Chapter VIII - Tears

1905 Words
Fais membuka mata ketika tepian gorden yang berhembus tertiup angin membelai wajahnya dengan lembut. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar yang beratapkan seng. Ada lubang-lubang kecil di berbagai tempat, membuat cahaya matahari yang masuk tampak seperti bintang-bintang kecil yang bersinar di langit-langit kamar tanpa plafon itu. Angin berhembus sepoi-sepoi melalui jendela yang berada tepat di samping tempat ia sedang berbaring. Pemandangan di luar jendela tanpa kaca itu adalah jalan setapak berkerikil putih dengan berbagai tanaman yang tumbuh subur dan capung-capung merah yang berterbangan di sekitarnya. Ia baru saja beranjak duduk sambil mengira-ngira di mana ia sedang berada, saat seorang gadis berkerudung memasuki kamar sambil membawa wadah aluminium dengan handuk kompres di pinggirannya. Ia tampak kaget melihat Fais sudah sadar dan langsung menunduk sambil meletakkan bawaannya di atas meja kecil samping tempat tidur. Gadis itu lalu membuat gerakan tangan sebagai bahasa isyarat. Fais tak begitu mengerti apa yang dikatakannya, tapi sepertinya ia meminta maaf karena masuk tanpa izin. "Kamu... Zahra?" tanya Fais yang berhasil mengingat dan mengenali wajah bulat berkerudung itu. Gadis itu pun mengangguk sambil kembali menundukkan pandangannya. Ia lalu menuangkan air minum ke dalam gelas dan memberikannya pada Fais kemudian kembali memberi bahasa isyarat dengan tangannya. “Aku tidak mengerti," kata Fais sambil terus mengamati gerakan tangan perempuan itu, "... Dua?" tanyanya ketika ia melihat Zahra menunjukkan dua jarinya. Zahra mengangguk dan kembali menggerak-gerakkan tangannya untuk menyampaikan sesuatu. Namun karena sepertinya Fais tak banyak mengerti, ia mengacungkan jari telunjuknya sambil lalu keluar dari kamar. Zahra kembali beberapa detik kemudian, membawa pensil dan buku kecil. Ia menulis sesuatu dan menunjukkannya pada Fais. Ternyata ia hanya ingin mengatakan bahwa Fais sudah dua hari tidak sadarkan diri dan dirawat di sini, di rumah Suyi. "Oh... benarkah?" Fais menanggapi seadanya. "Terima kasih sudah merawat saya. Di mana Suyi?" Zahra kembali menuliskan jawabannya di halaman buku kecil itu. "Beliau sedang ada tamu penting di luar," begitu tulisnya. Fais tak bertanya lagi setelahnya, dan Zahra pun tak tahu harus bersikap bagaimana. Awalnya ia bermaksud kembali mengompres Fais, karena lelaki itu masih demam tinggi sampai subuh tadi. Tapi Zahra merasa malu jika harus merawatnya dalam keadaan sadar seperti ini. "Maaf, saya permisi dulu. Kalau perlu sesuatu silakan panggil saja." Zahra menuliskan itu untuk ditunjukkan kepada Fais. Kemudian tanpa menunggu jawaban, ia menunduk cepat dan tergesa-gesa meninggalkan ruangan. Beberapa saat Fais masih menatap ke arah mulut pintu di mana Zahra baru saja menghilang. Tak ada daun pintu di kamar itu, hanya ada tirai kain berwarna hijau lumut yang berkelebat tertiup angin. Perlahan Fais menyibak kain yang menyelimuti setengah tubuhnya, ada perban di lutut kirinya, tempat di mana Zen meninggalkan luka bakar yang cukup parah. Ia masih bisa menggerakkan kedua kakinya, tapi tangan kirinya tidak akan pernah pulih. Tangan itu sudah lumpuh sampai ke ujung jari. Tiba-tiba saja ia merasa sangat lelah, hanya tinggal menunggu waktu hingga matanya pun akan kehilangan fungsi. Lalu ia tak akan melihat lagi, tak mendengar lagi, tak mencium aroma apapun lagi, dan tak bisa merasakan apapun yang masuk ke mulutnya lagi, lalu seluruh tubuhnya akan lumpuh. Dan yang paling parah, ia telah kehilangan semangatnya. Fais mulai mempertanyakan, kenapa ia tak mati di malam p*mbantaian keluarganya itu? Untuk apa ia masih bernapas dan terus hidup sampai saat ini? "Dia masih belum bangun?" Sebuah suara yang sangat tidak asing di telinga Fais, terdengar dari balik dinding tipis triplek kamar. Tak salah lagi, itu suara Luen. "Sepertinya begitu," jawab suara milik Suyi. "Dia terluka cukup parah dan sangat kelelahan," sambungnya lagi. Bersamaan dengan itu, terdengar dua pasang langkah mendekat ke mulut pintu. Fais menarik kembali selimutnya dan memejamkan mata berpura-pura tidur. Selama beberapa saat yang terdengar hanya desiran angin yang masuk dari jendela di samping Fais, tak ada lagi yang bicara, tapi juga tak terdengar langkah kaki yang menjauh. Fais menduga bahwa saat ini kedua orang itu sedang berdiri di pintu dan mengamatinya. "Ya sudah biarkan saja, aku mau bicara denganmu," kata Luen kemudian. Lalu mereka melangkah meninggalkan tempat itu. Hanya beberapa detik setelahnya barulah Fais berani membuka mata. Ia tak mengerti kenapa ia melakukan hal itu. Padahal sebelumnya ia selalu berpikir bahwa jika menemukan pembunuh keluarganya, ia akan menghabisi orang itu tanpa bertanya. Tapi kali ini ia seolah kehilangan semua ambisinya. Dendam yang biasanya menjadi bahan bakar baginya, kini seolah padam, bersama dengan semua yang tersisa di dalam dirinya. Ia tak memiliki apapun lagi yang bisa menopangnya untuk tetap berdiri. Samar terdengar obrolan dua orang kakak-beradik itu dari teras rumah, Fais memutuskan untuk kembali menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidur. Terpincang, ia melangkah perlahan keluar dari kamar. Fais tak tahu kemana ia akan pergi, tapi yang pasti saat ini ia tak mau melihat ataupun mendengar suara Luen. Memalukan sekali. Ia terluka dan hampir mati, tapi malah dirawat oleh Suyi yang merupakan saudara kandung dari lelaki yang selama ini - ternyata - adalah musuh besarnya. Fais melangkah perlahan sambil berpegangan pada dinding triplek menuju pintu dapur yang berseberangan dengan pintu masuk rumah itu. Ia menemukan Zahra yang sedang memasak air menggunakan kayu bakar di dapur berlantaikan tanah. Gadis itu membuat gerakan tangan seperti sedang bertanya. Fais tak menghiraukannya, ia melihat ada pintu lagi di sebelah kanan. Sepertinya itu adalah pintu samping rumah, menuju kebun yang dilihat Fais melalui jendela kamarnya tadi. Setelah melewati pintu, ia menemukan jalan setapak dengan kerikil-kerikil putih yang sama. Zahra muncul di mulut pintu yang baru saja ditinggalkan Fais, ia mengatakan sesuatu dengan wajah panik. Meski sepertinya ia ingin menyusul Fais, tapi ia berusaha untuk tetap berdiri di tempatnya. "Jangan khawatir," ujar Fais akhirnya, "saya cuma mau jalan-jalan sedikit, nanti segera kembali," sambungnya sambil mengumbar senyum khas andalannya. Senyum menghipnotis yang memang membuat siapa saja yang melihatnya akan berfikir bahwa lelaki ini tidak berasal dari tempat yang sama dengan manusia lainnya. Dia terlalu bercahaya. Wajah Zahra merona seketika, ia buru-buru mengalihkan pandangan sambil mendekap dadanya, lalu berbalik dan masuk kembali ke rumah. Fais menghela napas sebelum melanjutkan langkah menelusuri jalan setapak. Di kiri dan kanannya penuh dengan tanaman sayuran yang subur, berbagai macam jenis terung dari yang hijau hingga yang ungu. Pohon-pohon jambu dan rambutan yang sudah berwarna cerah. Capung-capung merah berterbangan di sekitarnya, sesekali hinggap di salah satu tanaman, lalu kembali terbang diiringi tiupan angin sepoi-sepoi. Kebun itu berada di samping rumah Suyi, besarnya hampir sama dengan rumah Suyi. Di sisi kirinya ada pagar kayu yang membatasi kebun dan lereng yang di bawahnya terdapat hamparan sawah hijau, luas, menghembuskan angin menenangkan. Fais duduk di bangku panjang tanpa sandaran yang terbuat dari papan, salah satu kaki yang menyangganya adalah batang pohon rambutan. Bangku panjang itu hanya berjarak sekitar satu meter dari tepi lereng. Kondisi Fais saat ini tak mengizinkannya pergi lebih jauh lagi. Apa boleh buat, untuk sementara, ia akan tinggal sampai cukup pulih. Di bawah sana, tepat di hadapan Fais, hamparan sawah dengan padi-padinya yang masih hijau sangat menyejukkan mata yang memandang. Angin yang berasal dari lereng pun menerpa wajah Fais, ia memejamkan mata sambil menghirup napas dalam-dalam, udara di pulau ini begitu bersih hingga rasanya paru-paru Fais telah ditukar dengan yang baru. "K2! Mau kemana? Ayo main bola...!" Suara ramai anak-anak kecil menarik Fais dari lamunannya. Ia menoleh ke arah suara-suara ceria itu, dan menemukan Kiriyan sedang melangkah ke arahnya. Lelaki yang mengenakan sarong dengan baju berlengan panjang yang rapi itu kini melewati sebuah celah pagar kayu yang sengaja dibuat sebagai pintu masuk kebun Suyi. Di belakangnya ada segerombolan anak laki-laki dengan peci-peci kecil di kepala mereka bersorak protes kepada Kiriyan. "Nanti sore kita main bola, sekarang pulanglah," jawab Kiriyan sambil lalu memberikan lambaian sekilas kepada anak-anak itu. Mereka pun menurut dan pergi walau dengan wajah kecewa. "Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" sapa Kiriyan ketika ia sudah berada di dekat Fais. "Boleh aku duduk di sini?" tanyanya sambil menyentuh papan bangku tepat di samping Fais. "Silakan," jawab Fais tak acuh. Kiriyan duduk di sebelahnya, di atas sebuah bangku panjang tanpa sandaran di bawah pohon rambutan itu. "Pemandangan padi yang masih hijau itu terlihat segar dan menenangkan, ya?" ungkapnya ramah. "Itu cuma sawah," balas Fais datar. Kiriyan tertawa ringan sambil mengangguk-angguk pelan, seolah ia baru saja memahami sesuatu. "Biasanya Suyi sangat cerewet kalau sedang merawat orang sakit. Dia tak akan membiarkanmu meninggalkan tempat tidur sebelum kamu dianggap cukup sembuh," katanya lagi. "Saya sudah cukup sembuh, terima kasih, saya baik-baik saja," sahut Fais formal. Mereka lalu diam beberapa saat dan membiarkan suara desiran angin menghanyutkan mereka ke dalam pikiran masing-masing. Fais mengerling sosok lelaki yang tampak santai duduk di sebelahnya itu. "Jadi kamu meninggalkan keluargamu di Avalon untuk bermain-main dengan anak Eyja," tanyanya. "Tidak," sahut Kiriyan tenang, "tentu saja tidak. Kamu tahu aku tak bisa kembali, kan?" "Bagaimana caranya kamu masuk ke Eyja?" "Sejak awal aku memang sudah harus berada di Eyja. Pulau ini memang tempatku." Alis Fais berkerut bingung, ini masih menjadi misteri besar baginya. Tidak mungkin orang ini luput dari pengawasan Avalon. Setiap orang yang diasingkan di Eyja atau pun Third Child yang dikirim ke Eyja, pasti sudah ada datanya di Avalon. Jika sudah begitu, tak mungkin ia bisa hidup bebas di Pulau Utama. Tapi kenapa Kiriyan bisa lolos dari perhatian pemerintah? Memangnya sehebat apa kemampuannya meretas data pemerintah? Fais memutuskan untuk mengakhiri kebingungannya. "Sebenarnya kamu siapa? Kenapa..." "Aku orang biasa sepertimu, tapi bedanya aku mengenal Zoire dengan baik. Sejak kami masih sangat muda," sela Kiriyan sambil tersenyum menatap wajah muda di sampingnya itu. "Zoire juga manusia biasa seperti kita, Fais. Dia juga seorang pemimpi, yang menginginkan kebahagian bagi semua orang." Mata Kiriyan tampak murung menerawang ke udara kosong di hadapannya. "Omong kosong," ketus Fais setengah bergumam. Kiriyan pun hanya tertawa pelan sebelum kembali melanjutkan, "Izinkan aku sedikit bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Shura, nama itu pasti tidak asing bagimu, kan?" Ia mengambil jeda sejenak untuk mengerling Fais yang tampak masih tak begitu peduli. "Usianya belum mencapai dua digit ketika ia diasingkan ke Eyja. Kedua orang tuanya dibunuh dalam sebuah kudeta, lalu mereka mengubah Avalon menjadi negara yang katanya berdemokrasi. Selama belasan tahun, Shura hidup di pulau ini bersama pelayan-pelayan setianya, termasuk di antara mereka adalah Luen. Suatu hari Avalon Daratan mengirim keluarga pejabat yang dianggap membangkang ke Eyja, keluarga itu memiliki seorang anak bernama Kazai. Tidak butuh waktu lama, anak-anak Eyja itu menjadi sangat akrab." Fais beranjak bermaksud untuk meninggalkan Kiriyan, tapi Kiriyan meraih tangannya dan membuat pemuda itu berbalik untuk melempar tatapan tidak suka pada lelaki itu. "Bukankah kamu ingin tahu siapa aku?" tanya Kiriyan kemudian. "Aku tidak mau mendengar cerita nostalgia tentang masa kecilmu dan Zoire," tukas Fais. "Semuanya berawal dari situ," terang Kiriyan lagi, "aku janji ini tidak akan lama. Duduklah sebentar lagi, satu menit saja," bujuknya lagi. Fais menarik tangannya dari Kiriyan dan memutuskan untuk duduk kembali. Lagipula jika kembali ke dalam rumah, ia mungkin akan bertemu Luen, jadi sebaiknya ia tetap di sini beberapa saat lagi. Kiriyan tersenyum dan melanjutkan kembali ceritanya sambil menatap lurus ke hamparan sawah di lereng gunung. "Dulu, hampir setiap sore aku sering menemukan Shura berjongkok di hadapan ember di dekat sumur umum. Dia suka sekali menghabiskan waktu sendirian di sana. Kamu mau tebak apa yang dilakukannya di tempat itu?" Fais membuang muka sebagai ganti jawaban; masa bodoh. "Di permukaan air yang tergenang itu sering terlihat semut terbang yang terperangkap, sayap-sayapnya basah dan kaki-kakinya bergerak meronta. Shura bilang dia ingin menyelamatkan serangga-serangga itu. Dia memindahkan serangga itu satu per satu ke tempat yang kering. Katanya, kasihan mereka terjebak gara-gara sayapnya basah dan lengket. Kalau dibiarkan, mereka bisa mati. Mati dengan cara seperti itu, bukankah sangat tersiksa?" Bibir Kiriyan melengkung membentuk senyuman redam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD