak bisa! Asisten ku tidak bisa dihubungi untuk saat ini, sudahlah, tidur saling menyamping saja apa salahnya sih?!"
"Salah lah! Memangnya tidak pegal?!"
"Hanya semalam, tahan dong!"
Mata Lyla tiba-tiba menangkap ada gantungan berbentuk daun mencuat dari kantung coat Christ. Padahal sepertinya dari hotel tadi tidak ada, atau dia yang tidak memperhatikannya? Tapi benda itu agak mencurigakan.
Lyla yakin gantungan kunci itu sebelumnya tidak ada di kantung coat Christ. Yah, mungkin memang saja sudah ada di sana sejak lama, tapi Lyla tidak sadar. Hanya saja tangan Lyla entah kenapa gatal untuk mengambilnya.
Tanpa permisi Lyla akhirnya memutuskan untuk menarik gantungan kunci itu dari saku coat Christ, membuat Christ terkejut.
"Ini kunci apa?" tanya Lyla sembari mengayunkan kunci berhias gantungan daun itu.
"Hei! Tidak sopan main rebut! Itu kunci kamar mandi, kembalikan!"
"Aku tidak lihat sebelumnya kunci ini."
"Ya untuk apa aku memperlihatkan semua kunci rumah ku pada mu?"
"Kunci kamar mandi untuk apa dikasih gantungan?"
"Ya suka-suka aku dong. Kenapa kau mengatur ku?"
Lyla tiba-tiba berlari keluar kamar Christ, untuk ke kamarnya. Christ pun otomatis langsung mengejarnya.
"Kau mau apa?!" seru Christ.
"Feeling ku mengatakan, ini kunci kamar ku!" sahut Lyla.
"Jangan ngaco! Memangnya kau punya six sense sampai bisa menerka seperti itu huh?"
"Feeling wanita itu kadang kuat!"
Brak! Mata Christ membelalak, melihat Lyla jatuh ke depan. Mau ketawa, tapi kasihan. Akhirnya Christ menghampiri Lyla yang jatuh tengkurap di lantai, niatnya untuk membantu Lyla bangun. Tapi Lyla mengira Christ mau mengambil kunci yang ia rampas tadi.
Jadi Lyla menggenggamnya di depan d**a, dan berguling ke sisi lain untuk menghindari Christ.
"Ya ampun, kenapa menghindar?! Aku mau menolong mu." Gerutu Christ.
"Bohong! Kau pasti mau mengambil kunci yang aku pegangkan?!"
Christ memasang ekspresi malas. "Tidak, sungguh. Lagian memangnya tidak sakit jatuh huh?"
"Sakitlah! Pakai tanya."
"Ya sudah sini aku bantu berdiri."
"Aku bisa berdiri sendiri." Kata Lyla sambil berusaha bangkit berdiri, tapi lututnya sakit. Sehingga Lyla hanya bisa duduk.
Christ pun mengulurkan tangannya untuk membantu Lyla berdiri, tapi Lyla malah menatap Christ sengit, dan menyembunyikan kunci yang ia pegang ke ketiak.
"Jadi kau benar-benar yakin itu kunci kamar mu huh?" tanya Christ sambil mendengus jengah.
"Iya, aku yakin. Soalnya digantungan kuncinya ada stiker yang tulisannya Lyla's room."
Christ otomatis menelan ludahnya, dan Lyla dapat melihatnya.
"Jadi kau memang ingin tidur dengan ku ya?!" seru Lyla.
"Iya! Aku memang ingin tidur dengan mu!" balas Christ sambil berkacak pinggang dan membuang muka, sementara Lyla otomatis menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
"Aish, jangan salah paham. Aku tidak mau melakukan apa-apa pada mu, selain tidur. Tidur yang memejamkan mata, ke mimpi, mendengkur, sampai mengeluarkan kotoran tebal di mata!" kata Christ.
"Dasar aneh, kenapa kau mau melakukan itu coba? Tetap saja ngeri tahu. Jangan bilang ini ada hubungannya lagi dengan Tania."
"Ck, tidak ada. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tania. Aku hanya merasa tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Tidak, jujur saja selama ini aku tidak bisa tidur dengan baik. Tapi semalam waktu aku tidur dengan mu, aku bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak. Aku tidak mimpi buruk yang aneh-aneh seperti biasanya. Terserah kau percaya atau tidak, tapi kenyataannya begitu. Aku tidak tahu itu pengaruh mu atau bukan, hanya saja aku sudah putus asa, karena tidak bisa tidur sebaik semalam. Jadi aku pikir itu memang karena mu."